0

Pelajaran bernama patah hati

Hey, kamu…

Aku tahu, patah hati itu melelahkan. Pun juga aku tahu, patah hati tak diinginkan. Namun, aku yakin bahwa mereka yg patah hati tak hanya ingin diam lalu mati. 

Mereka selalu mencoba dan mencoba, untuk sembuh dan kembali bahagia. Beberapa berhasil sembuh. Bangkit tertatih-tatih dengan sisa-sisa lukanya. Beberapa butuh waktu lebih lama untuk mengobatinya. Sayangnya, tak sedikit juga yg menyerah. Tenggelam dalam rasa sakit yg kian lama kian menjepit.

Namun, tahukah kau? 

Patah hati itu seperti kanker. Kamu tak cukup hanya mengobatinya, namun harus dioperasi lalu diangkat kankernya. 

Mungkin setelahnya kamu akan merasa sakit dan tak nyaman dalam proses penyembuhan. Namun itu lebih baik daripada mendiamkan, membuatnya menyebar ke seluruh badan lalu mati perlahan-lahan.

Mungkin dalam hatimu, kamu akan berkata : kalau cuma ngomong semua orang juga bisa!

Benar, kamu nggak salah. Akupun pernah patah hati. Berkali-kali. Bahkan dulu aku beranggapan patah hati adalah cobaan atau bahkan siksaan terbesar dalam hidup.

Namun, akhirnya aku sadar, kalau kita tak merasakan patah hati mungkin kita tak akan pernah belajar. 

Belajar buat kuat, bahwa patah hati hanyalah satu dari sekian cobaan  dalam hidupmu. Dan yg harus diselesaikan itu masalahnya, bukan hidup kita. Jangan sampai karena patah hati lalu berpikir untuk mengakhiri hidup. Bukankah kerasnya tempaan yg membuat berlian indah dan mahal?

Belajar untuk sabar. Patah hati itu mirip seperti panas dalam yg datang bersama sariawan dan radang tenggorokan. Ketika dia datang memang menyebalkan tapi ingatlah bahwa itu tak selamanya. 

Patah hati juga mirip badai di malam hari, maka sabarlah untuk menanti damainya pagi. Karena bila kesulitan adalah hujan dan badai serta  kemudahan adalah matahari, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Belajar buat bersyukur. Kita tak akan paham nikmatnya sehat bila tak merasa sakit. Kita tak tahu indahnya bahagia bila tak mengerti apa itu kecewa. Dan, kita tak akan menyadari keberadaan Tuhan bila tak diberi cobaan.

Belajar buat ikhlas. Mungkin kita  berpikir bahwa dialah yg terbaik buat kita. Padahal yg kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan. 

Tak ada yg menyuruhmu untuk buru-buru karena semua butuh waktu. 

Kembali bergerak memang tak mudah. Bahkan ketika kamu sadar untuk segera beranjak membenahi hati yg luluh lantak. 

Awalnya mungkin kamu akan takut. Takut tak bisa melanjutkan hidup tanpanya, takut bila dia menganggapmu tak lagi ada, takut akan kenyataan bahwa sekarang kamu bukan siapa-siapanya, takut lukamu tak kunjung sembuh tanpanya, takut tak bisa menemukan pengganti yg kamu bisa nyaman seperti ketika bersamanya, dan sejuta ketakutan lainnya. 

Tapi percayalah, bahwa apa yg terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Bila kamu sudah bisa ikhlas melepas dan berdamai dengan diri, maka suatu hari kamu akan cerita tentang lukamu saat ini, tentang kisah dibelakangnya, dengan biasa saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Seperti kamu terbiasa menghirup udara. 

Lalu,

kamu akan tersenyum bahagia karena saat itu mungkin kamu telah menemukan penggantinya.

…ingatlah Tuhan disaat lapang, maka Dia senantiasa hadir saat kamu butuh pertolongan…


Postscript :

Apakah kamu merindukannya, dia yg baru saja hilang dari hidupmu? Lalu bagaimana dengan Tuhan, yg bertahun-tahun dilupakan dan baru kembali ketika kamu butuh bantuan? Kabar baiknya adalah kamu tetap bisa kembalilah pada-Nya, karena Tuhan selalu ada bahkan disaat semua orang menghilang.

Advertisements
0

Move on, its about mindset.

“Gimana ya, Ndre cara buat melupakan mantan? Gue tau gue harus move on tapi ntahlah, coba kasih gue satu alasan kenapa gue harus melepasnya…”

Tinggal beberapa hari lagi akan memasuki 2017 dan kata-kata itu meluncur lemah dari mulut seorang teman, ketika terakhir kali kami bertemu dibilangan  Tebet, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia bukanlah teman dekat namun karena dia pernah membaca tulisan yg gue share di buku karya sahabat gue dengan nama pena profesor cinta yg berjudul ‘Pacaran Mulu, Kapan Putusnya’, maka seketika itulah dia menghubungi untuk bertanya, bagaimana cara efektif untuk move on. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Pagi, siang, dan malam, dia sering menghubungi untuk mencurahkan betapa hancurnya perasaannya saat itu.

Guepun hanya duduk manis dan sabar mendengarkan. Why? Karena gue pernah ada di posisinya. Actually, hampir semua orang tau apa yg seharusnya dilakukan setelah patah hati, yakni benahi hati dan pikiran lalu segera move on.

Namun, move on adalah sebuah kata yg mudah dilakukan bila otak dan hati sedang benar.

“…Kita putus ya… ”

Pertama kali mantan gue bilang ‘kita putus’ itu rasanya kayak lagi dibius lokal. Gue paham maksudnya tapi hati ini bingung memahaminya.

Hingga keesokan paginya gue bangun dan baru sadar bahwa dia bukan milik gue lagi. Nggak ada lagi telepon, mention, atau chat yg biasanya menyapa di pagi hari.

Nggak ada lagi perhatian berupa pertanyaan : kamu sudah makan? Atau kalimat-kalimat singkat sarat makna kayak : hati-hati di jalan, ya sayang. 

Dan malamnya, tak ada lagi obrolan ringan, ucapan sayang atau rindu, walau saat itu rindu adalah satu-satunya hal yg membuat gue diam membatu.

Putus cinta membuat dunia seakan hening. Tampak ramai di luar sana tapi begitu sepi di hati.

Beberapa hari setelah putus, rasanya semua serba membingungkan. Mau bilang rindu tapi dia sudah hilang, tapi kalo nggak bilang, pikiran gue melayang-layang.

Hati berkata, ambil hplo dan bilang bahwa lo butuh dia. Namun, otak mencegah dengan kalimat : Nyet, lo itu bukan siapa-siapanya lagi! Dan hp-pun kembali teronggok di sudut meja.

Putus juga membuat badan terasa asing. Fisiknya sehat tapi jiwanya lunglai. Semua syaraf seakan gagal bekerja.

Malas makan karena sama sekali tak terasa lapar. Malas bergerak karena memang seakan dunia begitu lambat bergerak.

Parahnya, responpun ikut melambat. Butuh beberapa waktu hanya untuk menjawab pertanyaan, Ndre, are you okay?

Yes, perasaan nelangsa gitu pernah gue alami. Tapi gue di sini bukan untuk menambah menye-menye atau bikin kalian yg baru putus jadi tambah menderita. Gue akan coba share, langkah awal apa untuk move on dan alasan kenapa lo harus move on.

Mungkin sebagian akan setuju dengan pemikiran gue, sebagian akan menolak, dan sebagian akan berpikir ulang. Its fine, karena semua orang punya pengalaman dan solusi yg berbeda.

Oke, here goes…

Move on harus diawali dengan  membenahi pikiran karena salah satu hal yg bikin semua jadi ribet disebabkan oleh mindset/pola pikir yg salah.

Pola pikir lo selalu berkata bahwa lo cinta, rindu, dan inginkan dia karena cuma dia yg selalu ada. Lo akan mati tanpanya. Jadinya? Ya, mati beneran!

Gue paham memang sulit ‘melupakan’ orang yg kita sayang. Tapi pahami bahwa itu menjadi sulit karena kita selalu mengenang kebiasaan.

Kita terbiasa dengan hadirnya,  suaranya, candanya, sikapnya atau hal-hal menyenangkan ketika kita sedang bersamanya, dan ketika dia hilang, seakan ada yg lenyap dari diri kita.

Trus gimana cara buat melupakan mantan?

Nah, ini dia kesalahannya. Gini, semua indera manusia itu didesain untuk merekam dan mengingat setiap moment dalam hidup.

Secara sistemik, hampir semua orang yg pernah masuk dan berinteraksi dalam hidup lo, akan lo ingat.

Contoh, mungkin lo udah bertahun-tahun lulus sekolah tapi ketika reuni mungkin lo akan kembali mengingat moment-moment ketika dulu bersama temen-temen lo. Ketika lo dimarahi guru, cabut kelas, atau nyontek bareng-bareng, semua tiba-tiba teringat kembali.

Jadi, belajar dari situ maka usaha lo untuk melupakan mantan adalah hal yg sia-sia. Kecuali lo tiba-tiba kejatuhan gapura selamat datang dan jadi lupa permanen ya itu lain lagi ceritanya.

Terus gimana dong? 

Kita memang nggak tau siapa jodoh kita ke depan tapi bila untuk balikan adalah hal yg mustahil maka tak perlu memaksa mengemis minta balikan.

Lo juga nggak perlu melupakannya kok, yg lo harus lakukan adalah menetralkan perasaan lo ke dia.

How? 

I told you, its all about mindset.

Pertama, positive thinking. Gue tau ini susah tapi cobalah untuk berpikir positif.

Datang dan perginya seseorang dalam hidup adalah hal yg normal. Kita pasti pernah berpisah atau kehilangan seseorang. Mungkin karena beda pilihan, beda sudut pandang,  atau karena maut memisahkan.

Sekarang coba ingat deh, sebelum dia masuk dalam hidup lo, dia bukan siapa-siapa. Sebelum kenal dia, lo bisa hidup tanpanya. Maka, yakini bahwa hari ini, tanpanya lo pasti bisa melanjutkan hidup. Pasti!

Kedua, definisikan kembali apa itu mantan dan kenangan. Beberapa waktu setelah putus, yg ada hanyalah kenangan, dan itu nggak salah. Sekali lagi itu normal. Lo akan sering mengingat bagaimana dia berkata, bertindak, dan membuat lo menjadi sangat nyaman bersamanya. But the question is, kalo sayang dan sudah nyaman, kenapa bisa jadi mantan?

Sadari bahwa semua terlihat manis karena yg lo ingat hanyalah kenangan yg manis. Memang dia pernah bikin nyaman namun pernah bikin nyaman bukan jadi alasan untuk balikan.

Coba ingat kembali every single moment yg membuat kalian akhirnya memutuskan untuk berpisah. Pertengkaran? Jarak? Ego? Beda agama? Pihak ketiga? Atau memang pada dasarnya salah satu pihak sudah kehilangan komitmen untuk bersama.

Ketiga, look around. Ada banyak yg single, baik, cakep, dan tentunya memiliki kemungkinan untuk membuat lo lebih nyaman di luar sana. So, kenapa harus membatasi pikiran bahwa hanya dia yg bisa bikin lo bahagia?

Ada milyaran manusia di muka bumi dan kita berhak untuk bahagia. Mungkin saat ini lo sedih kehilangannya, namun di masa depan mungkin lo akan bahagia karena berani melepaskan dan mendapat penggantinya, yg jauh lebih baik.

Keempat, kenangan tentang mantan mungkin akan memakan dan mengorbankan banyak hal. Sadar gak, efek buruk apa yg terjadi kalo lo kebanyakan inget mantan? Yup, hidup lo jadi berantakan.

Lo bakal sedih lagi. Lo bakal galau dan nangis dipojokan kamar mandi. Mata lo bakal sembab, jerawat betebaran, dan gangguan pencernaan karena telat makan. Jadinya apa? Lo bakal jadi jelek dan penyakitan! Sedangkan dia mungkin sedang hahahihi dengan gebetan barunya… *uups*

Belum lagi kerjaan jadi nggak beres, dan orang lain akan menilai lo sebagai pihak yg tidak profesional. Menyedihkan bukan? Sedih boleh tapi jangan kelamaan.

Dunia ini luas dan ada banyak hal menyenangkan menunggu di depan. Satu jam lo sedih means lo membuang 60 menit secara sia-sia. Artinya lo kehilangan 3.600 detik kemungkinan-kemungkinan lain untuk bahagia.

Kalo lo ngeyel dan bilang ah, sejam mah sebentar, hhmmm baiklah coba lo itung angka 1 sampai 3600, dijamin ‘bleber’ bibir lo hehehe.

Kelima, lo bukan satu-satunya. Sadari bahwa patah hati dialami oleh hampir tiap jiwa yg memiliki cinta. Bahkan kucing gue pernah patah hati!

Sadari bahwa putus adalah satu dari sekian banyak masalah yg ada dalam hidup. Dan sadari bahwa ada banyak masalah atau rintangan yg lebih pelik menghadang di depan. So, buat apa bikin semua tambah rumit?

Keenam, mata dan kaca. Tau nggak kenapa Tuhan meletakkan kedua mata di depan? Tau nggak kenapa kaca depan mobil selalu lebih besar daripada kaca spion? Agar kita lebih fokus ke depan dibanding melihat ke belakang!

Ketujuh, ikhlas. Semua yg terjadi itu sudah digariskan. Semua itu ada masa berlakunya. Kalo hubungan kalian berakhir ya berarti memang saat-saat kalian untuk bersama memang sudah habis.

Percaya deh, baik buruk yg Allah kasih ke kita pasti tetap yg terbaik, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Suatu hari akan terjawab, kenapa kita lebih baik hidup tanpanya. Suatu hari akan terjawab siapa tulang rusuk kita sesungguhnya.

…Cinta tak hanya mengajarkan untuk berbagi bahagia tapi juga menguatkan kita meski dia tak lagi bersama. Karena hidup berarti melangkah ke depan, bukan stagnan meratapi yg telah hilang…


Benahi diri dan bersiaplah untuk jatuh cinta lagi.


Ps : Ada yg mau curhat atau nambahin tentang move on? Just feel free ya.

0

Take a deep break

Baru saja hujan tuntaskan pekerjaan. Tinggalkan banyak genangan. Hidupkan kembali  kenangan. 

Malam ini seharusnya ditemani secangkir kopi. Hangatkan badan, damaikan sepi. Namun, tampaknya secangkir kopi terlalu pahit untuk hari yg getir ini.

Tarik napas, lalu hembuskan

Tarik napas, lempar batu, lalu hempaskan

Tarik napas, hembuskan lalu berikan senyum selebar pandangan.

Hidup,

Kadang girang terbawa perasaan. Tak jarang, senang melebur jadi sepi.

Rasanya seperti naik arum jeram! Takut dan senang,  dan semua berulang. Cepat. Bahkan kadang terlalu cepat.

Katanya, hidup yg datar kurang menyenangkan namun terlalu bergelombang kadang juga melelahkan. 

Akankah sang harapan berseberangan? Tak bisa dipastikan. 

Tak pernah tau kejutan yg akan  datang menerjang. Tak akan tau akankah yg diperjuangkan berjalan layaknya harapan.

Mungkin yg telah berlalu akan kembali bertemu. Mungkin yg telah lewat akan kembali menjadi penyemangat. Mungkin yg tak mungkin akan menjadi mungkin. 

Take a deep breath. Take a deep break.

Berhenti lalu melangkah lagi. Karena mungkin inilah hidup. Jalani, nikmati, dan jangan sesali.

0

Bukan hanya tentang harga apalagi jadi phobia.. #upgrade.you

Jujur, nggak tahu mau menulis apa, saya hanya membiasakan agar kebiasaan menulis tidak hilang. Jujur, antara judul dan isinya mungkin juga nggak nyambung, bahkan hancur berantakan karena saya juga tidak menggunakan kaidah atau dasar-dasar kepenulisan. Jadi, ya anggep aja saya lagi sok tau, sok iye, dan sok bener untuk menulis tentang dunia bisnis.

Lanjut,

Saya percaya bahwa dalam bisnis ada empat komponen penting yaitu : produk, harga, pelayanan, dan pemasaran. Masing-masing komponen memiliki karakter tersendiri namun semuanya saling melengkapi.

Apa yang mau kamu jual bila tidak ada produknya, entah berupa barang/jasa?

Bagaimana dapat berbisnis bila tidak mau melayani konsumen, baik langsung maupun tidak langsung?

Bagaimana menentukan konsumen bila tidak jelas harganya?

Bagaimana bisa menjual bila tidak melakukan pemasaran?

Se-fleksibel apapun, sebuah barang/jasa akan tetap memiliki harga, bila harganya “tidak ada atau tidak ternilai” maka sudah pasti itu bukan ‘barang dagangan’, mungkin namanya pemberian. Kalaupun dalam barang tersebut ada tagline tidak ternilai namun ada harganya, itu hanya gimmick belaka.

Secanggih apapun ilmu marketing yg kamu miliki, tidak akan bisa menghasilkan uang kalau kamu tidak punya produk yg akan dijual apalagi juga tidak mau turun tangan melayani. Dan bagaimana bisa fokus menentukan strategi pemasaran kalau konsumen yg ingin dituju tidak jelas karena harganya juga tidak jelas?

Lanjut,

Pertama, Produk. Apa yg ingin kamu buat dan jual? Apakah produk yang tergolong pioneer di mana tidak ada pesaingnya atau sebuah produk hasil mengamati, meniru dan memodifikasi dari produk yang sudah ada sebelumnya? Apapun produk kamu buatlah produk itu sekreatif mungkin, kegunaan yang paling bermanfaat, dan cara pakai sesederhana mungkin lalu fokuslah di sana.

Pelajari keinginan konsumen, bisa dengan membuat penelitian kecil (sebar quesioner) untuk mendapat informasi tentang kelompok sasaran yg dituju. Buat produk yang unik, usefull, sekaligus rumit pembuatannya agar tak mudah dicontek orang, namun begitu mudah digunakan konsumen. Kalaupun kamu tidak bisa membuat produk yang rumit, maka buatlah keunikan dalam produkmu.

Maicih hanyalah sebuah keripik pedas tapi keripik pedas yg memiliki tingkat kepedasan? Konsumen akan langsung mengingat Maicih. Mungkin juga kalian masih ingat ketika lebih dari satu dekade lalu, Nokia begitu merajai pasar. Mengapa? Karena Nokia fokus dan bisa menciptakan produk yang mudah dimengerti dan digunakan.

Bahkan tanpa membaca manual book-nya pun, hampir semua orang bisa menggunakan Nokia. Silahkan bandingkan betapa mudah dan simple-nya menu yang ada dalam hp Nokia dibanding produk lain. Ditambah, cover yg bisa diganti sesuai keinginan hati mendapat respon positif dari konsumen, pada saat itu. Nokia sukses membaca dan mengerti pasar. Sebuah produk yg unik, berguna sekaligus user friendly-lah yang dicari pasar.

Kedua, Pelayanan. Tentu yang dimaksud di sini bukan hanya tentang bagaimana penjual melayani konsumennya di awal membeli produk namun pelayanan yg tetap diberikan setelah konsumen membeli dan menggunakan produknya (after sales). Senyum ramah khas penjual ala koko dan cici Glodok memang terlihat lebih ramah dan sabar melayani pembeli, dan di sini saya melihat hal itu sebagai satu keunggulan khas ala kaum Tionghoa sebagai kaum yang hebat dalam berdagang.

Namun, kembali pada pelayanan untuk kepuasan konsumen, rasanya percuma bila hanya ramah di awal namun sangat sulit ketika konsumen minta klaim pertanggungjawaban (garansi). Percuma bila hanya menjual produk murah namun tidak jelas service center dan ketersediaan part pendukungnya.

Sebuah pabrikan hp asal Jepang kini mati kutu menghadapi negative campaign karena pelayanan aftersales-nya buruk, oh, maksud saya, amat sangat buruk. Pabrikan hp asal Jepang itu bahkan tak berdaya melawan kehebatan pelayanan aftersales duo produk Korea, Samsung dan LG.

Anda pernah ke service center Samsung atau LG? Pengalaman saya, ketika datang, ambil antrian, dan sampai di meja Customer Service, produk anda langsung didiagnosa dan dibongkar di depan mata. Apabila beres, maka hari itu juga bisa langsung anda bawa pulang. Kalaupun saat itu hp anda harus menginap, paling tidak anda sudah mengetahui bahwa produk anda on progress pengerjaannya dan jelas kapan selesainya.

Bagaimana dengan pabrikan Jepang yang kini perlahan mati kutu? Lupakan saja..Kalau anda mau sedikit kepo, silahkan baca keluhan konsumen yg hpnya harus menginap berminggu-minggu hingga bulanan tanpa adanya kejelasan. Banyak kok kisah duka mereka kalau mau searching di Google 😀

Contoh lain,

Mengapa Toyota sukses merajai pasar di Indonesia? Selain produknya cukup berkualitas, pelayanan mereka di awal dan sesudahnya baik. Pelayanan mereka memiliki standar yang seragam melalui jaringan sales and services ala Auto2000, bengkel resmi mereka mudah ditemui, dan ketersediaan spare part tidak akan membuat konsumen lumutan menunggu berbulan-bulan hanya untuk sebuah kaca spion.

Toyota sukses membuat produk yang berkualitas, simple, dengan pelayanan yang memuaskan. Ini membuat harga jual kembali produknya cenderung lebih stabil dibanding kompetitor sehingga apabila konsumen memiliki pertanyaan : Produk (mobil) apa yang berkualitas, spare part-nya mudah, bengkelnya banyak, dan harga jual kembalinya tidak terlalu jatuh? Maka hampir semua orang akan sepakat menjawab produk Toyota.

Toyota sadar bahwa dengan produk dan pelayanan yang berkualitas, maka akan meningkatkan angka penjualan dan dengan angka penjualan yang baik, akan mudah bagi perusahaan untuk menggelontorkan uang -untuk recall, misalnya- guna memberikan dan memastikan konsumen mendapat pelayanan kelas satu. Yup, penjualan dan pelayanan, keduanya saling mendukung.

Ketiga, Harga. Harga memang penting tapi bukan yang terpenting. Harga layaknya modal yang memang dibutuhkan untuk memulai berbisnis. Modal memang penting tapi tanpa modal anda tetap bisa menjadi broker, bukan?

Kembali ke harga, It depends on your target market. Kelompok sasaran mana yang anda tuju? Persaingan dengan HANYA mengutamakan komponen harga akan membuat anda masuk dalam ‘bisnis berdarah’. Saya sebut bisnis berdarah karena bila anda hanya mengutamakan komponen harga, bersiaplah untuk berdarah-darah. Siapa yang bersedia memangkas laba, dia yang menang. Misal : Si A menurunkan laba 30%, anda menurunkan laba 50%. Si B memotong laba 70%, anda potong laba hingga 90%, terus dan terus begitu, dan sang pemenang adalah yang paling berdarah mengorbankan labanya.

Untuk jangka pendek, memang bagus untuk mengambil perhatian konsumen, biasanya dikenal dengan nama promo, namun untuk jangka panjang jelas akan mengancam kesehatan keuangan bisnis anda.

Sepuluh tahun yang lalu, harga hp Samsung mungkin 30% atau bahkan setengah dari harga produk Nokia. Namun, kini harga produk dengan sistem operasi Android, maka Samsunglah yang bisa dikatakan termahal.

Begitu pula dengan pabrikan Cina, Lenovo. Beberapa tahun yang lalu, Lenovo begitu jor-joran mengeluarkan banyak produk dengan harga murah, bahkan harganya bisa bersaing dengan produk rakitan lokal. Kini, perlahan Lenovo mulai ‘menaikkan harga dirinya’. Jelas, bahwa harga bukan satu-satunya komponen yang akan ‘digunakan dan diutamakan’ secara terus menerus dalam persaingan.

Apple melalui produk iPhone adalah contoh sukses bahwa harga bukanlah segalanya. Lihatlah statistik penjualan produk iPhone. Hanya mengandalkan penjualan tidak lebih dari dua jenis hp per tahun (dulu 6 dan 6+, kini 6S dan 6S+), mereka berhasil menjadi salah satu perusahaan termahal dan terbesar di dunia. Harganya? Silahkan cek sendiri betapa harga sebuah hp bisa setara dengan sebuah motor. Bila anda tanyakan ke orang, satu kata yang cukup sering muncul ketika ditanyakan tentang iPhone (produk resmi) adalah mahal. Tapi kok laku?

iPhone mirip dengan Nokia, bedanya ia memiliki strategi marketing dan branding yang jauh lebih hebat dan matang. Mereka fokus menetapkan kelompok sasarannya dan berhasil mem-branding produknya untuk kelas menengah atas yang loyal, namun di sisi lain juga sukses membuat produknya menjadi sangat diinginkan oleh hampir semua orang. Sudah begitu banyak berita di luar sana bahwa ada orang yang rela melakukan apapun termasuk menjual ginjal hanya untuk sebuah iPhone.

Apple sukses membuat hp yang nyaman, berkualitas, dengan pelayanan after sales (garansi resmi) yang baik. Bila anda berada di Singapura -negara yang ditunjuk Apple sebagai salah satu negara resmi penjual produk iPhone- lalu membeli produk iPhone, dan kemudian rusak (cacat hardware), tidak perlu khawatir, karena ketika dibawa ke service centernya, maka iPhone anda akan diganti baru saat itu juga. Harganya memang mahal namun after salesnya (di luar negeri) memuaskan.

Keempat, Pemasaran. Secanggih apapun produkmu, semurah apapun harganya dan sebaik apapun pelayanan yg kamu berikan, it means nothing kalau tidak ada orang yg mengenal dan membeli produkmu. Hari ini, dengan bantuan teknologi, pasar bisa diciptakan tanpa harus saling tatap muka.

Beberapa bulan yg lalu, saya mengikuti kelas menulis dan jujur, saya mengacungi jempol untuk sistem pemasarannya yg seperti tidak mengenal lelah, bahkan setelah kelas menulisnya telah selesai. Pagi, siang, sore dan malam, hp saya penuh oleh iklan hingga akhirnya mereka saya mute😀

Tapi sesama wirausaha, sayapun bisa memahami mereka karena bagi kami tanpa jualan, tanpa pemasaran, berarti kami ‘tidak gajian’ dan tanpa gajian berarti kami harus puasa sebulan. Kalaupun saya di posisi mereka, tentu saya akan melakukan hal yg serupa walau mungkin ya nggak segila mereka. But yes, itulah marketing! Produk, harga, dan pelayanan ala surga tak akan berarti bila tak ada yg beli.

Kembali ke topik awal, yang ingin saya tekankan, harga bukanlah satu-satunya hal yg akan membuat konsumen membeli produk anda. Mungkin dengan harga murah, produk anda akan laris manis di awal penjualan namun tanpa kualitas dan pelayanan yang baik, produk dan bisnis anda akan tinggal kenangan.

Perlu juga diingat, TANPA kualitas produk dan pelayanan yang baik, maka akan sulit untuk menciptakan loyalitas pelanggan, karena orang yang memiliki loyalitas biasanya sudah tidak terlalu terpengaruh dengan harga, mereka butuh produk yg baik dan atau pelayanan yg hebat. Ingatlah, bahwa orang akan selalu teringat Aqua untuk air minum, Sanyo untuk pompa air, Samsung untuk produk android, Pepsodent untuk pasta gigi, dan Teh Botol untuk teh dalam kemasan. Inilah yang dinamakan kekuatan branding dan loyalitas pelanggan. Apakah harga produk di atas lebih murah bila dibanding produk sejenis? Untuk spek atau ukuran yg sama, saya yakin tidak.

Next,

Bila sudah memadukan empat hal tersebut, jangan berbesar hati bila bisnis anda sudah mulai beranjak. Ingat, di atas langit masih ada langit, dan di atas langit paling ataspun, masih ada Tuhan di sana. Jadikan konsumenmu sebagai mitra sekaligus teman dan sahabat, bukan sekedar sapi perah alias objek bisnis belaka yg kamu tinggalkan ketika ikatan bisnismu telah usai.

Ingat, sepuluh pemasaran yg kamu lakukan mungkin hanya akan menghasilkan satu konsumen baru, tetapi satu kekecewaan konsumen berarti kamu telah kehilangan sepuluh calon konsumen potensial.

Tetap dengarkan konsumen sebagai bentuk pelayanan dan kepedulian, karena Nokia sudah merasakan pahitnya. Ketika mereka sudah menjadi besar dan nomor satu, harga produk Nokia makin tidak bersahabat, padahal konsumen semakin cerdas dan kompetitor semakin banyak.

Pahitnya lagi, mereka tidak membuka diri terhadap masukan konsumen. Ketika Android ditemukan dan penggunaannya jauh lebih canggih sekaligus lebih mudah, mereka tetap ngotot dengan Symbian kebanggaannya. Hasilnya? Mereka berubah. Ya, berubah dari something menjadi nothing alias tinggal kenangan.

Contoh lain? Masih ingat dengan pabrikan mobil dan motor Cina yang dulu ramai masuk ke Indonesia? Harganya memang murah sayang kualitasnya tak jelas dan ketersediaan partsnya tidak terjamin. Atau, masih ingatkah ketika kasus bus TransJakarta karatan buatan Cina yang kini menyeret sejumlah pejabat? Ini tentu akan membuat konsumen berpikir ulang untuk membeli mobil/motor buatan Cina.

Namun, ada pepatah yang mengatakanbelajarlah hingga ke negeri Cina”. Cina belajar dari kesalahan dan kini bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Hampir semua produk bertuliskan made in China. Cina hari ini telah  bermetamorfosa dari “negara yang membuat produk murah” menjadi “produk berkualitas dengan harga kompetitif”.

Cina berhasil membuat produk yang menggabungkan empat hal di atas, produk yang (mulai) berkualitas, harga yang lebih murah, pelayanan ramah ala negeri tirai bambu, dan pemasaran yg masif.

Lalu, kalau Cina bisa berubah, mengapa kita tidak? Mengapa kita harus takut atau phobia terhadap Cina? Bukankah seharusnya kita belajar dari mereka?

Lihatlah bagaimana mereka melakukan proses ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi, dan kini hampir semua produk berteknologi bisa mereka buat. Lihatlah bagaimana mereka mengambil pelajaran ketika senyum ramah dan produk murah saja tidak akan menjamin kesuksesan dalam berbisnis, maka mereka berevolusi membuat produk yang berkualitas, tetap murah, dengan pelayanan yang lebih baik. Pemasarannya? Lihatlah ketika Xiaomi dan Lenovo sukses menjual ribuan produk hanya dalam hitungan menit ala flash sale.

Mungkin beberapa tahun ke depan, India, sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia akan menyusul kesuksesan Cina. Lalu, apakah kita juga harus takut/phobia terhadap India? Masih ingat rasanya ketika dulu kita phobia terhadap Amerika. Gaung untuk memboikot produknya gencar dimana-mana seakan kita lupa bahwa makanan dan susu bayipun kita bergantung pada mereka dan sekutunya. Seharusnya kalau ingin menunjukkan harga diri, kita konsekuen. Ketika, kita menyatakan  kebencian sekaligus phobia terhadap Amerika dan Cina, maka kita konsekuensi dengan tidak menggunakan produk mereka satupun. Pertanyaannya, mampukah kita?

Sekarang kita phobia Cina, mungkin nanti kita akan phobia terhadap India, dan bila tak berbenah mungkin nanti terhadap semua negara kita akan menjadi phobia. Lalu, bagaimana bisa menjadi Macan Asia? Hey, Macan Asia itu tagline yg tidak main-main lho, it means kemampuan dan kekuatan kita bila sudah menyandang predikat itu ada di atas Jepang, Cina, dan India, dan jauh di atas Malaysia dan Singapura.

Apakah bisa? BISA!

Bukan sikap pesimis, takut, lalu menutup diri yang harus di lakukan tapi upgrade diri, produk, cara berbisnis dan wawasanmu agar bisa bersaing.

Selamat datang di era globalisasi, sebuah era keterbukaan di mana penjual ayam goreng di Malaysia akan bisa dengan mudahnya menjajakan barangnya bersaing dengan ayam goreng Sabana ala Indonesia, baik suka atau tidak suka.

Jangan lemah dan cengeng, mereka yang tidak siap dan takut bersaing itu seharusnya sering main ke pasar, mall atau pusat perdagangan. Lihatlah betapa rejeki itu selalu ada untuk mereka yang optimis dan selalu berusaha. Lihatlah dalam satu gedung di ITC, ada ratusan bahkan ribuan pedagang dan terang-terangan saling bersaing namun tetap rukun bersama, karena mereka percaya sepanjang mereka berusaha, Tuhan akan memberikan rejeki-Nya.

Oh, satu lagi,

Belakangan ini ramai di media sosial yang memberitakan ‘sengitnya persaingan’ antara tukang ojek pangkalan (tradisional) dengan ojek online. Kubaca singkat komentar mereka di media sosial. Banyak diantara kita yang menyayangkan terjadinya perilaku baku hantam dan pelarangan sepihak dari ojek pangkalan terhadap ojek online.

Ada yg melihat secara global lalu berkata : Ini era modern, yg berkualitas dan bisa memberi pelayanan yg lebih baik-lah yg akan dipilih.. Ada juga yg melihat dari sisi kepraktisan dan pelayanan : Ojek pangkalan ribet karena mesti menghampiri ke pangkalannya, ojek online tinggal pencet hp, tak lama nongol di depan pintu… Ojek pangkalan nggak ramah dan suka seenaknya kasih tarif, ojek online ada standarisasi sikap dan harga…

Tidak sedikit yang mencaci tukang ojek pangkalan dengan kalimat : bukankah rejeki itu Tuhan yg mengatur? atau pernyataan sindiran dengan kalimat : takut amat rejekinya diambil, binatang aja dijamin kok rejekinya oleh Tuhan, masa manusia yg berakal kalah ama binatang? Makanya service-nya dibagusin dong..

Kalau boleh aku analogikan, bukankah itu mirip dengan kondisi kita yang phobia terhadap Cina? Mungkin saja tukang ojek pangkalan itu adalah kita (si tradisional yg kalah modal juga kalah mental, takut terhadap perubahan, namun tidak pernah mau belajar) dan ojek online itu adalah negeri Cina atau negara lain yg kuat secara modal, mau belajar, dan cerdas memanfaatkan peluang, dan dunia internasional sebagai pihak yang menjudge, menyayangkan sikap kita yg serba phobia.

Mungkin kelihatannya tidak adil tapi inilah hidup..

Bukan yg terkuat yg bertahan, bukan juga yg terpintar, tapi mereka yg bisa menyesuaikan keadaan dan melihat peluang. 

Upgrade you, upgrade Indonesia

Indonesia, BISA!

0

Sulit bukan berarti tidak mungkin, bukan?

Beberapa hari ini tak sedikit teman-temanku yg mengeluhkan besarnya target penjualan produk mereka yg selalu membesar dari tahun ke tahun, tak peduli bagaimana kondisi perekonomian saat ini. Target yg selalu membesar itu juga disertai ancaman resign apabila pada bulan/periode kesekian mereka tidak dapat memenuhinya. Tanpa disadari hidup merekapun hanya terfokus pada ‘ancaman resign’. 

Day by day, yg ada dipikiran mereka bukan lagi bagaimana mencari cara untuk menutup target penjualan tapi berubah menjadi sebuah ketakutan yg kian membesar  : “Damn, bentar lagi bakal dipecat nih, gue..” 

Hal ini membuat mereka bertambah stres yang berujung makin menurunnya performa kerja. Tak sedikit yang kemudian mencaci maki atasan dan perusahaan tempat mereka bekerja. Tanpa mereka sadari, bahwa mencaci atau menjelek-jelekkan perusahaan tempat mereka bergantung hidup itu ibarat mereka meludahi sumber mata air yang nantinya akan mereka gunakan sendiri untuk minum. Ngeri-ngeri sedap, bukan?

Terlepas dari itu semua, anggep aja aku di sini cuma asal ngomong, atau silahkan kalau mau dibilang asal njeplak juga nggak apa-apa but let me tell (and remind) you something..

Guys, target kita tiap saat pasti meningkat. Dilihat dari segi bisnis, setiap pengusaha pasti akan menaikkan target penjualan dari tahun ke tahun. Kalaupun karena ada situasi ekonomi atau politik yang bergejolak, biasanya pengusaha akan merevisi target penjualannya. Misal, penjualan tahun lalu 1.000, target tahun ini 1.500, lalu karena situasi yg tak menentu maka direvisi menjadi 1.200 atau paling tidak, seburuk-buruknya target adalah menyamai penjualan tahun lalu. Dari segi individual, kayaknya juga nggak ada tuh orang yang udah punya penghasilan dua, tiga atau bahkan empat digit kemudian di tahun depan berharap penghasilannya turun ke angka satu digit. Atau simplenya, nggak ada orang yang apabila saat ini sudah mapan secara finansial kemudian memiliki target agar tahun depan jatuh melarat.

Target selalu meningkat. Kalau saat ini jadi pengangguran, tahun depan harus sudah bekerja. Kalau saat ini bekerja, tahun depan harus naik jabatan. Kalau saat ini sudah naik jabatan, tahun depan harus memiliki perusahaan sendiri. Logis bukan?

Simple things ya..

Dulu saat SMP, targetku adalah bagaimana caranya bisa masuk SMU favorit, dan aku merasa hal itu sungguh berat. Namun, setelah berhasil, di situ aku tersadar, Wow, I did!

Apakah targetku berhenti di situ?
Tentu tidak.  Setelah masuk SMU favorit, targetku kemudian meningkat lagi, masuk kampus idaman. Hati kecilku sering bertanya: bisa nggak ya masuk Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur SPMB (sekarang, SNMPTN)? Setelah diterima di UI, targetku meningkat menjadi “bagaimana caranya dapat IPK yg oke” kemudian naik lagi menjadi “bagaimana caranya lulus cepat” Dan setelah lulus, target berubah menjadi “bagaimana caranya punya bisnis sendiri sebagai tahap awal menuju financial freedom”

Setelah kerja, selanjutnya punya mobil, lalu apartemen/rumah, lalu ‘menikah dgn orang yg tepat’. Sudah menikah, selanjutnya ‘punya anak’…terus dan teruuuss seperti itu..nggak ada habisnya!

Bahkan kalaupun semua target hidup sudah tercapai, masih ada target yg lain lagi : Bisa nggak ya nanti masuk surga? Bisa nggak ya nanti menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur? Bisa nggak ya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah?

Beruntung, aku mempelajari ttng itu semua saat kuliah. Ada satu mata kuliah bernama : Tingkah Laku Manusia, chapter Tugas dan Perkembangan Manusia. Simplenya, target hidup seseorang pasti akan cenderung meningkat, sesuai kondisi biopsikososialnya. Apabila seseorang tidak sadar akan kebutuhan dan target yg harus dicapai maka lingkungan dan norma yang akan menyadarkan. Misal : Saat kuliah, orang tua sering banget memberi pertanyaan : Kapan skripsi? Kapan cumlaude? Kapan wisuda? Kapan kerja? Kapan punya pacar? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan naik haji?

The moral is dalam hidup, hari ini, nanti, atau besok, kita akan dihujani oleh sejuta pertanyaan ‘kapan’ dan akan selalu di hantui dengan yang namanya ‘target’. Jadi, mulai sekarang, jangan takut lagi dengan target dan jangan panik bila target meningkat! Target dan deadline adalah sesuatu yang normal. Tanpa target, tuntutan, ancaman ataupun deadline, hidup akan datar dan bahkan mungkin kita jadi tidak pernah mengeluarkan kemampuan terbaik kita.

Target mungkin membuat kita selalu seperti orang yang dikejar anjing gila tapi secara pribadi, aku bahkan tidak tahu bagaimana orang-orang di luar sana bisa menjalani hidup tanpa adanya target yang jelas. Betapa membosankan hidupnya, karena tanpa tantangan, tanpa target, tanpa deadline, hidup tidak akan ‘seru dan menyenangkan’. Lakukan aja sebaik-baiknya, karena Insya Allah, kita pasti bisa..

Kenapa aku begitu yakin kalau kita bisa memenuhi target apapun itu? Karena selama ini kita sudah membuktikan bahwa kita memang mampu untuk ‘dinaikkan targetnya’. Bukankah sudah terbukti? Kita yang dari lahir dengan target pertama yg sangat simple : belajar merangkak, lalu naik menjadi belajar berjalan, lalu lanjut ke belajar menulis, berhitung, terus dan terus hingga saat ini.

Apapun targetmu, entah itu mencari pekerjaan yg lebih baik, mencari klien, ingin kuliah S2 atau ambil S3, naik jabatan, atau mungkin mencari pendamping hidup yg tepat, just keep up your good work. Jangan menyibukkan diri dengan mengeluh, lakukan sebaik yg kamu bisa karena makin tinggi derajat kemuliaan seseorang maka makin tinggi tuntutan yang harus dilakukan.

Ditantang target? Tantang balik! Karena sesuatu yang sulit itu bukan berarti tidak mungkin bukan?

Keep fighting, see you on top!