0

Mikayla, sebuah novel


Kamu pernah jatuh cinta, berkali-kali dan pada orang yang sama? Kamu ribut, putus nyambung, berganti pasangan, namun tetap padanya kamu kembali.

Atau,

Kamu pernah patah hati? Ketika berharap banyak lalu semuanya seakan lenyap. Merasa bingung, putus asa, dan semua terasa gelap. Lalu, kamu berdoa dan keajaiban pun terjadi.

Atau mungkin,

Kamu pernah bertanya pada Tuhan, mengapa yang diinginkan tak diberi jawaban? Hingga akhirnya, kamu sadar bahwa yang terlihat baik bagimu, mungkin tak baik di mata Tuhan.

Mungkin, buku ini bercerita tentangmu.

Sebuah cerita tentang cinta yang tak selalu sempurna. Tentang cinta dengan kultur yang berbeda. Tentang dua orang yang bisa bertengkar layaknya hyena dan singa berebut mangsa. Dingin dan sengit seperti mendung menggantung di Kota Bandung. Namun, hangat mewangi bagai secangkir kopi di pagi hari. 

Inilah sebuah cerita tentang mereka yang belajar mengalahkan diri, lalu bersiap untuk jatuh cinta lagi dan lagi.

@andreajuliand

Advertisements
0

Pelajaran bernama patah hati

Hey, kamu…

Aku tahu, patah hati itu melelahkan. Pun juga aku tahu, patah hati tak diinginkan. Namun, aku yakin bahwa mereka yg patah hati tak hanya ingin diam lalu mati. 

Mereka selalu mencoba dan mencoba, untuk sembuh dan kembali bahagia. Beberapa berhasil sembuh. Bangkit tertatih-tatih dengan sisa-sisa lukanya. Beberapa butuh waktu lebih lama untuk mengobatinya. Sayangnya, tak sedikit juga yg menyerah. Tenggelam dalam rasa sakit yg kian lama kian menjepit.

Namun, tahukah kau? 

Patah hati itu seperti kanker. Kamu tak cukup hanya mengobatinya, namun harus dioperasi lalu diangkat kankernya. 

Mungkin setelahnya kamu akan merasa sakit dan tak nyaman dalam proses penyembuhan. Namun itu lebih baik daripada mendiamkan, membuatnya menyebar ke seluruh badan lalu mati perlahan-lahan.

Mungkin dalam hatimu, kamu akan berkata : kalau cuma ngomong semua orang juga bisa!

Benar, kamu nggak salah. Akupun pernah patah hati. Berkali-kali. Bahkan dulu aku beranggapan patah hati adalah cobaan atau bahkan siksaan terbesar dalam hidup.

Namun, akhirnya aku sadar, kalau kita tak merasakan patah hati mungkin kita tak akan pernah belajar. 

Belajar buat kuat, bahwa patah hati hanyalah satu dari sekian cobaan  dalam hidupmu. Dan yg harus diselesaikan itu masalahnya, bukan hidup kita. Jangan sampai karena patah hati lalu berpikir untuk mengakhiri hidup. Bukankah kerasnya tempaan yg membuat berlian indah dan mahal?

Belajar untuk sabar. Patah hati itu mirip seperti panas dalam yg datang bersama sariawan dan radang tenggorokan. Ketika dia datang memang menyebalkan tapi ingatlah bahwa itu tak selamanya. 

Patah hati juga mirip badai di malam hari, maka sabarlah untuk menanti damainya pagi. Karena bila kesulitan adalah hujan dan badai serta  kemudahan adalah matahari, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Belajar buat bersyukur. Kita tak akan paham nikmatnya sehat bila tak merasa sakit. Kita tak tahu indahnya bahagia bila tak mengerti apa itu kecewa. Dan, kita tak akan menyadari keberadaan Tuhan bila tak diberi cobaan.

Belajar buat ikhlas. Mungkin kita  berpikir bahwa dialah yg terbaik buat kita. Padahal yg kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan. 

Tak ada yg menyuruhmu untuk buru-buru karena semua butuh waktu. 

Kembali bergerak memang tak mudah. Bahkan ketika kamu sadar untuk segera beranjak membenahi hati yg luluh lantak. 

Awalnya mungkin kamu akan takut. Takut tak bisa melanjutkan hidup tanpanya, takut bila dia menganggapmu tak lagi ada, takut akan kenyataan bahwa sekarang kamu bukan siapa-siapanya, takut lukamu tak kunjung sembuh tanpanya, takut tak bisa menemukan pengganti yg kamu bisa nyaman seperti ketika bersamanya, dan sejuta ketakutan lainnya. 

Tapi percayalah, bahwa apa yg terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Bila kamu sudah bisa ikhlas melepas dan berdamai dengan diri, maka suatu hari kamu akan cerita tentang lukamu saat ini, tentang kisah dibelakangnya, dengan biasa saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Seperti kamu terbiasa menghirup udara. 

Lalu,

kamu akan tersenyum bahagia karena saat itu mungkin kamu telah menemukan penggantinya.

…ingatlah Tuhan disaat lapang, maka Dia senantiasa hadir saat kamu butuh pertolongan…


Postscript :

Apakah kamu merindukannya, dia yg baru saja hilang dari hidupmu? Lalu bagaimana dengan Tuhan, yg bertahun-tahun dilupakan dan baru kembali ketika kamu butuh bantuan? Kabar baiknya adalah kamu tetap bisa kembalilah pada-Nya, karena Tuhan selalu ada bahkan disaat semua orang menghilang.

0

Trump jadi presiden, ya terus kenapa?

Sebenarnya bukanlah hal yang aneh ketika seorang Donald Trump terpilih menjadi presiden. Logikanya jelas, pasangan calon presidennya’kan hanya dua, jadi kalau bukan Tante Hillary, maka otomatis Oom Trump-lah yang akan menjadi potus-president of the united states.

Justru hal yang bikin gue “heran” adalah kok bisa ya di negara yang katanya adalah tempat lahirnya demokrasi, ternyata setelah pemilihan berlangsung dan Trump terpilih menjadi presiden justru menuai demo penolakan di mana-mana. Padahal’kan seharusnya, apapun hasil pemilihan bisa dipahami dan diterima semua pihak, sesuai dengan asas demokrasi.

Bukankah seharusnya jelas, bahwa dalam  demokrasi, suara terbanyak yang menang. Garis bawahi pada kata ‘suara terbanyak‘,  bukan suara yang benar, cerdas atau terpercaya karena pada beberapa kasus, demokrasi, adalah sebuah paham di mana sekumpulan besar orang bodoh, jahat, atau rasis bisa dengan mudah mengalahkan sekelompok kecil orang baik, cerdas, dan jujur hanya bermodalkan kuantitas, bukan kualitas.

Kembali ke topik awal,

Trump saat ini menjadi manusia paling berkuasa di muka bumi dengan segala kebijakannya yang kontroversial.

Secara takdir, apakah Allah menginginkan dia menjadi presiden? Ya, takdir Allah yang membuat dia menjadi manusia paling berkuasa di muka bumi, termasuk bila nantinya dia akan menggunakan segenap kekuasaannya untuk menindas kaum muslim.

Apakah kaum muslim harus takut pada kebijakannya? Seharusnya tidak dan memang sudah seharusnya tidak. Mengapa? Karena umat muslim punya Tuhan dari segala Tuhan, penguasa dari segala penguasa, Allah.

Mengapa umat muslim di seluruh dunia sudah selayaknya untuk tidak takut pada Trump, Amerika, dan sekutunya? Karena kami memiliki senjata paling ampuh, bernama doa.

Senjata paling ampuh, doa, ditambah penguasa paling berkuasa di dunia akhirat, Allah, maka jangankan Amerika, bahkan bila seluruh dunia mencaci, membenci, dan memerangi umat muslim pun, maka hal itu tidak akan berpengaruh apa-apa bila Allah tak berkehendak.

In my humble opinion, justru dengan jelasnya kebijakan Trump yang cenderung anti muslim seharusnya membuat umat muslim diseluruh dunia bisa sadar, siapa musuh sesungguhnya dan kita bisa bersatu agar tak menjadi buih di lautan.

…Katakanlah bahwa tiada tuhan selain Allah…

0

Big heart! 


Melihat Indonesia adalah melihat banyak hal yg berbeda. Kadang bahkan benar-benar berbeda. Terlalu banyak masalah sepele yg diperbesar sementara banyak masalah besar yg dihilangkan. Belum lagi isu-isu SARA yg entah mengapa hingga saat ini tak kunjung sampai pada tahap dewasa. Dewasa dalam arti bagaimana memahami dan menyikapinya. Dewasa seutuhnya bukan hanya simbol belaka.

Menghabiskan sembilan semester di FISIP UI membuat gue menyadari bahwa ada banyak cara untuk melihat. Ada banyak sudut pandang dan menjadi mainstream belum tentu benar.

Kalau kamu ingin dihormati belajarlah menghormati. Kalau kamu ingin dipahami, belajarlah untuk memahami. Karena bukan dunia ini yg sempit tapi sudut pandangmu yg membatasi.

Kenapa gue menulis ini? Karena jauh di lubuk hati gue mulai bertanya-tanya.

Nun jauh di sana, ada seorang bapak yg punya segalanya. Otak cerdas, hidup enak, paten banyak, dan diperhitungkan di Amerika tapi mau meninggalkan itu semua hanya untuk kembali ke Indonesia. Dan kini, menyebabkan kewarganegaraannya hilang. WNA bukan, WNI juga tidak. Bapak Arcandra Tahar.

Di luar sana, ada wanita yg berpengaruh ke 23 versi majalah Forbes (2008), berjasa bagi Indonesia namun malah dibuang ke luar negeri karena skandal sebuah bank yg disusun sedemikian rupa agar otak pelaku yg merupakan petinggi negara tak terkena dampaknya. Namun, saat ini masih mau dipanggil kembali untuk menata perekonomian Indonesia. Tak ada dendam. Tak ada sakit hati, yg ada hanya sebuah keyakinan bahwa ia ingin berbuat banyak untuk membangun Indonesia. Ibu Sri Mulyani.

Beberapa hari ini, ramai pemberitaan tentang Gloria Natapraja Hamel. Seorang gadis manis berusia 16 tahun yg bertekad untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Istana Negara tapi tersandung kasus kewarganegaraan.

Undang-undang memang mengharuskan tim paskibraka adalah WNI sedangkan Gloria memiliki paspor Perancis.

Terlepas dari itu semua, gue salut apalagi setelah membaca surat pernyataan bahwa Gloria memilih Indonesia sebagai kewarganegaraannya. To be honest, dia berhasil membuat gue memberikan penghargaan pada dirinya.

Masalah yg dialami Gloria mungkin buat beberapa orang terlihat sepele.

Apa sih untungnya jadi paskibraka? 

Apa sih untungnya membela mati-matian dan memilih Indonesia?

But for me, ini lebih dari sekedar pilihan. Inilah kedewasaan dan kesetiaan.

Bayangkan, ketika banyak orang-orang di luar sana yg mungkin hari ini (16/8) belum memasang bendera. Bayangkan ketika di luar sana, banyak anak seumurannya yg malas tiap kali upacara bendera, tak hafal pancasila atau tak lengkap atribut upacaranya dan seorang Gloria berjuang mengerahkan segala daya upaya demi Sang Saka Merah Putih.

Kadang gue suka berpikir, mungkin jiwa nasionalisme Arcandra Tahar, Sri Mulyani, dan Gloria pada Indonesia jauh lebih besar daripada mereka yg mengaku WNI tapi saat upacara masih ketawa ketiwi, masih korupsi dan tipu sana-sini.

Mungkin sebenarnya yg perlu dipertanyakan tentang nasionalisme bukan mereka tapi bangsa ini sendiri.

Ayo merdeka seutuhnya! Bukan hanya simbol belaka.

#RI71

 

ps : Big heart untuk Arcandra dan Gloria.

Tuhan pasti punya rencana yg lebih baik untuk kalian.

0

Karena menyerah bukan saya

Saya percaya untuk satu hal yang dikurangi maka akan ada hal-hal lain yang dilebihkan. Saya percaya bahwa bumi ini begitu luas dan rejeki bisa datang dari mana saja. Saya juga percaya bahwa setiap orang punya panggung dan masing-masing kini sedang dalam proses pencarian dan pembentukan panggungnya. Tentu dalam masa ‘pencarian atau pembuatan panggung’ tidak sedikit orang-orang yang akan nyinyir, meremehkan, menghina, bahkan menghalangi dan mempersulit.

Saya terlahir sebagai tipikal thinking, orang yang dominan dengan penggunaan otak kiri. Mudahnya, thinking adalah tipe analisa logika yang cenderung apa adanya. Kalau jelek ya saya bilang jelek, bagus ya saya bilang bagus. Saya bukan tipikal penjilat bermuka manis penuh senyum namun dengan sebilah pisau untuk menusuk dari belakang. Kalaupun harus menusuk, maka saya tak akan ragu untuk menusuk tepat di jantung. Straight to the point.

Ketika orang lain di luar sana yang nggak tau atau bahkan tidak kenal tapi seenaknya menjelek-jelekkan, actually saya bodo amat dan tetap berkarya. Maaf ya, sifat ‘thinking’ yang cenderung cuek, bertugas dengan baik dalam membentengi diri. Ketika orang lain di luar sana, tampak baik di depan tapi menusuk dari belakang, saya juga nggak ambil pusing, toh mereka cuma berani ngomong di belakang. Beside, haters always gonna hate, right? Paling saya hanya bilang : Oh ya? Bodo.., kemudian tidur dan besok paginya sudah lupa.

Namun, ketika mereka berusaha membenarkan hipotesisnya bahwa saya adalah seperti yg mereka sangka hhmmm..nanti dulu..saya bukan tipe yang mudah untuk di injak, apalagi menyerah begitu saja. Kamu boleh meremehkan tapi bukan kamu yang menentukan. Kamu boleh men-judge tapi kalau memaksa agar saya menjadi seperti yang kamu pikirkan, mari kita berdarah-darah untuk membuktikan.

Dulu, ketika orang lain berbuat yang menyebalkan, maka saya akan menuntut penjelasan dan tak jarang memberi ‘sedikit pelajaran’. Hingga satu hari, Tuhan memberi pemahaman bahwa tidak perlulah membalas mereka yang sudah menyakiti atau menusuk dari belakang. Kenapa? Pengalaman membuktikan bahwa selalu ada alasan mengapa mereka ada di belakang. Revenge? No! I’m too lazy. I’m gonna sit here and let karma fuck you up. Saya percaya kok bahwa Tuhan itu adil, apa yang kamu tanam hari ini itulah yang akan kamu tuai esok hari dan siapa yang menyebar angin, dia akan menuai badai.

Karma does exist, thats the key..

Nggak perlu takut orang lain menzalimi, karena Tuhan tidak tidur. Tanpa seizin-Nya, maka perbuatan negatif tersebut tidak akan menimpa kita. Namun, bila Tuhan ridho, boleh jadi itu adalah ujian sekaligus cobaan Tuhan agar saya, kamu, dan kita segera naik kelas. Dicurangi, dihina, diremehkan, dijegal, dipersulit, ya biarkan saja, tetap berusaha sebaik-baiknya dan Let God do the rest! Jangan terpancing oleh mereka yang hanya menua tanpa jadi dewasa. Perbuatan-perbuatan anak kecil bukanlah level kita.

Percaya deh, mereka yang senang mempersulit, menghambat, dan melakukan perbuatan negatif pada orang lain maka hidupnya tidak akan beranjak, akan gitu-gitu aja atau bahkan cenderung seperti air, menuju ke tempat yang rendah, lebih rendah, makin rendah hingga berakhirlah di septic tank.

Yup, I know..saya tahu persis sakitnya dihina dan tidak bisa membalas, tahu banget rasanya dipersulit dan hanya bisa mengurut dada. But, in the other side, saya tahu rasanya ketika orang-orang yang dulunya menghina, mempersulit atau menusuk dari belakang dan kini hidupnya jauh di bawah dan saya bisa tersenyum berkata pada mereka dari atas sambil melambaikan tangan : Hey, kamu apa kabar?

Dan tidak ada pembalasan yang paling menyenangkan selain tanpa perlu membalas, tanpa perlu capek-capek mengeluarkan energi, namun tahu-tahu kita sudah melampaui mereka.

Just remember, mereka yang hari ini menghina, mempersulit atau menusuk kita dari belakang adalah mereka yang nantinya akan kita lampaui. Jangan pernah menyerah, karena tanpa badai tidak akan ada pelangi. Jangan biarkan mereka berhasil membuktikan hinaan dan persepsi buruknya. Jangan bersedih karena mungkin tanpa cacian, fitnah atau hinaan mereka, kita tidak pernah terpacu untuk mengeluarkan usaha terbaik kita.

**post script : In the end, I would like to say..

Dear haters,

Kalau kamu mau minta maaf atas semua perlakuan burukmu, kamu nggak perlu ribet-ribet datang untuk minta maaf secara langsung (walaupun itu lebih baik) karena sebelum kamu minta maaf, sudahku maafkan. Tapi buat kamu yang memang sengaja ingin cari-cari masalah, go head, silahkan tapi jujur saya tidak akan meladeni, I don’t even care. I have no time, waktuku terlalu berharga untuk melakukan hal-hal nggak penting seperti yang sekarang sedang kamu lakukan padaku. But, thanks a lot karena sudah menjadi ladang pahala gratis buatku.

See you on top! 😀