0

Terpaksa Update Ke iOS 10 (10.3.1)


Sumpah tulisan ini nggak di-endorse oleh pihak Apple atau manapun. Guepun menulis tentang ini gegara kepepet update.

Jadi gini, beberapa hari lalu akun gmail, yahoo, dan apple ID gue terindikasi dibajak orang. Yes, 3 akun sekaligus dibajak!

Bahkan apple ID gue dipakai oleh orang Nigeria buat beli 1 album lagu via itunes seharga $78.99. Walhasil, apple support pun segera menonaktifkan apple ID gue karena pihak apple tau, jangankan buat beli lagu, buat sekedar icip-icip sushi ichi di The Pullman, Jakarta seminggu sekali aja gue mumet.

Yahoo pun memberi notifikasi beberapa waktu lalu bahwa ada yang coba buka akun gue dari Algeria.

How bout Gmail? Gmail pun tak kalah seram. A couple days ago, gue dapet email yg isinya mengindikasikan bahwa ada orang mereset akun gue di detik.com.

Anjaaay, penting amat dia reset akun detik gue secara itu cuma portal berita online. Tapi emang sih belakangan gue rada bawel kirim komentar di detik.com, termasuk komentarin adminnya kalo ada salah ketik huahahahaha.

Plus, yg lagi hangat-hangatnya itu isu tentang ransomware dengan wannacry-nya bikin gue harus ekstra hati-hati.

Gue sempet curiga jangan-jangan pembuat wannacry itu tipikal jomblo ngenes yg kelamaan nggak dipukpuk. Situ wannacry? Sini gue pukpuk, tapi pakai kaleng kerupuk. Wadezig!

So, dua hari belakangan gue ribet ngurus laptop dengan setting SMBv1-nya sekaligus reset password gmail, yahoo, dan appleID gue.

Ya, walaupun pihak kominfo memberi tahu bahwa cara termudah untuk mencegah gangguan wannacry itu dengan memutuskan hubungan dengan internet tapi hal itu tidak gue lakukan. Why? Karena gue udah tau rasanya diputusin pas lagi sayang-sayangnya. Pantat kudalah kenapa juga gue curhat dimari.

Tapi yg bikin gue mesem-mesem itu adalah ketika gue update ios ke seri 10, terutama 10.3.1. Yeah, berbulan-bulan belakangan ini gue masih sangat nyaman bertengger di ios 9.3.5.

Buat gue, 9.3.5 itu adalah senyaman-nyamannya ios. Buka apapun lancar jaya dan baterainya amat sangat hemat. 9.3.5 juga udah ada aplikasi night shift-nya yg bikin mata adem kalo malem. Gue pun ogah buat naik versi. Bukan apa-apa, waktu ada update ios di edisi 9, gue pernah naik ke versi 9.2 dan itu bikin iphone gue boros kuadrat. 20% raib dalam waktu kurang dari sejam! Itu baterai bukan bocor lagi tapi tumpah, meeen…

So, ketika gue memutuskan untuk update naik versi rasanya seperti ketika gue mencoba membuka hati kembali. Deg-degan. Takut pasangan yg ada nggak senyaman dia yg telah tiada. Halah, shit apapula gue nulis begini.

Singkatnya, gue naik ke ios 10.3.1 dan ternyata… Jeeeeng… Jeeeeeeeeng! itu ios kereeeeeeeen, meeeen! Demi apapun lo mesti nyoba.

Berikut gue jabarin beberapa alasan kenapa lo yang masih berada di ios 9 harus segera update ke ios 10 terutama 10.3.1 ke atas. (Update ios 10.3.2 udah keluar tapi gue belum install hehe)

Pertama, lebih aman. Ya, semua orang juga tau kalo iOS adalah salah satu sistem operasi paling aman di dunia. Ketika seluruh pengguna windows panik sama wannacry, pengguna mac cukup tralala trilili senangnya rasa hati. Perlindungan dual layernya yg dikenal dengan nama two factor authentication-nya itu dahsyat, cuy!

Rada mangab dan garuk-garuk kepala gitu pas diawal diminta password 6 digit dan password apple ID padahal lagi nggak beli/download aplikasi.

Kedua, display. Cuy, tampilan ios seri 10 itu keren. Lock screen-nya itu komplit. Udah gitu, menu slider-nya jauh lebih lengkap dibanding ios seri 9.

Ketiga, bebas edit-atur-buang aplikasi apapun yg lo mau! Baru kali ini dalam sejarah ios, aplikasi standar bawaan bisa dihapus.

So, say goodbye to podcast, stocks, dan lain-lain yg nggak pernah kepake. FYI, kalo suatu hari kita butuh aplikasi bawaan padahal udah kita hapus, aplikasi tadi bisa kita download kembali dengan mudah di appstore. Cihuy gak?

Keempat, ruang hard disk lo bertambah secara signifikan. Saat di ios 9.3.5, hard disk gue tersisa 3,2gb. Dan sekarang, ruang yg tersisa meningkat menjadi 5,1gb. Hampir 2 kalinya, meeeeen! Jujur, menurut gue, ini yg paling penting buat iphone user 16gb, ya karena iphone didesain tanpa ada slot memory eksternal.

Kelima, opening app. Aplikasinya lancar jayaaaa. Buka apa-apa, smooth-nya mirip kayak orang belum nembak tapi pasangan udah nerima aja.

Keenam, baterai. Hasilnya? Ternyata sama iritnya dibanding 9.3.5. So, keraguan gue tentang baterai boros sirna begitu saja. Hanya saja waktu yang diperlukan untuk charging sedikit lebih lama.

Ketujuh, asisten kita, Siri, jadi jauuuuuhh lebih pintar dan lebih ngerti dengan logat bicara orang Indonesia. Analisis gue karena sekarang Siri mendukung bahasa Malaysia. Jadi, pemahaman logatnya mirip-mirip dengan kita.

Ke delapan, aplikasi Home. Ini sangat berguna buat lo yg punya gadget terbaru yg semua terhubung via wifi/bluetooth.

Jadi, kalo rumahlo termasuk rumah high end lo bisa atur apapun lewat iphone lo. Mulai dari suhu, kipas, listrik, lampu, kunci, alarm dan lainnya.

Maybe kalo pasangan lo ada bluetoothnya, lo bisa atur biar dia nggak bawel mulu cukup lewat hplo.

Apalagi ya? Nanti deh gue utak atik lagi. Tapi yg jelas ini update paling keren yg pernah Apple rilis.

Sekian dulu, terima kasih sudah mampir ke blog gue.

Thank you. Danke schön. Hatur nuhun.

149

iphone asli vs rekondisi

Sebenarnya sudah lama banget pengin nulis ini. Berawal dari gatel karena maraknya iklan Iphone 5 baru di situs jual beli online terkemuka. 

Pertama kali baca iklannya kaget, ‘Iphone 5 BARU’, tahun ini, 2016, memangnya masih ada?

Ternyata di salah satu pusat penjualan hp di Kuningan, Jakarta Selatan gue lebih terkejut, karena wow ada begitu banyak Iphone 5 dengan kondisi baru, masih dibungkus plastik wrap, bergaransi distributor tak resmi selama satu tahun, dan dijual dengan harga murah!

Sebelum menyimpulkan apakah barang tersebut asli atau bukan, simak dulu penjelasan gue.

Semua produk Apple adalah produk yang dirancang mewah, berkelas, dan canggih. Dimulai dari kemasan, earpod, kabel usb, charger, produk, hingga pelengkap seperti stiker logo apple dan manual book, semua didesain sangat ekslusif. Tujuannya satu, karena produk ini memang ditujukan untuk mereka yang menginginkan produk berkualitas dan cukup mapan secara ekonomi untuk membelinya.

Harga sebuah Iphone terbaru saat ini -6S- hampir seharga sebuah sepeda motor. Maka lo patut curiga apabila ada produk iphone terbaru namun dijual dengan harga yang sangat murah, biasanya satu hingga tiga juta rupiah di bawah harga resmi.

Namun, bukan cuma iphonenya saja yang mahal, aksesorisnya pun lumayan. Sebagai contoh, harga headset/earpod original-nya tidak kurang dari setengah juta rupiah (599 ribu rupiah), kabel usbnya  seharga 389 ribu rupiah dan adaptor/chargernya saja 369 ribu rupiah. Baterai? Penggantian baterai akan memakan biaya mulai dari 900 ribu rupiah.

Iphone juga selalu menjaga ekslusifitas barangnya. Ketika perangkat terbaru keluar (iphone 6s sudah keluar namun belum resmi masuk Indonesia) maka produk lama mereka, biasanya hingga dua generasi sebelumnya, akan dihentikan penjualannya.

Per Juni 2016 ini, iphone resmi edisi lawas/lama yang masih beredar HANYA iphone 5S  16gb, sedangkan ‘saudaranya yang warna-warni’ alias iphone 5C yg berbodi plastik juga telah discontinued alias dihentikan penjualannya. Iphone 5S yg kini masih resmi beredarpun hanya yg berkapasitas 16gb saja. (iphone 5S 32gb atau 64gb juga sudah discontinued)

Namun, cobalah main ke pusat perdagangan seperti ITC atau forum jual beli online, lo akan mudah menjumpai ‘iphone 5’, ‘iphone 5c’ dan ‘iphone 5s 32/64gb’ yg diklaim ‘baru’, tentu dengan garansi distributor tidak resmi.

FYI, saat ini, iphone paling up to date yang terakhir resmi masuk Indonesia adalah  iphone 6 dan 6 plus.

How about iphone 6s? Hingga detik ini (Juni 2016) belum resmi dijual karena terkendala aturan TKDN. Kalopun lo mau ngotot beli 6s, maka lo bisa membelinya lewat jalur tak resmi. Tentu do with your own risk ya karena iphone 6s yang lo beli bukan barang resmi maka ia tidak di-cover garansi resmi dan mungkin kelengkapannya seperti adaptor/chargernya sedikit berbeda. Kalo di Indonesia, charger aslinya pipih berkaki dua bulat, mungkin lo akan mendapat charger gemuk berkaki tiga. Beda negara, beda standar kelengkapan.

Lalu bagaimana dengan produk ‘iphone 5 BARU’ yang saat ini masih beredar luas? Iphone 5 baru yang saat ini beredar 99% bisa gue pastikan adalah barang  rekondisi. Artinya barang rusak bekas pakai yang dimasukkan ke Indonesia, diperbaiki oleh pihak tak bertanggungjawab dengan komponen seadanya, kemudian dikemas seperti baru lalu dijual. Bila masih penasaran, cobalah tanyakan stok iphone 5 di toko-toko resmi seperti iBox, eMax, infinite, erafone, megafon, global teleshop dan lainnya, bisa dipastikan jawabannya satu : habis alias telah discontinued.

Mungkin ada yang bertanya seberapa menyeramkan membeli iphone rekondisi? Yang jelas ruginya dua kali, pertama, lo mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membeli sebuah ‘barang bekas pakai dengan kondisi rekondisi’. Kedua, lo akan mendapat sebuah iphone yang kondisinya serba tak jelas dengan aksesoris yang pastinya abal-abal semua.

Semuanya akan tambah menyeramkan karena dengan kondisi adaptor/charger, kabel usb, LCD, dan baterai yang tak jelas maka kemungkinan umur iphone lo akan relatif sangat singkat.

Kalo sebuah iphone normalnya bisa digunakan bertahun-tahun, bahkan ada temen gue yang pakai iphone 4S dan hingga kini (2016) masih awet, maka iphone rekondisi bisa enam bulan tanpa keluhan aja sudah ajaib banget tuh hehehe 😀

Silahkan search google, maka lo akan menemukan ratusan pengalaman pahit mereka yang tertipu dalam membeli iphone rekondisi. Dari yang mulai boros baterai, layar kusam, kamera buram, sering hang, charger meledak, touch screen lemot hingga mati total hanya dalam hitungan satu hingga tiga bulan. Bahkan ada lho yg bolak-balik ke ‘service center tak resmi alias abal-abal’ karena iphonenya hanya bertahan selama 2 minggu walau tiap klaim selalu diganti ‘baru’.

Lalu, bagaimana membedakan iphone asli, replika, atau rekondisi? Butuh waktu dan ketelitian ekstra, namun bukan berarti sulit.

Pertama, iphone adalah smartphone yang didesain secara menyatu (unibody) dan semua kondisinya solid alias tidak dapat dibongkar pasang. Casing depan/belakang iphone dan baterainya tidak dapat dilepas layaknya hp android umumnya. Iphone juga tidak memiliki slot memory external dan hanya memiliki satu sim card berukuran nano (mulai dari generasi iphone 5 hingga detik ini, 6S).

Bila lo menemukan iphone yang memiliki dual sim card atau ada slot memory externalnya maka dapat dipastikan bahwa itu adalah iphone palsu alias replika.

Dua, cek dan samakan serial number dan IMEI yang tertera di body bagian belakang iphone dengan tulisan di bagian belakang dus, ini berlaku khusus pada iphone seri 5, 5c, 5s, SE, 6 dan 6 plus. Cek dan samakan juga keterangan di casing, dus, dan keterangan di hp pada menu setting-general-about. Kalo beda, please jangan dibeli, itu tandanya iphonenya rekondisi!

Lo juga bisa cek dan samakan  apakah serial number dan IMEI iphone tersebut terdaftar resmi di apple pusat dengan cara membuka situs selfsolve.apple.com nanti akan muncul gambar iphone lo, misal bila iphone yang lo beli adalah iphone 5c maka akan muncul gambar iphone 5c dengan keterangan bahwa iphone tersebut belum pernah di aktivasi. Garansi iphone berlaku satu tahun ketika iphone diaktifkan.

Apabila iphone yang lo beli adalah iphone 5s namun keterangan yang tertulis adalah iphone 5, jangan dibeli, its fake! Alias iphone 5 yang direkondisi sedemikian rupa agar menjadi iphone 5s.  Juga apabila dalam keterangan ada tulisan expired, maka iphone itu adalah iphone bekas pakai dan rekondisi.

Beberapa kasus bahkan ada yg jeroannya tak sesuai data. Contoh :  lo beli ‘iphone 5s 32gb’ tapi ketika di cek ke situs resmi tertulis ‘iphone 5s 64gb’. Artinya tadinya itu adalah iphone 5s 64gb yg mungkin rusak hard disknya lalu direkondisi menjadi iphone 5s 32gb.

Tiga, unboxing dus. Ketika lo membuka iphone maka segera cek perlengkapan standarnya yaitu : headset/earpods yang tergulung dan terbungkus rapi dalam kotak putih dengan logo apple dan tutup mika bening, adaptor/charger pipih berkaki dua bulat, dan kabel usb yang tergulung rapi.

Periksa juga kelengkapan SIM ejector-nya dan cek apakah ada 2 buah ‘stiker logo apple’ di dalamnya. Barang rekondisi biasanya tak dilengkapi ‘stiker logo apple’. Cek juga peletakan kartu garansinya. Kartu garansi resmi berwarna putih diletakkan di luar dus sedangkan garansi distributor abal-abal biasanya ditaruh di dalam dus.

Bagaimana iphonenya? Iphone pada kondisi baru adalah iphone yang dilapis stiker lapisan bening pada sisi depan dan belakangnya. Ingat, hanya dilapis bukan dibungkus seperti hp yang dimasukan ke dalam kantong plastik! Iphone juga tidak memberi screen protector pada paket resmi penjualannya. Bila kita menginginkan screen  protector maka kita dapat membelinya sendiri secara terpisah alias tak termasuk dalam dusnya/paket resmi penjualannya. 

Apabila ketika membuka dus iphone dan lo menemukan bahwa iphone itu dimasukkan ke dalam kantong plastik atau mendapat screen protector yg belum terpasang tersimpan dalam dusnya atau bahkan sudah terpasang pada iphonenya maka dipastikan itu adalah rekondisi.

Perhatikan juga bagian bawahnya (bagian baut dekat speaker), iphone yang asli TIDAK membutuhkan ‘stiker segel garansi’ yang ditempel menutupi bautnya. 

‘Stiker segel garansi’ dari distributor abal-abal biasanya berwarna putih berbentuk kotak atau bulat dan berukuran cukup kecil. ‘Stiker segel garansi’ dari distributor abal-abal bertuliskan ‘warranty void if seal is broken‘ atau gambar logo distributor abal-abal. Adaptor/charger, earpod, dan kabel usb resmi juga tidak ada stiker segel garansinya. Sekali lagi, hanya iPhone rekondisi yg ada ‘stiker segel garansinya’. Why? Karena stiker segel garansi yg ‘didesain memang mudah robek’ itu adalah teknologi jaman purba. Apple tidak butuh stiker segel karena garansi resminya sudah dijamin dan ditulis di website resminya.

Empat, iphone memiliki LCI, liquid contact indicator, yang bisa menjelaskan apakah iphone itu sudah pernah terkena cairan. Untuk iphone seri 5/5s/5c maka indicator LCI ada di dalam slot tempat memasukkan tray sim card.

Buka dan lepas tray sim card dari tempatnya dan silahkan intip apakah ada tanda bulatan merah di dalamnya (bagian langit-langit). Bila ada tanda bulatan merah, jangan dibeli karena sudah pasti iphone itu pernah terkena cairan dan tak akan di cover garansi apple resmi bila rusak, dan pastinya itu adalah iphone rekondisi. Why? Karena toko resmi apple pasti tidak akan menjual barang yang pernah tersiram/terkena air.

Lima, pastikan bahwa iphone yang lo beli adalah iphone FU (Factory Unlocked), artinya iphone lo bisa menggunakan sim card provider manapun. Cara mengetesnya adalah masukan sim card Indonesia apapun, apabila ia langsung terdeteksi, maka itu adalah iphone FU.

Enam, akan lebih baik ketika lo membeli iphone dan membawa laptop yang sudah terinstal itunes. Lo tinggal colok iphone dan bila bener iphone bukan replika, maka otomatis akan terdeteksi di sana. Perlu dicatat, iphone original hanya memiliki ‘Appstore’ dan bukan ‘playstore’.

Tujuh, cek semua kondisi iphone dengan seksama. Cek icloud, kamera depan-belakang, wifi, bluetooth, kejernihan suara, kondisi layar, earpods, charger, home button dan make sure tombol-tombol atau partnya tak ada yang kendur.

Coba tekan-tekan ke empat ujung layarnya dan pastikan rapat/tak bergerak. Beberapa layar iphone rekondisi tak menutup dengan sempurna sehingga membuat tampilannya sedikit menonjol di salah satu sisinya. Ini disebabkan oleh beberapa hal, yakni : pemasangan yg asal-asalan ketika direkondisi atau baterai yg mulai menggembung dan menandakan bahwa baterainya perlu diganti.

Oiya, iphone hanya memiliki satu bagian speaker di bawah kanan. Di bagian bawah memang tampak dua, namun sebenarnya yang satu adalah microphone.

Cek juga ketahanan baterainya. Iphone rekondisi biasanya memiliki masalah dibaterai yg boros. Caranya gampang, saat pertama kali menyala, tanpa di charge, coba pakai untuk foto cepat berkali-kali (burst mode). Apabila baterai langsung drop/turun drastis persentase baterainya atau bahkan langsung mati ya itu artinya iphone lo rekondisi.

Delapan, cek warna body iphonenya!

Iphone 5 resmi hanya memiliki dua warna, yaitu black/slate dan white/silver.

Iphone 5s resmi memiliki tiga warna resmi, yaitu : space grey, white/silver, dan gold.

Iphone 5c resmi memiliki lima warna, yaitu : pink, blue (biru muda), green (hijau muda), yellow, dan white.

Iphone 6 dan 6 plus resmi memiliki tiga warna, yaitu : space grey, silver, gold.

Artinya jika kalian menemukan iphone 5 berwarna gold itu berarti rekondisi karena tidak ada iphone 5 yang secara resmi berwarna gold. Termasuk bila kalian membeli iphone 5s berwarna rose gold (perpaduan pink dan emas) itu juga rekondisi. Why? Karena warna rose gold secara resmi hanya digunakan pada varian iphone SE, iphone 6S, dan 6S plus. Iphone SE, 6S, dan 6S plus sendiri belum resmi masuk Indonesia.

Sembilan, lihat kondisi saat awal menyala/startnya. Iphone berwarna hitam yang lo beli, ketika pertama kali dinyalakan/ di restart, akan menyala dengan layar background hitam dan logo apple putih. Sebaliknya, iphone putih akan menyala dengan layar background putih dan logo apple hitam. Bila kondisi ini terbalik, sudah pasti barang yang lo beli rekondisi.

Sepuluh, gue pribadi sangat menyarankan lo membeli iphone baru dari toko resmi seperti : ibox, erafone, atau emax karena terjamin keasliannya. Namun, gue juga sadar bahwa toko resmi itu hanya tersedia di kota-kota tertentu.

Bagaimana dengan iphone yg katanya baru namun bergaransi distributor tak resmi berinisial P, BC, atau TO? Jawaban gue, mayoritas pengguna iphone yg sering bermasalah berasal dari distributor tak resmi. 

So, please check and re-check ketika lo ingin membeli iphone baru tapi bukan dari toko resmi.
Sekian tips membedakan iphone asli vs rekondisi dari saya…

Good luck, guys!

0

Si kecil cabe rawit


Guten abend, wie gehts?

Masih bersama gue di sini yg kok ya begonya nggak abis-abis. Jadi, harusnya gue sudah share aneka tulisan di blog ini dari kemarin-kemarin, sekedar untuk membiasakan habit menulis, tapi karena gue dengan ‘jeniusnya’ mencuci hp dalam keadaan hidup maka dalam beberapa hari kemarin gue mati gaya.

Gini, gue memang sebelumnya pernah mencuci iphone gue, beberapa kali tapi dalam keadaan dimatikan dan setelah itu semuanya normal. Nah kemarin, karena terkena sesuatu, gue mencuci iphone tapi lupa dimatiin. Hasilnya bisa ditebak, speaker phone-nya batuk-batuk dan layarnya kemasukan air tapi hebatnya ini hp masih nyala dan berfungsi normal! Cuma memang saat itu kalo kelamaan pakai bisa bikin lo tiba-tiba mendadak katarak karena layarnya rada gelap di beberapa bagian.

Gue sempat cek di gugel kalo garansi resmi itu tidak mencakup akibat dari perilaku tolol penggunanya, such as, eheeem mencuci iphone pakai sabun sunlight cuci piring + air keran + dalam keadaan hidup hehehe

Namun, selalu ada hal positif bahkan dalam musibah apapun. Bagusnya gue jadi tahu kalo iphone itu canggih. Dia ternyata punya LCI, liquid contact indicator, jadi kalo iphone lo pernah kemasukan air ya pasti ketahuan.

Untuk iphone seri 5/5s/5c, LCI-nya ada di bagian nano sim card. Kalo lo mau tau, keluarin sim card, dan coba lo intip pakai kaca pembesar atau senter, apakah di sana ada lambang bulatan merah. Kalo lo menemukan lambang bulatan merah kecil di langit-langit tempat sim card it means selamat! karena iphone lo sudah tidak di cover garansi resmi alias sudah terdeteksi pernah kemasukan air huahahaha. *evil grin*

Singkat cerita, sejak kemasukan air,  layarnya jadi rada gelap gitu trus ada noda bercak-bercak di dalamnya. Pas gue pakai main COC, kondisi layarnya separuh terang separuh gelap. Gue sempat mengira kalo Golem gue ‘naik level mendadak’ karena badannya jadi lebih gelap. Gue juga sempat berpikir kalo lampu LED layarnya ada yg mati tapi ternyata  gue salah. Iphone memang kuat. Sejak kena air sampai sekarang, ini iphone nggak pernah gue matiin, cuma gue lap aja dan tetap gue charge seperti biasa.

And you know what, just in a couple days, -tepatnya dua hari- layarnya mulai kembali normal sodara-sodara! Sekali lagi, nggak gue apa-apain. Gue nggak kipasin, nggak gue hair dryer, dan nggak gue utak-atik apapun. Berasa kayak self healing! Bercak-bercak kayak jamur dan garis-garis di layar hingga detik ini almost hilang semuanya dan layar gue hampir 95% kembali normal kembali. Rasanya tuh kayak terlahir kembali setelah sebelumnya dosa-dosa kebodohan lo dihapuskan, nyeeeeeesss banget.

Padahal sebelumnya gue sudah tak berharap layarnya bakal kembali kinclong seperti semula dan kepikiran buat beli iphone 6 baru kalo ini hp tiba-tiba tewas..

Finally, karena si kecil cabe rawit ini sudah mulai pulih mungkin ke depan gue akan mulai posting tulisan lagi. 😀

  • ps : dont try this at home, pokoknya  jangan atau kalo tetep mau nekat ya silahkan do with your own risk..

**sent from iphone with ios 9.2.1

0

Bukan hanya tentang harga apalagi jadi phobia.. #upgrade.you

Jujur, nggak tahu mau menulis apa, saya hanya membiasakan agar kebiasaan menulis tidak hilang. Jujur, antara judul dan isinya mungkin juga nggak nyambung, bahkan hancur berantakan karena saya juga tidak menggunakan kaidah atau dasar-dasar kepenulisan. Jadi, ya anggep aja saya lagi sok tau, sok iye, dan sok bener untuk menulis tentang dunia bisnis.

Lanjut,

Saya percaya bahwa dalam bisnis ada empat komponen penting yaitu : produk, harga, pelayanan, dan pemasaran. Masing-masing komponen memiliki karakter tersendiri namun semuanya saling melengkapi.

Apa yang mau kamu jual bila tidak ada produknya, entah berupa barang/jasa?

Bagaimana dapat berbisnis bila tidak mau melayani konsumen, baik langsung maupun tidak langsung?

Bagaimana menentukan konsumen bila tidak jelas harganya?

Bagaimana bisa menjual bila tidak melakukan pemasaran?

Se-fleksibel apapun, sebuah barang/jasa akan tetap memiliki harga, bila harganya “tidak ada atau tidak ternilai” maka sudah pasti itu bukan ‘barang dagangan’, mungkin namanya pemberian. Kalaupun dalam barang tersebut ada tagline tidak ternilai namun ada harganya, itu hanya gimmick belaka.

Secanggih apapun ilmu marketing yg kamu miliki, tidak akan bisa menghasilkan uang kalau kamu tidak punya produk yg akan dijual apalagi juga tidak mau turun tangan melayani. Dan bagaimana bisa fokus menentukan strategi pemasaran kalau konsumen yg ingin dituju tidak jelas karena harganya juga tidak jelas?

Lanjut,

Pertama, Produk. Apa yg ingin kamu buat dan jual? Apakah produk yang tergolong pioneer di mana tidak ada pesaingnya atau sebuah produk hasil mengamati, meniru dan memodifikasi dari produk yang sudah ada sebelumnya? Apapun produk kamu buatlah produk itu sekreatif mungkin, kegunaan yang paling bermanfaat, dan cara pakai sesederhana mungkin lalu fokuslah di sana.

Pelajari keinginan konsumen, bisa dengan membuat penelitian kecil (sebar quesioner) untuk mendapat informasi tentang kelompok sasaran yg dituju. Buat produk yang unik, usefull, sekaligus rumit pembuatannya agar tak mudah dicontek orang, namun begitu mudah digunakan konsumen. Kalaupun kamu tidak bisa membuat produk yang rumit, maka buatlah keunikan dalam produkmu.

Maicih hanyalah sebuah keripik pedas tapi keripik pedas yg memiliki tingkat kepedasan? Konsumen akan langsung mengingat Maicih. Mungkin juga kalian masih ingat ketika lebih dari satu dekade lalu, Nokia begitu merajai pasar. Mengapa? Karena Nokia fokus dan bisa menciptakan produk yang mudah dimengerti dan digunakan.

Bahkan tanpa membaca manual book-nya pun, hampir semua orang bisa menggunakan Nokia. Silahkan bandingkan betapa mudah dan simple-nya menu yang ada dalam hp Nokia dibanding produk lain. Ditambah, cover yg bisa diganti sesuai keinginan hati mendapat respon positif dari konsumen, pada saat itu. Nokia sukses membaca dan mengerti pasar. Sebuah produk yg unik, berguna sekaligus user friendly-lah yang dicari pasar.

Kedua, Pelayanan. Tentu yang dimaksud di sini bukan hanya tentang bagaimana penjual melayani konsumennya di awal membeli produk namun pelayanan yg tetap diberikan setelah konsumen membeli dan menggunakan produknya (after sales). Senyum ramah khas penjual ala koko dan cici Glodok memang terlihat lebih ramah dan sabar melayani pembeli, dan di sini saya melihat hal itu sebagai satu keunggulan khas ala kaum Tionghoa sebagai kaum yang hebat dalam berdagang.

Namun, kembali pada pelayanan untuk kepuasan konsumen, rasanya percuma bila hanya ramah di awal namun sangat sulit ketika konsumen minta klaim pertanggungjawaban (garansi). Percuma bila hanya menjual produk murah namun tidak jelas service center dan ketersediaan part pendukungnya.

Sebuah pabrikan hp asal Jepang kini mati kutu menghadapi negative campaign karena pelayanan aftersales-nya buruk, oh, maksud saya, amat sangat buruk. Pabrikan hp asal Jepang itu bahkan tak berdaya melawan kehebatan pelayanan aftersales duo produk Korea, Samsung dan LG.

Anda pernah ke service center Samsung atau LG? Pengalaman saya, ketika datang, ambil antrian, dan sampai di meja Customer Service, produk anda langsung didiagnosa dan dibongkar di depan mata. Apabila beres, maka hari itu juga bisa langsung anda bawa pulang. Kalaupun saat itu hp anda harus menginap, paling tidak anda sudah mengetahui bahwa produk anda on progress pengerjaannya dan jelas kapan selesainya.

Bagaimana dengan pabrikan Jepang yang kini perlahan mati kutu? Lupakan saja..Kalau anda mau sedikit kepo, silahkan baca keluhan konsumen yg hpnya harus menginap berminggu-minggu hingga bulanan tanpa adanya kejelasan. Banyak kok kisah duka mereka kalau mau searching di Google 😀

Contoh lain,

Mengapa Toyota sukses merajai pasar di Indonesia? Selain produknya cukup berkualitas, pelayanan mereka di awal dan sesudahnya baik. Pelayanan mereka memiliki standar yang seragam melalui jaringan sales and services ala Auto2000, bengkel resmi mereka mudah ditemui, dan ketersediaan spare part tidak akan membuat konsumen lumutan menunggu berbulan-bulan hanya untuk sebuah kaca spion.

Toyota sukses membuat produk yang berkualitas, simple, dengan pelayanan yang memuaskan. Ini membuat harga jual kembali produknya cenderung lebih stabil dibanding kompetitor sehingga apabila konsumen memiliki pertanyaan : Produk (mobil) apa yang berkualitas, spare part-nya mudah, bengkelnya banyak, dan harga jual kembalinya tidak terlalu jatuh? Maka hampir semua orang akan sepakat menjawab produk Toyota.

Toyota sadar bahwa dengan produk dan pelayanan yang berkualitas, maka akan meningkatkan angka penjualan dan dengan angka penjualan yang baik, akan mudah bagi perusahaan untuk menggelontorkan uang -untuk recall, misalnya- guna memberikan dan memastikan konsumen mendapat pelayanan kelas satu. Yup, penjualan dan pelayanan, keduanya saling mendukung.

Ketiga, Harga. Harga memang penting tapi bukan yang terpenting. Harga layaknya modal yang memang dibutuhkan untuk memulai berbisnis. Modal memang penting tapi tanpa modal anda tetap bisa menjadi broker, bukan?

Kembali ke harga, It depends on your target market. Kelompok sasaran mana yang anda tuju? Persaingan dengan HANYA mengutamakan komponen harga akan membuat anda masuk dalam ‘bisnis berdarah’. Saya sebut bisnis berdarah karena bila anda hanya mengutamakan komponen harga, bersiaplah untuk berdarah-darah. Siapa yang bersedia memangkas laba, dia yang menang. Misal : Si A menurunkan laba 30%, anda menurunkan laba 50%. Si B memotong laba 70%, anda potong laba hingga 90%, terus dan terus begitu, dan sang pemenang adalah yang paling berdarah mengorbankan labanya.

Untuk jangka pendek, memang bagus untuk mengambil perhatian konsumen, biasanya dikenal dengan nama promo, namun untuk jangka panjang jelas akan mengancam kesehatan keuangan bisnis anda.

Sepuluh tahun yang lalu, harga hp Samsung mungkin 30% atau bahkan setengah dari harga produk Nokia. Namun, kini harga produk dengan sistem operasi Android, maka Samsunglah yang bisa dikatakan termahal.

Begitu pula dengan pabrikan Cina, Lenovo. Beberapa tahun yang lalu, Lenovo begitu jor-joran mengeluarkan banyak produk dengan harga murah, bahkan harganya bisa bersaing dengan produk rakitan lokal. Kini, perlahan Lenovo mulai ‘menaikkan harga dirinya’. Jelas, bahwa harga bukan satu-satunya komponen yang akan ‘digunakan dan diutamakan’ secara terus menerus dalam persaingan.

Apple melalui produk iPhone adalah contoh sukses bahwa harga bukanlah segalanya. Lihatlah statistik penjualan produk iPhone. Hanya mengandalkan penjualan tidak lebih dari dua jenis hp per tahun (dulu 6 dan 6+, kini 6S dan 6S+), mereka berhasil menjadi salah satu perusahaan termahal dan terbesar di dunia. Harganya? Silahkan cek sendiri betapa harga sebuah hp bisa setara dengan sebuah motor. Bila anda tanyakan ke orang, satu kata yang cukup sering muncul ketika ditanyakan tentang iPhone (produk resmi) adalah mahal. Tapi kok laku?

iPhone mirip dengan Nokia, bedanya ia memiliki strategi marketing dan branding yang jauh lebih hebat dan matang. Mereka fokus menetapkan kelompok sasarannya dan berhasil mem-branding produknya untuk kelas menengah atas yang loyal, namun di sisi lain juga sukses membuat produknya menjadi sangat diinginkan oleh hampir semua orang. Sudah begitu banyak berita di luar sana bahwa ada orang yang rela melakukan apapun termasuk menjual ginjal hanya untuk sebuah iPhone.

Apple sukses membuat hp yang nyaman, berkualitas, dengan pelayanan after sales (garansi resmi) yang baik. Bila anda berada di Singapura -negara yang ditunjuk Apple sebagai salah satu negara resmi penjual produk iPhone- lalu membeli produk iPhone, dan kemudian rusak (cacat hardware), tidak perlu khawatir, karena ketika dibawa ke service centernya, maka iPhone anda akan diganti baru saat itu juga. Harganya memang mahal namun after salesnya (di luar negeri) memuaskan.

Keempat, Pemasaran. Secanggih apapun produkmu, semurah apapun harganya dan sebaik apapun pelayanan yg kamu berikan, it means nothing kalau tidak ada orang yg mengenal dan membeli produkmu. Hari ini, dengan bantuan teknologi, pasar bisa diciptakan tanpa harus saling tatap muka.

Beberapa bulan yg lalu, saya mengikuti kelas menulis dan jujur, saya mengacungi jempol untuk sistem pemasarannya yg seperti tidak mengenal lelah, bahkan setelah kelas menulisnya telah selesai. Pagi, siang, sore dan malam, hp saya penuh oleh iklan hingga akhirnya mereka saya mute😀

Tapi sesama wirausaha, sayapun bisa memahami mereka karena bagi kami tanpa jualan, tanpa pemasaran, berarti kami ‘tidak gajian’ dan tanpa gajian berarti kami harus puasa sebulan. Kalaupun saya di posisi mereka, tentu saya akan melakukan hal yg serupa walau mungkin ya nggak segila mereka. But yes, itulah marketing! Produk, harga, dan pelayanan ala surga tak akan berarti bila tak ada yg beli.

Kembali ke topik awal, yang ingin saya tekankan, harga bukanlah satu-satunya hal yg akan membuat konsumen membeli produk anda. Mungkin dengan harga murah, produk anda akan laris manis di awal penjualan namun tanpa kualitas dan pelayanan yang baik, produk dan bisnis anda akan tinggal kenangan.

Perlu juga diingat, TANPA kualitas produk dan pelayanan yang baik, maka akan sulit untuk menciptakan loyalitas pelanggan, karena orang yang memiliki loyalitas biasanya sudah tidak terlalu terpengaruh dengan harga, mereka butuh produk yg baik dan atau pelayanan yg hebat. Ingatlah, bahwa orang akan selalu teringat Aqua untuk air minum, Sanyo untuk pompa air, Samsung untuk produk android, Pepsodent untuk pasta gigi, dan Teh Botol untuk teh dalam kemasan. Inilah yang dinamakan kekuatan branding dan loyalitas pelanggan. Apakah harga produk di atas lebih murah bila dibanding produk sejenis? Untuk spek atau ukuran yg sama, saya yakin tidak.

Next,

Bila sudah memadukan empat hal tersebut, jangan berbesar hati bila bisnis anda sudah mulai beranjak. Ingat, di atas langit masih ada langit, dan di atas langit paling ataspun, masih ada Tuhan di sana. Jadikan konsumenmu sebagai mitra sekaligus teman dan sahabat, bukan sekedar sapi perah alias objek bisnis belaka yg kamu tinggalkan ketika ikatan bisnismu telah usai.

Ingat, sepuluh pemasaran yg kamu lakukan mungkin hanya akan menghasilkan satu konsumen baru, tetapi satu kekecewaan konsumen berarti kamu telah kehilangan sepuluh calon konsumen potensial.

Tetap dengarkan konsumen sebagai bentuk pelayanan dan kepedulian, karena Nokia sudah merasakan pahitnya. Ketika mereka sudah menjadi besar dan nomor satu, harga produk Nokia makin tidak bersahabat, padahal konsumen semakin cerdas dan kompetitor semakin banyak.

Pahitnya lagi, mereka tidak membuka diri terhadap masukan konsumen. Ketika Android ditemukan dan penggunaannya jauh lebih canggih sekaligus lebih mudah, mereka tetap ngotot dengan Symbian kebanggaannya. Hasilnya? Mereka berubah. Ya, berubah dari something menjadi nothing alias tinggal kenangan.

Contoh lain? Masih ingat dengan pabrikan mobil dan motor Cina yang dulu ramai masuk ke Indonesia? Harganya memang murah sayang kualitasnya tak jelas dan ketersediaan partsnya tidak terjamin. Atau, masih ingatkah ketika kasus bus TransJakarta karatan buatan Cina yang kini menyeret sejumlah pejabat? Ini tentu akan membuat konsumen berpikir ulang untuk membeli mobil/motor buatan Cina.

Namun, ada pepatah yang mengatakanbelajarlah hingga ke negeri Cina”. Cina belajar dari kesalahan dan kini bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Hampir semua produk bertuliskan made in China. Cina hari ini telah  bermetamorfosa dari “negara yang membuat produk murah” menjadi “produk berkualitas dengan harga kompetitif”.

Cina berhasil membuat produk yang menggabungkan empat hal di atas, produk yang (mulai) berkualitas, harga yang lebih murah, pelayanan ramah ala negeri tirai bambu, dan pemasaran yg masif.

Lalu, kalau Cina bisa berubah, mengapa kita tidak? Mengapa kita harus takut atau phobia terhadap Cina? Bukankah seharusnya kita belajar dari mereka?

Lihatlah bagaimana mereka melakukan proses ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi, dan kini hampir semua produk berteknologi bisa mereka buat. Lihatlah bagaimana mereka mengambil pelajaran ketika senyum ramah dan produk murah saja tidak akan menjamin kesuksesan dalam berbisnis, maka mereka berevolusi membuat produk yang berkualitas, tetap murah, dengan pelayanan yang lebih baik. Pemasarannya? Lihatlah ketika Xiaomi dan Lenovo sukses menjual ribuan produk hanya dalam hitungan menit ala flash sale.

Mungkin beberapa tahun ke depan, India, sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia akan menyusul kesuksesan Cina. Lalu, apakah kita juga harus takut/phobia terhadap India? Masih ingat rasanya ketika dulu kita phobia terhadap Amerika. Gaung untuk memboikot produknya gencar dimana-mana seakan kita lupa bahwa makanan dan susu bayipun kita bergantung pada mereka dan sekutunya. Seharusnya kalau ingin menunjukkan harga diri, kita konsekuen. Ketika, kita menyatakan  kebencian sekaligus phobia terhadap Amerika dan Cina, maka kita konsekuensi dengan tidak menggunakan produk mereka satupun. Pertanyaannya, mampukah kita?

Sekarang kita phobia Cina, mungkin nanti kita akan phobia terhadap India, dan bila tak berbenah mungkin nanti terhadap semua negara kita akan menjadi phobia. Lalu, bagaimana bisa menjadi Macan Asia? Hey, Macan Asia itu tagline yg tidak main-main lho, it means kemampuan dan kekuatan kita bila sudah menyandang predikat itu ada di atas Jepang, Cina, dan India, dan jauh di atas Malaysia dan Singapura.

Apakah bisa? BISA!

Bukan sikap pesimis, takut, lalu menutup diri yang harus di lakukan tapi upgrade diri, produk, cara berbisnis dan wawasanmu agar bisa bersaing.

Selamat datang di era globalisasi, sebuah era keterbukaan di mana penjual ayam goreng di Malaysia akan bisa dengan mudahnya menjajakan barangnya bersaing dengan ayam goreng Sabana ala Indonesia, baik suka atau tidak suka.

Jangan lemah dan cengeng, mereka yang tidak siap dan takut bersaing itu seharusnya sering main ke pasar, mall atau pusat perdagangan. Lihatlah betapa rejeki itu selalu ada untuk mereka yang optimis dan selalu berusaha. Lihatlah dalam satu gedung di ITC, ada ratusan bahkan ribuan pedagang dan terang-terangan saling bersaing namun tetap rukun bersama, karena mereka percaya sepanjang mereka berusaha, Tuhan akan memberikan rejeki-Nya.

Oh, satu lagi,

Belakangan ini ramai di media sosial yang memberitakan ‘sengitnya persaingan’ antara tukang ojek pangkalan (tradisional) dengan ojek online. Kubaca singkat komentar mereka di media sosial. Banyak diantara kita yang menyayangkan terjadinya perilaku baku hantam dan pelarangan sepihak dari ojek pangkalan terhadap ojek online.

Ada yg melihat secara global lalu berkata : Ini era modern, yg berkualitas dan bisa memberi pelayanan yg lebih baik-lah yg akan dipilih.. Ada juga yg melihat dari sisi kepraktisan dan pelayanan : Ojek pangkalan ribet karena mesti menghampiri ke pangkalannya, ojek online tinggal pencet hp, tak lama nongol di depan pintu… Ojek pangkalan nggak ramah dan suka seenaknya kasih tarif, ojek online ada standarisasi sikap dan harga…

Tidak sedikit yang mencaci tukang ojek pangkalan dengan kalimat : bukankah rejeki itu Tuhan yg mengatur? atau pernyataan sindiran dengan kalimat : takut amat rejekinya diambil, binatang aja dijamin kok rejekinya oleh Tuhan, masa manusia yg berakal kalah ama binatang? Makanya service-nya dibagusin dong..

Kalau boleh aku analogikan, bukankah itu mirip dengan kondisi kita yang phobia terhadap Cina? Mungkin saja tukang ojek pangkalan itu adalah kita (si tradisional yg kalah modal juga kalah mental, takut terhadap perubahan, namun tidak pernah mau belajar) dan ojek online itu adalah negeri Cina atau negara lain yg kuat secara modal, mau belajar, dan cerdas memanfaatkan peluang, dan dunia internasional sebagai pihak yang menjudge, menyayangkan sikap kita yg serba phobia.

Mungkin kelihatannya tidak adil tapi inilah hidup..

Bukan yg terkuat yg bertahan, bukan juga yg terpintar, tapi mereka yg bisa menyesuaikan keadaan dan melihat peluang. 

Upgrade you, upgrade Indonesia

Indonesia, BISA!