0

Cara Mudah Bikin Bukumu Masuk Toko Buku (2)


Apa bukti otentik seseorang bisa disebut penulis?
Yup, penulis harus punya buku dan buku yang baik adalah buku yang masuk toko buku sehingga semua orang bisa menikmatinya.

Jadi kalau kamu penulis tapi bukunya nggak masuk toko buku? Itu mirip kayak kamu bisa mengemudi mobil tapi tak punya SIM, rasanya kurang terlegitimasi.

Namun tak perlu berkecil hati karena kami di sini hadir memberi solusi.

Kami membuka layanan khusus bagi teman-teman yang ingin menerbitkan, mencetak buku, dan masuk ke toko buku sekelas : Gramedia, Karisma, Toga Mas, dan toko buku lain, dengan konsep self publishing – terintegrasi.

Self Publishing Terintergrasi, apa itu?

Self publishing terintegrasi adalah layanan terbit, cetak, dan distribusi buku nasional untuk membuat buku teman-teman terbit sekeren mungkin.

Apa bedanya dengan self publishing lain?

Kami memiliki layanan terlengkap dengan harga kompetitif dan layanan distribusi nasional tanpa perlu mencetak dalam jumlah banyak.

Sekedar informasi, layanan distribusi nasional pada self publishing lain mengharuskan untuk cetak antara 1.000 hingga 3.000 eksemplar.

Dengan kami, teman-teman hanya perlu mencetak sebanyak 200 hingga 1.000 eksemplar.

Apa untungnya buku teman-teman masuk toko buku? 

Banyak!

Pertama, buku teman-teman akan menjangkau dan menginspirasi para pembaca di nusantara, nama teman-teman akan terkenal harum mewangi. Buku teman-teman juga akan memiliki ISBN dan terdaftar secara resmi dalam katalog buku nasional.

Kedua, buku kalian juga memiliki kemungkinan untuk mencetak best seller. Dan, tebak apa yang kemungkinan terjadi berikutnya bila buku kalian masuk best seller nasional? Yup, akan ada kemungkinan buku untuk difilmkan dan masuk layar lebar (bioskop).

Tawaran untuk seminar, bedah buku, hingga talk show dan iklan akan datang menghampiri.

So, langsung aja begini perhitungan sederhana harga tiap buku berdasarkan banyaknya jumlah eksemplar dan halaman.

CETAK >>      200 eks 300 eks 500 eks 1.000 eks
HAL (A5)
0 – 150 hal     16.000 15.500 12.500 10.500
151 – 200         18.900 18.750 16.500 11.700
201 – 250         22.700 22.600 18.000 13.800
251 – 300          26.000 25.900 21.000 15.600
301 – 350           29.500 29.200 23.500 17.700
351 – 500            39.900 39.650 31.000 23.400

KETERANGAN :

Cetak 200 menggunakan sistem POD (Print On Demand).

Cetak 300 ke atas menngunakan sistem cetak offset. Kualitas cetak offset lebih baik dibanding POD.

Harga di atas termasuk biaya distribusi buku ke toko buku.

Harga di atas sudah termasuk jilid dan wrapping plastik.

Harga jual ditentukan oleh pihak penulis.

Harga di atas tidak termasuk ongkos kirim pada pihak penulis bila penulis ingin dikirimkan contoh cetakan.

Proses cetak kurang lebih 7 – 14 hari kerja tergantung banyaknya jumlah cetakan.

Proses distribusi kurang lebih 30 hari kerja setelah proses cetak.

Harga di atas tak terikat dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

SPESIFIKASI BUKU
Kertas : Bookpaper 57,5 gr.
Isi buku Hitam/Putih
Cover : Art cover 230 / 260
Ukuran Buku : 13 x 19 cm atau 14 x 20 cm.

Hubungi kami bila teman-teman memiliki spesifikasi yang berbeda.

DISTRIBUSI TOKO BUKU
Luasnya jangkauan distribusi tergantung pada banyaknya jumlah cetakan.

Satu toko buku biasanya meminta rata-rata 10 cetak buku. Kami menyarankan teman-teman mencetak dalam jumlah di atas 200 eksemplar agar harga produksi lebih murah dan jangkauan distribusi semakin luas.

Penyebaran buku menjadi kewenangan pihak toko buku karena biasanya setiap toko buku memiliki karakteristik konsumen masing-masing.

Berikut daftar distribusi toko buku berdasar jumlah cetak :
200 eksemplar : Karisma
300 eksemplar : Karisma, Toga Mas, Social Agency Baru (SAB)
500 eksemplar : Karisma, Toga Mas, Jendela, Social Agency Baru (SAB).
1000 eksemplar : Gramedia
1.500 eksemplar ke atas : Gramedia, Karisma, Toga Mas, Social Agency Baru, Shopping-Yogyakarta, dan Jendela.

Termasuk penjualan secara online melalui Buku Kita dan Buka Buku.

RABAT KONSINYASI PENJUALAN

Cetak 200 eksemplar, penjualan hanya di Karisma : 50% dari harga jual di toko buku diminta oleh pihak toko buku dan distributor.

Cetak 300 eksemplar, penjualan di Karisma, Toga Mas, Jendela, SAB, Shopping-Yogyakarta : 56% dari harga jual.

Cetak 1.000 eksemplar -> Gramedia : 56% dari harga jual.

Contoh perhitungan rabat :
1. Bila buku hanya dijual di Karisma dengan harga jual Rp 50.000, maka untuk setiap penjualan, 50%-nya atau Rp 25.000 menjadi milik toko buku. Sisanya Rp 25.000 menjadi hak teman-teman.

2. Bila buku dijual di Gramedia, Karisma, Toga Mas, SAB, Jendela dan lainnya dengan harga jual Rp 50.000, maka untuk setiap penjualan, 56%-nya atau Rp 28.000 menjadi milik toko buku. Sisanya Rp. 22.000 menjadi hak teman-teman.

MASA EDAR BUKU
Pada dasarnya masa edar buku bergantung pada penjualan buku tersebut. Bila buku tersebut laris manis, tak menutup kemungkinan buku tersebut akan mendapat permintaan cetak ulang dan masa display di toko buku yang lebih lama.

Namun, bila ada sisa penjualan setelah masa edar, maka buku tersebut akan dikembalikan pada teman-teman selaku pihak penulis. Ongkos kirim retur buku ditanggung penulis.

Berikut masa edar buku berdasarkan toko buku.

Gramedia : 3 bulan.
Karisma, Toga Mas, dan lainnya : +/- 1 Tahun.

PEMBAYARAN

Jika data telah lengkap dan teman-teman menyetujui semuanya, maka pembayaran DP sebesar 70% dari biaya cetak dapat dibayar ke rekening bank BCA atau Mandiri. Sisa pelunasan 30% harus dibayar setelah buku selesai dicetak.

Jadi, sebelum buku didistribusikan ke toko buku maka teman-teman wajib melunasi biaya cetak buku.

CARA PEMESANAN

Mudah, teman-teman cukup hubungi kami dan sertakan data yang diperlukan.
1. Nama lengkap, alamat lengkap, no telp, dan alamat email.
2. Jumlah pesanan (eksemplar), jumlah hal A4 yang nanti akan kami kalkulasikan ke dalam bentuk buku A5, dan finishing yang diinginkan (dove, glossy, dan lainnya)
3. Data penunjang lain terkait teknis percetakan dan penerbitan naskah.

HUBUNGI KAMI
Widy – 0857138888005
Andrea – 08567812386

0

Cara Mudah Bikin Bukumu Masuk Toko Buku


Jujur, ada banyak tulisan bermutu yg bisa didapat dari media sosial. Mulai dari pengalaman spiritual (agama), sosial budaya, ekonomi bisnis, hingga berbagi pengalaman menggunakan produk/jasa tertentu, termasuk beragam tips dan triknya.

Satu hal yg gue pikirkan hingga saat ini adalah sayang banget ya kalo tulisan kalian yg oke punya itu hanya bertahan dalam waktu hitungan jam atau hari, mengingat salah satu sifat media sosial adalah memberikan informasi yang selintas. Artinya, tulisan yg sudah muncul akan tergeser dan terus tergeser oleh tulisan lain yg lebih baru.

Sayang’kan kalo info penting tentang parenting misalnya harus tergeser oleh status galau teman yg teringat mantan ketika hujan?

Gue juga melihat banyak potensi menulis (even beberapa adalah tulisan yg sudah berstandar nasional) namun dibiarkan begitu saja. Padahal mungkin sebenarnya potensi menulis itu adalah berlian yg terpendam. Tinggal sedikit diasah, diberi panggung, lalu kilaunya menakjubkan dunia.

Lalu, otak gue pun berpikir, kenapa nggak dibukukan ya potensi dan tulisan kalian yang keren banget itu?

Mungkin lewat ilmu yg kalian bukukan akan sangat bermanfaat bagi banyak orang dan kelak jadi timbangan pemberat di akhirat.

Bisa berbagi ilmu yg tak lekang oleh jaman. Dan tentu, sebagai penghargaan dan pembuktian pada diri sendiri bahwa kita punya pemikiran yang layak dibagi.

Namun berbagi ilmu, pemikiran dan pengalaman memang harus kita yg memperjuangkan.

Faktanya, menulis skripsi/tesis jauh berbeda dibanding menulis novel fiksi sekalipun. Nilai yang ingin dibagi lebih luas konteksnya karena tak hanya dibaca pihak akademisi/almamater sendiri tapi skala nasional.

Mungkin kalian akan berpikir untuk mencoba mengirim naskah ke major publisher. Tentu itu adalah cara yang umum dan sangat baik. Masalahnya, tak semua major publisher mau menerbitkan buku kita. Ada kriteria tertentu dan perhitungan bisnisnya.

Tak sedikit penulis yg mengirimkan email ke pihak publisher tahun ini, baru dapat balasan email tahun depan. Itupun jawabannya tak jelas apakah naskah diterbitkan atau tidak.

Mostly, jawabannya adalah ‘naskah anda sudah kami terima dan sedang kami pelajari, silahkan tunggu email balasan.’

Mengapa proses di major publisher bisa begitu lama layaknya  menunggu jodoh yg tak kunjung tiba? 

Karena tiap bulan ada ratusan naskah baru yg masuk ke sana. Naskah itu harus dibaca satu demi satu oleh tim editor yg jumlahnya tentu tak sebanding dengan jumlah naskah yg masuk.

Ilustrasinya, bulan Januari naskah masuk 300, editornya tiga orang. Naskah yg bisa diseleksi 100, sisa naskah belum terbaca 200. Bulan Februari naskah masuk lagi 300, editornya tetap tiga orang. Total naskah bulan lalu dan bulan Februari 500 naskah. Dan, semuanya berulang dan kian bertambah tiap bulan. Kebayang gak antriannya kayak apa?

Maka menunggu jawaban dari major publisher itu mirip kayak temen lo yg bilang ‘gue otw yaaah’ padahal dia baru bangun.

Yup, bukan cuma jemuran aja yg bisa digantung. Naskah kalian juga bisa. **curhat.

Major publisher biasanya juga punya kriteria tertentu tulisan apa yang akan mereka terbitkan. Mereka juga melihat latar belakang siapa penulisnya, apakah kalian tergabung komunitas yg bisa mengenjot promosi dan penjualan bukunya. Intinya, hukum pasar dan perhitungan bisnis adalah hal utama.

Lalu, apa solusi termudah dan tercepat?

Mulai April 2017, gue bekerja sama dengan pihak publisher dan pihak lain terkait dunia kepenulisan agar teman-teman bisa menerbitkan buku dan masuk toko buku apapun genre-nya (fiksi atau non fiksi) selama tak menyinggung SARA.

Kami berusaha memformulasikan impian kalian dengan efektif dan efisien.

Kalian akan punya buku sendiri yg ber-ISBN, dipajang di toko buku, terdaftar resmi di perpustakaan nasional, nama kalian terkenal dan harum mewangi hingga pelosok negeri.

Dengan buku maka nilai, pemikiran, dan pengalaman kalian akan jadi inspirasi bagi banyak orang dan pahala mengalir dunia akhirat. Keren’kan?

Maka, kami menawarkan konsep self publishing-terintegrasi. Siapapun bisa jadi penulis, menerbitkan buku, dan bukunya dijamin masuk toko buku dengan biaya seefisien mungkin.

Bedanya dengan pihak self publishing lain adalah buku kalian pasti terbit, masuk toko buku, dan tanpa perlu mencetak buku dalam jumlah banyak.

Sekedar informasi, standar cetak nasional itu 3.000 hingga 5.000 eksemplar. Dengan kami, kalian cukup cetak antara 200 hingga 1.000 eksemplar saja. Resikopun lebih kecil karena biaya cetak yg lebih sedikit.

Selama proses pracetak hingga buku ter-display, kalian juga bisa ikut serta mulai mempromosikan karya kalian.

Bagaimana dengan hasil penjualan? 

Hasil penjualan 100% jadi milik kalian. Tentu setelah dikurangi pajak dan perhitungan lain yg berhubungan dengan pihak toko buku. Kami tak ambil sepeserpun.

Kalian hanya perlu membayar biaya cetak saja. Yup, bayar biaya cetak saja, bukan harga jual.

Tambahan biaya hanya dikenakan bila terkait dengan layanan teknis tambahan saja, itupun bila kalian mengambil layanan tambahan, seperti editing, proof read, layouting, cover, dan ISBN.

Bagaimana dengan harga jual? 

Lagi-lagi kami memberi kebebasan bagi kalian untuk menentukan harga jual buku sendiri.

Misal : biaya cetak 15 ribu rupiah maka adalah hak kalian untuk menjual dengan harga 50 ribu, 60 ribu atau bahkan 70 ribu rupiah.

Paling, kami hanya memberi saran dan masukan tapi keputusan menentukan harga tetap pada kalian.

Dan, yang menyenangkan lagi bila kalian tak mau ribet dengan semua proses pracetak seperti editing, proof read, layouting, cover, dan pengurusan ISBN, kalian bisa menyerahkan pada kami dengan biaya terbaik.

Bagaimana dengan biaya distribusi buku ke toko buku?

Biaya distribusi buku kalian ke seluruh toko buku di Indonesia pun menjadi tanggungan kami.

Jadi, siapapun kamu yg ingin berbagi ilmu dan memiliki naskah, apapun naskahnya, entah fiksi atau nonfiksi, dan ingin dibukukan, diterbitkan, dan didisplay di toko buku sekelas Gramedia, Karisma, atau Toga Mas sepulau Jawa, Bali atau bahkan seluruh Indonesia, jangan sungkan untuk hubungi.

Just feel free to contact us

Widy – 085713888005

Andrea – 08567812386

0

Move on, its about mindset.

“Gimana ya, Ndre cara buat melupakan mantan? Gue tau gue harus move on tapi ntahlah, coba kasih gue satu alasan kenapa gue harus melepasnya…”

Tinggal beberapa hari lagi akan memasuki 2017 dan kata-kata itu meluncur lemah dari mulut seorang teman, ketika terakhir kali kami bertemu dibilangan  Tebet, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia bukanlah teman dekat namun karena dia pernah membaca tulisan yg gue share di buku karya sahabat gue dengan nama pena profesor cinta yg berjudul ‘Pacaran Mulu, Kapan Putusnya’, maka seketika itulah dia menghubungi untuk bertanya, bagaimana cara efektif untuk move on. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Pagi, siang, dan malam, dia sering menghubungi untuk mencurahkan betapa hancurnya perasaannya saat itu.

Guepun hanya duduk manis dan sabar mendengarkan. Why? Karena gue pernah ada di posisinya. Actually, hampir semua orang tau apa yg seharusnya dilakukan setelah patah hati, yakni benahi hati dan pikiran lalu segera move on.

Namun, move on adalah sebuah kata yg mudah dilakukan bila otak dan hati sedang benar.

“…Kita putus ya… ”

Pertama kali mantan gue bilang ‘kita putus’ itu rasanya kayak lagi dibius lokal. Gue paham maksudnya tapi hati ini bingung memahaminya.

Hingga keesokan paginya gue bangun dan baru sadar bahwa dia bukan milik gue lagi. Nggak ada lagi telepon, mention, atau chat yg biasanya menyapa di pagi hari.

Nggak ada lagi perhatian berupa pertanyaan : kamu sudah makan? Atau kalimat-kalimat singkat sarat makna kayak : hati-hati di jalan, ya sayang. 

Dan malamnya, tak ada lagi obrolan ringan, ucapan sayang atau rindu, walau saat itu rindu adalah satu-satunya hal yg membuat gue diam membatu.

Putus cinta membuat dunia seakan hening. Tampak ramai di luar sana tapi begitu sepi di hati.

Beberapa hari setelah putus, rasanya semua serba membingungkan. Mau bilang rindu tapi dia sudah hilang, tapi kalo nggak bilang, pikiran gue melayang-layang.

Hati berkata, ambil hplo dan bilang bahwa lo butuh dia. Namun, otak mencegah dengan kalimat : Nyet, lo itu bukan siapa-siapanya lagi! Dan hp-pun kembali teronggok di sudut meja.

Putus juga membuat badan terasa asing. Fisiknya sehat tapi jiwanya lunglai. Semua syaraf seakan gagal bekerja.

Malas makan karena sama sekali tak terasa lapar. Malas bergerak karena memang seakan dunia begitu lambat bergerak.

Parahnya, responpun ikut melambat. Butuh beberapa waktu hanya untuk menjawab pertanyaan, Ndre, are you okay?

Yes, perasaan nelangsa gitu pernah gue alami. Tapi gue di sini bukan untuk menambah menye-menye atau bikin kalian yg baru putus jadi tambah menderita. Gue akan coba share, langkah awal apa untuk move on dan alasan kenapa lo harus move on.

Mungkin sebagian akan setuju dengan pemikiran gue, sebagian akan menolak, dan sebagian akan berpikir ulang. Its fine, karena semua orang punya pengalaman dan solusi yg berbeda.

Oke, here goes…

Move on harus diawali dengan  membenahi pikiran karena salah satu hal yg bikin semua jadi ribet disebabkan oleh mindset/pola pikir yg salah.

Pola pikir lo selalu berkata bahwa lo cinta, rindu, dan inginkan dia karena cuma dia yg selalu ada. Lo akan mati tanpanya. Jadinya? Ya, mati beneran!

Gue paham memang sulit ‘melupakan’ orang yg kita sayang. Tapi pahami bahwa itu menjadi sulit karena kita selalu mengenang kebiasaan.

Kita terbiasa dengan hadirnya,  suaranya, candanya, sikapnya atau hal-hal menyenangkan ketika kita sedang bersamanya, dan ketika dia hilang, seakan ada yg lenyap dari diri kita.

Trus gimana cara buat melupakan mantan?

Nah, ini dia kesalahannya. Gini, semua indera manusia itu didesain untuk merekam dan mengingat setiap moment dalam hidup.

Secara sistemik, hampir semua orang yg pernah masuk dan berinteraksi dalam hidup lo, akan lo ingat.

Contoh, mungkin lo udah bertahun-tahun lulus sekolah tapi ketika reuni mungkin lo akan kembali mengingat moment-moment ketika dulu bersama temen-temen lo. Ketika lo dimarahi guru, cabut kelas, atau nyontek bareng-bareng, semua tiba-tiba teringat kembali.

Jadi, belajar dari situ maka usaha lo untuk melupakan mantan adalah hal yg sia-sia. Kecuali lo tiba-tiba kejatuhan gapura selamat datang dan jadi lupa permanen ya itu lain lagi ceritanya.

Terus gimana dong? 

Kita memang nggak tau siapa jodoh kita ke depan tapi bila untuk balikan adalah hal yg mustahil maka tak perlu memaksa mengemis minta balikan.

Lo juga nggak perlu melupakannya kok, yg lo harus lakukan adalah menetralkan perasaan lo ke dia.

How? 

I told you, its all about mindset.

Pertama, positive thinking. Gue tau ini susah tapi cobalah untuk berpikir positif.

Datang dan perginya seseorang dalam hidup adalah hal yg normal. Kita pasti pernah berpisah atau kehilangan seseorang. Mungkin karena beda pilihan, beda sudut pandang,  atau karena maut memisahkan.

Sekarang coba ingat deh, sebelum dia masuk dalam hidup lo, dia bukan siapa-siapa. Sebelum kenal dia, lo bisa hidup tanpanya. Maka, yakini bahwa hari ini, tanpanya lo pasti bisa melanjutkan hidup. Pasti!

Kedua, definisikan kembali apa itu mantan dan kenangan. Beberapa waktu setelah putus, yg ada hanyalah kenangan, dan itu nggak salah. Sekali lagi itu normal. Lo akan sering mengingat bagaimana dia berkata, bertindak, dan membuat lo menjadi sangat nyaman bersamanya. But the question is, kalo sayang dan sudah nyaman, kenapa bisa jadi mantan?

Sadari bahwa semua terlihat manis karena yg lo ingat hanyalah kenangan yg manis. Memang dia pernah bikin nyaman namun pernah bikin nyaman bukan jadi alasan untuk balikan.

Coba ingat kembali every single moment yg membuat kalian akhirnya memutuskan untuk berpisah. Pertengkaran? Jarak? Ego? Beda agama? Pihak ketiga? Atau memang pada dasarnya salah satu pihak sudah kehilangan komitmen untuk bersama.

Ketiga, look around. Ada banyak yg single, baik, cakep, dan tentunya memiliki kemungkinan untuk membuat lo lebih nyaman di luar sana. So, kenapa harus membatasi pikiran bahwa hanya dia yg bisa bikin lo bahagia?

Ada milyaran manusia di muka bumi dan kita berhak untuk bahagia. Mungkin saat ini lo sedih kehilangannya, namun di masa depan mungkin lo akan bahagia karena berani melepaskan dan mendapat penggantinya, yg jauh lebih baik.

Keempat, kenangan tentang mantan mungkin akan memakan dan mengorbankan banyak hal. Sadar gak, efek buruk apa yg terjadi kalo lo kebanyakan inget mantan? Yup, hidup lo jadi berantakan.

Lo bakal sedih lagi. Lo bakal galau dan nangis dipojokan kamar mandi. Mata lo bakal sembab, jerawat betebaran, dan gangguan pencernaan karena telat makan. Jadinya apa? Lo bakal jadi jelek dan penyakitan! Sedangkan dia mungkin sedang hahahihi dengan gebetan barunya… *uups*

Belum lagi kerjaan jadi nggak beres, dan orang lain akan menilai lo sebagai pihak yg tidak profesional. Menyedihkan bukan? Sedih boleh tapi jangan kelamaan.

Dunia ini luas dan ada banyak hal menyenangkan menunggu di depan. Satu jam lo sedih means lo membuang 60 menit secara sia-sia. Artinya lo kehilangan 3.600 detik kemungkinan-kemungkinan lain untuk bahagia.

Kalo lo ngeyel dan bilang ah, sejam mah sebentar, hhmmm baiklah coba lo itung angka 1 sampai 3600, dijamin ‘bleber’ bibir lo hehehe.

Kelima, lo bukan satu-satunya. Sadari bahwa patah hati dialami oleh hampir tiap jiwa yg memiliki cinta. Bahkan kucing gue pernah patah hati!

Sadari bahwa putus adalah satu dari sekian banyak masalah yg ada dalam hidup. Dan sadari bahwa ada banyak masalah atau rintangan yg lebih pelik menghadang di depan. So, buat apa bikin semua tambah rumit?

Keenam, mata dan kaca. Tau nggak kenapa Tuhan meletakkan kedua mata di depan? Tau nggak kenapa kaca depan mobil selalu lebih besar daripada kaca spion? Agar kita lebih fokus ke depan dibanding melihat ke belakang!

Ketujuh, ikhlas. Semua yg terjadi itu sudah digariskan. Semua itu ada masa berlakunya. Kalo hubungan kalian berakhir ya berarti memang saat-saat kalian untuk bersama memang sudah habis.

Percaya deh, baik buruk yg Allah kasih ke kita pasti tetap yg terbaik, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Suatu hari akan terjawab, kenapa kita lebih baik hidup tanpanya. Suatu hari akan terjawab siapa tulang rusuk kita sesungguhnya.

…Cinta tak hanya mengajarkan untuk berbagi bahagia tapi juga menguatkan kita meski dia tak lagi bersama. Karena hidup berarti melangkah ke depan, bukan stagnan meratapi yg telah hilang…


Benahi diri dan bersiaplah untuk jatuh cinta lagi.


Ps : Ada yg mau curhat atau nambahin tentang move on? Just feel free ya.