0

Cara Mudah Bikin Bukumu Masuk Toko Buku (2)


Apa bukti otentik seseorang bisa disebut penulis?
Yup, penulis harus punya buku dan buku yang baik adalah buku yang masuk toko buku sehingga semua orang bisa menikmatinya. 

Kenapa harus masuk toko buku? 

Sederhana, semua buku yang masuk toko buku paling tidak telah memenuhi standar kaidah penulisan. Kamu tak akan menemukan tulisan alay atau sekedar kesalahan penggunaan tanda titik atau koma pada buku yang masuk toko buku.

Jadi kalau kamu penulis tapi bukunya nggak masuk toko buku? Itu mirip kayak kamu bisa mengemudi mobil tapi tak punya SIM, rasanya kurang terlegitimasi.

Namun tak perlu berkecil hati karena kami di sini hadir memberi solusi.

Kami membuka layanan khusus bagi teman-teman yang ingin menerbitkan, mencetak buku, dan masuk ke toko buku sekelas : Gramedia, Karisma, Toga Mas, dan toko buku lain, dengan konsep self publishing – terintegrasi.

Self Publishing Terintergrasi, apa itu?

Self publishing terintegrasi adalah layanan terbit, cetak, dan distribusi buku nasional untuk membuat buku teman-teman terbit sekeren mungkin.

Apa bedanya dengan self publishing lain?

Kami memiliki layanan terlengkap dengan harga kompetitif dan layanan distribusi nasional tanpa perlu mencetak dalam jumlah banyak.

Sekedar informasi, layanan distribusi nasional pada self publishing lain mengharuskan untuk cetak antara 1.000 hingga 3.000 eksemplar.

Dengan kami, teman-teman hanya perlu mencetak sebanyak 200 hingga 1.000 eksemplar.

Apa untungnya buku teman-teman masuk toko buku? 

Banyak!

Pertama, buku teman-teman akan menjangkau dan menginspirasi para pembaca di nusantara, nama teman-teman akan terkenal harum mewangi. Buku teman-teman juga akan memiliki ISBN dan terdaftar secara resmi dalam katalog buku nasional.

Kedua, buku kalian juga memiliki kemungkinan untuk mencetak best seller. Dan, tebak apa yang kemungkinan terjadi berikutnya bila buku kalian masuk best seller nasional? Yup, akan ada kemungkinan buku untuk difilmkan dan masuk layar lebar (bioskop)!

Tawaran untuk seminar, bedah buku, hingga talk show dan iklan akan datang menghampiri.

So, langsung aja begini perhitungan sederhana harga tiap buku berdasarkan banyaknya jumlah eksemplar dan halaman.

CETAK >>      200 eks 300 eks 500 eks 1.000 eks
HAL (A5)
0 – 150 hal     16.000 15.500 12.500 10.500
151 – 200         18.900 18.750 16.500 11.700
201 – 250         22.700 22.600 18.000 13.800
251 – 300          26.000 25.900 21.000 15.600
301 – 350           29.500 29.200 23.500 17.700
351 – 500            39.900 39.650 31.000 23.400

KETERANGAN :

Cetak 200 menggunakan sistem POD (Print On Demand).

Cetak 300 ke atas menngunakan sistem cetak offset. Kualitas cetak offset lebih baik dibanding POD.

Harga di atas termasuk biaya distribusi buku ke toko buku.

Harga di atas sudah termasuk jilid dan wrapping plastik.

Harga jual ditentukan oleh pihak penulis.

Harga di atas tidak termasuk ongkos kirim pada pihak penulis bila penulis ingin dikirimkan contoh cetakan.

Proses cetak kurang lebih 7 – 14 hari kerja tergantung banyaknya jumlah cetakan.

Proses distribusi kurang lebih 30 hari kerja setelah proses cetak.

Harga di atas tak terikat dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

SPESIFIKASI BUKU
Kertas : Bookpaper 57,5 gr.
Isi buku Hitam/Putih
Cover : Art cover 230 / 260
Ukuran Buku : 13 x 19 cm atau 14 x 20 cm.

Hubungi kami bila teman-teman memiliki spesifikasi yang berbeda.

DISTRIBUSI TOKO BUKU
Luasnya jangkauan distribusi tergantung pada banyaknya jumlah cetakan.

Satu toko buku biasanya meminta rata-rata 10 cetak buku. Kami menyarankan teman-teman mencetak dalam jumlah di atas 200 eksemplar agar harga produksi lebih murah dan jangkauan distribusi semakin luas.

Penyebaran buku menjadi kewenangan pihak toko buku karena biasanya setiap toko buku memiliki karakteristik konsumen masing-masing.

Berikut daftar distribusi toko buku berdasar jumlah cetak :
200 eksemplar : Karisma
300 eksemplar : Karisma, Toga Mas, Social Agency Baru (SAB)
500 eksemplar : Karisma, Toga Mas, Jendela, Social Agency Baru (SAB).
1000 eksemplar : Gramedia
1.500 eksemplar ke atas : Gramedia, Karisma, Toga Mas, Social Agency Baru, Shopping-Yogyakarta, dan Jendela.

Termasuk penjualan secara online melalui Buku Kita dan Buka Buku.

RABAT KONSINYASI PENJUALAN

Cetak 200 eksemplar, penjualan hanya di Karisma : 50% dari harga jual di toko buku diminta oleh pihak toko buku dan distributor.

Cetak 300 eksemplar, penjualan di Karisma, Toga Mas, Jendela, SAB, Shopping-Yogyakarta : 56% dari harga jual.

Cetak 1.000 eksemplar -> Gramedia : 56% dari harga jual.

Contoh perhitungan rabat :
1. Bila buku hanya dijual di Karisma dengan harga jual Rp 50.000, maka untuk setiap penjualan, 50%-nya atau Rp 25.000 menjadi milik toko buku. Sisanya Rp 25.000 menjadi hak teman-teman.

2. Bila buku dijual di Gramedia, Karisma, Toga Mas, SAB, Jendela dan lainnya dengan harga jual Rp 50.000, maka untuk setiap penjualan, 56%-nya atau Rp 28.000 menjadi milik toko buku. Sisanya Rp. 22.000 menjadi hak teman-teman.

MASA EDAR BUKU
Pada dasarnya masa edar buku bergantung pada penjualan buku tersebut. Bila buku tersebut laris manis, tak menutup kemungkinan buku tersebut akan mendapat permintaan cetak ulang dan masa display di toko buku yang lebih lama.

Namun, bila ada sisa penjualan setelah masa edar, maka buku tersebut akan dikembalikan pada teman-teman selaku pihak penulis. Ongkos kirim retur buku ditanggung penulis.

Berikut masa edar buku berdasarkan toko buku.

Gramedia : 3 bulan.
Karisma, Toga Mas, dan lainnya : +/- 1 Tahun.

PEMBAYARAN

Jika data telah lengkap dan teman-teman menyetujui semuanya, maka pembayaran DP sebesar 70% dari biaya cetak dapat dibayar ke rekening bank BCA atau Mandiri. Sisa pelunasan 30% harus dibayar setelah buku selesai dicetak.

Jadi, sebelum buku didistribusikan ke toko buku maka teman-teman wajib melunasi biaya cetak buku.

CARA PEMESANAN

Mudah, teman-teman cukup hubungi kami dan sertakan data yang diperlukan.
1. Nama lengkap, alamat lengkap, no telp, dan alamat email.
2. Jumlah pesanan (eksemplar), jumlah hal A4 yang nanti akan kami kalkulasikan ke dalam bentuk buku A5, dan finishing yang diinginkan (dove, glossy, dan lainnya)
3. Data penunjang lain terkait teknis percetakan dan penerbitan naskah.

HUBUNGI KAMI
Widy – 0857138888005
Andrea – 08567812386

0

Cara Mudah Bikin Bukumu Masuk Toko Buku


Jujur, ada banyak tulisan bermutu yg bisa didapat dari media sosial. Mulai dari pengalaman spiritual (agama), sosial budaya, ekonomi bisnis, hingga berbagi pengalaman menggunakan produk/jasa tertentu, termasuk beragam tips dan triknya.

Satu hal yg gue pikirkan hingga saat ini adalah sayang banget ya kalo tulisan kalian yg oke punya itu hanya bertahan dalam waktu hitungan jam atau hari, mengingat salah satu sifat media sosial adalah memberikan informasi yang selintas. Artinya, tulisan yg sudah muncul akan tergeser dan terus tergeser oleh tulisan lain yg lebih baru.

Sayang’kan kalo info penting tentang parenting misalnya harus tergeser oleh status galau teman yg teringat mantan ketika hujan?

Gue juga melihat banyak potensi menulis (even beberapa adalah tulisan yg sudah berstandar nasional) namun dibiarkan begitu saja. Padahal mungkin sebenarnya potensi menulis itu adalah berlian yg terpendam. Tinggal sedikit diasah, diberi panggung, lalu kilaunya menakjubkan dunia.

Lalu, otak gue pun berpikir, kenapa nggak dibukukan ya potensi dan tulisan kalian yang keren banget itu?

Mungkin lewat ilmu yg kalian bukukan akan sangat bermanfaat bagi banyak orang dan kelak jadi timbangan pemberat di akhirat.

Bisa berbagi ilmu yg tak lekang oleh jaman. Dan tentu, sebagai penghargaan dan pembuktian pada diri sendiri bahwa kita punya pemikiran yang layak dibagi.

Namun berbagi ilmu, pemikiran dan pengalaman memang harus kita yg memperjuangkan.

Faktanya, menulis skripsi/tesis jauh berbeda dibanding menulis novel fiksi sekalipun. Nilai yang ingin dibagi lebih luas konteksnya karena tak hanya dibaca pihak akademisi/almamater sendiri tapi skala nasional.

Mungkin kalian akan berpikir untuk mencoba mengirim naskah ke major publisher. Tentu itu adalah cara yang umum dan sangat baik. Masalahnya, tak semua major publisher mau menerbitkan buku kita. Ada kriteria tertentu dan perhitungan bisnisnya.

Tak sedikit penulis yg mengirimkan email ke pihak publisher tahun ini, baru dapat balasan email tahun depan. Itupun jawabannya tak jelas apakah naskah diterbitkan atau tidak.

Mostly, jawabannya adalah ‘naskah anda sudah kami terima dan sedang kami pelajari, silahkan tunggu email balasan.’

Mengapa proses di major publisher bisa begitu lama layaknya  menunggu jodoh yg tak kunjung tiba? 

Karena tiap bulan ada ratusan naskah baru yg masuk ke sana. Naskah itu harus dibaca satu demi satu oleh tim editor yg jumlahnya tentu tak sebanding dengan jumlah naskah yg masuk.

Ilustrasinya, bulan Januari naskah masuk 300, editornya tiga orang. Naskah yg bisa diseleksi 100, sisa naskah belum terbaca 200. Bulan Februari naskah masuk lagi 300, editornya tetap tiga orang. Total naskah bulan lalu dan bulan Februari 500 naskah. Dan, semuanya berulang dan kian bertambah tiap bulan. Kebayang gak antriannya kayak apa?

Maka menunggu jawaban dari major publisher itu mirip kayak temen lo yg bilang ‘gue otw yaaah’ padahal dia baru bangun.

Yup, bukan cuma jemuran aja yg bisa digantung. Naskah kalian juga bisa. **curhat.

Major publisher biasanya juga punya kriteria tertentu tulisan apa yang akan mereka terbitkan. Mereka juga melihat latar belakang siapa penulisnya, apakah kalian tergabung komunitas yg bisa mengenjot promosi dan penjualan bukunya. Intinya, hukum pasar dan perhitungan bisnis adalah hal utama.

Lalu, apa solusi termudah dan tercepat?

Mulai April 2017, gue bekerja sama dengan pihak publisher dan pihak lain terkait dunia kepenulisan agar teman-teman bisa menerbitkan buku dan masuk toko buku apapun genre-nya (fiksi atau non fiksi) selama tak menyinggung SARA.

Kami berusaha memformulasikan impian kalian dengan efektif dan efisien.

Kalian akan punya buku sendiri yg ber-ISBN, dipajang di toko buku, terdaftar resmi di perpustakaan nasional, nama kalian terkenal dan harum mewangi hingga pelosok negeri.

Dengan buku maka nilai, pemikiran, dan pengalaman kalian akan jadi inspirasi bagi banyak orang dan pahala mengalir dunia akhirat. Keren’kan?

Maka, kami menawarkan konsep self publishing-terintegrasi. Siapapun bisa jadi penulis, menerbitkan buku, dan bukunya dijamin masuk toko buku dengan biaya seefisien mungkin.

Bedanya dengan pihak self publishing lain adalah buku kalian pasti terbit, masuk toko buku, dan tanpa perlu mencetak buku dalam jumlah banyak.

Sekedar informasi, standar cetak nasional itu 3.000 hingga 5.000 eksemplar. Dengan kami, kalian cukup cetak antara 200 hingga 1.000 eksemplar saja. Resikopun lebih kecil karena biaya cetak yg lebih sedikit.

Selama proses pracetak hingga buku ter-display, kalian juga bisa ikut serta mulai mempromosikan karya kalian.

Bagaimana dengan hasil penjualan? 

Hasil penjualan 100% jadi milik kalian. Tentu setelah dikurangi pajak dan perhitungan lain yg berhubungan dengan pihak toko buku. Kami tak ambil sepeserpun.

Kalian hanya perlu membayar biaya cetak saja. Yup, bayar biaya cetak saja, bukan harga jual.

Tambahan biaya hanya dikenakan bila terkait dengan layanan teknis tambahan saja, itupun bila kalian mengambil layanan tambahan, seperti editing, proof read, layouting, cover, dan ISBN.

Bagaimana dengan harga jual? 

Lagi-lagi kami memberi kebebasan bagi kalian untuk menentukan harga jual buku sendiri.

Misal : biaya cetak 15 ribu rupiah maka adalah hak kalian untuk menjual dengan harga 50 ribu, 60 ribu atau bahkan 70 ribu rupiah.

Paling, kami hanya memberi saran dan masukan tapi keputusan menentukan harga tetap pada kalian.

Dan, yang menyenangkan lagi bila kalian tak mau ribet dengan semua proses pracetak seperti editing, proof read, layouting, cover, dan pengurusan ISBN, kalian bisa menyerahkan pada kami dengan biaya terbaik.

Bagaimana dengan biaya distribusi buku ke toko buku?

Biaya distribusi buku kalian ke seluruh toko buku di Indonesia pun menjadi tanggungan kami.

Jadi, siapapun kamu yg ingin berbagi ilmu dan memiliki naskah, apapun naskahnya, entah fiksi atau nonfiksi, dan ingin dibukukan, diterbitkan, dan didisplay di toko buku sekelas Gramedia, Karisma, atau Toga Mas sepulau Jawa, Bali atau bahkan seluruh Indonesia, jangan sungkan untuk hubungi.

Just feel free to contact us

Widy – 085713888005

Andrea – 08567812386

3

Abigail – A goodbye!


Goodbye, Abigail!

Terima kasih buat semua teman-teman, kerabat, komunitas penulis, dan pihak lain yg sangat mengapresiasi terbitnya novel perdana saya, Abigail.

Sungguh terharu melihat karya perdana saya diikutsertakan dan bersanding dengan karya lain yg juga luar biasa dalam Festival Musik dan Literasi-Mocosik di Yogyakarta kemarin. Bisa bertengger dalam stand W.S Rendra adalah sebuah kehormatan besar bagi penulis pemula seperti saya.

Terlebih dari pihak Gramedia pun memberikan respon yg sangat positif dengan meminta pre order hingga 2.000 eksemplar. Itu belum dihitung dari pre order toko buku lain seperti Toga Mas dan Karisma.

Namun, dengan menyesal saya harus memberitahukan bahwa terhitung mulai besok (17/2) Abigail akan ditarik serentak dari lebih 100 toko buku se-Indonesia karena terdapat kesalahan cetak. 

Ada satu bab yg hilang di dalamnya pada saat proses layout dan pihak publisher sudah mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab untuk menarik, merevisi, dan mencetak ulang.

Abigail akan dicetak ulang dengan cover, ISBN, dan judul yg baru dan isi yg sudah direvisi namun tak akan merubah makna cerita secara keseluruhan, mengikuti syarat dari pihak toko buku bahwa setiap buku yg baru terbit namun memiliki kesalahan cetak, harus direvisi dengan judul dan cover baru, untuk kemudian di display kembali di toko buku.

Buat teman-teman yg sudah membeli buku tersebut, harap disimpan baik-baik karena nanti bisa dijadikan bukti untuk komplain dan ditukar dengan cetakan terbaru di waktu yg akan datang.

Sekali lagi, mewakili pihak publisher, dengan segenap hati, saya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf untuk ketidaknyamanannya.
Hormat saya

Andrea Juliand

0

I call her, Mya


(8/12)

Hari ini sebenarnya menyebalkan. Paket kiriman sample buku nggak dateng-dateng, kaki luka kepentok tempat perkakas, dan beberapa hal lain yg bila diakumulasi menjadi ‘menyebalkan kuadrat’.

Kadang gue suka heran, kenapa hal yg menyebalkan itu sering terulang.

Actually, yg paling menyebalkan itu paket kiriman yg tak kunjung tiba. Paket berisi sample novel perdana gue yg sekarang entah ada di ujung dunia sebelah mana.

Namun, semua berubah setelah adzan isya berkumandang. Sebuah  pesan singkat menyelinap masuk ke dalam hp. Sebuah pesan dari perempuan baik hati nun jauh di sana. Perempuan ayu berdarah Jawa yg selama ini jadi tempat gue ‘menye-menye’ dan mau berbaik hati mendengarkan keluh kesah sumpah serapah gue, dulu.

Namun, karena kesibukannya sebagai dokter muda, belakangan ini dia menghilang. Lebih dari setahun kami kehilangan komunikasi. Dia sibuk mengurus pasien (dan cadavernya) dan gue sibuk mengurus beberapa kerjaan plus novel yg sedari 2015 kok ya nggak pernah beres.

I call her, Mya. Kalo gue jabarin tentang dia, mungkin akan membuat jari gue menua sebelum waktunya. 2017 ini tepat satu dekade kami saling mengenal.

Kenapa gue menulis tentangnya? Seberapa pentingkah dia dalam hidup gue? 

Bagi gue, keberadaannya seperti seorang ibu yg selalu siap memeluk anaknya ketika sang anak merasa lelah  menghadapi masalah. 

Layaknya seorang ibu yg menyambut seorang anak kecil dengan pelukan hangat dan kata-kata yg menentramkan jiwa. Dan anak kecilnya siapa lagi kalo bukan gue.

In fact, apa-apa yg gue alami, biasanya akan gue curahkan ke dia. Apapun.

Dari jaman susahnya praktikum, skripsi, termasuk ketika gue patah hati, diselingkuhi, atau bahkan ketika gue menghadapi masalah-masalah lain yg seperti tak ada ending-nya.

Even, kalopun gue lagi nggak jelas, biasanya gue akan menumpahkan ketidakjelasan gue padanya.

And you know what, dia seperti seorang ibu yg dengan sabar mendengarkan.

Sebegitu pentingnya hingga dia terpilih sebagai salah satu dari segelintir orang yg benar-benar gue masukan sebagai tokoh di dalam novel gue.

Malam ini, lewat sebuah pesan akhirnya kami bisa kembali berkomunikasi. Dan kembali berkomunikasi dengannya itu rasanya seperti balon yg kelebihan angin. Ada banyak hal yg ingin dikatakan, ada banyak rasa yg ingin diungkapkan.

Setengah jam lebih kami berbicara dan setengah jam inilah yg ternyata sukses menghilangkan semua perasaan kesal dan capek gue hari ini.

Gue yg sebenarnya pengin tidur lebih cepat, ntah kenapa malah seperti baterai kelebihan energi. Ketak ketik sana sini menulis diari. Ngantuknya sirna berganti insomnia dan sekali lagi, gue nggak peduli. Bodo amat, yg penting bad moodnya lenyap!

So,

Buat seorang dokter muda yg lagi berada di Bandung sana, terima kasih telah menjadi mood booster malam ini.

Jangan raib lagi ya! 

0

Mau banyak, banyak mau


Actually, ini hanya bentuk ketidakjelasan gue yg lagi punya banyak mau.

Mau lanjut sekolah bisnis. Mau belajar piano. Mau les bahasa jerman. Mau latihan biliar lagi. Mau ajak temen-temen bikin shelter masing-masing di rumahnya buat kucing/anjing yg homeless.

Tapiiii, ya gituuu, semua baru sekedar mau hehehe

A couple days ago, gue menyempatkan main ke 7languages. Tanya-tanya ttng les bahasa Jerman dan mau ambil kelas foundation alias kelas paling basic karena bahasa Jerman gue ya gitu deh… Tapi ternyata, waktunya nggak ada  yg pas sama jadwal gue.

Gue juga lagi menimbang-nimbang lanjut sekolah lagi dan pengin ambil bisnis entah di Sekolah Bisnis Manajemen ITB atau Fakultas Ekonomi Bisnis UI. Dan sekarang? Juga masih tahap pikir-pikir hehehe.  Jangan sampai gelar bertambah tapi manfaat buat diri sendiri dan orang lain nggak nambah. Buat apa kalo cuma sekedar gengsi karena gue nggak butuh gengsi.

Terus, gue juga lagi kepikiran buat les piano atau saksofon. Kenapa? Karena musik bisa menyeimbangkan otak gue yg memang kiri banget.

Tes psikologi metode stifin, gue adalah tipikal kepribadian thinking. Alias manusia yg logis, konkrit, dan dominan penggunaan otak kirinya. Some people says otak gue dua. Satu di kepala, satu lagi di  hati. Hati gue? Lagi cuti sambil makan gaji buta.

Tes MBTI? Hasilnya juga nggak berubah. Gue tipikal ESTJ, yg lagi-lagi ada huruf T dan J. Alias tipikal thinking dan judging.

Itulah kenapa gue butuh some arts buat menyeimbangkan otak. Itu juga alasan kenapa gue menulis novel. Biar otak kanan nggak kebanyakan bengong.

Gue juga pengin latihan biliar lagi, karena salah satu hobi gue jaman masih kuliah itu kalo nggak ngebut ya biliar. Keduanya saling mendukung. Ngebut membuat gue harus memutuskan segala sesuatu dengan cepat dan biliar melatih  untuk berpikir tiga langkah ke depan dgn lebih cermat dan hati-hati.

Shelter? Nah kalo yg ini udah jalan. Kucing gue cuma seekor tapi tiap malam minimal ada empat ekor kucing yg setia menunggu gue pulang ke rumah buat meminta jatah makan malam.

Selain empat ekor tadi, gue juga punya empat ekor kucing tambahan yg biasanya nemenin ketika lagi jalan ke warteg terdekat buat beli ikan cue/kembung/tuna/tongkol buat makanan mereka. Rasanya seru aja, jalan kaki malem-malem dan ditemenin sama beberapa kucing sekaligus. You must try hehehe.


Biasanya gue beli dua ekor ikan siap saji kemudian  dipotong jadi beberapa bagian sambil gue bersihkan sebagian durinya. Jadi pas dikasih ke kucing, durinya sudah tak terlalu menggangu.

Ide tentang shelter ini sebenarnya bukan ide baru karena beberapa kali pernah gue share dan seorang perempuan baik hati yg tinggal di Uranus sana, sudah menyediakan rumahnya sebagai shelter buat kucing-kucing homeless. Jangan bayangin kucing jalanan yg dia adopt itu jelek lho karena kucing jalanan piaraannya sekarang nggak kalah sama kucing ras. Beberapa kucingnya itu bahkan divaksin!

Harapan gue semoga makin banyak orang-orang baik hati di luar sana yg menyisihkan sebagian rejeki pada hewan-hewan malang tersebut.

Buat kalian yg baca tulisan ini, sesekali coba deh sisihkan potongan kepala ikan/ayam buat kucing/anjing yg kalian temui.

Gue tau bahwa nggak semua orang adalah pencinta hewan tapi imagine kalo langkah kecil inilah yg akan menjadi jalan mulus kalian menuju surga nanti.

Kucing/anjing yg kelaparan mungkin nggak akan bisa membalas kebaikan kalian secara langsung tapi mungkin mereka akan mendoakan kalian siang dan malam, melebihi siapapun.

Itu aja sih…

2

Menulis fiksi itu…

Dulu gue selalu berpikir kalo bikin buku fiksi itu gampang. Logikanya sih simple, kalo bikin karya ilmiah macem skripsi/tesis aja bisa, masa bikin novel nggak bisa? Ya, nggak salah sih kalo orang awam mikirnya gitu, guepun awalnya juga begitu.

Tapi setelah gue coba sendiri, OMG! Demi trapesium yg luas penampangnya adalah jumlah sisi sejajar dikali tinggi dibagi dua, nulis fiksi itu tai meeen!

Lo tau rasanya jatuh cinta? Perasaan di mana tai kucing aja bisa berasa kayak makan cokelat hadiah anniversary jadian empat bulan sebelas hari dua jam sepuluh menit dan tiga belas detik, nah rasanya bikin buku fiksi itu kayak gitu..Bedanya, tai kucingnya nggak berasa cokelat anniversary tapi beneran tai kucing.

And finally, setelah dari bulan Maret 2015 gue mati-matian ikutan kelas menulis, hari ini, gue melambaikan tangan ke kamera. Gue nyerah. 

Terserah kali ini sungguh aku tak’kan peduli. Ku tak sanggup lagi, jalani cinta denganmu… – Terserah by Glenn Fredly.

Why?

Kalo lo masih inget dgn makhluk bernama EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) nah disinilah hidup jadi terasa amat sangat sulit. Belum dengan makhluk lain bernama alur cerita, logika, outline, premis, kismis, dan buncis. Duh, kalo inget mereka rasanya sesak di celana.

Ditambah penderitaan anget-anget tai ayam karena harus self editing, baik substansi maupun mekanik.

In my humble opinion, secara umum ada beberapa hal yg harus lo pahami sebelum mencoba menulis fiksi.

Substansi,

Di mana lo harus memikirkan cerita secara keseluruhan. Apa premisnya? Bagaimana karakter tokoh utamanya? Nilai apa yg ingin disampaikan pada pembaca? Apa konfliknya? Apa genrenya? Siapa target pembacanya? 

Setelah ini semua jelas baru deh lo buat mind mapping-nya. Kenapa harus buat mind mapping? Percaya deh, nanti seiring dgn lancarnya tulisan lo akan menemukan sejuta ide dan bumbu-bumbu yg menarik untuk dieksplor. 

Bila ide liar itu lo ikuti terus menerus bukan tidak mungkin nantinya tulisan lo jd nggak fokus dan endingnya nggak jelas.

Lo juga harus memikirkan sisi logikanya. Kalo tokoh utamanya udah kelindes kereta tapi masih bisa goyang dumang, logis nggak ya? Kalo endingnya semua tokoh dibuat mati kejatuhan patung pancoran, gimana ya?

Simpelnya walaupun fiksi, tetep ada ‘hukum alam’ di sana, mati ya mati. Lo juga harus mikir secara logis urutan waktu. Contoh : lo nggak bisa nulis jam sembilan pagi tokoh utama ada di Jakarta dan jam sebelas siang dia potong rambut di Hamburg, Jerman lalu sorenya udah ngopi-ngopi di kaki Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah. Gimana caranya? Naik roket? Kecuali kalo tokoh utamanya sejenis dedemit, ya itu beda lagi..

Hal lain terkait substansi?

Value. Nilai apa yg ingin lo sampaikan ke pembaca? Kalo cerita lo cuma ttng dua orang, satu cowok satu cewek, nggak sengaja tabrakan di jalan kemudian endingnya menikah di hotel dengan konsep pesta kebun singkong, saran gue mending jangan. Kecuali lo tambahin bumbu unik di mana cowoknya nggak jadi menikah dgn kekasihnya tapi lebih memilih nikah dgn calon mertuanya. Nikah dgn ibu kandung kekasihnya? Bukan, dia milih bapaknya.

Konsistensi. Kalo di awal narasi pake aku-kamu ya jangan tiba-tiba pake ane-antum di bab lain. Kalo di awal dialog nyebut ibu pake bunda, jangan tiba-tiba di dialog lain manggil emak, kan malu ketahuan aslinya..

Target pembaca. Kalo tujuan awal lo bikin novel untuk remaja berusia 13-18 tahun dgn genre romance  ya jangan penuhi dialog dan narasi dgn membahas dasar-dasar fisika kuantum. 

Misal: Sayang, kamu tau nggak? Rasa sayang aku ke kamu itu  sama seperti kuantitas energi radiasi, yg merupakan hasil dari konstanta Planck (6,63 x 10-34 Js)  dikali frekuensi radiasi (Hertz).

Gue nggak tau sih kalo gombalan anak fisika kyk gini apa nggak, tapi sumpah nggak ada romantis-romantisnya apalagi kalo lo pake gombalan begini ke gebetan lo yg anak sastra jawa. Jawa kuno. Kuno banget.

Lanjut, 

Mekanik..

Jujur ini yg paling bikin pendarahan mata. Lo mesti baca dan perhatiin kata demi kata dalam naskah, satu per satu. Kalo satu lembar A4 ada 500-800 kata dan satu naskah antara 100-200 lembar maka…kelar udah hidup lo. Ya nggak sih, paling katarak sementara aja mata lo.

Seberapa ribet? Mari kita lihat sedikit contoh kecil kesalahan yg sering terjadi dalam penulisan.

Menurut lo, mana yg sesuai EYD :

merubah, mengubah, atau berubah? airmata atau air mata? kemana atau ke mana? di sana atau disana? sistem atau sistim? akta atau akte? antri atau antre? kuatir atau khawatir? mangkuk atau mangkok? masjid atau mesjid? miliar atau milliar? terlanjur atau telanjur? supir atau sopir? indra atau indera? peduli atau perduli? beasiswa atau bea siswa? segi tiga atau segitiga? sediakala atau sedia kala? bus atau bis? napas atau nafas? hirarki atau hierarki? karir atau karier? resiko atau risiko? rejeki atau rezeki? paham atau faham? zaman atau jaman? walikota atau wali kota? Ridwan Kamil atau Ahok? #eh..

Kalo kesalahan EYD aja harus diminimalisir, maka jangan pernah sekali-kali nulis novel dgn bahasa alay. Jangan pernah pakai campuran huruf kecil, huruf besar, dan angka. 

Kesalahan typo juga mesti dikurangi. Niat hati mau nulis ‘kepala’ tapi yg ketulis ‘kelapa’ kan jd gagal paham yg baca.

Contoh : …Lelaki itu tersenyum kemudian mengusap kelapa kekasihnya…  MAKSUD LO?

Intinya sih cek ulang, kata demi kata. Kalo lo males dan bodo amat dgn urusan mekanik, gue bisa memastikan bukan cuma editor lo aja yg mendadak katarak tapi pembaca buku lo juga bakal kram otak.

Oh iya,

Jangan gunakan singkatan. Tulis ‘yang’, jangan tulis ‘yg’ aja. Tulis ‘gue’, jangan tulis ‘gw’ atau ‘w’ aja. Dan tulis ‘sepertinya’, jangan tulis ‘sepertix’. 

Inget, ini novel bukan kayak lagi nulis di blog atau bales whatsapp temen. Ada standarisasi penulisan karena novel lo bakal dibaca banyak orang. Kalo keliatan bahasanya alay, yg malu dan dibully se-Indonesia ya sapa lagi kalo bukan penulisnya.

And you know what, setelah mata juling edit sana-sini lalu datanglah yg ditunggu-tunggu. Sebuah email revisi. Email yg waktu kedatangannya sama kyk nunggu angkot jurusan Ciroyom-Cicaheum jam dua pagi di Bandung itu memiliki dua makna, pertama, gembira karena berarti naskah sudah dibaca editor dan kedua, perasaan harap-harap cemas bagian mana yg harus diperbaiki, ditambah ini itu, atau semuanya dibuang aja dan bikin baru dari nol lagi?

Ketika editor memberi revisi dan lo akan melihat naskah lo dicorat-coret kayak anak alay abis pengumuman kelulusan ujian nasional. Rasanya itu kayak ditusuk pake bambu runcing terus disiram pake alkohol lalu diiris tipis-tipis dan direndam air garam. Dan pola penyiksaan lahir batin itu juga selalu berulang.

(edit naskah) – (kirim ke mentor/editor) -(nunggu sampe planet Uranus berevolusi) – (email balasan datang) – (buka email sambil harap-harap cemas) – (lihat banyak yg harus direvisi) – (pingsan di depan laptop) – (siuman, minum kopi, trus edit naskah lagi). Gitu terus sampe kiamat. 

Bunuh aku, mas editor…bunuuuh.. – Ganteng-Ganteng Sering Galau, episode 2.378

Kalo Chitato punya slogan bahwa hidup itu nggak datar maka kumpulan makhluk tadi sukses bikin lo berharap agar hidup lo datar aja. Udah deh nggak usah macem-macem, semacem aja ngerjainnya udah bikin nangis darah.

Satu kata, bikin novel itu PEDIH, Jenderal. Pedih tapi sekaligus nagih, nah bingung’kan lo?

Ibaratnya kayak lo sering bertengkar dgn pasangan tapi ketika kalian memutuskan break, maka keesokannya kalian akan merindukan masa-masa di mana kalian berdua sering beradu argumen walau dalam hati saling menyadari bahwa masalah yg diperdebatkan bukanlah sesuatu yg besar dan semuanya diselesaikan dgn saling berpelukan sambil mengucapkan kalimat: maafin aku ya, sayang..  APA? MAAF? HAHA YOU WISH!

Yup, nulis itu nagih, beneran sumpah nggak bo’ong kalo Raisa itu cantik.

Ketika apa yg ditulis berasal dari hati dan lo akan menikmati saat-saat tenggelam dalam sepi walau sekeliling begitu ramai.

Tergagap karena seketika ada jutaan ide mendesak minta dituangkan.

Terperangah ketika menyadari setengah jiwa dgn imajinasi liar seperti halilintar.

Rindu saat di mana lo menyalakan laptop pukul dua pagi. Hening, tenang, dan damai.

Duduk termenung menghirup segarnya udara pagi sambil tersenyum membayangkan kisah yg seakan benar-benar lo hadapi.

Dan ketika tulisan lo selesai akan ada masa di mana lo mengendapkan semuanya kemudian membaca ulang sambil tertawa, menangis, bahagia, dan haru menjadi satu. 

Lalu, mulai menyadari bahwa : kayaknya udah dari jaman monas masih kecil dan sampai sekarang kok naskah gue belum kelar-kelar, yee?

Yup, itulah fiksi, tampaknya sederhana namun tidak sesederhana tampaknya…

  

ps : buat yg nanya kapan buku gue terbit itu sama aja kyk lo nanya hal gaib.

Kenapa? karena jodoh, mati, dan buku terbit itu hanya Tuhan yg tau..