0

Mana Yang Kau Pilih?


Mereka bilang, cinta itu milik siapa saja. Siapa saja yang mau membuka diri agar cinta dapat memasukinya. Bahkan, kucingpun bisa jatuh cinta.

Mereka bilang, cinta itu hanya untuk yang berani. Berani membiarkan hati jatuh dalam dekapan nyamannya kasih sayang. Namun, harus siap saat harus merelakan. Tetap kuat saat merasa patah hati paling patah. Tetap tegar mencicipi sakit hati paling sakit. 

Mereka bilang, cinta itu memilih. Memberi ruang demokratis bagi hati untuk mencari tempat relung-relung dingin nan kosong di dalam sana. Tempat dimana dia akhirnya berteduh dan berlabuh. Tempat di mana sang hati akhirnya berubah, dari ‘sendiri’ menjadi ‘telah dimiliki’.

Mereka bilang, cinta itu berjuang. Berjuang untuknya yang tanpa alasan apapun kau mau untuk berjuang. Berjuang untuknya yang entah kenapa kau bisa begitu sayang. Tak peduli apapun resikonya. Tak peduli apapun akhirnya.

Maka,

Mana yang kau pilih, mencintai atau dicintai?

Mana yang kau pilih, mencintai orang yang tak mencintaimu atau dicintai oleh orang yang tak kau cintai?

Mana yang kau pilih, berjuang untuk orang yang kau sayang? Atau, mulai membiasakan diri dengan orang yang muncul dihadapan?

Mana yang kau pilih, berani mengungkapkan atau menunggu hingga dirinya paham?

Dan, mana yang lebih kau utamakan. Bahagianya atau bahagiamu?

Lalu, 

sudahkah kau memilih?

Karena cinta bukan hanya sekedar lima huruf yang dibaca bersama. Tapi tentang aku, kamu, dan kita. Hari ini, esok hari, hingga tua nanti.

0

I love you to the moon and back!


Yup, belakangan ini sering banget lihat ungkapan cinta bertuliskan I love you to the moon and back. Apa yg ada dibenak lo kalau baca tulisan itu?

Sebuah ungkapan cinta dari lubuk hati yg lebih dalam dari palung laut terdalam? Atau, gambaran bahwa cinta kalian begitu besar dan tak ada apapun yg mampu memisahkan, kecuali pulsa dan kuota internet yg sekarat.

I love you to the moon and back. Kalau diartikan secara harfiah itu adalah besarnya cintaku padamu sejauh jarak bumi ke bulan, bolak balik. Auuuww so sweet!

Whatever you mean it, tapi pertama kali gue baca ungkapan I love you to the moon and back, gue langsung ambil kalkulator.

Nah, kenapa gue ambil kalkulator? Karena otak kiri gue langsung menganalisa. Jarak bumi ke bulan adalah 384.400 kilometer. Kalau dihitung bolak balik, maka nilainya menjadi 768.800 kilometer. Jauh? Pastinya!
Lantas apakah menggambarkan bahwa cinta dan kesetiaan kalian cukup besar? Tunggu dulu.

Mari kita lanjut hitungannya.
Kecepatan sebuah kendaraan di jalan bebas hambatan di Indonesia yg diperbolehkan secara resmi adalah 100km/jam.

Kalau jarak 768.800 km ditempuh dalam waktu 100 km/jam maka dibutuhkan waktu 7.688 jam untuk ke bulan lalu kembali ke bumi.
7.688 jam itu setara dengan 320,3 hari. Lebih tepatnya, sekitar 10 bulan, 20 hari, dan 8 jam!

Means, ungkapan I love you to the moon and back secara nggak langsung menyatakan bahwa cinta dan kesetiaan kalian nggak sampai setahun. Bahkan kalian belum merayakan satu tahun anniversary sudah bubar jalan.

Gimana?

Masih mau pakai ungkapan itu? Kecuali bila kalian hobi gonta ganti pasangan seperti gonta ganti sikat gigi, ya itu lain cerita sih hehehe

0

Move on, its about mindset.

“Gimana ya, Ndre cara buat melupakan mantan? Gue tau gue harus move on tapi ntahlah, coba kasih gue satu alasan kenapa gue harus melepasnya…”

Tinggal beberapa hari lagi akan memasuki 2017 dan kata-kata itu meluncur lemah dari mulut seorang teman, ketika terakhir kali kami bertemu dibilangan  Tebet, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia bukanlah teman dekat namun karena dia pernah membaca tulisan yg gue share di buku karya sahabat gue dengan nama pena profesor cinta yg berjudul ‘Pacaran Mulu, Kapan Putusnya’, maka seketika itulah dia menghubungi untuk bertanya, bagaimana cara efektif untuk move on. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Pagi, siang, dan malam, dia sering menghubungi untuk mencurahkan betapa hancurnya perasaannya saat itu.

Guepun hanya duduk manis dan sabar mendengarkan. Why? Karena gue pernah ada di posisinya. Actually, hampir semua orang tau apa yg seharusnya dilakukan setelah patah hati, yakni benahi hati dan pikiran lalu segera move on.

Namun, move on adalah sebuah kata yg mudah dilakukan bila otak dan hati sedang benar.

“…Kita putus ya… ”

Pertama kali mantan gue bilang ‘kita putus’ itu rasanya kayak lagi dibius lokal. Gue paham maksudnya tapi hati ini bingung memahaminya.

Hingga keesokan paginya gue bangun dan baru sadar bahwa dia bukan milik gue lagi. Nggak ada lagi telepon, mention, atau chat yg biasanya menyapa di pagi hari.

Nggak ada lagi perhatian berupa pertanyaan : kamu sudah makan? Atau kalimat-kalimat singkat sarat makna kayak : hati-hati di jalan, ya sayang. 

Dan malamnya, tak ada lagi obrolan ringan, ucapan sayang atau rindu, walau saat itu rindu adalah satu-satunya hal yg membuat gue diam membatu.

Putus cinta membuat dunia seakan hening. Tampak ramai di luar sana tapi begitu sepi di hati.

Beberapa hari setelah putus, rasanya semua serba membingungkan. Mau bilang rindu tapi dia sudah hilang, tapi kalo nggak bilang, pikiran gue melayang-layang.

Hati berkata, ambil hplo dan bilang bahwa lo butuh dia. Namun, otak mencegah dengan kalimat : Nyet, lo itu bukan siapa-siapanya lagi! Dan hp-pun kembali teronggok di sudut meja.

Putus juga membuat badan terasa asing. Fisiknya sehat tapi jiwanya lunglai. Semua syaraf seakan gagal bekerja.

Malas makan karena sama sekali tak terasa lapar. Malas bergerak karena memang seakan dunia begitu lambat bergerak.

Parahnya, responpun ikut melambat. Butuh beberapa waktu hanya untuk menjawab pertanyaan, Ndre, are you okay?

Yes, perasaan nelangsa gitu pernah gue alami. Tapi gue di sini bukan untuk menambah menye-menye atau bikin kalian yg baru putus jadi tambah menderita. Gue akan coba share, langkah awal apa untuk move on dan alasan kenapa lo harus move on.

Mungkin sebagian akan setuju dengan pemikiran gue, sebagian akan menolak, dan sebagian akan berpikir ulang. Its fine, karena semua orang punya pengalaman dan solusi yg berbeda.

Oke, here goes…

Move on harus diawali dengan  membenahi pikiran karena salah satu hal yg bikin semua jadi ribet disebabkan oleh mindset/pola pikir yg salah.

Pola pikir lo selalu berkata bahwa lo cinta, rindu, dan inginkan dia karena cuma dia yg selalu ada. Lo akan mati tanpanya. Jadinya? Ya, mati beneran!

Gue paham memang sulit ‘melupakan’ orang yg kita sayang. Tapi pahami bahwa itu menjadi sulit karena kita selalu mengenang kebiasaan.

Kita terbiasa dengan hadirnya,  suaranya, candanya, sikapnya atau hal-hal menyenangkan ketika kita sedang bersamanya, dan ketika dia hilang, seakan ada yg lenyap dari diri kita.

Trus gimana cara buat melupakan mantan?

Nah, ini dia kesalahannya. Gini, semua indera manusia itu didesain untuk merekam dan mengingat setiap moment dalam hidup.

Secara sistemik, hampir semua orang yg pernah masuk dan berinteraksi dalam hidup lo, akan lo ingat.

Contoh, mungkin lo udah bertahun-tahun lulus sekolah tapi ketika reuni mungkin lo akan kembali mengingat moment-moment ketika dulu bersama temen-temen lo. Ketika lo dimarahi guru, cabut kelas, atau nyontek bareng-bareng, semua tiba-tiba teringat kembali.

Jadi, belajar dari situ maka usaha lo untuk melupakan mantan adalah hal yg sia-sia. Kecuali lo tiba-tiba kejatuhan gapura selamat datang dan jadi lupa permanen ya itu lain lagi ceritanya.

Terus gimana dong? 

Kita memang nggak tau siapa jodoh kita ke depan tapi bila untuk balikan adalah hal yg mustahil maka tak perlu memaksa mengemis minta balikan.

Lo juga nggak perlu melupakannya kok, yg lo harus lakukan adalah menetralkan perasaan lo ke dia.

How? 

I told you, its all about mindset.

Pertama, positive thinking. Gue tau ini susah tapi cobalah untuk berpikir positif.

Datang dan perginya seseorang dalam hidup adalah hal yg normal. Kita pasti pernah berpisah atau kehilangan seseorang. Mungkin karena beda pilihan, beda sudut pandang,  atau karena maut memisahkan.

Sekarang coba ingat deh, sebelum dia masuk dalam hidup lo, dia bukan siapa-siapa. Sebelum kenal dia, lo bisa hidup tanpanya. Maka, yakini bahwa hari ini, tanpanya lo pasti bisa melanjutkan hidup. Pasti!

Kedua, definisikan kembali apa itu mantan dan kenangan. Beberapa waktu setelah putus, yg ada hanyalah kenangan, dan itu nggak salah. Sekali lagi itu normal. Lo akan sering mengingat bagaimana dia berkata, bertindak, dan membuat lo menjadi sangat nyaman bersamanya. But the question is, kalo sayang dan sudah nyaman, kenapa bisa jadi mantan?

Sadari bahwa semua terlihat manis karena yg lo ingat hanyalah kenangan yg manis. Memang dia pernah bikin nyaman namun pernah bikin nyaman bukan jadi alasan untuk balikan.

Coba ingat kembali every single moment yg membuat kalian akhirnya memutuskan untuk berpisah. Pertengkaran? Jarak? Ego? Beda agama? Pihak ketiga? Atau memang pada dasarnya salah satu pihak sudah kehilangan komitmen untuk bersama.

Ketiga, look around. Ada banyak yg single, baik, cakep, dan tentunya memiliki kemungkinan untuk membuat lo lebih nyaman di luar sana. So, kenapa harus membatasi pikiran bahwa hanya dia yg bisa bikin lo bahagia?

Ada milyaran manusia di muka bumi dan kita berhak untuk bahagia. Mungkin saat ini lo sedih kehilangannya, namun di masa depan mungkin lo akan bahagia karena berani melepaskan dan mendapat penggantinya, yg jauh lebih baik.

Keempat, kenangan tentang mantan mungkin akan memakan dan mengorbankan banyak hal. Sadar gak, efek buruk apa yg terjadi kalo lo kebanyakan inget mantan? Yup, hidup lo jadi berantakan.

Lo bakal sedih lagi. Lo bakal galau dan nangis dipojokan kamar mandi. Mata lo bakal sembab, jerawat betebaran, dan gangguan pencernaan karena telat makan. Jadinya apa? Lo bakal jadi jelek dan penyakitan! Sedangkan dia mungkin sedang hahahihi dengan gebetan barunya… *uups*

Belum lagi kerjaan jadi nggak beres, dan orang lain akan menilai lo sebagai pihak yg tidak profesional. Menyedihkan bukan? Sedih boleh tapi jangan kelamaan.

Dunia ini luas dan ada banyak hal menyenangkan menunggu di depan. Satu jam lo sedih means lo membuang 60 menit secara sia-sia. Artinya lo kehilangan 3.600 detik kemungkinan-kemungkinan lain untuk bahagia.

Kalo lo ngeyel dan bilang ah, sejam mah sebentar, hhmmm baiklah coba lo itung angka 1 sampai 3600, dijamin ‘bleber’ bibir lo hehehe.

Kelima, lo bukan satu-satunya. Sadari bahwa patah hati dialami oleh hampir tiap jiwa yg memiliki cinta. Bahkan kucing gue pernah patah hati!

Sadari bahwa putus adalah satu dari sekian banyak masalah yg ada dalam hidup. Dan sadari bahwa ada banyak masalah atau rintangan yg lebih pelik menghadang di depan. So, buat apa bikin semua tambah rumit?

Keenam, mata dan kaca. Tau nggak kenapa Tuhan meletakkan kedua mata di depan? Tau nggak kenapa kaca depan mobil selalu lebih besar daripada kaca spion? Agar kita lebih fokus ke depan dibanding melihat ke belakang!

Ketujuh, ikhlas. Semua yg terjadi itu sudah digariskan. Semua itu ada masa berlakunya. Kalo hubungan kalian berakhir ya berarti memang saat-saat kalian untuk bersama memang sudah habis.

Percaya deh, baik buruk yg Allah kasih ke kita pasti tetap yg terbaik, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Suatu hari akan terjawab, kenapa kita lebih baik hidup tanpanya. Suatu hari akan terjawab siapa tulang rusuk kita sesungguhnya.

…Cinta tak hanya mengajarkan untuk berbagi bahagia tapi juga menguatkan kita meski dia tak lagi bersama. Karena hidup berarti melangkah ke depan, bukan stagnan meratapi yg telah hilang…


Benahi diri dan bersiaplah untuk jatuh cinta lagi.


Ps : Ada yg mau curhat atau nambahin tentang move on? Just feel free ya.

0

Sahabat berbulu berkaki empat

wpid-20140327_170941.jpg

2013
Dua tahun lalu, jam tiga sore, di kolong mobil, gue menemukan makhluk berbulu berkaki empat berwarna abu-abu, tertidur lelap dengan kondisi lemah. Makhluk itu adalah seekor kucing jalanan, terlihat dari badannya yg ngga terawat, dengan sisi-sisi kebotakan di sana-sini karena kutu, tubuhnya kurus, dan matanya memelas.

Saat itu, gue baru buka pintu utama mau menuju pagar untuk keluar rumah, melihat dia yg kaget terbangun karena melihat gue mendekat. Gue memang membiasakan memeriksa kolong mobil, takut kalo pas ngeluarin mobil ngelindes kucing sekalian buat ngecek tekanan ban. Saat gue liat dia, sempet kepikiran iseng mau ngejar dan nakutin dia, cuma karena saat itu gue lihat dia begitu lemah, gue mengurungkan niat gue. Gue balik badan, pergi ke dapur, buka kulkas dan membawakan sepotong ikan tuna, jatah Ciput, kucing piaraan gue saat itu.

Gue menghampirinya dengan perlahan karena gue tau kalo sikap gue ‘ngga santai’ maka kucing itu akan kabur.

“Sini..sini” kata gue sambil menyodorkan tangan berisi sepotong ikan.

Kucing itu melihat gue, hidungnya mengendus dari kejauhan. Dia menatap dengan bingung sekaligus berharap, karena gue memegang sepotong ikan tapi di sisi lain dia takut, karena kita belum kenal dan pastinya bingung karena tau-tau ada orang asing yg ngga dikenal tiba-tiba berbaik hati mau memberi sepotong ikan tuna. Langkahnya antara mau maju mendekat dan di sisi lain siap-siap kabur, menandakan kucing ini sering mendapatkan perlakuan yg tidak baik dari manusia.

“Sini..sini..pus..puss, mau ikan ngga?” tanya gue lagi.

Dan karena gue tau dia masih bingung, gue maju perlahan, berjalan jongkok, selangkah demi selangkah mendekat. Kucing itu ngga kabur tapi gue tau dia masih waspada. Akhirnya potongan ikan tuna itu gue lempar kedekatnya. Dalam hitungan detik, potongan tuna itu telah masuk ke dalam perutnya. Setelah makan, kucing itu menatap gue cukup lama, kemudian pergi.

Esoknya, kucing itu datang lagi, tidur sambil berteduh di bawah kolong mobil. Gue kembali ke dapur, kembali merampok jatah makan si Ciput, sepotong tuna, untuk dikasih ke dia. Dari sinilah, gue punya ide dan hobi baru, yaitu bikin baksos buat hewan-hewan kelaparan dan terlantar di pinggir jalan di sekitar rumah, naik sepeda malam-malam sambil bawa seplastik potongan ikan buat gue bagiin ke kucing-kucing liar di pinggir jalan.

Satu minggu setelah rutin memberinya makan, kucing itu ngga takut lagi sama gue, bahkan dia langsung lari datang ketika gue panggil. Minggu kedua, kucing itu gue mandiin, ajaibnya dia ngga berontak sedikit pun. Gue shampoin dia pake shampo yg sama yg gue pake buat keramas. Hari itu, wangi kita sama.

Gue juga punya cara unik buat memanggilnya, bukan dengan memanggil nama tapi memakai bunyi seperti ketika seseorang makan permen karet, membuat balon, dan meletuskannya di dalam mulut. Biasanya walau dia ngga di rumah dan gue memanggil dengan cara seperti itu, dalam waktu kurang dari sepuluh detik dia sudah masuk pagar rumah.

Karena kucing itu sering berinteraksi ama gue, assisten ibu gue memberinya nama ‘monyet’, karena warnanya yg memang mirip monyet dan melalui Tap.Perkan -ketetapan majikan- gue menginstruksikan asisten ibu untuk juga memberinya makanan, sama seperti kucing-kucing yg lain.

Makin ke sini, monyet dan gue makin akrab. Gue sering meluangkan waktu sekitar sepuluh menit tiap malam buat main bareng. Dia gue kasih tempat tidur khusus dari keset yg masih bersih, di sini biasanya dia gue elus-elus hingga tertidur. Dia juga hafal jadwal kapan gue bangun pagi, jam gue tidur siang, dan jam gue pulang ke rumah.

Kalo gue pergi buat solat subuh ke mesjid, dia pasti udah bangun buat say hello ama gue, biasanya muter muter ngelingkerin kaki dan mengantar gue hingga ke pagar, tapi dia tau saat itu gue belum siap buat ngasih makan. Jam segitu makanan kucing masih di kulkas dan dalam keadaan beku. Setelah gue pulang solat subuh, dia bakal ngajak main-main dengan tiduran di kaki gue sambil menempelkan kepalanya, minta di elus-elus lagi.

Dia juga tau, kalo gue keluar siang-siang naik sepeda, itu tandanya gue akan kembali lagi ke rumah dengan sekantung ikan tuna. Biasanya ketika gue pulang, ekornya akan mengibas-ngibas tanda senang karena sebentar lagi akan segera makan. Dia akan lari-lari kegirangan mengikuti gue ke dapur, menunggu dengan sabar karena ikan yg gue beli biasanya akan gue bersihin dulu duri-durinya, biar kucing itu bisa makan dengan nyaman tanpa takut tersedak atau tertusuk duri.

2014,
Monyet ikutan acara tahun baru bareng keluarga besar yg diselenggarain di rumah gue. Ga tau brapa banyak daging sate yg dia telan saat itu. Dia makin terkenal di antara sodara-sodara gue yg mostly juga penyayang kucing.

Oiya, Monyet juga punya peran penting di rumah. Dia sudah beberapa kali berhasil menangkap tikus. Biasanya kalo dia udah berhasil nangkap tikus, tikus itu ngga langsung dia makan. Dia akan mencari gue, menunjukkan keberhasilannya menangkap hewan pengerat itu dengan tatapan jumawa, mukanya polos namun matanya sangat berbinar-binar saat itu, dan tak lama setelahnya, baru memakan hewan pengerat yg nasibnya sedang tak beruntung itu. Kadang kalo dia lagi makan tikus dan gue masih di sebelahnya, dia dengan baik hati menyisakan tikus itu buat gue, yg tentunya gue tolak karena.. tikusnya belum di masak dan belum dibumbuin, ya menurut lo, nyet? 😀

Dua tahun monyet ada di keluarga gue membuat dia di kenal sebagai kucing yg ‘gue banget’, karena mirip kayak gue, si monyet juga kurus. Kata bokap, monyet ngga akan gemuk karena sudah terlalu lama malnutrisi, jauh sebelum gue rawat. Gue juga pernah ngasih dia makanan ekstra banyak dan dia tetap ngga gemuk juga. Walau begitu, monyet bukan tipikal kucing rewel yg kalo ngga dikasih makan bakal teriak-teriak berisik kayak kucing-kucing gue yg lain. Dia akan menunggu dengan setia, diam tanpa suara, sambil muter-muter di kaki, dan kalo gue lagi ngga punya makan, dia ngga marah, tetep ngajak main-main, minta di elus-elus lalu pergi.

Monyet juga sering gue ajak ngobrol, biasanya kalo udah mentok mau ngobrol ama sapa atau kalo temen-temen gue lagi pada sibuk, gue bakal nyamperin dia -yg biasanya lagi enak-enak tertidur- gue bangunin trus gue ajak ngobrol. Biasanya sih dia cuma menatap gue, diam. Gue tau monyet ngga ngerti masalah gue ataupun yg gue rasain, tapi ngeliat dia yg antusias nemenin gue, menatap lekat-lekat dengan mata polosnya itu udah lebih dari cukup 🙂

2015,
Seminggu kemarin, sifat monyet manja banget. Pernah dia nungguin gue pulang dan ngga minta makan melainkan cuma minta di ajak main, di elus-elus, dan di temenin tidur.

Selasa, 17 Maret, gue sempet mandiin dia ntah untuk yg kesekian kalinya. Monyet anteng banget pas dimandiin. Setelah gue mandiin, gue keringin dan gue kasih makan, dan malamnya karena badannya masih wangi, gue ijinin untuk tidur di dalem rumah, lebih tepatnya di ruang keluarga di lantai dua. Gue sempet nemenin dia tidur di sofa sambil mengelus-elus kepalanya. Saat itu, monyet pindah dari sofa ke paha, kedua tangannya ditaruh di perut gue dan kemudian dia tertidur.

Rabu, 18 Maret, Monyet mendadak ngga mau makan. Dia cuma ngajak main-main, ngikutin gue kemana-mana sambil ngibas-ngibas ekornya. Hari itu gue inget, dia makan hanya sekali, siang aja, itupun setelah dipaksa dan gue potong kecil-kecil makanannya. Dia makan beberapa potong dan kemudian dia muntahkan. Di situ, feeling gue mulai ngga enak.

Kamis, 19 Maret, badan monyet makin mengurus. Dia sempet lari-lari ngajak gue main tapi gue tau kondisinya begitu lemah. Tubuhnya tidak setegap biasanya. Mata kanannya memerah dan berair. Mata kirinya bahkan bernanah. Malam itu, matanya gue bersihin dengan tisu basah dan gue kasih obat tetes mata. Kamis malam, monyet makin melemah, dia bahkan udah ngga cukup kuat buat ikut gue naik ke lantai dua. Kulitnya mulai ngga refleks ketika ditarik alias kalo ditarik lama banget kembali ke posisi awal. Nafasnya tersenggal-senggal.

Malam itu, monyet gue tidurin di keset dan gue bikinin dinding kardus disekelilingnya biar ngga kedinginan. Gue ngga tega liat dia kesulitan nafas dan karena kondisinya yg memburuk begitu cepat, saat itu gue sempet bilang ama dia: “Nyet, kamu kalo meninggal hari jumat aja yaah, kan katanya hari bagus..” Ngga lama setelah itu monyet gue tinggal. Gue pergi ke XXI. Gue nyesel saat itu gue lebih mentingin nonton cinderella dibanding nemenin sahabat berbulu gue.

Jumat, 20 Maret pagi, Monyet sakaratul maut. Kakak gue bahkan mengira dia udah ngga ada. Saat gue liat dia masih bisa nafas, gue inisiatif buat ngasih dia susu cair anget. Ini percobaan terakhir gue kata gue dalam hati, ga tau bisa sembuh apa ngga tapi semoga bisa sembuh. Susu cair putih gue tuang perlahan-lahan pake sendok kecil. Monyet menelan beberapa teguk. Gue kegirangan, bayangan monyet sembuh ada di depan mata. Ternyata harapan gue salah, ngga lama monyet batuk dan memuntahkan semua susunya. Gue nyerah, cuma tinggal satu cara lagi yg bisa gue pake, berdoa khusus buat si monyet.

Pas masuk waktu dhuha, gue naik ke lantai dua, menuju kamar buat solat dhuha tapi bodohnya gue sempet ketiduran. Selama sekitar 10 menit gue ketiduran, gue ngimpiin si monyet, main-main lari-lari ama gue di lantai dua, gue ngeliat dia udah sembuh. Gue kebangun dan segera lanjut solat dhuha 8 rakaat dan di akhir solat, gue berdoa ke Allah, ya Allah ikhlas deh kalo si monyet mau di ambil sekarang, dari pada kesakitan terus tapi aku tetep berharap dia sembuh ya Allah.

Abis doa, gue buka Quran, buka surah yasin dan gue baca khusus buat sahabat berbulu gue itu. Baru di ayat 40-an, kakak gue memberi tau kalo sahabat berbulu gue udah ngga ada. Gue nyelesaiin bacaan yasin. Abis itu gue doa lagi : Ya Allah makasih ya, kalo emang ini yg terbaik buat monyet, semoga dia tenang di sana, tolong jaga sahabatku di sisiMu, ya Allah.

Jam 11 siang, monyet gue bersihin, mukanya gue basuh dengan lap, matanya gue bersihin, hidung dan mulutnya juga gue bersihin. Ini adalah terakhir kalinya gue bisa bersihin dia, momen yg begitu hening karena biasanya saat gue mandiin dia, gue selalu rame dan sambil main-main bercanda-canda ama dia. Momen ini sangat berbeda dan gue ingin saat gue membersihkannya untuk yg terakhir, gue mau make sure bahwa sahabat gue itu berpulang menghadap Allah dalam kondisi yg bersih.

Abis itu, gue minta selimut ke nyokap gue, buat ngebungkus dia. Bukan pake selimut biasa tapi selimut yg biasa gue pake saat masih bayi dulu, di mana semua kucing peliharaan gue yg meninggal selalu gue bungkus pake selimut itu. Selimut untuk monyet warnanya biru, dengan hiasan boneka-boneka beruang kecil yg tersebar.

Gue ambil cangkul dan mulai menggali rumah peristirahatan akhir si monyet. Monyet gue tempatin satu tempat bareng ama sahabat-sahabat berbulu gue yg lain, yg telah berpulang lebih dahulu. Abis itu, gue timbun dan gue bacain Al Fatihah dan surah lain. Isya tadi, gue juga nyempetin baca surah yasin lagi buat dia.

wpid-20140405_132316.jpg

Lavender’s blue dily dily, lavender’s green
if you love me, dily dily, i will love you

Onyet..

Thanks buat persahabatan yg tulus selama dua tahun ini,

Thanks udah ngejaga rumah gue dari tikus-tikus menyebalkan itu,

Thanks selalu nemenin gue tiap mau solat subuh,

Thanks selalu jadi ‘anggota keluarga pertama’ yg menyambut tiap gue pulang,

Thanks selalu mau dengerin uneg-uneg saat orang lain jarang punya waktu buat dengerin uneg-uneg gue,

Thanks buat semua hal-hal yg bikin ngakak bareng,

dan,

Thanks buat semua kasih sayang yg elo kasih buat gue secara cuma-cuma, yg tulus, yg jujur, dan apa adanya.

Kamu yg tenang di sana ya Monyet, jangan bandel hehehe

love you so! 😀