0

Move on, its about mindset.

“Gimana ya, Ndre cara buat melupakan mantan? Gue tau gue harus move on tapi ntahlah, coba kasih gue satu alasan kenapa gue harus melepasnya…”

Tinggal beberapa hari lagi akan memasuki 2017 dan kata-kata itu meluncur lemah dari mulut seorang teman, ketika terakhir kali kami bertemu dibilangan  Tebet, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia bukanlah teman dekat namun karena dia pernah membaca tulisan yg gue share di buku karya sahabat gue dengan nama pena profesor cinta yg berjudul ‘Pacaran Mulu, Kapan Putusnya’, maka seketika itulah dia menghubungi untuk bertanya, bagaimana cara efektif untuk move on. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Pagi, siang, dan malam, dia sering menghubungi untuk mencurahkan betapa hancurnya perasaannya saat itu.

Guepun hanya duduk manis dan sabar mendengarkan. Why? Karena gue pernah ada di posisinya. Actually, hampir semua orang tau apa yg seharusnya dilakukan setelah patah hati, yakni benahi hati dan pikiran lalu segera move on.

Namun, move on adalah sebuah kata yg mudah dilakukan bila otak dan hati sedang benar.

“…Kita putus ya… ”

Pertama kali mantan gue bilang ‘kita putus’ itu rasanya kayak lagi dibius lokal. Gue paham maksudnya tapi hati ini bingung memahaminya.

Hingga keesokan paginya gue bangun dan baru sadar bahwa dia bukan milik gue lagi. Nggak ada lagi telepon, mention, atau chat yg biasanya menyapa di pagi hari.

Nggak ada lagi perhatian berupa pertanyaan : kamu sudah makan? Atau kalimat-kalimat singkat sarat makna kayak : hati-hati di jalan, ya sayang. 

Dan malamnya, tak ada lagi obrolan ringan, ucapan sayang atau rindu, walau saat itu rindu adalah satu-satunya hal yg membuat gue diam membatu.

Putus cinta membuat dunia seakan hening. Tampak ramai di luar sana tapi begitu sepi di hati.

Beberapa hari setelah putus, rasanya semua serba membingungkan. Mau bilang rindu tapi dia sudah hilang, tapi kalo nggak bilang, pikiran gue melayang-layang.

Hati berkata, ambil hplo dan bilang bahwa lo butuh dia. Namun, otak mencegah dengan kalimat : Nyet, lo itu bukan siapa-siapanya lagi! Dan hp-pun kembali teronggok di sudut meja.

Putus juga membuat badan terasa asing. Fisiknya sehat tapi jiwanya lunglai. Semua syaraf seakan gagal bekerja.

Malas makan karena sama sekali tak terasa lapar. Malas bergerak karena memang seakan dunia begitu lambat bergerak.

Parahnya, responpun ikut melambat. Butuh beberapa waktu hanya untuk menjawab pertanyaan, Ndre, are you okay?

Yes, perasaan nelangsa gitu pernah gue alami. Tapi gue di sini bukan untuk menambah menye-menye atau bikin kalian yg baru putus jadi tambah menderita. Gue akan coba share, langkah awal apa untuk move on dan alasan kenapa lo harus move on.

Mungkin sebagian akan setuju dengan pemikiran gue, sebagian akan menolak, dan sebagian akan berpikir ulang. Its fine, karena semua orang punya pengalaman dan solusi yg berbeda.

Oke, here goes…

Move on harus diawali dengan  membenahi pikiran karena salah satu hal yg bikin semua jadi ribet disebabkan oleh mindset/pola pikir yg salah.

Pola pikir lo selalu berkata bahwa lo cinta, rindu, dan inginkan dia karena cuma dia yg selalu ada. Lo akan mati tanpanya. Jadinya? Ya, mati beneran!

Gue paham memang sulit ‘melupakan’ orang yg kita sayang. Tapi pahami bahwa itu menjadi sulit karena kita selalu mengenang kebiasaan.

Kita terbiasa dengan hadirnya,  suaranya, candanya, sikapnya atau hal-hal menyenangkan ketika kita sedang bersamanya, dan ketika dia hilang, seakan ada yg lenyap dari diri kita.

Trus gimana cara buat melupakan mantan?

Nah, ini dia kesalahannya. Gini, semua indera manusia itu didesain untuk merekam dan mengingat setiap moment dalam hidup.

Secara sistemik, hampir semua orang yg pernah masuk dan berinteraksi dalam hidup lo, akan lo ingat.

Contoh, mungkin lo udah bertahun-tahun lulus sekolah tapi ketika reuni mungkin lo akan kembali mengingat moment-moment ketika dulu bersama temen-temen lo. Ketika lo dimarahi guru, cabut kelas, atau nyontek bareng-bareng, semua tiba-tiba teringat kembali.

Jadi, belajar dari situ maka usaha lo untuk melupakan mantan adalah hal yg sia-sia. Kecuali lo tiba-tiba kejatuhan gapura selamat datang dan jadi lupa permanen ya itu lain lagi ceritanya.

Terus gimana dong? 

Kita memang nggak tau siapa jodoh kita ke depan tapi bila untuk balikan adalah hal yg mustahil maka tak perlu memaksa mengemis minta balikan.

Lo juga nggak perlu melupakannya kok, yg lo harus lakukan adalah menetralkan perasaan lo ke dia.

How? 

I told you, its all about mindset.

Pertama, positive thinking. Gue tau ini susah tapi cobalah untuk berpikir positif.

Datang dan perginya seseorang dalam hidup adalah hal yg normal. Kita pasti pernah berpisah atau kehilangan seseorang. Mungkin karena beda pilihan, beda sudut pandang,  atau karena maut memisahkan.

Sekarang coba ingat deh, sebelum dia masuk dalam hidup lo, dia bukan siapa-siapa. Sebelum kenal dia, lo bisa hidup tanpanya. Maka, yakini bahwa hari ini, tanpanya lo pasti bisa melanjutkan hidup. Pasti!

Kedua, definisikan kembali apa itu mantan dan kenangan. Beberapa waktu setelah putus, yg ada hanyalah kenangan, dan itu nggak salah. Sekali lagi itu normal. Lo akan sering mengingat bagaimana dia berkata, bertindak, dan membuat lo menjadi sangat nyaman bersamanya. But the question is, kalo sayang dan sudah nyaman, kenapa bisa jadi mantan?

Sadari bahwa semua terlihat manis karena yg lo ingat hanyalah kenangan yg manis. Memang dia pernah bikin nyaman namun pernah bikin nyaman bukan jadi alasan untuk balikan.

Coba ingat kembali every single moment yg membuat kalian akhirnya memutuskan untuk berpisah. Pertengkaran? Jarak? Ego? Beda agama? Pihak ketiga? Atau memang pada dasarnya salah satu pihak sudah kehilangan komitmen untuk bersama.

Ketiga, look around. Ada banyak yg single, baik, cakep, dan tentunya memiliki kemungkinan untuk membuat lo lebih nyaman di luar sana. So, kenapa harus membatasi pikiran bahwa hanya dia yg bisa bikin lo bahagia?

Ada milyaran manusia di muka bumi dan kita berhak untuk bahagia. Mungkin saat ini lo sedih kehilangannya, namun di masa depan mungkin lo akan bahagia karena berani melepaskan dan mendapat penggantinya, yg jauh lebih baik.

Keempat, kenangan tentang mantan mungkin akan memakan dan mengorbankan banyak hal. Sadar gak, efek buruk apa yg terjadi kalo lo kebanyakan inget mantan? Yup, hidup lo jadi berantakan.

Lo bakal sedih lagi. Lo bakal galau dan nangis dipojokan kamar mandi. Mata lo bakal sembab, jerawat betebaran, dan gangguan pencernaan karena telat makan. Jadinya apa? Lo bakal jadi jelek dan penyakitan! Sedangkan dia mungkin sedang hahahihi dengan gebetan barunya… *uups*

Belum lagi kerjaan jadi nggak beres, dan orang lain akan menilai lo sebagai pihak yg tidak profesional. Menyedihkan bukan? Sedih boleh tapi jangan kelamaan.

Dunia ini luas dan ada banyak hal menyenangkan menunggu di depan. Satu jam lo sedih means lo membuang 60 menit secara sia-sia. Artinya lo kehilangan 3.600 detik kemungkinan-kemungkinan lain untuk bahagia.

Kalo lo ngeyel dan bilang ah, sejam mah sebentar, hhmmm baiklah coba lo itung angka 1 sampai 3600, dijamin ‘bleber’ bibir lo hehehe.

Kelima, lo bukan satu-satunya. Sadari bahwa patah hati dialami oleh hampir tiap jiwa yg memiliki cinta. Bahkan kucing gue pernah patah hati!

Sadari bahwa putus adalah satu dari sekian banyak masalah yg ada dalam hidup. Dan sadari bahwa ada banyak masalah atau rintangan yg lebih pelik menghadang di depan. So, buat apa bikin semua tambah rumit?

Keenam, mata dan kaca. Tau nggak kenapa Tuhan meletakkan kedua mata di depan? Tau nggak kenapa kaca depan mobil selalu lebih besar daripada kaca spion? Agar kita lebih fokus ke depan dibanding melihat ke belakang!

Ketujuh, ikhlas. Semua yg terjadi itu sudah digariskan. Semua itu ada masa berlakunya. Kalo hubungan kalian berakhir ya berarti memang saat-saat kalian untuk bersama memang sudah habis.

Percaya deh, baik buruk yg Allah kasih ke kita pasti tetap yg terbaik, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Suatu hari akan terjawab, kenapa kita lebih baik hidup tanpanya. Suatu hari akan terjawab siapa tulang rusuk kita sesungguhnya.

…Cinta tak hanya mengajarkan untuk berbagi bahagia tapi juga menguatkan kita meski dia tak lagi bersama. Karena hidup berarti melangkah ke depan, bukan stagnan meratapi yg telah hilang…


Benahi diri dan bersiaplah untuk jatuh cinta lagi.


Ps : Ada yg mau curhat atau nambahin tentang move on? Just feel free ya.

Advertisements
0

Doa bersama 212. May peace be upon you


Sampai detik ini gue bingung mau nulis apa tentang aksi bela Islam 2/12 kemarin. Kagum dan haru masih tumpah ruah di dada. Islam di Indonesia telah tumbuh dewasa dan bersahaja. 

Rasanya pengin teriak : Gue bangga sebagai umat Islam! Gue bangga sebagai orang Indonesia!

Ketika jutaan umat Islam hadir di satu tempat, bukan untuk mendoakan diri sendiri tapi untuk kebaikan negara dan dunia.

Ketika jutaan umat Islam saling bahu membahu, merapatkan barisan agar acara doa bersama ini berjalan dengan khusyuk, baik, dan tertib. Saling berbagi makanan, minuman, dan sajadah. Saling bantu saat wudhu. Dan pastinya, mereka menjaga kebersihan atas aksi hari ini.

Ketika Allah dan Alquran dilecehkan, jutaan umat Islam duduk bersama bukan untuk menghujat si penista agama, namun kami justru duduk bersama mendoakannya. Ulama tercinta kami, Ustad Arifin Ilham secara khusus mendoakan agar Pak Basuki Tjahaya Purnama mendapat hidayah dari Allah.

Dua dua belas,

Tanggal yg tak akan terlupakan sebagai aksi damai terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Damai, tertib, dan bersih. Tak ada sampah, tak ada pohon yg tumbang, tak ada bangunan atau kendaraan yg dirusak, dan tak ada rusuh atau tatapan permusuhan. Semua tertib. Semua teduh.

Mungkin inilah aksi damai terbesar di Indonesia sepanjang masa.

Mungkin inilah solat jumat berjamaah terbesar di Indonesia dan mungkin juga dunia.

Mungkin inilah aksi damai umat Islam paling tenang, tertib, dan sejuk di dunia.

Pada akhirnya, dunia telah mencatat bahwa Islam di Indonesia adalah contoh Islam yg paling toleran di dunia.

Ketika menjadi minoritas, kami tak berulah. Ketika menjadi mayoritas, kami lembut terhadap minoritas.

Ketika umat Islam sering kesulitan untuk mencari mesjid saat berada di negara yg mayoritas non-muslim tapi di Indonesia, pemeluk non muslim begitu mudah dan bebas beribadah. Tanpa dicaci dan tanpa label agama x-phobia karena kami saling menghormati. Bahkan tak jarang mesjid berdiri berdampingan dengan tempat ibadah lain.

Ingin bukti bahwa Islam adalah agama yg rahmatan lil alamin? Datanglah ke Indonesia. Saksikan dan rasakan bahwa toleransi kami begitu luas dan sempurna.

…karena Islam itu mengajak, bukan menginjak. Islam itu merangkul, bukan memukul. Dan karena Islam saling berbagi dalam damai…


May peace be upon you, amin…


Ps : Oiya, hari ini (4/12) ada aksi tandingan cuma dilabel dengan tema aksi budaya. Gue pribadi sih cuma mau bilang buat mereka yg bikin aksi tandingan, aksi budaya, or whatever they name it,  gini lho, sesuatu yg digerakkan oleh Allah dibanding dengan yg digerakkan oleh uang hasilnya akan sangat berbeda. Mungkin akan sulit dimengerti dengan pikiran, tapi mudah dipahami dengan iman. Karena iman sebenar-benarnya iman tak bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan. Itu aja sih.

0

Hola!

Dear diary,

Sorry udah lama nggak nulis dimari, biar dikira sibuk aja sih sebenarnya *plak*. No, seriously, gue selalu mencoba agar paling nggak dalam satu bulan lahir satu artikel, apapun itu, but honestly, bulan ini kegiatan gue padet banget, bahkan nggak pake ‘banget’ aja udah padet, ntah urusan di Jakarta atau di luar kota.

Actually, ada ratusan ide, curhat, or even kegelisahan di kepala yg ingin dituangkan tapi lenyap begitu saja seiring kesibukan. And you know what? Abis nulis kalimat tadi, hati gue langsung bilang : bahasa lo, nyet..sok iye banget!

Oiya, masih berhubungan dengan serangkaian peristiwa yg menimpa dan menghilangkan banyak nyawa, I would like to say, bahwa : segenap hati, pikiran dan jiwa gue bersama mereka yg menjadi korban, mereka yg berduka karena kehilangan anggota keluarga dan harta benda, tidak hanya di Paris, Palestina, Irak, dan Suriah, namun juga untuk mereka yg tertimpa musibah di berbagai belahan dunia. Kita memang tidak saling mengenal, tidak saling menyapa tapi kita tinggal dan berpijak di bumi yg sama and most of all, apapun suku, ras, warna kulit dan agamamu, kita adalah satu, sama-sama manusia yg saling bersaudara dan harus saling menjaga. As long as we stay together, we will be alright. Be strong..

God bless us

Pray for us. Pray for humanity.