0

Pelajaran bernama patah hati

Hey, kamu…

Aku tahu, patah hati itu melelahkan. Pun juga aku tahu, patah hati tak diinginkan. Namun, aku yakin bahwa mereka yg patah hati tak hanya ingin diam lalu mati. 

Mereka selalu mencoba dan mencoba, untuk sembuh dan kembali bahagia. Beberapa berhasil sembuh. Bangkit tertatih-tatih dengan sisa-sisa lukanya. Beberapa butuh waktu lebih lama untuk mengobatinya. Sayangnya, tak sedikit juga yg menyerah. Tenggelam dalam rasa sakit yg kian lama kian menjepit.

Namun, tahukah kau? 

Patah hati itu seperti kanker. Kamu tak cukup hanya mengobatinya, namun harus dioperasi lalu diangkat kankernya. 

Mungkin setelahnya kamu akan merasa sakit dan tak nyaman dalam proses penyembuhan. Namun itu lebih baik daripada mendiamkan, membuatnya menyebar ke seluruh badan lalu mati perlahan-lahan.

Mungkin dalam hatimu, kamu akan berkata : kalau cuma ngomong semua orang juga bisa!

Benar, kamu nggak salah. Akupun pernah patah hati. Berkali-kali. Bahkan dulu aku beranggapan patah hati adalah cobaan atau bahkan siksaan terbesar dalam hidup.

Namun, akhirnya aku sadar, kalau kita tak merasakan patah hati mungkin kita tak akan pernah belajar. 

Belajar buat kuat, bahwa patah hati hanyalah satu dari sekian cobaan  dalam hidupmu. Dan yg harus diselesaikan itu masalahnya, bukan hidup kita. Jangan sampai karena patah hati lalu berpikir untuk mengakhiri hidup. Bukankah kerasnya tempaan yg membuat berlian indah dan mahal?

Belajar untuk sabar. Patah hati itu mirip seperti panas dalam yg datang bersama sariawan dan radang tenggorokan. Ketika dia datang memang menyebalkan tapi ingatlah bahwa itu tak selamanya. 

Patah hati juga mirip badai di malam hari, maka sabarlah untuk menanti damainya pagi. Karena bila kesulitan adalah hujan dan badai serta  kemudahan adalah matahari, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Belajar buat bersyukur. Kita tak akan paham nikmatnya sehat bila tak merasa sakit. Kita tak tahu indahnya bahagia bila tak mengerti apa itu kecewa. Dan, kita tak akan menyadari keberadaan Tuhan bila tak diberi cobaan.

Belajar buat ikhlas. Mungkin kita  berpikir bahwa dialah yg terbaik buat kita. Padahal yg kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan. 

Tak ada yg menyuruhmu untuk buru-buru karena semua butuh waktu. 

Kembali bergerak memang tak mudah. Bahkan ketika kamu sadar untuk segera beranjak membenahi hati yg luluh lantak. 

Awalnya mungkin kamu akan takut. Takut tak bisa melanjutkan hidup tanpanya, takut bila dia menganggapmu tak lagi ada, takut akan kenyataan bahwa sekarang kamu bukan siapa-siapanya, takut lukamu tak kunjung sembuh tanpanya, takut tak bisa menemukan pengganti yg kamu bisa nyaman seperti ketika bersamanya, dan sejuta ketakutan lainnya. 

Tapi percayalah, bahwa apa yg terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Bila kamu sudah bisa ikhlas melepas dan berdamai dengan diri, maka suatu hari kamu akan cerita tentang lukamu saat ini, tentang kisah dibelakangnya, dengan biasa saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Seperti kamu terbiasa menghirup udara. 

Lalu,

kamu akan tersenyum bahagia karena saat itu mungkin kamu telah menemukan penggantinya.

…ingatlah Tuhan disaat lapang, maka Dia senantiasa hadir saat kamu butuh pertolongan…


Postscript :

Apakah kamu merindukannya, dia yg baru saja hilang dari hidupmu? Lalu bagaimana dengan Tuhan, yg bertahun-tahun dilupakan dan baru kembali ketika kamu butuh bantuan? Kabar baiknya adalah kamu tetap bisa kembalilah pada-Nya, karena Tuhan selalu ada bahkan disaat semua orang menghilang.

Advertisements
0

Doa bersama 212. May peace be upon you


Sampai detik ini gue bingung mau nulis apa tentang aksi bela Islam 2/12 kemarin. Kagum dan haru masih tumpah ruah di dada. Islam di Indonesia telah tumbuh dewasa dan bersahaja. 

Rasanya pengin teriak : Gue bangga sebagai umat Islam! Gue bangga sebagai orang Indonesia!

Ketika jutaan umat Islam hadir di satu tempat, bukan untuk mendoakan diri sendiri tapi untuk kebaikan negara dan dunia.

Ketika jutaan umat Islam saling bahu membahu, merapatkan barisan agar acara doa bersama ini berjalan dengan khusyuk, baik, dan tertib. Saling berbagi makanan, minuman, dan sajadah. Saling bantu saat wudhu. Dan pastinya, mereka menjaga kebersihan atas aksi hari ini.

Ketika Allah dan Alquran dilecehkan, jutaan umat Islam duduk bersama bukan untuk menghujat si penista agama, namun kami justru duduk bersama mendoakannya. Ulama tercinta kami, Ustad Arifin Ilham secara khusus mendoakan agar Pak Basuki Tjahaya Purnama mendapat hidayah dari Allah.

Dua dua belas,

Tanggal yg tak akan terlupakan sebagai aksi damai terbesar sepanjang sejarah di Indonesia. Damai, tertib, dan bersih. Tak ada sampah, tak ada pohon yg tumbang, tak ada bangunan atau kendaraan yg dirusak, dan tak ada rusuh atau tatapan permusuhan. Semua tertib. Semua teduh.

Mungkin inilah aksi damai terbesar di Indonesia sepanjang masa.

Mungkin inilah solat jumat berjamaah terbesar di Indonesia dan mungkin juga dunia.

Mungkin inilah aksi damai umat Islam paling tenang, tertib, dan sejuk di dunia.

Pada akhirnya, dunia telah mencatat bahwa Islam di Indonesia adalah contoh Islam yg paling toleran di dunia.

Ketika menjadi minoritas, kami tak berulah. Ketika menjadi mayoritas, kami lembut terhadap minoritas.

Ketika umat Islam sering kesulitan untuk mencari mesjid saat berada di negara yg mayoritas non-muslim tapi di Indonesia, pemeluk non muslim begitu mudah dan bebas beribadah. Tanpa dicaci dan tanpa label agama x-phobia karena kami saling menghormati. Bahkan tak jarang mesjid berdiri berdampingan dengan tempat ibadah lain.

Ingin bukti bahwa Islam adalah agama yg rahmatan lil alamin? Datanglah ke Indonesia. Saksikan dan rasakan bahwa toleransi kami begitu luas dan sempurna.

…karena Islam itu mengajak, bukan menginjak. Islam itu merangkul, bukan memukul. Dan karena Islam saling berbagi dalam damai…


May peace be upon you, amin…


Ps : Oiya, hari ini (4/12) ada aksi tandingan cuma dilabel dengan tema aksi budaya. Gue pribadi sih cuma mau bilang buat mereka yg bikin aksi tandingan, aksi budaya, or whatever they name it,  gini lho, sesuatu yg digerakkan oleh Allah dibanding dengan yg digerakkan oleh uang hasilnya akan sangat berbeda. Mungkin akan sulit dimengerti dengan pikiran, tapi mudah dipahami dengan iman. Karena iman sebenar-benarnya iman tak bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan. Itu aja sih.