0

Hausaufgabe

Rasanya kayak gimana gitu ketika hampir tiap hari diingetin buat ngerjain PR dan ternyata PR gue nggak beres juga.

Parahnya, PR yg satu belum selesai eh, deadline PR berikut kelewat juga.

Gusti Allah memang mboten sare tapi guenya aja kebanyakan sare.

Tapi sekarang gue paham, kenapa ‘Hausaufgabe’ itu artikelnya pakai ‘die’, ya karena lama-lama memang bikin ‘die’ beneran.

Duh, jadi nggak enak sama pengajar kelas Jerman-nya, tapi memang belakangan ini gue lagi ribet banget. Ngurus bisnis orang tua, start up bisnis sendiri, novel gue, Mikayla,  yang sebentar lagi terbit, dan termasuk ngurus hati tentunya *plak!*

Semoga ke depan, bisa lebih terkontrol lagi semuanya termasuk urusan kelas Jerman ini.

Amin.

*curcol gegara dua kali deadline PR Jerman kelewat.

**nguik!!! 🐽

Advertisements
0

Mau banyak, banyak mau


Actually, ini hanya bentuk ketidakjelasan gue yg lagi punya banyak mau.

Mau lanjut sekolah bisnis. Mau belajar piano. Mau les bahasa jerman. Mau latihan biliar lagi. Mau ajak temen-temen bikin shelter masing-masing di rumahnya buat kucing/anjing yg homeless.

Tapiiii, ya gituuu, semua baru sekedar mau hehehe

A couple days ago, gue menyempatkan main ke 7languages. Tanya-tanya ttng les bahasa Jerman dan mau ambil kelas foundation alias kelas paling basic karena bahasa Jerman gue ya gitu deh… Tapi ternyata, waktunya nggak ada  yg pas sama jadwal gue.

Gue juga lagi menimbang-nimbang lanjut sekolah lagi dan pengin ambil bisnis entah di Sekolah Bisnis Manajemen ITB atau Fakultas Ekonomi Bisnis UI. Dan sekarang? Juga masih tahap pikir-pikir hehehe.  Jangan sampai gelar bertambah tapi manfaat buat diri sendiri dan orang lain nggak nambah. Buat apa kalo cuma sekedar gengsi karena gue nggak butuh gengsi.

Terus, gue juga lagi kepikiran buat les piano atau saksofon. Kenapa? Karena musik bisa menyeimbangkan otak gue yg memang kiri banget.

Tes psikologi metode stifin, gue adalah tipikal kepribadian thinking. Alias manusia yg logis, konkrit, dan dominan penggunaan otak kirinya. Some people says otak gue dua. Satu di kepala, satu lagi di  hati. Hati gue? Lagi cuti sambil makan gaji buta.

Tes MBTI? Hasilnya juga nggak berubah. Gue tipikal ESTJ, yg lagi-lagi ada huruf T dan J. Alias tipikal thinking dan judging.

Itulah kenapa gue butuh some arts buat menyeimbangkan otak. Itu juga alasan kenapa gue menulis novel. Biar otak kanan nggak kebanyakan bengong.

Gue juga pengin latihan biliar lagi, karena salah satu hobi gue jaman masih kuliah itu kalo nggak ngebut ya biliar. Keduanya saling mendukung. Ngebut membuat gue harus memutuskan segala sesuatu dengan cepat dan biliar melatih  untuk berpikir tiga langkah ke depan dgn lebih cermat dan hati-hati.

Shelter? Nah kalo yg ini udah jalan. Kucing gue cuma seekor tapi tiap malam minimal ada empat ekor kucing yg setia menunggu gue pulang ke rumah buat meminta jatah makan malam.

Selain empat ekor tadi, gue juga punya empat ekor kucing tambahan yg biasanya nemenin ketika lagi jalan ke warteg terdekat buat beli ikan cue/kembung/tuna/tongkol buat makanan mereka. Rasanya seru aja, jalan kaki malem-malem dan ditemenin sama beberapa kucing sekaligus. You must try hehehe.


Biasanya gue beli dua ekor ikan siap saji kemudian  dipotong jadi beberapa bagian sambil gue bersihkan sebagian durinya. Jadi pas dikasih ke kucing, durinya sudah tak terlalu menggangu.

Ide tentang shelter ini sebenarnya bukan ide baru karena beberapa kali pernah gue share dan seorang perempuan baik hati yg tinggal di Uranus sana, sudah menyediakan rumahnya sebagai shelter buat kucing-kucing homeless. Jangan bayangin kucing jalanan yg dia adopt itu jelek lho karena kucing jalanan piaraannya sekarang nggak kalah sama kucing ras. Beberapa kucingnya itu bahkan divaksin!

Harapan gue semoga makin banyak orang-orang baik hati di luar sana yg menyisihkan sebagian rejeki pada hewan-hewan malang tersebut.

Buat kalian yg baca tulisan ini, sesekali coba deh sisihkan potongan kepala ikan/ayam buat kucing/anjing yg kalian temui.

Gue tau bahwa nggak semua orang adalah pencinta hewan tapi imagine kalo langkah kecil inilah yg akan menjadi jalan mulus kalian menuju surga nanti.

Kucing/anjing yg kelaparan mungkin nggak akan bisa membalas kebaikan kalian secara langsung tapi mungkin mereka akan mendoakan kalian siang dan malam, melebihi siapapun.

Itu aja sih…