0

Iklan cuma-cuma lewat blog saya


**Tulisan ini kembali saya update pada 19 Juli 2017

Guys, pada dasarnya semua produk atau jasa harus dipromosikan agar dikenal dan laku terjual. Namun, di sisi lain, tiap produk atau jasa punya karakteristik tertentu dalam beriklan. Ada produk atau jasa yg lebih menyenangkan untuk diceritakan lewat tulisan. Tak sedikit produk atau jasa yg kurang greget bila hanya dijual lewat forum jual beli online.

Namun, pada kenyataannya, iklan adalah tentang memperbesar kemungkinan. Makin banyak media yg kalian gunakan untuk promosi maka kemungkinan untuk laku terjual akan semakin meningkat.

Nah, salah satu resolusi saya di tahun 2017, adalah membantu sesama dalam berbagi dan menyebarkan kebaikan, termasuk membantu teman-teman untuk promosi jualan, kali ini lewat media sosial dan blog.

Alhamdulilah, statistik blog saya memperlihatkan trend yg sangat positif. Selama tahun 2016, tercatat ada 4.670 visitors atau meningkat lebih dari 500% dibanding tahun 2015. Di tahun yg sama juga terdapat 6.167 viewers atau meningkat hampir 400% dibanding tahun 2015.

Tahun 2017 ini saya sangat optimis pertumbuhannya akan meningkat 600%. Mungkin terlihat seperti ‘rayuan manis di pulau kelapa’ namun statistik pada 19 Juli 2017 ini, jumlah viewers-nya telah menembus lebih dari 21.000 ribu orang

Fakta lain, siang hari di tanggal yg sama tercatat lebih dari 17.839 visitors yg mengunjungi blog saya. Bayangkan bila 3% dari pengunjung blog saya adalah calon konsumen yg potensial.

Memang bukan jumlah yg besar tapi juga bukan jumlah yg kecil mengingat hanya 5% dari semua tulisan di blog ini yg di-share di media sosial. Namun, lagi-lagi statistik membuktikan tanpa bantuan media sosialpun, blog ini telah tumbuh hingga hampir enam kali lipat. 

Berbeda dengan facebook ads yg memunculkan iklan berdasarkan keinginan, kesukaan, atau kesamaan interest maka iklan lewat blog lebih berdasar pada kebutuhan dengan dibantu oleh kekuatan pengaruh mesin pencari (search engine) dalam hal ini google.

Untuk itu, saya akan membantu  promosi iklan teman-teman lewat beberapa tag (dan tulisan teknik copywriting yg juga sedang saya pelajari) agar produk, jasa, atau kegiatan teman-teman mudah dicari dan menarik perhatian banyak orang tanpa mengganggu kelompok sasaran. 

Iklan lewat blog tak akan muncul tiba-tiba, menutup layar, dan mengganggu kelompok sasaran yg sedang browsing internet.

Jadi, buat siapapun, entah individu, pelaku UKM, organisasi, institusi, atau bahkan pihak pemerintah yg tahun ini ingin mempromosikan produk, jasa, atau kegiatan baik profit maupun non profit secara GRATIS, kalian bisa promosi melalui blog saya.

Syaratnya mudah,

1. Produk baru (bukan barang bekas, replika, apalagi rekondisi),

2. Bukan barang yg sifatnya melawan hukum dan legalitasnya jelas (bukan barang black market)

3. Halal dan tak bertentangan dengan norma dan agama.

Syarat bila ingin promo jasa/kegiatan,

1. Jasa/kegiatan yg akan diiklankan harus dijelaskan terperinci dan dalam kondisi sebenarnya.

2. Bukan jasa/kegiatan yg bersifat melawan pemerintah/hukum yg berlaku atau mengancam keutuhan NKRI.

3. Sifatnya halal dan tak bertentangan dengan norma dan agama.

Silahkan beri maksimal 3 foto format jpeg dan 500 kata sebagai narasi/keterangan produk/jasa/kegiatan. Saya membebaskan teman-teman  berkreasi membuat kalimat yg menarik pembeli, yg nantinya akan saya buat dalam bentuk narasi copywriting. Lalu kirimkan dalam bentuk file microsoft word (.doc atau .docx).

Gunakan bahasa Indonesia yg baik. Bahasa alay, campuran huruf besar kecil atau campuran huruf angka tak akan diterima.

File iklan bisa diirimkan melalui email : andrea.juliand@yahoo.com dengan format : iklangratis_institusi/nama lengkap pengirim_no Hp yg bisa dihubungi.

Setiap permohonan iklan yg masuk akan segera saya publikasikan di blog dan media sosial (facebook) paling lambat 10 hari kerja setelah email diterima atau tergantung banyaknya iklan yg masuk di email saya.

Masa tayang iklan kalian di blog saya maksimal satu tahun setelah  dipublikasikan. 

Harap cantumkan kontak yg dapat dihubungi karena calon pembeli anda akan tetap menghubungi anda secara langsung. 

Harap konfirmasi bila produk, jasa, atau kegiatan telah laku terjual atau sudah terselenggara.

Pada dasarnya saya hanya membantu mempromosikan produk, jasa, dan kegiatan anda secara cuma-cuma. 

Apabila dikemudian hari produk, jasa, atau kegiatan anda bermasalah dan atau terindikasi melanggar hukum perundang-undangan yg berlaku, maka saya tidak bertanggungjawab atas apapun dan saya memiliki hak penuh untuk menghapus iklan dari blog saya, tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Itu aja, sekian dari saya.
Danke schön und viel erflog!

Advertisements
2

Dewasalah, Jakartaku!


Ini adalah foto yg sedang viral di media massa. Foto selfie bareng para calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta.

Gue pribadi begitu haru dan kagum melihat mereka foto bersama. Bercengkerama, tertawa, dengan ekspresi jujur yg terbersit dari matanya. Mereka memang saling bersaing namun tetap bersahabat dan saling menghormati.

Gue hanya berharap, semoga siapapun yg terpilih nanti benar-benar amanah, tulus, dan jujur memajukan Jakarta. Bukan hanya pembangunan fisik tapi juga manusianya.

Dan semoga ini menjadi awal yg baik bagi kemajuan demokrasi Indonesia yg santun, bijak, dan tanpa SARA.

Lihatlah program, visi misi, dan rencana strategis yg akan mereka lakukan untuk Jakarta. Cobalah untuk berpikir positif karena bila hanya ingin menghujat dan membuka aib mereka itu mudah saja. Cukup search di Google dan  akan terlihat jejak langkah termasuk masa lalunya yg mungkin tak sempurna.

Namun, mau sampai kapan kita hanya menilai seseorang berdasarkan dosa-dosanya? Seolah-olah kita adalah juri yg paling suci.

Ingatlah bahwa tak semua pendosa masuk neraka dan tak semua yg taat beribadah masuk surga. Karena dosa dapat dihapuskan oleh hidayah dan taubat. Sedangkan pahala dapat hilang karena  kesombongan dan riya.

Cukup doakan yg terbaik bagi mereka karena kelak pada merekalah kita percayakan Jakarta.

Salam sejahtera untuk Jakarta yg mendewasa.

**ps : emangnya masih jaman ribut hanya karena beda pilihan? Malu sama umur!

0

Situ yakin masuk surga?

Kadang gue ngerasa kalo jejaring sosial isinya lebih mirip UGD sebuah rumah sakit milik pemerintah di bilangan Salemba, Jakarta. Ada terlalu banyak yg kritis di dalamnya. Namun, mereka kritis bukan karena kurangnya penanganan melainkan kurang ilmu tapi ngerasa paling tahu. Nggak jarang mereka yg mendadak kritis mirip kayak Jaka Sembung kebanyakan mecin alias nggak nyambung, cyyiiinnn

Masalah yg diangkat ttng vaksin, eh malah komentar ttng harga telor asin. Lagi bahas ttng harga sembako yang melonjak, eh malah bahas pengaruh tempe bacem terhadap perekonomian negara Lebanon. Parahnya, selain membahas isu terkini, jejaring sosial juga ramai dengan perbincangan gosip dan ajang pamer.

Nah, ini dia nih yg belakangan mewarnai lini masa jejaring sosial… Bumbu dari segala bumbu. Kompor yang paling kompor.

Gosip.

Yak, ini memang kelihatannya ‘serba nggak sengaja’. Berawal dari kalimat : Eh, tau gak sih lo? yang kemudian dilanjutkan Oh, ya? Ciyus? maka jadilah satu makhluk yg kurang beruntung yg akan dikupas tuntas aibnya.

Kalo mau dipikir, ngomongin aib orang itu gunanya apa sih? Kalopun, aib yg dibahas memang benar ada pada orang itu, maka jadinya ghibah. Terus, kalo sesuatu yg kita omongin ttng orang itu ternyata salah, maka itu jadi fitnah. Baik ghibah maupun fitnah, keduanya merupakan dosa besar. Besar banget. Bangetnya kebangetan.

Dan satu hal yg mesti disadari adalah semua perbuatan itu bakal balik ke diri sendiri. Kalo suka buka aib orang, maka suatu hari nanti aib kita bakal dibuka orang lain. As simple as that…

Pamer

Pamer as known as sombong. Dimulai dengan foto menggunakan produk bermerk tertentu atau kalimat : Eh gue pake ini dong, eh gue punya ini dong, eh gue abis naik odong-odong dong? Ya terus kenapa, Nyet?

Coba deh diinget, kenapa iblis dilaknat Allah yg bikin dia dikeluarkan dari surga? Satu kata men, dia sombong karena merasa dirinya lebih baik dari yg lain.

Pertanyaannya, mau lo temenan sama iblis trus sama-sama dibakar di neraka? Secara kaki kena knalpot aje udah teriak-teriak kayak orang di ruqyah!

Dan apa yang bikin orang bisa ‘mencicipi’ neraka jahanam? Ternyata cukup satu perbuatan dosa dan secara statistik, kita memiliki probabilitas untuk merasakan siksaan tak terbayangkan di dalam neraka jahanam.

Apakah sebegitunya?

Ya memang begitu. Coba inget lagi deh, kenapa Adam dan Hawa diturunkan dari surga? Cuma gara-gara mereka melanggar satu larangan Allah, makan buah kuldi! Udah men, cuma itu doang! Lah kita makan, minum, nonton, ngomongin yang nggak beres berapa banyak dalam hidup kita?

Pernah nggak mikir, jangan-jangan malaikat di sebelah kanan kita lebih sering tertidur makan gaji buta karena kita jarang melakukan hal baik. Sebaliknya, malaikat kita yg kiri, tangannya sampai gede sebelah karena pegal catat dosa-dosa kita yg sebanyak buih di lautan. Grafik pahala kosong, eh grafik dosa malah mirip kayak harga sembako tiap tahun.

Sebelum riya, gosip, atau apalah itu, coba dipikir dulu deh, ada gunanya nggak buat kita? Kalo nggak dilakuin bakal kenapa? Memangnya kalo nggak gosipin orang lalu lidah kita putus? Memangnya kalo nggak pamer terus derajat kita turun? Memangnya cuma kita doang yang mampu beli ini itu di dunia ini?

Kalo dasarnya udah kaya, tanpa pamer produk bermerk, orang juga tau kok. Bill Gates walau pakai sandal jepit, orang akan tetap tau bahwa dia termasuk dalam jajaran sepuluh besar orang terkaya dunia. Jokowi biarpun naik angkot, orang juga paham beliau adalah   presiden Indonesia.

Tak ada nilai yang berkurang meskipun tidak bergosip atau pamer kok. Namun, mungkin respect orang pada kita akan berkurang kalo kita mulai nyinyir, serang sana-sini, atau kebanyakan pamer di jejaring sosial.

So, masih mau nerusin kebiasaan gosip dan riyanya? Memangnya situ yakin pahalanya lebih banyak dibanding dosanya? Yakin pasti masuk surga?

Ciyus?

Miapah?

Mie ayam?

 

ps : berhubung masih suasana telat lebaran, sekalian maaf-maafan yuk.

Mohon maaf lahir batin ya, jujur saya khilaf… 😀

 

 

1

Standar ganda


Pernah lihat gambar ini? Gambar yg sempat viral beredar di jejaring media sosial beberapa waktu lalu. Sebagian besar melayangkan kalimat protes, tidak sedikit yg marah dan mencaci.

Banyak orang begitu marah ketika ada anak bangsa, yg berprestasi di tingkat internasional, dan media malah memberitakan dari sudut negatifnya, dari sisi kegagalannya. Oh, I feel you..and yes, itu nggak salah. Semua orang punya hak untuk marah. Nggak usah orang lain, saya aja pas baca ikutan baper!

Media salah, salah banget! Karena media ‘seharusnya’ mengambil sudut pandang positifnya yakni : Hellooo, tuh di luar negeri sana ada anak kecil dari Indonesia, yg berhasil masuk dalam nominasi grammy awards, yg tentunya berperan mengharumkan nama bangsa lho. Walaupun gagal seharusnya media tidak memberitakan sisi negatifnya, kasih apresiasi kek!
Lalu, banyak orang ramai-ramai membully media tersebut dengan alasan etika, kemanusiaan, nasionalisme, dan lalala sebagainya..

But, take a look..once again,

Apakah media salah? Yakin? Kalo kita mau sedikit objektif, fakta mengatakan bahwa Joey memang tidak berhasil membawa pulang piala.

Apakah media salah karena memberitakan dari sudut pandang negatif? Tidak. Why? Kita tentu pernah mendengar istilah bad news is a good news. Dan tentunya, faktanya memang tidak ada piala grammy yg dibawa pulang ke Indonesia. Apakah ini bad news? Bagi Joey dan Indonesia ini jelas adalah hal yg kurang menyenangkan. Apakah ini good news? Bagi media, bisa saja. Karena berita seperti ini akan meningkatkan rate pembaca, di sharing kemana-mana dan keuntungan ekonominya ya balik ke media itu sendiri.

Tapi, bukan itu yg ingin saya bahas..

Yes, ini lho yg kemarin sempat Jokowi kritik pada media pada Hari Pers Nasional awal Februari kemarin. Agar media memberitakan berita dari sudut pandang yg mampu menumbuhkan jiwa optimisme dan positivisme. Indonesia memang tidak sempurna tapi bukan berarti isinya jelek semua, bukan?

Namun, apa yg sebagian besar kita lakukan?

Sebagian besar kita malah ramai-ramai membully presiden, dengan alasan : kebebasan pers tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun.

Bukankah seharusnya simpel? Kalo kebebasan pers tidak boleh diganggu gugat ya jangan marah kalo media mengambil sudut pandang negatif untuk memberitakan seorang pianis muda atau siapapun anak bangsa yg gagal dapat piala.

Ketika media diberi masukan yg positif oleh presiden, kita bully. Giliran ada anak bangsa dikabarkan negatif oleh media, kita marah. Maunya apa coba?

Bukankah ini yg dinamakan standar ganda?  Coba ganti gambar Joey Alexander dengan foto presiden Jokowi atau Prabowo. Bukankah keduanya sama, sama-sama berprestasi walau beda bidang. Jokowi dan Prabowo diapresiasi oleh pihak asing tapi malah dibully di negeri sendiri, bukan cuma oleh media tapi oleh sebagian besar rakyat Indonesia yg tersekat dalam kubu yg berbeda. Pendukung wiwi menyalahkan pendukung wowo. Sebaliknya, pendukung wowo mencaci pendukung wiwi. Saling cela, saling posting aibnya si anu dan si itu. Bahkan yg bukan aib di kondisikan sebagai aib. Blusukan salah, naik kuda juga salah. Yg satu teriak kecebong, yg satu bales ngatain kampret. Gitu terus sampe kiamat.. 

Atau, 

coba juga ganti dengan foto Ahok, Ridwan Kamil, atau Bu Risma, sang walikota Surabaya.

Masih kurang? 

Ganti dengan foto pihak kepolisian dan TNI yg kemarin berjibaku saat peristiwa bom Sarinah. Dan hasilnya akan tetap sama. 

Mereka dipuji di luar negeri tapi malah dibully dan dianggap pencitraan, kamuflase, pengalihan isu oleh negeri sendiri. 

Polisi dateng cepat dibilang pencitraan. Giliran telat dibilang makan gaji buta. Sadis ya?

Mbak, mas…

Pemilu sudah lama usai. KIH dan KMP secara de facto sudah bubar. Jokowi orang Indonesia. Prabowo juga orang Indonesia. Kitapun warga negara yg sebagian besar lahir, tinggal, dan hidup di Indonesia. Ayo bersatu! Kita tidak sedang perang saudara karena memang kita ini sesungguhnya bersaudara, saling menyayangi dan menghargai yg diikat dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Yup, Bhinneka Tunggal Ika, tiga kata penuh makna yg bahkan di apresiasi oleh presiden Barrack Obama ketika 2010 dulu memberi pidato di Universitas Indonesia.

Oom, Tante…

Kita itu satu, satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air bernama Indonesia yg sudah diikrarkan dalam sumpah pemuda.

Musuh kita bukan bangsa sendiri. Musuh kita adalah mereka di luar sana yg terlihat seakan ramah pada bangsa Indonesia tapi tiba-tiba menikam dari belakang karena kita sibuk saling membenci.

Dan, dualisme ego tidak penting dan tidak ada gunanya ini harus dihentikan. Memangnya pada nggak capek apa bertahun-tahun ejek-ejekan wowo-wiwi melulu? Bener banget ungkapan bahwa Haters gonna be hate tapi mau sampai kapan jadi haters? Apakah dengan jadi haters lalu hidup membaik dan pahala kita bertambah?

Pak, Bu..Look around,

Pihak-pihak yg tidak suka melihat Indonesia tumbuh kuat menjadi bangsa yg hebat, akan senang dan menang, kalo kita sibuk saling bertengkar. Mereka akan menertawakan kebodohan kita yang tak perlu ribet dipanasi tapi sudah saling ribut sendiri.

Mereka akan bertepuk tangan sambil bilang, Indonesia itu nggak usah diserang sudah hancur oleh bangsanya sendiri kok.

Mau? Saya mah nggak…

0

Who cares?

…Human : Oh God, why me? | God : Oh, why not?…

Sering banget pas lagi online, baru buka timeline dan harus membaca deretan keluhan di status/timeline orang-orang. Ada yang memang berat masalahnya tapi ngga jarang kebanyakan hanya drama. Dari patah hati hingga keluhan yang cuma : “Damn, pas ketemu dia, poni gue lagi berantakan pula!” atau “Duuhh, sepatu ama baju gue hari ini  ngga matching deh” kemudian langsung berasa bahwa dunia akan kiamat saat itu juga. Seakan-akan pergeseran poni membuat matahari bertukar posisi dengan bulan.

Belum lagi dengan maraknya akun palsu yang gemar menulis tentang isu SARA, menghembuskan kebencian, menghina pihak-pihak tertentu, dan membuat pernyataan seakan-akan sudah tidak ada harapan lagi di negeri ini. Sumpah menurutku, ini ngga penting banget!

Ketika membaca tulisan/keluhan mereka, terkadang aku suka bertanya dalam hati, itu maksudnya nulis kayak gitu apa ya? Beneran kesusahan atau sekedar ingin eksis dan dapet kalimat “ijin share ya bro“? Beneran lagi ribet atau ingin sekedar mendapat pujian dan like, retweet, atau repath dari orang-orang dengan tulisan “i feel you, cyyiiiinn“? To be honest, mereka yg suka menulis kalimat cacian dengan kata-kata kasar kebun binatang atau menghembuskan kebencian, bagiku mereka gagal bersikap karena tidak bisa menempatkan diri sebagai makhluk sosial di ruang sosial.

Aku lupa linknya tapi pernah baca kalo kalian mengeluh di social media, mostly orang-orang hanya akan membaca dan acuh, beberapa akan me-like/retweet/repath, dan beberapa yang kenal cukup dekat akan menulis dengan pertanyaan : ada apa bro/sist? In fact, mungkin malah ada yg senang tertawa dengan kemalangan yg lagi kalian alami lalu berlalu.

Yup, ujung-ujungnya mereka hanya berlalu, who cares with your drama?

Gue setuju bahwa mengeluh adalah hak masing-masing individu. Gue juga setuju manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berkeluh kesah tapiiiii..ngga tiap menit juga harus posting keluhan di socmed bukan? Ngga tiap saat harus nulis atau retweet kata-kata sedih, menye-menye pengen gantung diri di pohon toge bukan? Ngga harus nulis kalimat kebun binatang yg subjeknya mesti nyebut beberapa jenis hewan bukan?

Tau ngga sih, kalo apapun yang kalian tulis, itu akan berdampak bagi pembacanya, baik secara langsung maupun tidak. Hal positif yang menginspirasi/memotivasi akan memberikan energi positif bagi pembacanya. Sebaliknya, hal negatif yang kalian tulis akan berdampak negatif bagi pembacanya, dan pembaca itu bukan cuma keluarga, pasangan, atau gebetan yang lagi kepo ama akun kalian aja tapi juga mereka-yang-kebetulan-buka-timeline-di-hari-yang-cerah-ceria dan tanpa badai tanpa tsunami harus berubah moodnya karena membaca postingan kalian yang isinya yaa gitu deh.. 

Taukah kalian, bahwa mereka juga berada di posisi dilematis, dan berpikir : duuhh ini orang kok ya nulisnya galau mulu, seakan-akan cuma dia yang punya masalah? Mau di block, ngga enak karena mungkin kenal deket tapi kalo didiemin kok ya bikin rusak mood aja. Serba salah.

Kalo kalian pikir bahwa akun pribadi kalian adalah milik kalian sepenuhnya memang benar tapi harus diketahui bahwa akun kalian berada dalam wadah bernama social media. Ada ruang publik di situ, ada banyak orang yang punya hak dan kewajiban yang sama di sana. Mari bersama untuk saling menjaga dan menginspirasi. Sebarkan kebaikan, bukan cacian penuh kebencian.

Lagipula, sebelum kalian berkeluh kesah panjang lebar meratapi hidup, sebelum kalian menggunakan subjek hewan sebagai umpatan, sebelum kalian bertanya dengan lantang kepada Tuhan dengan kalimat : Oh God, why me? coba deh berpikir sejenak. Sadari bahwa di dunia ini ada milyaran orang. Yang lagi sakit, broken home, patah hati, kehilangan orang tersayang, target ga tercapai, skripsi terancam gagal, terancam di PHK dan kerjaan ga beres itu banyak, even banyaaaaaaakk bangeeeeeeett!

Intinya bukan cuma kalian doang kok yang sedih, bukan cuma kalian doang kok yang susah. Bukan cuma kalian doang kok yang patah hati, diputusin, diselingkuhin, atau kejatuhan tai burung pas lagi main golf ama gebetan.. #eh 

Ayolah kawan..

Di atas langit masih ada langit. Akan selalu ada yang lebih beruntung dari kalian namun tak sedikit yang hidupnya lebih sulit dari kalian. Kalo kalian pikir kenapa si A hidupnya enak-enak aja, kenapa si B hidupnya anteng-anteng aja atau kenapa si C hidupnya adem ayem kayak sayur bayem, dibanding hidup kalian yg kalian rasa isinya badai melulu, coba pikir deh bahwa yang kalian lihat itu’kan hanya luarnya aja. Kelihatan enak belum tentu ‘enak beneran‘ bukan?

Mereka pasti juga punya segudang masalah. Mereka pasti juga punya bekas luka yang menggores hati dan jiwa. Bedanya, mereka menyikapi dengan biasa aja, seakan tidak terjadi apa-apa. Bukan berarti mereka munafik tapi mereka mencoba untuk dewasa menghadapi hidup yang memang tidak mudah. Mereka tau bahwa keluhan dan caci maki tidak akan merubah apa-apa. Yang kalian lihat adalah kemampuan mereka untuk tetap menegakkan kepala melewati berbagai ujian hidup yang datang silih berganti.

Tidak ada yang tahu, kalo si A yang sering hahahihi itu sebenarnya menangis dalam tahajudnya, diam bersujud berdoa kepada Tuhan agar keluarganya yang broken home bisa utuh kembali.

Tidak ada yang tahu dibalik senyum si B yang ceria itu sebenarnya sedang gelisah karena bisnisnya terancam bangkrut sedangkan dia adalah tulang punggung keluarga dan ada banyak karyawan yg bergantung hidup pada usahanya.

Tidak ada yang tahu kalo si C yang sering tertawa dan bercanda itu sebenarnya harus memotong habis rambutnya setiap bulan akibat efek kemoterapi yang membuat rambutnya rontok, sebagai terapi kanker otak yang mengancam hidupnya setiap saat namun dia tetap tersenyum ramah ketika orang-orang mengatai kepalanya mirip batu akik, pentul korek api, atau disamakan dengan mic berjalan.

Dan, tidak ada yang tau, dibalik senyum optimisme si D mungkin dia sedang mengalami patah hati terhebat karena melihat dengan mata kepala sendiri tunangannya meninggal sehari setelah mereka bertukar cincin.

Tidak ada yang tau, kawan..

Karena yang kalian lihat adalah kedewasaan mereka untuk tetap melanjutkan hidup apapun resikonya, apapun hasil akhirnya. Mereka tetap berjuang dibanding hanya mengumbar cacian dan keluhan di media sosial.

Kawan,

Sadari bahwa hidup itu sesungguhnya adil karena Allah-lah Sang Maha Adil.

Ingatlah bahwa, untuk satu hal yang dikurangi akan ada hal lain yang dilebihkan. Masalahnya kita sering melihat dari sudut pandang kita, bukan sudut pandang Yang Maha Pencipta.

Kita hanya melihat bahwa ‘lebih’ itu hanya berupa materi, seakan kita lupa betapa berharga dan mahalnya kesehatan kita.

Kita hanya melihat bahagia itu bisa pergi jalan-jalan kesana kemari sehingga lupa meluangkan waktu bersama keluarga dan orang tua yang makin hari semakin terbatas umurnya. 

Kawan,

Kalo rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau itu mungkin karena kita lupa untuk merawat rumput kita sendiri.

Atau, mungkin bukan hidupmu yang kurang tapi rasa syukurmu yang mulai menghilang.

Mungkin bukan rejekimu yang sulit tapi pola pikirmu yang sempit.

7 Agustus 2015