0

Mana Yang Kau Pilih?


Mereka bilang, cinta itu milik siapa saja. Siapa saja yang mau membuka diri agar cinta dapat memasukinya. Bahkan, kucingpun bisa jatuh cinta.

Mereka bilang, cinta itu hanya untuk yang berani. Berani membiarkan hati jatuh dalam dekapan nyamannya kasih sayang. Namun, harus siap saat harus merelakan. Tetap kuat saat merasa patah hati paling patah. Tetap tegar mencicipi sakit hati paling sakit. 

Mereka bilang, cinta itu memilih. Memberi ruang demokratis bagi hati untuk mencari tempat relung-relung dingin nan kosong di dalam sana. Tempat dimana dia akhirnya berteduh dan berlabuh. Tempat di mana sang hati akhirnya berubah, dari ‘sendiri’ menjadi ‘telah dimiliki’.

Mereka bilang, cinta itu berjuang. Berjuang untuknya yang tanpa alasan apapun kau mau untuk berjuang. Berjuang untuknya yang entah kenapa kau bisa begitu sayang. Tak peduli apapun resikonya. Tak peduli apapun akhirnya.

Maka,

Mana yang kau pilih, mencintai atau dicintai?

Mana yang kau pilih, mencintai orang yang tak mencintaimu atau dicintai oleh orang yang tak kau cintai?

Mana yang kau pilih, berjuang untuk orang yang kau sayang? Atau, mulai membiasakan diri dengan orang yang muncul dihadapan?

Mana yang kau pilih, berani mengungkapkan atau menunggu hingga dirinya paham?

Dan, mana yang lebih kau utamakan. Bahagianya atau bahagiamu?

Lalu, 

sudahkah kau memilih?

Karena cinta bukan hanya sekedar lima huruf yang dibaca bersama. Tapi tentang aku, kamu, dan kita. Hari ini, esok hari, hingga tua nanti.

Advertisements
0

Pelajaran bernama patah hati

Hey, kamu…

Aku tahu, patah hati itu melelahkan. Pun juga aku tahu, patah hati tak diinginkan. Namun, aku yakin bahwa mereka yg patah hati tak hanya ingin diam lalu mati. 

Mereka selalu mencoba dan mencoba, untuk sembuh dan kembali bahagia. Beberapa berhasil sembuh. Bangkit tertatih-tatih dengan sisa-sisa lukanya. Beberapa butuh waktu lebih lama untuk mengobatinya. Sayangnya, tak sedikit juga yg menyerah. Tenggelam dalam rasa sakit yg kian lama kian menjepit.

Namun, tahukah kau? 

Patah hati itu seperti kanker. Kamu tak cukup hanya mengobatinya, namun harus dioperasi lalu diangkat kankernya. 

Mungkin setelahnya kamu akan merasa sakit dan tak nyaman dalam proses penyembuhan. Namun itu lebih baik daripada mendiamkan, membuatnya menyebar ke seluruh badan lalu mati perlahan-lahan.

Mungkin dalam hatimu, kamu akan berkata : kalau cuma ngomong semua orang juga bisa!

Benar, kamu nggak salah. Akupun pernah patah hati. Berkali-kali. Bahkan dulu aku beranggapan patah hati adalah cobaan atau bahkan siksaan terbesar dalam hidup.

Namun, akhirnya aku sadar, kalau kita tak merasakan patah hati mungkin kita tak akan pernah belajar. 

Belajar buat kuat, bahwa patah hati hanyalah satu dari sekian cobaan  dalam hidupmu. Dan yg harus diselesaikan itu masalahnya, bukan hidup kita. Jangan sampai karena patah hati lalu berpikir untuk mengakhiri hidup. Bukankah kerasnya tempaan yg membuat berlian indah dan mahal?

Belajar untuk sabar. Patah hati itu mirip seperti panas dalam yg datang bersama sariawan dan radang tenggorokan. Ketika dia datang memang menyebalkan tapi ingatlah bahwa itu tak selamanya. 

Patah hati juga mirip badai di malam hari, maka sabarlah untuk menanti damainya pagi. Karena bila kesulitan adalah hujan dan badai serta  kemudahan adalah matahari, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Belajar buat bersyukur. Kita tak akan paham nikmatnya sehat bila tak merasa sakit. Kita tak tahu indahnya bahagia bila tak mengerti apa itu kecewa. Dan, kita tak akan menyadari keberadaan Tuhan bila tak diberi cobaan.

Belajar buat ikhlas. Mungkin kita  berpikir bahwa dialah yg terbaik buat kita. Padahal yg kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan. 

Tak ada yg menyuruhmu untuk buru-buru karena semua butuh waktu. 

Kembali bergerak memang tak mudah. Bahkan ketika kamu sadar untuk segera beranjak membenahi hati yg luluh lantak. 

Awalnya mungkin kamu akan takut. Takut tak bisa melanjutkan hidup tanpanya, takut bila dia menganggapmu tak lagi ada, takut akan kenyataan bahwa sekarang kamu bukan siapa-siapanya, takut lukamu tak kunjung sembuh tanpanya, takut tak bisa menemukan pengganti yg kamu bisa nyaman seperti ketika bersamanya, dan sejuta ketakutan lainnya. 

Tapi percayalah, bahwa apa yg terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Bila kamu sudah bisa ikhlas melepas dan berdamai dengan diri, maka suatu hari kamu akan cerita tentang lukamu saat ini, tentang kisah dibelakangnya, dengan biasa saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Seperti kamu terbiasa menghirup udara. 

Lalu,

kamu akan tersenyum bahagia karena saat itu mungkin kamu telah menemukan penggantinya.

…ingatlah Tuhan disaat lapang, maka Dia senantiasa hadir saat kamu butuh pertolongan…


Postscript :

Apakah kamu merindukannya, dia yg baru saja hilang dari hidupmu? Lalu bagaimana dengan Tuhan, yg bertahun-tahun dilupakan dan baru kembali ketika kamu butuh bantuan? Kabar baiknya adalah kamu tetap bisa kembalilah pada-Nya, karena Tuhan selalu ada bahkan disaat semua orang menghilang.

0

Move on, its about mindset.

“Gimana ya, Ndre cara buat melupakan mantan? Gue tau gue harus move on tapi ntahlah, coba kasih gue satu alasan kenapa gue harus melepasnya…”

Tinggal beberapa hari lagi akan memasuki 2017 dan kata-kata itu meluncur lemah dari mulut seorang teman, ketika terakhir kali kami bertemu dibilangan  Tebet, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia bukanlah teman dekat namun karena dia pernah membaca tulisan yg gue share di buku karya sahabat gue dengan nama pena profesor cinta yg berjudul ‘Pacaran Mulu, Kapan Putusnya’, maka seketika itulah dia menghubungi untuk bertanya, bagaimana cara efektif untuk move on. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Pagi, siang, dan malam, dia sering menghubungi untuk mencurahkan betapa hancurnya perasaannya saat itu.

Guepun hanya duduk manis dan sabar mendengarkan. Why? Karena gue pernah ada di posisinya. Actually, hampir semua orang tau apa yg seharusnya dilakukan setelah patah hati, yakni benahi hati dan pikiran lalu segera move on.

Namun, move on adalah sebuah kata yg mudah dilakukan bila otak dan hati sedang benar.

“…Kita putus ya… ”

Pertama kali mantan gue bilang ‘kita putus’ itu rasanya kayak lagi dibius lokal. Gue paham maksudnya tapi hati ini bingung memahaminya.

Hingga keesokan paginya gue bangun dan baru sadar bahwa dia bukan milik gue lagi. Nggak ada lagi telepon, mention, atau chat yg biasanya menyapa di pagi hari.

Nggak ada lagi perhatian berupa pertanyaan : kamu sudah makan? Atau kalimat-kalimat singkat sarat makna kayak : hati-hati di jalan, ya sayang. 

Dan malamnya, tak ada lagi obrolan ringan, ucapan sayang atau rindu, walau saat itu rindu adalah satu-satunya hal yg membuat gue diam membatu.

Putus cinta membuat dunia seakan hening. Tampak ramai di luar sana tapi begitu sepi di hati.

Beberapa hari setelah putus, rasanya semua serba membingungkan. Mau bilang rindu tapi dia sudah hilang, tapi kalo nggak bilang, pikiran gue melayang-layang.

Hati berkata, ambil hplo dan bilang bahwa lo butuh dia. Namun, otak mencegah dengan kalimat : Nyet, lo itu bukan siapa-siapanya lagi! Dan hp-pun kembali teronggok di sudut meja.

Putus juga membuat badan terasa asing. Fisiknya sehat tapi jiwanya lunglai. Semua syaraf seakan gagal bekerja.

Malas makan karena sama sekali tak terasa lapar. Malas bergerak karena memang seakan dunia begitu lambat bergerak.

Parahnya, responpun ikut melambat. Butuh beberapa waktu hanya untuk menjawab pertanyaan, Ndre, are you okay?

Yes, perasaan nelangsa gitu pernah gue alami. Tapi gue di sini bukan untuk menambah menye-menye atau bikin kalian yg baru putus jadi tambah menderita. Gue akan coba share, langkah awal apa untuk move on dan alasan kenapa lo harus move on.

Mungkin sebagian akan setuju dengan pemikiran gue, sebagian akan menolak, dan sebagian akan berpikir ulang. Its fine, karena semua orang punya pengalaman dan solusi yg berbeda.

Oke, here goes…

Move on harus diawali dengan  membenahi pikiran karena salah satu hal yg bikin semua jadi ribet disebabkan oleh mindset/pola pikir yg salah.

Pola pikir lo selalu berkata bahwa lo cinta, rindu, dan inginkan dia karena cuma dia yg selalu ada. Lo akan mati tanpanya. Jadinya? Ya, mati beneran!

Gue paham memang sulit ‘melupakan’ orang yg kita sayang. Tapi pahami bahwa itu menjadi sulit karena kita selalu mengenang kebiasaan.

Kita terbiasa dengan hadirnya,  suaranya, candanya, sikapnya atau hal-hal menyenangkan ketika kita sedang bersamanya, dan ketika dia hilang, seakan ada yg lenyap dari diri kita.

Trus gimana cara buat melupakan mantan?

Nah, ini dia kesalahannya. Gini, semua indera manusia itu didesain untuk merekam dan mengingat setiap moment dalam hidup.

Secara sistemik, hampir semua orang yg pernah masuk dan berinteraksi dalam hidup lo, akan lo ingat.

Contoh, mungkin lo udah bertahun-tahun lulus sekolah tapi ketika reuni mungkin lo akan kembali mengingat moment-moment ketika dulu bersama temen-temen lo. Ketika lo dimarahi guru, cabut kelas, atau nyontek bareng-bareng, semua tiba-tiba teringat kembali.

Jadi, belajar dari situ maka usaha lo untuk melupakan mantan adalah hal yg sia-sia. Kecuali lo tiba-tiba kejatuhan gapura selamat datang dan jadi lupa permanen ya itu lain lagi ceritanya.

Terus gimana dong? 

Kita memang nggak tau siapa jodoh kita ke depan tapi bila untuk balikan adalah hal yg mustahil maka tak perlu memaksa mengemis minta balikan.

Lo juga nggak perlu melupakannya kok, yg lo harus lakukan adalah menetralkan perasaan lo ke dia.

How? 

I told you, its all about mindset.

Pertama, positive thinking. Gue tau ini susah tapi cobalah untuk berpikir positif.

Datang dan perginya seseorang dalam hidup adalah hal yg normal. Kita pasti pernah berpisah atau kehilangan seseorang. Mungkin karena beda pilihan, beda sudut pandang,  atau karena maut memisahkan.

Sekarang coba ingat deh, sebelum dia masuk dalam hidup lo, dia bukan siapa-siapa. Sebelum kenal dia, lo bisa hidup tanpanya. Maka, yakini bahwa hari ini, tanpanya lo pasti bisa melanjutkan hidup. Pasti!

Kedua, definisikan kembali apa itu mantan dan kenangan. Beberapa waktu setelah putus, yg ada hanyalah kenangan, dan itu nggak salah. Sekali lagi itu normal. Lo akan sering mengingat bagaimana dia berkata, bertindak, dan membuat lo menjadi sangat nyaman bersamanya. But the question is, kalo sayang dan sudah nyaman, kenapa bisa jadi mantan?

Sadari bahwa semua terlihat manis karena yg lo ingat hanyalah kenangan yg manis. Memang dia pernah bikin nyaman namun pernah bikin nyaman bukan jadi alasan untuk balikan.

Coba ingat kembali every single moment yg membuat kalian akhirnya memutuskan untuk berpisah. Pertengkaran? Jarak? Ego? Beda agama? Pihak ketiga? Atau memang pada dasarnya salah satu pihak sudah kehilangan komitmen untuk bersama.

Ketiga, look around. Ada banyak yg single, baik, cakep, dan tentunya memiliki kemungkinan untuk membuat lo lebih nyaman di luar sana. So, kenapa harus membatasi pikiran bahwa hanya dia yg bisa bikin lo bahagia?

Ada milyaran manusia di muka bumi dan kita berhak untuk bahagia. Mungkin saat ini lo sedih kehilangannya, namun di masa depan mungkin lo akan bahagia karena berani melepaskan dan mendapat penggantinya, yg jauh lebih baik.

Keempat, kenangan tentang mantan mungkin akan memakan dan mengorbankan banyak hal. Sadar gak, efek buruk apa yg terjadi kalo lo kebanyakan inget mantan? Yup, hidup lo jadi berantakan.

Lo bakal sedih lagi. Lo bakal galau dan nangis dipojokan kamar mandi. Mata lo bakal sembab, jerawat betebaran, dan gangguan pencernaan karena telat makan. Jadinya apa? Lo bakal jadi jelek dan penyakitan! Sedangkan dia mungkin sedang hahahihi dengan gebetan barunya… *uups*

Belum lagi kerjaan jadi nggak beres, dan orang lain akan menilai lo sebagai pihak yg tidak profesional. Menyedihkan bukan? Sedih boleh tapi jangan kelamaan.

Dunia ini luas dan ada banyak hal menyenangkan menunggu di depan. Satu jam lo sedih means lo membuang 60 menit secara sia-sia. Artinya lo kehilangan 3.600 detik kemungkinan-kemungkinan lain untuk bahagia.

Kalo lo ngeyel dan bilang ah, sejam mah sebentar, hhmmm baiklah coba lo itung angka 1 sampai 3600, dijamin ‘bleber’ bibir lo hehehe.

Kelima, lo bukan satu-satunya. Sadari bahwa patah hati dialami oleh hampir tiap jiwa yg memiliki cinta. Bahkan kucing gue pernah patah hati!

Sadari bahwa putus adalah satu dari sekian banyak masalah yg ada dalam hidup. Dan sadari bahwa ada banyak masalah atau rintangan yg lebih pelik menghadang di depan. So, buat apa bikin semua tambah rumit?

Keenam, mata dan kaca. Tau nggak kenapa Tuhan meletakkan kedua mata di depan? Tau nggak kenapa kaca depan mobil selalu lebih besar daripada kaca spion? Agar kita lebih fokus ke depan dibanding melihat ke belakang!

Ketujuh, ikhlas. Semua yg terjadi itu sudah digariskan. Semua itu ada masa berlakunya. Kalo hubungan kalian berakhir ya berarti memang saat-saat kalian untuk bersama memang sudah habis.

Percaya deh, baik buruk yg Allah kasih ke kita pasti tetap yg terbaik, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Suatu hari akan terjawab, kenapa kita lebih baik hidup tanpanya. Suatu hari akan terjawab siapa tulang rusuk kita sesungguhnya.

…Cinta tak hanya mengajarkan untuk berbagi bahagia tapi juga menguatkan kita meski dia tak lagi bersama. Karena hidup berarti melangkah ke depan, bukan stagnan meratapi yg telah hilang…


Benahi diri dan bersiaplah untuk jatuh cinta lagi.


Ps : Ada yg mau curhat atau nambahin tentang move on? Just feel free ya.

2

Homecoming Kessos UI 2004


…I’m coming home.

I’m coming home.

Tell the world I’m coming home

Let the rain wash away

All the pain of yesterday…


29 Oktober 2016 

Rasanya kayak mimpi ketika reuni Kessos UI 2004 kemarin benar-benar terwujud. Sebuah event di mana kami semua bisa berkata : I’m coming home! dalam satu acara khusus yang dibuat oleh kita, dari kita, dan untuk kita.

Semua bermula ketika menghadiri pernikahan Tyas’04 pertengahan September kemarin, gue dan Abby berpikir untuk membuat acara kumpul bareng.

Niatnya saat itu hanya kumpul, jalan, atau makan bareng hingga terlintaslah sebuah ide, ini kenapa nggak sekalian dibuat gede ya?

Untuk mewujudkan hal tersebut, gue dan Abby meluangkan waktu setiap hari Rabu untuk meet up. Pergi ke kampus buat cari lokasi di mana kita semua bisa bikin acara reuni dengan aman dan nyaman.

Sempat terpikir buat bikin acara dengan tema piknik (outdoor) di sekitar perpus pusat atau danau samping balairung UI namun diurungkan.

Birokrasi yang ribet, ditambah musim hujan, dan banyak diantara teman-teman yang sudah berkeluarga dan memiliki anak kecil membuat kami harus mencoret ide awal tersebut. 

Kalau nanti ditengah acara hujan gimana ya? Kalau ada anak kecil kepleset/kecemplung danau bahaya nggak? Kalau di dekat acara kita juga ada komunitas lain yang bikin acara juga ganggu nggak?

Percayalah bahwa kami selaku panitia hanya menginginkan yang terbaik bagi peserta. Keamanan dan kenyamanan kalian adalah prioritas utama kami.

Dan, akhirnya disusunlah sebuah  tema “Homecoming Kessos UI 2004″, di kampus tercinta guna merayakan dua belas tahun persahabatan kita. Bukan sebuah acara yg kaku dan formal namun lebih pada acara fun dan kekeluargaan tanpa meninggalkan substansi acara.


Guys, dua belas tahun bukan waktu yg singkat. Ada banyak moment bersejarah di dalamnya. Ibarat selesai hujan yang menyisakan  genangan berisi kenangan.

Dari yang masih pakai name tag paling gede sekampus, diomelin senior karena tanda tangan buku angkatan nggak lengkap, sampai pingsan bareng di ruang UKS saat kita bikin sarasehan.

Dari sekedar hahahihi di takor sampai ke Puncak bareng cuma buat main kartu sama minum bandrek.

Dari kebingungan saat isi KRS buat semester depan hingga panik bareng karena SIAKNG-nya error.

Dari jaman sering cabut kelas sampai harus diabsenin karena dulu gue sering kena gejala tipus.

Dari yang cuma pinjam flash disk hingga kompakan kena virus brontok.

Dari jaman ngeri-ngeri sedap tiap mau masuk kelas Intervensi Mikro sampai stres bareng karena deadline CO/CD, Penelitian Evaluatif, Analisa Masalah Sosial, dan Kebijakan Perencanaan Sosial berbarengan.

Dari jaman mumet sama Statistik Sosial hingga ditemani ramai-ramai saat mau sidang skripsi.

Dari jaman iseng kebut-kebutan sampai nyaris gagal diwisuda karena hampir ‘ciuman’ sama truk kontainer di tol.

Dari jaman kita menyanyikan lagu Genderang UI, Gaudeamus, dan Keroncong Kemayoran hingga akhirnya kita juga dinyanyikan  lagu tersebut.

Selalu ada kalian, guys! Even setelah lulus, punya hidup dan kesibukan masing masing, kalian tetap ada.

Jadi, dengan ketulusan hati, gue mau bilang,

Terima kasih buat kalian semua karena selalu ada buat gue selama lebih dari satu dekade ini, buat semua hal-hal unik, ngaco, error, ngeselin, sedih, gokil dan ngakak bareng.

Terima kasih buat Abby, karena tanpamu acara akan semu. Sejak melihat lo jadi PJ Acara di Sarasehan, gue selalu percaya bahwa acara ini akan sukses. Dibuka dengan mengingat hal-hal yg berkesan, lanjut ke acara dan games dengan humor yg seru, dan diakhiri kontribusi kami selaku alumni, two thumbs up, Bro!

Terima kasih buat Isal dan Sisy yang mem-back up gue guna merealisasikan acara ini. Buat Wiwiet, yang ditengah kesibukannya mengurus plakat angkatan juga berbaik hati bantuin ngerjain PR kelas bahasa Jerman gue. Tanpa bantuan kalian, aku mah  cuma sisa makanan di kaleng Khong Guan bekas lebaran. Kalian tiada tara!

Terima kasih buat Putu, sang ketua angkatan yang bela-belain cuti, pulang dari Bangkok ke Jakarta. See, selalu ada alasan kenapa Tuhan mempercayakan jabatan ketua angkatan pada dirimu, dan semua terbukti’kan? Makasih ya Putu buat semuanya.

Terima kasih buat Tito dan Uma, telah men-support produk untuk hadiah games. Hadiahnya sumpah bikin ngiler!

Terima kasih buat Azizah, Rara, Selina, dan Herlie, buat bantuan kids corner dan meramaikan acara dengan junior-juniornya yang bikin gue iri.

Terima kasih buat Yana, vendor konsumsi kita kemarin. Harga bersahabat, menu banyak, rasa enak, dan bisa request di detik-detik terakhir untuk tambahan snack.

Terima kasih buat Galuh, yang menyempatkan hadir meski sedang UTS di kampus sebelah. Semoga S2-nya lancar, dapat nilai terbaik, dan diberikan kesembuhan buat ayah mertuanya. Al Fatihah sent.

Terima kasih buat Diego, Fahri, Putri Syarita, Edwin, Cesa, Weni, Puri, Pewe, Dini, Desta, dan Adit. Guys, tanpa kalian apalah acara kita. Juga buat, Harod, atas penerbangan pertamanya di Sabtu pagi demi menghadiri reuni ini. Ya ampun, kakek, aku terharu! Sehat-sehat ya, Kek! Buat Esna, yang akhirnya juga bisa datang.

Terima kasih buat Vica, Misri, Ayu, Tyas, dan Karina, atas bantuannya meski berhalangan hadir. Buat Sarah, Amy, Gaby, Dwi, Risma, Irhash, dan Ricky, semoga di acara berikut, kita bisa hadir full seangkatan.


Terima kasih buat Mas Bambang dan Mas Pri yang telah ikut mengisi acara kita. Juga, pihak jurusan, Mbak Fitri dan Mbak Iyen, yang telah membantu memfasilitasi tempat beserta kelengkapannya.

Thank you. Danke schon. Haturnuhun. Terima kasih.

I know my kingdom awaits

They’ve forgiven my mistakes

I’m coming home.

I’m coming home.

Tell the world that I’m coming home…

Coming Home – Skylar Grey

…karena bertambahnya usia bukan berarti kita paham segalanya. Mohon maaf bila ada salah sikap dan kata, entah selama acara atau ketika kita dulu masih kuliah bersama…

Andrea Juliand 

Ketua Panitia Reuni Kessos UI’04 2016.

1

Standar ganda


Pernah lihat gambar ini? Gambar yg sempat viral beredar di jejaring media sosial beberapa waktu lalu. Sebagian besar melayangkan kalimat protes, tidak sedikit yg marah dan mencaci.

Banyak orang begitu marah ketika ada anak bangsa, yg berprestasi di tingkat internasional, dan media malah memberitakan dari sudut negatifnya, dari sisi kegagalannya. Oh, I feel you..and yes, itu nggak salah. Semua orang punya hak untuk marah. Nggak usah orang lain, saya aja pas baca ikutan baper!

Media salah, salah banget! Karena media ‘seharusnya’ mengambil sudut pandang positifnya yakni : Hellooo, tuh di luar negeri sana ada anak kecil dari Indonesia, yg berhasil masuk dalam nominasi grammy awards, yg tentunya berperan mengharumkan nama bangsa lho. Walaupun gagal seharusnya media tidak memberitakan sisi negatifnya, kasih apresiasi kek!
Lalu, banyak orang ramai-ramai membully media tersebut dengan alasan etika, kemanusiaan, nasionalisme, dan lalala sebagainya..

But, take a look..once again,

Apakah media salah? Yakin? Kalo kita mau sedikit objektif, fakta mengatakan bahwa Joey memang tidak berhasil membawa pulang piala.

Apakah media salah karena memberitakan dari sudut pandang negatif? Tidak. Why? Kita tentu pernah mendengar istilah bad news is a good news. Dan tentunya, faktanya memang tidak ada piala grammy yg dibawa pulang ke Indonesia. Apakah ini bad news? Bagi Joey dan Indonesia ini jelas adalah hal yg kurang menyenangkan. Apakah ini good news? Bagi media, bisa saja. Karena berita seperti ini akan meningkatkan rate pembaca, di sharing kemana-mana dan keuntungan ekonominya ya balik ke media itu sendiri.

Tapi, bukan itu yg ingin saya bahas..

Yes, ini lho yg kemarin sempat Jokowi kritik pada media pada Hari Pers Nasional awal Februari kemarin. Agar media memberitakan berita dari sudut pandang yg mampu menumbuhkan jiwa optimisme dan positivisme. Indonesia memang tidak sempurna tapi bukan berarti isinya jelek semua, bukan?

Namun, apa yg sebagian besar kita lakukan?

Sebagian besar kita malah ramai-ramai membully presiden, dengan alasan : kebebasan pers tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun.

Bukankah seharusnya simpel? Kalo kebebasan pers tidak boleh diganggu gugat ya jangan marah kalo media mengambil sudut pandang negatif untuk memberitakan seorang pianis muda atau siapapun anak bangsa yg gagal dapat piala.

Ketika media diberi masukan yg positif oleh presiden, kita bully. Giliran ada anak bangsa dikabarkan negatif oleh media, kita marah. Maunya apa coba?

Bukankah ini yg dinamakan standar ganda?  Coba ganti gambar Joey Alexander dengan foto presiden Jokowi atau Prabowo. Bukankah keduanya sama, sama-sama berprestasi walau beda bidang. Jokowi dan Prabowo diapresiasi oleh pihak asing tapi malah dibully di negeri sendiri, bukan cuma oleh media tapi oleh sebagian besar rakyat Indonesia yg tersekat dalam kubu yg berbeda. Pendukung wiwi menyalahkan pendukung wowo. Sebaliknya, pendukung wowo mencaci pendukung wiwi. Saling cela, saling posting aibnya si anu dan si itu. Bahkan yg bukan aib di kondisikan sebagai aib. Blusukan salah, naik kuda juga salah. Yg satu teriak kecebong, yg satu bales ngatain kampret. Gitu terus sampe kiamat.. 

Atau, 

coba juga ganti dengan foto Ahok, Ridwan Kamil, atau Bu Risma, sang walikota Surabaya.

Masih kurang? 

Ganti dengan foto pihak kepolisian dan TNI yg kemarin berjibaku saat peristiwa bom Sarinah. Dan hasilnya akan tetap sama. 

Mereka dipuji di luar negeri tapi malah dibully dan dianggap pencitraan, kamuflase, pengalihan isu oleh negeri sendiri. 

Polisi dateng cepat dibilang pencitraan. Giliran telat dibilang makan gaji buta. Sadis ya?

Mbak, mas…

Pemilu sudah lama usai. KIH dan KMP secara de facto sudah bubar. Jokowi orang Indonesia. Prabowo juga orang Indonesia. Kitapun warga negara yg sebagian besar lahir, tinggal, dan hidup di Indonesia. Ayo bersatu! Kita tidak sedang perang saudara karena memang kita ini sesungguhnya bersaudara, saling menyayangi dan menghargai yg diikat dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Yup, Bhinneka Tunggal Ika, tiga kata penuh makna yg bahkan di apresiasi oleh presiden Barrack Obama ketika 2010 dulu memberi pidato di Universitas Indonesia.

Oom, Tante…

Kita itu satu, satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air bernama Indonesia yg sudah diikrarkan dalam sumpah pemuda.

Musuh kita bukan bangsa sendiri. Musuh kita adalah mereka di luar sana yg terlihat seakan ramah pada bangsa Indonesia tapi tiba-tiba menikam dari belakang karena kita sibuk saling membenci.

Dan, dualisme ego tidak penting dan tidak ada gunanya ini harus dihentikan. Memangnya pada nggak capek apa bertahun-tahun ejek-ejekan wowo-wiwi melulu? Bener banget ungkapan bahwa Haters gonna be hate tapi mau sampai kapan jadi haters? Apakah dengan jadi haters lalu hidup membaik dan pahala kita bertambah?

Pak, Bu..Look around,

Pihak-pihak yg tidak suka melihat Indonesia tumbuh kuat menjadi bangsa yg hebat, akan senang dan menang, kalo kita sibuk saling bertengkar. Mereka akan menertawakan kebodohan kita yang tak perlu ribet dipanasi tapi sudah saling ribut sendiri.

Mereka akan bertepuk tangan sambil bilang, Indonesia itu nggak usah diserang sudah hancur oleh bangsanya sendiri kok.

Mau? Saya mah nggak…

0

Buku Untuk Papua #PapuaItuKita

Last week, gue abis ikutan acara training Wake Up Call di Gramedia, Matraman, Jakarta. Salah satu pembicaranya adalah mas Dayu Rifanto, founder @Bukuntukpapua. Dari presentasi beliau di dapatlah fakta bahwa hampir 40% warga Papua masih buta huruf. It means, 4 dari 10 orang di Papua sana belum bisa membaca. Gue lupa data ini data tahun berapa tapi yang jelas data ini data resmi, dan mungkin data yang tak resmi angkanya bisa lebih besar lagi.

Abis baca slide presentasi itu gue berasa digampar bolak balik, gimana ngga? Ketika gue mengeluh internet lambat dan ternyata di sana boro-boro internet, untuk membaca aja masih berat. Ketika di Jakarta, bagi sebagian orang bahasa inggris masih sulit, dan di Papua, bahasa Indonesia masih begitu rumit.

How come? Selama ini pembangunan hanya terpusat di wilayah Barat, Pulau Jawa tepatnya. Padahal Indonesia bukan hanya Jakarta. Nusantara tidak hanya Sumatra dan Jawa, kita punya saudara di Papua sana, Papua itu kita, bagian dari Indonesia Raya.

Nah, buat kamu-kamu yang mau ikutan berbagi dengan saudara kita di Papua, sekarang lagi ada program pengumpulan Buku Untuk Papua (BUP), bisa di cek/mention di @bukuntukpapua @papuacerdas. Melalui program ini, kamu bisa berbagi buku, entah baru atau bekas, yang penting masih layak pakai.

Buku yang di rekomendasikan :

Muatan pendidikan atau konten yang mendidik (bukan buku pelajaran/komik) Majalah Anak – anak seperti Bobo/ Donal Bebek dll
Buku bacaan/ Cerita rakyat/ Dongeng anak – anak
Cerita bergambar anak – anak
Buku pengetahuan (Ensiklopedia dll)
Atlas, Peta
Kamus Bahasa
Kamus Bahasa Bergambar
Film dokumentasi/ Motivasi & Inspiratif
Media/ Mainan Edukatif/ Alat Tulis

Saat ini program pengumpulan Buku Untuk Papua sedang berlangsung di kota Yogyakarta (BUP Jogja). Acara ini berlangsung hingga 22 Juni 2015 namun bukan berarti lewat dari tanggal tersebut maka kegiatan ini akan berakhir. Teman-teman yang tertarik ikutan tetap dapat berpartisipasi karena buku teman-teman tetap akan ditunggu untuk di kirim pada jadwal program yang akan datang.

Oh iya, buku-buku yang telah terkumpul dapat langsung kamu kirim ke :

Marthinus Numberi

Pogung Kidul RT 02 / RW 48 No. 4

Sleman (Belakang Cyla Laundry)

Buat kamu yang mau membantu donasi dalam bentuk uang, bisa support dengan mendonasikan ke Rekening Donasi : 

141.001.361.0977 Bank Mandiri an Herlina Yulidia

Untuk korespondensi lebih lanjut bisa dilakukan dengan kontak ke :

Email : bukuntukpapua@gmail.com
Contact : +6281222967475

atau melalui link buku untuk papua ke sini

Terimakasih banyak atas kepedulian teman-teman semua.

“Its not about collecting the books, Its a sharing knowledge !”

#PapuaItuKita

#UntukIndonesia