0

Hausaufgabe

Rasanya kayak gimana gitu ketika hampir tiap hari diingetin buat ngerjain PR dan ternyata PR gue nggak beres juga.

Parahnya, PR yg satu belum selesai eh, deadline PR berikut kelewat juga.

Gusti Allah memang mboten sare tapi guenya aja kebanyakan sare.

Tapi sekarang gue paham, kenapa ‘Hausaufgabe’ itu artikelnya pakai ‘die’, ya karena lama-lama memang bikin ‘die’ beneran.

Duh, jadi nggak enak sama pengajar kelas Jerman-nya, tapi memang belakangan ini gue lagi ribet banget. Ngurus bisnis orang tua, start up bisnis sendiri, novel gue, Mikayla,  yang sebentar lagi terbit, dan termasuk ngurus hati tentunya *plak!*

Semoga ke depan, bisa lebih terkontrol lagi semuanya termasuk urusan kelas Jerman ini.

Amin.

*curcol gegara dua kali deadline PR Jerman kelewat.

**nguik!!! 🐽

Advertisements
0

Writer’s block


Writer’s block, kondisi (sementara) di mana ribuan detik dan belasan cangkir kopi terbuang sia-sia tanpa satu paragraf atau bahkan satu kalimat yg bisa diekspresikan ke dalam bentuk tulisan.

Ketik satu paragraf lalu hapus karena khilaf. Tulis sekalimat, tak nikmat, lalu lenyap. Begitu terus sampai Katy Perry bikin album religi.

Dan, biasanya pelarian gue adalah sebuah tempat bernama kedai kopi.

Kedai kopi, baik yg cuma jualan kopi atau juga jualan roti/donat adalah rumah kedua bagi gue. Kalo  lagi mentok bingung mau nulis apa atau lagi dikejar deadline, gue akan dengan senang hati melangkahkan kaki menuju kedai kopi.

Kemarin, gue mampir di salah satu gerai Starbucks di Jakarta Timur. Semuanya terasa begitu biasa. Gue datang, memesan iced green tea latte lalu mencari tempat duduk di salah satu sudutnya.

Dan seperti yg udah-udah, kalo  lagi bingung mau nulis apa, biasanya gue akan ‘mengendus’ percakapan orang-orang di sekeliling buat mancing ide yg akan ditulis.

Menit demi menit. Jam demi jam dan belum tau mau nulis apa hingga akhirnya muncul sepasang anak SMP dan duduk di sebelah gue.

Yg cowo, mukanya rada cemberut dan yg cewe duduk dengan ekspresi gue-salah-apa-ya.

Gue pribadi, sebenarnya nggak  peduli dgn mereka. Pemandangan sepasang muda-mudi yg berpacaran di kedai kopi adalah hal yg sangat biasa. Sedikit menggelitik ketika gue mendengar percakapan mereka…

She: Ayah, kamu marah ya sama Bunda? Kok dari tadi Ayah diem aja.

He : Nggak, ayah cuma lagi bete aja.

She : Maafin Bunda ya, kemarin itu Bunda nggak bisa angkat telepon Ayah karena Bunda lagi ngobrol sama Ibu. Ayah jangan marah ya

Gue cukup sering liat mereka yg pacaran dan punya panggilan sayang yg unik. Namun, lihat anak SMP pacaran dengan panggilan ayah bunda? Oh meeen, emangnya kalian udah pada punya anak? Kenapa nggak sekalian pakai Raqib-Atit aja?

Sesaat setelah mendengar percakapan mereka, green tea latte guepun keluar dari hidung. Bagaimana dengan tulisan? Lupakan!

ps : gue nggak iri sama mereka yee, sumpah! #eh

0

Sulit bukan berarti tidak mungkin, bukan?

Beberapa hari ini tak sedikit teman-temanku yg mengeluhkan besarnya target penjualan produk mereka yg selalu membesar dari tahun ke tahun, tak peduli bagaimana kondisi perekonomian saat ini. Target yg selalu membesar itu juga disertai ancaman resign apabila pada bulan/periode kesekian mereka tidak dapat memenuhinya. Tanpa disadari hidup merekapun hanya terfokus pada ‘ancaman resign’. 

Day by day, yg ada dipikiran mereka bukan lagi bagaimana mencari cara untuk menutup target penjualan tapi berubah menjadi sebuah ketakutan yg kian membesar  : “Damn, bentar lagi bakal dipecat nih, gue..” 

Hal ini membuat mereka bertambah stres yang berujung makin menurunnya performa kerja. Tak sedikit yang kemudian mencaci maki atasan dan perusahaan tempat mereka bekerja. Tanpa mereka sadari, bahwa mencaci atau menjelek-jelekkan perusahaan tempat mereka bergantung hidup itu ibarat mereka meludahi sumber mata air yang nantinya akan mereka gunakan sendiri untuk minum. Ngeri-ngeri sedap, bukan?

Terlepas dari itu semua, anggep aja aku di sini cuma asal ngomong, atau silahkan kalau mau dibilang asal njeplak juga nggak apa-apa but let me tell (and remind) you something..

Guys, target kita tiap saat pasti meningkat. Dilihat dari segi bisnis, setiap pengusaha pasti akan menaikkan target penjualan dari tahun ke tahun. Kalaupun karena ada situasi ekonomi atau politik yang bergejolak, biasanya pengusaha akan merevisi target penjualannya. Misal, penjualan tahun lalu 1.000, target tahun ini 1.500, lalu karena situasi yg tak menentu maka direvisi menjadi 1.200 atau paling tidak, seburuk-buruknya target adalah menyamai penjualan tahun lalu. Dari segi individual, kayaknya juga nggak ada tuh orang yang udah punya penghasilan dua, tiga atau bahkan empat digit kemudian di tahun depan berharap penghasilannya turun ke angka satu digit. Atau simplenya, nggak ada orang yang apabila saat ini sudah mapan secara finansial kemudian memiliki target agar tahun depan jatuh melarat.

Target selalu meningkat. Kalau saat ini jadi pengangguran, tahun depan harus sudah bekerja. Kalau saat ini bekerja, tahun depan harus naik jabatan. Kalau saat ini sudah naik jabatan, tahun depan harus memiliki perusahaan sendiri. Logis bukan?

Simple things ya..

Dulu saat SMP, targetku adalah bagaimana caranya bisa masuk SMU favorit, dan aku merasa hal itu sungguh berat. Namun, setelah berhasil, di situ aku tersadar, Wow, I did!

Apakah targetku berhenti di situ?
Tentu tidak.  Setelah masuk SMU favorit, targetku kemudian meningkat lagi, masuk kampus idaman. Hati kecilku sering bertanya: bisa nggak ya masuk Perguruan Tinggi Negeri lewat jalur SPMB (sekarang, SNMPTN)? Setelah diterima di UI, targetku meningkat menjadi “bagaimana caranya dapat IPK yg oke” kemudian naik lagi menjadi “bagaimana caranya lulus cepat” Dan setelah lulus, target berubah menjadi “bagaimana caranya punya bisnis sendiri sebagai tahap awal menuju financial freedom”

Setelah kerja, selanjutnya punya mobil, lalu apartemen/rumah, lalu ‘menikah dgn orang yg tepat’. Sudah menikah, selanjutnya ‘punya anak’…terus dan teruuuss seperti itu..nggak ada habisnya!

Bahkan kalaupun semua target hidup sudah tercapai, masih ada target yg lain lagi : Bisa nggak ya nanti masuk surga? Bisa nggak ya nanti menjawab pertanyaan malaikat di alam kubur? Bisa nggak ya meninggal dalam keadaan khusnul khotimah?

Beruntung, aku mempelajari ttng itu semua saat kuliah. Ada satu mata kuliah bernama : Tingkah Laku Manusia, chapter Tugas dan Perkembangan Manusia. Simplenya, target hidup seseorang pasti akan cenderung meningkat, sesuai kondisi biopsikososialnya. Apabila seseorang tidak sadar akan kebutuhan dan target yg harus dicapai maka lingkungan dan norma yang akan menyadarkan. Misal : Saat kuliah, orang tua sering banget memberi pertanyaan : Kapan skripsi? Kapan cumlaude? Kapan wisuda? Kapan kerja? Kapan punya pacar? Kapan nikah? Kapan punya anak? Kapan naik haji?

The moral is dalam hidup, hari ini, nanti, atau besok, kita akan dihujani oleh sejuta pertanyaan ‘kapan’ dan akan selalu di hantui dengan yang namanya ‘target’. Jadi, mulai sekarang, jangan takut lagi dengan target dan jangan panik bila target meningkat! Target dan deadline adalah sesuatu yang normal. Tanpa target, tuntutan, ancaman ataupun deadline, hidup akan datar dan bahkan mungkin kita jadi tidak pernah mengeluarkan kemampuan terbaik kita.

Target mungkin membuat kita selalu seperti orang yang dikejar anjing gila tapi secara pribadi, aku bahkan tidak tahu bagaimana orang-orang di luar sana bisa menjalani hidup tanpa adanya target yang jelas. Betapa membosankan hidupnya, karena tanpa tantangan, tanpa target, tanpa deadline, hidup tidak akan ‘seru dan menyenangkan’. Lakukan aja sebaik-baiknya, karena Insya Allah, kita pasti bisa..

Kenapa aku begitu yakin kalau kita bisa memenuhi target apapun itu? Karena selama ini kita sudah membuktikan bahwa kita memang mampu untuk ‘dinaikkan targetnya’. Bukankah sudah terbukti? Kita yang dari lahir dengan target pertama yg sangat simple : belajar merangkak, lalu naik menjadi belajar berjalan, lalu lanjut ke belajar menulis, berhitung, terus dan terus hingga saat ini.

Apapun targetmu, entah itu mencari pekerjaan yg lebih baik, mencari klien, ingin kuliah S2 atau ambil S3, naik jabatan, atau mungkin mencari pendamping hidup yg tepat, just keep up your good work. Jangan menyibukkan diri dengan mengeluh, lakukan sebaik yg kamu bisa karena makin tinggi derajat kemuliaan seseorang maka makin tinggi tuntutan yang harus dilakukan.

Ditantang target? Tantang balik! Karena sesuatu yang sulit itu bukan berarti tidak mungkin bukan?

Keep fighting, see you on top!