0

Menuju 1%

Secara global, hanya 11% penduduk dunia, campuran antara orang kaya, super kaya, dan ultra kaya,yg menguasai 89% kekayaan global.

Adapun jumlah orang ultra kaya di dunia hanya sekitar 141.000 orang dan setengahnya berdomisili di benua Amerika.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ternyata 1% penduduk yg menguasai hampir setengah kekayaan di Indonesia. Hal itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketimpangan ekonomi ke 5 di dunia.

Itu sih fakta yg beberapa hari lalu gue lihat sekilas di televisi.

Apakah itu adil?

Hhmmm…gue nggak akan membahas apakah itu adil atau nggak, tapi gue harus memastikan cepat atau lambat nama gue akan ada dalam daftar orang-orang yg 1% tersebut.

Gue paham bahwa diantara mereka memang ada yg terlahir kaya. Namun, tak sedikit yg berjuang dari bawah dan mereka bisa!

Prinsip gue, kalo orang lain bisa, kenapa gue nggak? Kalo orang lain mampu dan gue nggak, tentu masalah ada dalam diri gue. Bukankah mereka sama-sama makan nasi? Bukankah mereka sama-sama lahir dari bayi? Bukankah mereka diberi waktu yg sama?

Satu hal yg jelas, mereka yg sukses adalah mereka yg kreatif, tak gampang menyerah, dan selalu bergerak maju. Mereka tak menyalahkan keadaan tapi mempelajari keadaan. Mereka jarang mengeluh apalagi menghujat orang lain atau pemerintah, mereka selalu beradaptasi dan memperbaiki diri.

So, do something and stop complaining!ย 

“…Karena mengeluh dan menyalahkan orang tak akan menghasilkan apa-apa. Benahi diri dan bersiaplah untuk melesat lebih cepat lagi!” -@andreajuliand

Advertisements
0

Baru kepengen bisnis…

Berapa hari ini agak kepikiran, kok kayak ada yg berasa kurang dan  baru sadar kalo di bulan ini gue jarang menulis di blog.

Jujur, beberapa waktu ini gue lagi rada ribet. Semua dimulai ketika menghadiri acara reuni bareng teman SMP. Teman-teman gue yg dulu lucu-lucu dan cupu-cupu kini telah berubah menjadi dua kelompok, yaitu mereka yg memegang jabatan oke di perusahaan besar dan mereka yg kelihatannya santai hahahihi tapi bisnisnya menggurita.

Ketika mereka yg menggurita bisnisnya ngobrol bareng dan kita memutuskan untuk membuat start up bisnis bareng, maka hal itu tidaklah gue sia-siakan. Kapan lagi?

Ngomong-ngomong tentang bisnis, apalagi untuk urusan start up, ada banyak orang selain teman SMP yg juga mengajak gue untuk berbisnis. Di sinilah otak gue harus pintar ‘menyaring’ mana orang yg hanya iseng kepengen bisnis, ingin sekedar berbisnis, dan yg beneran butuh untuk berbisnis.

Simplenya, mereka yg baru ‘kepengen bisnis’ atau sekedar berbisnis, bisa terlihat dalam percakapan ketika mereka menghubungi gue.

Contoh 1

x : Ndree, gue kepengen bisnis deh, enaknya bisnis apa ya?

Enaknya mah pecel ayam pake nasi uduk trus minumnya es teh manis… 

Lah terus gue mau jawab apa dong? Kalo lo aja nggak tau mau bisnis apa apalagi gue? 

Tapi ya nggak apa-apa, just ask yourself lo expert (ahli) di bidang apa dan passion lo dimana. Expert dan passion bisa saja dua hal yg berbeda. Misal, mungkin karena dulunya lo kerja cukup lama di bidang marketing, kemungkinan lo punya skill marketing tapi bukan berarti passion lo di situ, bukan berarti hati lo enjoy di situ. Pasion lo bisa aja di bidang lain yg ngga ada hubungannya dengan keahlian lo. Banyak kok, yg ahli dibidang science tapi passionnya ternyata memasak, no problemo..

Contoh 2

x : Kita bisnis yuk ndree, kecil-kecilan..kan lumayan buat income sampingan

Nah ini nih yg salah, Niat awal. Kekuatan bisnis lo berasal dari niat lo. Kalo niat lo kecil-kecilan, ya hasilnya juga kecil-kecilan. Kalo niatlo cuma buat sampingan, maka hasilnya ya hanya untuk sampingan, mungkin kadang besar, kadang kecil tapi karena niat lo hanya sampingan, lo nggak akan fokus untuk menjadikan bisnis lo as main source income. Coba liat mana ada perusahaan besar yang memiliki visi : untuk sekedar ikut-ikutan? Nggak ada! Indofood tidak sekedar iseng atau ikut-ikutan sebagai tim hore ketika mereka berbisnis mie instan. Pasti mereka ingin menguasai pasar. Be a number one and they did, how? Pertama, ubah niat dan pola pikir lo.

Contoh 3.

x : Ndre, kita bisnis yuk..nanti gue nanem modal di elu dan elu yg muterin..

Nah ini juga nih… Bedain antara lo ngajak orang berbisnis dengan lo yg hanya sebagai investor pasif. Keduanya sama-sama ngajak bisnis sih tapi investor pasif cenderung untuk hanya menanam modal tanpa perlu ribet mikirin segala sesuatu tau-tau mereka dapet untung. Kalo gue? Jujur males. Gue butuh investor yg nggak hanya punya duit tapi juga memahami seluk-beluk bisnis. Buat apa? Biar gue dan dia bisa jadi team work yg hebat. Kalo cuma mau nanem duit udah gitu duitnya nggak gede? Yaelah, minjem di bank juga bisa..

Contoh 4

x : Ndre, kita bisnis yuk..gue punya konsep oke buat kuliner

A : boleh, lo lagi ngapain? ketemuan yuk?

x : aduh jangan sekarang, gue lagi baca kompas sabtu, banyak lowongan soalnya

Yaelah nyet! Lo mau bisnis apa nyari kerja sih? Gini ya, bisnis dan kerja ibarat sebuah persimpangan. Ada dua jalan, lets say, bisnis ke kanan dan kerja ke kiri, and you have to choose. Lo ga bisa ada di persimpangan. Lo juga nggak bisa udah milih belok kanan dan kemudian puter arah lagi menuju ke belokan ke kiri. Ya memang bisa aja sebenarnya tapi it wasting time! Ask your self, lo itu sebenarnya mau bisnis apa mau kerja? Pastiin ini dulu, karena merintis bisnis itu ibarat lo punya bayi, kalo lo ngurusnya ngasal dan nggak fokus, ya mati bisnis lo.

Contoh 5.

x : Ndre, bisnis apa ya yg selalu untung, laba gede, cepet balik modal, dan resikonya sedikit?

Hahaha gue ngakak kalo dapet pertanyaan kyk gini. Selalu untung, laba gede, cepet balik modal dan resiko sedikit? Hey come on, bisnis itu hanya buat mereka yang berani, berani keluar dari zona nyaman dan berani menghadapi konsekuensi.

High risk, high income, penghasilan yg besar akan selalu didampingi oleh resiko yg besar. Kalo pola pikir lo masih serba instan dan serba aman, mending saran gue lo balik jadi karyawan aja, nggak usah bisnis. Bukannya gue songong but please be mature guys, yg namanya hidup itu serba sepasang, ada siang ada malam, ada untung ada rugi, jadi nggak ada yang namanya selalu untung.

Contoh 6

x : Ndre, gue pengen bisnis, tapi gue takut. Pertama, takut rugi. Kedua takut hasil awalnya mungkin ada tapi nggak segede gaji gue saat ini. Ketiga, gue liat, bisnis itu nggak pasti ya..kalo gue gajian kan pasti tuh jelas yg gue terima berapa dan bisa gue save sekian

Ya gampang, lo jangan bisnis. Gimana mau bisnis kalo belum mulai aja udah takut? Gimana mau dapet hasil positive kalo belum mulai aja udah negative thinking. Dari mind set lo udah keliatan kalo lo nyari yg pasti dan yg pasti itu nggak ada dalam kamus bisnis. Lo juga nggak fair, lo bandingin bisnis yang baru akan jalan dengan lo yg udah lama kerja, ya hasilnya beda.

Tanya pebisnis manapun, adakah yg incomenya bisa sama tiap bulannya? Apakah angka penjualan mobil Toyota sama persis tiap bulan? Apakah penjualan iPhone stagnan atau naik turun? Ini dunia bisnis, bukan dunia karyawan yg semuanya serba pasti. Di bisnis lo harus usahain maksimal biar di akhir tahun lo bisa hura-hura, atau lo males-malesan dan akhirnya lo gulung tikar. Atau bisa aja, lo udah maksimal tapi hasilnya belum sesuai yg lo inginkan.

But let me tell you something, sesuatu yg pasti itu sudah pasti terukur, kenaikannya juga terukur. Bisnis? Bisa aja hari ini lo mesti ekstra ngirit untuk ini itu, rutin makan mie instan, nggak bisa ikutan acara seneng-seneng bareng temen lo yg lain, dan mungkin ngerasain patah hati di tolak ama gebetan lo karena saat ini lo bukan sapa-sapa tapi lima tahun ke depan, lo bakal ketawa nginget ini semua sambil duduk manis dalam senyapnya kabin Maybach.

Contoh 7

x : Gue mau bisnis apapun itu, asal pasti untung, modal kecil, nggak pake ribet dan terpenting gue akan mengusahakan apapun biar dalam waktu singkat harus gue bisa kaya!

Widiiiihhh lo ambisius banget, bro! Begini, dalam bisnis ambisius nggak salah, bagus banget malah, tapi inget ada yg namanya proses. Untuk sampai ke tangga tingkat sepuluh lo harus menyusuri anak tangga satu hingga sembilan, and I told you, itu pun belum tentu kesuksesan lo nanti ada di anak tangga ke sepuluh, gimana kalo ternyata sukses baru ada di anak tangga ke seratus, apakah lo akan tetap berjuang?

Contoh 8

x : Ndree, gue mau bisnis tapi gue nggak punya modal, dalam hal ini ya uang..

Gini ya, modal itu nggak harus duit kok. Modal itu bisa berupa niatlo, kerja keras lo, dan isi kepala lo. Sudah banyak cerita mereka yg hanya punya uang -kalo uang lo sebut sebagai satu-satunya modal- dan akhirnya harus gigit jari gulung tikar. Modal uang penting tapi bukan yg terpenting. Simple, lo punya uang tapi lo nggak punya otak ya siap-siap aja kena tipu. Kalo lo emang bertekad mau merintis bisnis ada banyak jalan. Lo bisa mulai dengan menjadi broker, mulai dengan menjual produk orang lain. Selisih keuntungannya lo tabung buat jadi modal. Mungkin ini akan lama, tapi seiring proses lo juga bisa sekalian belajar seluk beluk bisnis yg akan lo mulai. Lagian besar kecilnya modal uang itu kembali ke orangnya. Mungkin buat lo angka satu milyar besar tapi buat anak presiden dengan angka segitu dia bakal bilang kalo dia ngga punya modal (uang).

Gue pribadi, lima tahun lalu memulai merintis bisnis mainan dengan modal tidak lebih dari tiga ratus ribu rupiah dan dalam waktu kurang dari satu tahun gue memiliki laba bersih hingga satu juta rupiah per hari yg membuat gue hingga detik ini tidak tertarik untuk melamar kerja. 

Keluarga gue? Kami merintis bisnis dengan modal kurang dari satu juta rupiah dan sekarang bisnis keluarga gue masuk dalam kelompok UKM, bukan usaha kecil menengah tapi usaha kecil milyaran.

Contoh lain? Rumah Makan Sederhana memulai dari nol, mulai dari emperan, digusur sana sini oleh petugas keamanan dan lihat saat ini mereka sebesar apa? Apple dimulai dari garasi sempit dan sekarang mereka baru saja mengumumkan laba bersih per tahun 2015 tercatat di angka 151 trilyun dan menjadikan mereka sebagai salah satu perusahaan termahal di dunia. 

See? Bisnis itu bukan hanya sekedar modal uang. Lagian, bayi yg baru lahir mana ada yang langsung berlari. Gunakan otak dan hati, nikmati prosesnya, konsisten dan fokuslah di sana.

So, masih mau bisnis? benerin mindset lo, and lets talk about business

See you on top!  ๐Ÿ˜€

0

OMG, AMG!

Hola!

Kemaren gue abis nyoba tol Cipali, tol terpanjang di Indonesia saat ini. Opini tentang tol itu adalah ‘mengejutkan’. 

Kenapa gue bilang begitu? Pertama, gue lewat tol itu sekitar jam 11 malem dan kaget karena anginnya kenceng banget meeenn! Gue yang biasa santai main bejek gas di Cipularang -yang terkenal dengan angin dari samping- sampai ciut nyalinya. Inopah cuma berani dikebut maksimal 140 km/jam, and mostly konstan di 120km/jam, itu aja kalo kena angin bikin mobil rada oleng dan pindah jalur, padahal gue sekeluarga plus bawa bawaan segambreng. Saat itu, jadi serba salah, karena tol yang panjang dan kebanyakan lurus itu cenderung membosankan. Mau ngebut takut terbang, nggak ngebut takut bosan lalu ketiduran.

Kedua, kondisinya gelap, Bo! Gue bisa maklum karena tol itu dibuka โ€˜daruratโ€™ untuk mengatasi kemacetan lebaran kemarin, jadi belum semua area ada lampu penerangannya. Selain gelap, gue juga nggak berani bejek gas karena kemarin liat berita ada hewan yang masuk tol. Kasus terakhir, ada pengendara yang menabrak babi hutan dan sapi milik warga.

Ketiga, Jalanannya kebanyakan masih beton, alias bikin berisik dan lebih ‘makan ban’. Ini juga wajar, karena ya itu tadi, tolnya masih ‘tol darurat’. Anehnya, ketika di beberapa area ada yang sudah diaspal tapi kok malah rada licin ya? Kayaknya aspal tol jagorawi atau cipularang bisa ‘lengket’ sama ban, nah kalo ini malah rada bikin mobil sedikit ‘menari’.

Keempat, buat yang jalan malem dan ketemu truk-truk besar yang biasanya ada di lajur kiri mesti hati-hati nih. Why? Karena supirnya rada cuek kalo mau pindah lajur. Mereka nggak peduli ada kendaraan dari belakang yg melaju kencang di lajur kanan, tau-tau nyalain lampu sign dan langsung pindah! Ini sumpah bikin gregetan banget karena beberapa kali gue mesti injek rem dalem-dalem karena kaget ada truk yang seenaknya pindah lajur (ke kanan).

Kelima, rest areanya cukup bagus sih. Ya, walaupun nggak sebesar dan selengkap rest area di Cikampek atau Cipularang tapi cukup nyaman. Area parkirnya lega, dan fasilitas pendukung seperti toilet, mushola dan tempat makan cukup komplit dan bersih. Ada banyak tong sampah di berbagai sudutnya namun tetep aja ya tipikal orang Indonesia yang kadang suka nganggep bahwa ‘jalanan itu juga mencakup tempat sampah’, maka masih ditemui banyak sampah berserakan. I hope, perilaku norak, barbar, kampungan, dan nggak pernah tau yang namanya sekolah kayak gini nggak akan ditemui kedepannya.

Finally, adanya tol Cipali sangat membantu kelancaran transportasi dari Jakarta menuju Jawa Barat dan Jawa Tengah. Mungkin kondisi saat  ini belum bisa dibilang perfect tapi bagi gue pribadi, lebih enak lewat tol dibanding jalan biasa karena mesti ekstra waspada ama motor, becak dan orang-orang yang suka nyeberang sembarang. Beside, kalo ngebutnya konstan di angka 120 km/jam, maka tol ini akan ‘habis’ hanya dalam waktu kurang dari sejam. Mungkin kalo one day ke sana pagi atau siang, gue akan nyoba bejek konstan di angka 160 – 185km/jam, semoga aja nggak terbang ๐Ÿ˜€

Lanjut,
Kemarin juga ada yang nanya kenapa gue hobi banget ngebut. Sebenarnya gue sekarang udah jarang banget ngebut ekstrem, apalagi zig-zag di tol. FYI, saat ini gue cuma ngebut di tol itu juga kalo kosong.

Pertama, gue ngebut bukan karena pengen gaya. Buat apaan gegayaan di tol? macem ada yang peduli, kecuali lo nabrak iring-iringan presiden, baru deh banyak pihak yang peduli ama lo, terutama polisi. Gue ngebut juga bukan karena ngejar waktu. Tolong bedakan antara ‘cepat’ dan ‘terburu-buru’. Menyetir cepat itu kebiasaan gue tapi buru-buru? No! Buru-buru mengindikasikan ada persiapan /perhitungan yang kurang dan lo harus mengejar waktu dengan nyetir cepat. Gue ngebut karena menikmatinya dan nggak harus selamanya saat di tol ngebut. Kalo pengen ngebut ya ngebut, kalo pengen pelan ya lo bakal liat inopah gue di lajur kiri dengan kecepatan 60km/jam dan kalo capek, gue bisa molor berjam-jam di rest area.

Kedua, kadang gue ngebut karena nggak mau ngabisin waktu di jalan. Bukan, bukan karena ngejar acara atau deadline waktu tertentu tapi emang karena males aja buang waktu di jalan. Tentu dengan memperhitungkan beragam aspek. Gue bukan tipikal orang yang pake mobil segede gaban tapi nekat nikung pada kecepatan 170km/jam. Bukan juga tipikal orang yang ngebut 190km/jam dan menempel kendaraan di depannya. Semua gue perhitungkan. Gue tau berapa psi tekanan ban, kondisi mesin, seberapa jauh mobil bisa berhenti, dan seberapa jauh gue harus jaga jarak antar kendaraan.

Ngomong-ngomong tentang ngebut, dari dulu mobil yang gue idamin adalah Toyota FT86. Mobil sport entry level bermesin 2.000cc bertenaga 200dk dengan akselerasi 0-100 km/jam di range 6-7 detik. Sebenarnya sih pengen banget punya Aventador tapi gue harus tau diri, why? Karena omzet usaha gue setahun aja buat beli itu mobil belum bisa. Kalo mau dipaksain, gue cuma dapet yang tahun 2014 alias bekas, yang harganya masih di range belasan milyar, itupun mesti puasa nggak makan, nggak minum, dan nggak buka puasa, setahun full.

Pengen juga beli BMW M3 tapi kok ya harganya rada mahal yaaakk, di atas 1 M walau gue akui bentuknya macho abis.. Bukan juga ngincer Alphard yang menurut gue adalah kendaraan โ€˜pengakuanโ€™ sebagai orang kaya baru. Soalnya di Indo, kalo belum pake Alphard belum bisa dibilang โ€˜kayaโ€™. Padahal masih banyak MPV atau SUV yang harganya di atas Alphard dan lagian, gue kan bukan orang kaya yang butuh Alphard, gue cuma si kelas menengah ngehe yang banyak gaya. ๐Ÿ˜€

Kembali ke FT86,

Entah kenapa gue demen banget ama mobil itu. Ukurannya compact, bobot ringan, bodi rendah, mesin 200 dk-nya cukup kencang, dan harganya nggak mahal-mahal amat, walaupun buat gue ya masih termasuk mahal juga sih *apa deh gue?* ๐Ÿ˜€

Namun, semua itu sirna ketika melihat sebuah Mercedes CLA 200 Sport. Pertama kali melihat mobil itu gue langsung jatuh cinta. Lebih tepatnya, jatuh cinta sekaligus ‘menelan ludah’, beautiful! Lampu, bumper ala AMG, atap, siluet, dan bokongnya, seksi abis! Lebih tepatnya seksi sekaligus gahar namun tidak terkesan murahan walaupun CLA adalah tipe mercy termurah. Harganya hanya sekitar 600-700 jutaan.

Akhirnya karena penasaran, saat ada pameran mobil kemarin di GIIAS, gue sengaja mampir ke boot Mercy dan oh men, ini mobil emang keren ya ternyata! Emang sih, tenaga dan akselerasi mesinnya nggak segalak FT86 tapi mesin 1.600cc turbo yg mampu menyemburkan tenaga sebesar 156dk dan bisa menempuh 0-100km/jam dalam waktu 8,5 detik dengan top speed 230 km/jam udah cukuplah untuk dipake ‘bersenang-senang’ di Jagorawi atau mempersingkat waktu tempuh ke Bandung. Ditambah desain jendela pilar A, B, C yg frameless itu aduhai banget, mirip kayak mobil-mobil coupe yg harganya dua kali lipatnya. Desainnya yg manis sekaligus gahar juga bikin CLA cocok dibawa kemana-mana, buat ngebut oke, buat ketemu calon mertua jadi, buat jalan rame-rame berempat nyaman, buat dipake kondangan keluar masuk hotel juga nggak malu-maluin. Walaupun beberapa puluh juta sedikit lebih mahal dari FT86 tapi lambang dan kenyamanan ala Mercedes cukup membayar semua.

Oh, satu-satunya yg gue kurang suka dari CLA 200 Sport adalah kenapa ya persnelingnya yg biasanya ada di console tengah mesti pindah menempati posisi tuas lampu sign? Selain desain tuas persnelingnya keliatan ringkih juga bikin keder bagi pengendara mobil murah macem inopah kyk gue hehehe ๐Ÿ˜ฆ

Oiya, gue tidak dibayar atau berafiliasi dengan merk tertentu lho, juga nggak bekerja untuk merk-merk tersebut.
Gue hanya pecinta ngebut yang mimpi punya mobil sport kelas entry level dan semoga tahun depan, bisa kebeli..amin..yang kemudian langsung disanggah oleh otak gue. Duit dari mana nyeeet? Buat ikut balap di Sentul kelas BMW seri 3 jadul yang cuma butuh duit sekitar 200-300 jutaan aja masih bingung cari babi ngepetnya..

Yaaaaahh derita jadi kelas menengah ngehe banyak gaya ya emang gitu huehehehehe

**Post script : Adakah yang berbaik hati mau beliin CLA 200 Sport?

*ngarep.com*

2

investasi cap odong odong

Hari ini gue iseng beres beres majalah dan koran trus ngga sengaja gue nemu koran Kontan edisi lawas, 8 Desember 2014. Kayaknya gue belum baca semua nih, pikir gue. Sekilas gue baca headline dengan latar merah berjudul : Kerepotan Baru Kartu Kredit, gue pun melanjutkan membaca dengan skimming. Di bagian bawah, ada satu hal yg menarik buat gue, tentang investasi rumput laut yg menjanjikan cara cepat kaya dengan mekanisme high yield investment program alias imbal hasil tinggi.

Jujur, pas gue baca judulnya : Tawaran Kaya Kilat dari blablabla, gue ketawa, Being Rich? In A Minute? Ngimpi! Di otak gue dengan tingkat intelegensia yg cuma setingkat amuba ini berpikir kok ya masih ada aja bisnis tipu tipuan model begini lagian paling masyarakat juga udah pinter dan ngga akan kemakan ama hal hal beginian. Dan ternyata, oohh shit maaann, gue baca kata demi kata, halaman demi halaman, voila! masih ada yg ketipu juga lho, what the….

Di halaman awal gue baca, katanya perusahaan itu terdaftar di Republik Seychelles, menawarkan paket invetasi dengan imbal hasil 400% dalam waktu 6 bulan. It means, kalo lo punya duit 100 juta dan lo invest disana, dalam waktu enam bulan duit lo bakal berkembang jadi 400 juta. Gileee, sapa yg ngga ngiler? nabung atau deposito di mana lo bisa dapet hasil sedahsyat itu? Lo maen reksadana atau saham aja dalam 6 bulan juga ngga gini gini amat, even kemaren salah satu insurance swasta nawarin gue paket investasi senilai 5,4 juta/tahun dengan imbal balik senilai 700 juta tapi itu juga gue harus rutin nabung 5,4 juta/tahun selama sepuluh tahun.

Nah, si rumput laut ini berani ngasih jaminan bisa mengembangbiakkan uang lo hingga 4x lipat dalam enam bulan dan PASTI untung! Pihak rumput laut itu juga mengklaim udah mendapatkan izin untuk mengumpulkan dana masyarakat dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Karena penasaran, artikel inipun gue baca lanjut dan di akhir paragraf tertulis kalimat, “kini beberapa investor mengeluh belum mendapat pembayaran imbal hasil, teliti sebelum berinvestasi!”

Yup, telitilah sebelum berinvestasi..

Buat lo yg mau nyoba investasi atau sekedar jadi investor pasif, ada beberapa logika yg cukup mudah untuk menjaga lo agar ngga kena ‘jebakan batman’ investasi macem beginian.

Logika Pertama, coba cek apakah lokasi kantor mereka sesuai dengan alamat yg tertera. Cek apakah itu kantor mereka atau hanya sewa? Kalo perlu cek juga berapa lama mereka sewa tempat disana, lo pasti ga mau’kan ketika di bulan ini lo invest dan bulan depan kantornya udah tutup?

Kalo mereka menawarkan produk berupa barang, make sure jelas pabriknya dan distributornya dimana? Minta keterangan apakah pabrik dan distributor itu sah secara hukum atau tidak, tanya apakah pabrik itu benar benar milik mereka atau bukan? Adalah hak lo sebagai investor untuk mendapatkan keterangan sejelas jelasnya, logikanya lo yg punya uang dan mereka yg butuh uang lo, kedudukan lo lebih superior dibanding mereka. Bila pihak mereka tidak mau/mampu menjelaskan dengan rinci atau berbelit belit, tinggalkan, its fake!

Logika Kedua, mari kita analisa bersama. Invest 100 dan dalam waktu singkat, misal 6 bulan atau satu tahun, keuntungan lo sudah 4x lipat. Logika aja, dimana mana bisnis itu rata rata di tahun pertama baru BEP, break event point, alias baru balik modal, termasuk bisnis makanan/fashion yg terkenal dengan margin laba yg relatif besar sekalipun, apalagi ini rumput laut dimana untuk produksinya aja butuh waktu lama. Bahkan kayaknya gue belum pernah denger ada orang bisnis properti, beli tanah/rumah/apartemen seharga 1 milyar dan dalam 6 bulan laku dijual seharga 4 Milyar! Even, kalopun lo punya peternakan babi ngepet aja juga ngga gini gini amat, yg ada tuh babi ngajuin pensiun dini karena cape tiap malem mesti keluar mulu kejar setoran ๐Ÿ˜€

Logika ketiga, mari kita bermain logika terbalik, coba bayangkan lo di posisi mereka. Logika aja ya, kalo kondisi keuangan lo beres, sehat dan transparan, pasti ada banyak pihak lembaga keuangan, baik bank maupun non-bank yg bersedia untuk memberikan pinjaman, daripada harus susah payah dan mahal mahal untuk bikin iklan tipu tipu di beberapa surat kabar sekaligus dan belum tentu pasti bakal dapet investor karena mencari investor itu tidaklah mudah dan butuh waktu.

Logika keempat, bayangkan kembali lo di posisi mereka. Pikir deh, kalo lo, sendirian, katakanlah punya bisnis bersih, transparan, dpt dipertanggungjawabkan, mampu mengembangbiakan uang hingga 400% dalam waktu 6 bulan dan pasti selalu untung, knapa lo harus repot repot cari investor atau nasabah? Kenapa ngga langsung aja pinjem uang ke bank, dengan bunga 10% per bulan misalnya, daripada harus membagi keuntungan 400% kepada nasabah/investor pasif yg tidak lo kenal?
Rincian simpelnya seperti ini, pinjem dana 100 juta lalu lo puter duit itu dan 6 bulan simsalabim jadi 400 juta, bunga 10% per bulan brarti 10 juta atau total 60 juta selama enam bulan, and then lo bisa menikmati netto 340 juta di tangan lo, sendirian, tanpa perlu beriklan di media dan tanpa perlu ngemis ke calon investor.
Sekarang, kita balik posisinya, tempatin diri lo sbgai calon investor, pikirin deh, kalo mereka punya uang 100 juta, dan 1000% yakin bisa menghasilkan uang netto 340 juta/6 bulan, knapa mereka mesti repot repot dan begitu dermawannya hrs membagi kepada lo, si calon investor, sebesar 400 juta?

Logika kelima, ketika lo tergiur dgn untung besar dlm waktu singkat, coba diinget inget tentang biografi orang orang sukses deh, coba lo inget butuh waktu berapa lama agar mereka bisa menjadi seperti sekarang, seperti yg lo liat saat ini? Coba inget apakah kesuksesan CT, Ciputra, Merry Riana, alm. Oom Bob, Steve Jobs, Bill Gates, Mark Zuckerberg itu diperoleh dalam waktu singkat atau tidak? Biasanya, investasi odong odong yg beredar itu memiliki kesamaan, mereka selalu menawarkan imbal hasil tinggi dan dalam waktu yg singkat.

Memang ada banyak jalan menuju Roma, selalu dan selalu ada beragam cara untuk sukses dan kaya tapi inget, dalam perjalanan menuju kesuksesan selalu ada proses, dan prosesnya tidak ada yg instant, even indomie aja butuh waktu 3 menit untuk mateng, itu pun ada beberapa tahapannya such as, siapin panci, isi air, masak, nunggu airnya mendidih, masukin mienya, tunggu 3 menit sambil siapin piring, garpu, sendok dkk.

Bisnis itu mirip kayak siklus kehidupan, ada siang ada malam, ada badai ada pelangi, ada untung ada rugi. Ngga ada tuh bisnis yg pasti selalu untung terus terusan. Gue ngga nge-judge bahwa semua bisnis yg memiliki untung berlipat adalah bisnis yg ngga beres tapi buat kalian para calon investor, please, jangan terlalu mudah tergiur dengan untung besar dalam waktu relatif singkat. High risk high income, sesuatu yg menjanjikan keuntungan besar juga memiliki resiko yg besar.

Gunakan logika, bukan nafsu belaka,
teliti sebelum berinvestasi ๐Ÿ™‚

#salam odong odong