0

Mendulang Recehan Dari Mereka Yang Lebaran


Iseng-iseng nulis beginian gegara beberapa hari lalu ngobrol ngalor ngidul di kedai kopi sama teman dan ending-nya jadi bahas tentang momen lebaran. 

Yup, nggak terasa sebentar lagi lebaran dan yang namanya lebaran tidak hanya identik dengan meningkatnya kolesterol tapi juga  membengkaknya pengeluaran. 

Beberapa orang mungkin akan mengandalkan THR tapi faktanya, THR yang didapat itu mirip kayak  uang numpang lewat. Lo memang dapet THR, tapi kenaikan harga saat lebaran selalu berbanding terbalik dengan THR yang lo dapet.

Fakta lainnya, nggak semua orang dapat THR, salah satunya gue. Yes, gue cuma bisa melengos iri ketika melihat orang lain hahahihi dapat THR. Boro-boro dapat THR, yang ada gue malah keluar duit ekstra buat bayar THR karyawan gue.

Jadi, lewat momen lebaran, otak  harus berpikir keras gimana caranya bisa dapat uang dari mereka yang liburan, secara halal tentunya. Dan, selama perjalanan pulang dari kedai kopi, pikiran gue melayang-layang buat mendulang recehan dikala lebaran.

Guys, lebaran itu nggak harus berarti ‘lebih besar pasak daripada tiang‘. (Sebenarnya) lo tetap bisa kok punya pemasukan tambahan, hanya saja memang dibutuhkan sedikit pengorbanan.  

Berhubung artikel usaha sampingan selama ramadan udah banyak, so, inilah beberapa ide gue tentang usaha yang bisa lo lakukan selama libur lebaran yang tahun ini cukup panjang. 

Ide ini bisa dilakukan as simple as you can. Beberapa bahkan hanya bermodal ‘jaga kandang’.

 Penitipan Hewan

Guys, pernah kebayang nggak ada berapa pecinta hewan di kota tempat lo tinggal yang tahun ini mudik ke kampung halaman? Entah mereka yang piara kucing, anjing, burung, ayam, ayam kampus hingga hewan piaraan nyeleneh kayak tarantula. Nah, itu bisa jadi ladang bisnis bagi lo yang mengerti tentang seluk beluk dunia binatang bertajuk : jasa titip rawat hewan peliharaan.

Buat lo yang paham dunia hewan bisa menjadikan rumah lo sebagai tempat sementara penampungan hewan. Makin luas tempat/ruang/pekarangan makin banyak hewan yang bisa dititipkan. Mulai dari kucing, anjing, ikan, burung, ayam hias, kelinci, marmut, dan lainnya.

Salah satu hal yang harus diperhatikan adalah kebersihan kandang dan tercukupinya kebutuhan makan hewan tersebut.  Tentang kadangpun jangan khawatir karena pemilik hewan diharuskan membawa kandang/tempat pada lo. Biasanya mereka sudah punya kandang portabel untuk membawa hewan kesayangan jalan-jalan.

Makanannya bisa dibawakan oleh pemilik atau lo yang sediakan. Tentu bila makanan dari pihak lo, ada ekstra tambahan biaya.

Kalau satu hewan misalnya kucing atau anjing, dikenakan tarif Rp 50 ribu rupiah/hari, maka selama 6 hari aja (23-28 Juni 2017), lo bisa dapat 300 ribu/hewan/klien. Bayangin kalau lo punya 10 – 20 klien, uangnya lumayan buat menambah pundi-pundi tabungan atau bahkan have fun setelah lebaran. 

Jadi, saat orang lain bingung kehabisan uang setelah lebaran, lo masih bisa liburan ke Jerman selama sebulan. Tentu setelah ditambah uang deposito orang tua lo yaah…

 Penitipan Kendaraan

Pertumbuhan kelas menengah di Indonesia cukup signifikan. Ada banyak kelas menengah (dan atas) yang punya kendaraan lebih banyak dibanding jumlah anggota keluarganya  meski mereka mengeluh terkena pajak progresif. Tak sedikit juga yang punya kendaraan tapi tak punya garasi.

Faktanya, tak semua pemilik kendaraan menggunakan kendaraannya untuk libur lebaran. Tak sedikit pemudik yang memilih menggunakan moda transportasi umum, seperti pesawat, kereta, atau bus karena destinasinya adalah luar pulau atau bahkan luar negeri. Nah, di sinilah peluangnya : Jasa penitipan kendaraan bagi mereka yang liburan agar kendaraan kesayangan tetap aman.

Apa aja yang perlu lo lakukan? Simple, cukup intip garasi sekarang. Kalau lo melihat ada space garasi berlebih? Sewain aja! Kalau satu mobilnya per hari dikenakan biaya penitipan sebesar Rp 100 ribu rupiah, maka dalam masa cuti bersama, paling nggak lo dapat Rp 600 ribu rupiah per mobil. 

Bayangin kalau garasi lo segede Grand Indonesia, beeeeh dari hasil titip mobil aja, tiap lebaran lo bisa beli mobil baru hehehe.

Lalu, gimana kalau garasi lo kecil? Lo bisa buka jasa penitipan motor. Satu motor dipatok 50 ribu/hari juga udah lumayan, bukan?

Gimana kalau nggak punya space garasi? Tenang, lo masih bisa kerjasama dengan  temen/kerabat yang punya space garasi berlebih. Hasilnya lo bagi dua sama dia. Dia punya tempat + lo punya ide ini = klop! 

Tinggal lo tambah jasa cuci mobil/motor gratis saat  kendaraan akan diambil oleh klien, dijamin lebaran berikut, 2018, konsumen bakal menitip kembali kendaraannya di rumah lo.

Kenapa gue yakin bisnis penitipan kendaraan akan berjalan? Karena masa lebaran juga adalah masa yang rawan. Tak sedikit, mereka yang setelah mudik dan ketika pulang ke rumah pingsan mendapati kendaraannya sedang ‘dibawa jalan-jalan’ oleh pihak yang tak dikenal.

Pemilik kendaraan mungkin memiliki asuransi tapi tau sendiri dong ngurus asuransi kehilangan kendaraan seribet apa? Mereka yang cerdas dan tak ingin ribet pasti akan merogoh sedikit  koceknya daripada terjadi hal-hal yang tak diinginkan.

 Penitipan Gawai.

Mungkin nggak sih semua gawai, atau dikenal juga dengan sebutan gadget, bakal lo bawa pas pulang kampung? Paling yang dibawa cuma hp, kamera, tablet, dan power bank. Nah, nggak lucu kan saat pulang ke rumah setelah liburan dan lo mendapati kenyataan bahwa Macbook Pro Retina Display dan Canon EOS 1D Mark III kesayangan lo lagi ‘dipinjem’ maling?

So, jasa penitipan gawai adalah ladang bisnis yang juga tak kalah menggiurkan, apalagi gawai nggak makan tempat bukan? Kamar/gudang lo juga cukup buat jadi ‘lahan parkir’ buat beragam gawai.

 Katering

Apa yang diperlukan ketika  pembantu mudik dan para kerabat datang berbondong-bondong, serta perut harus tetap kenyang? Jawabannya makanan! 

Nah, buat lo yang punya skill masak tingkat dewa, bisa mulai dari sekarang sounding ke tetangga. Kasih tahu mereka kalo lo buka usaha katering saat lebaran.

Tentunya, keterampilan membuat makanan khas lebaran atau makanan yang biasa muncul saat arisan kayak rendang, opor ayam, sup/soto ayam, ketupat, lontong sayur, lalapan, dan kawan-kawan, sudah pasti wajib lo kuasai.

 Laundry

Masa-masa libur lebaran adalah masa bagi sebagian orang harus pedekate lagi sama mesin cuci, setrika, sapu, dan kain pel. Yes, nggak sedikit yang merindukan asisten rumah tangga ketika lebaran, gue pun sangat merasakan kehilangan asisten rumah tangga salah satunya ketika momen libur panjang seperti ini. Di sini, lo bisa menyediakan jasa cuci baju bagi mereka yang ogah ribet tatap muka dengan Rinso dan kawan-kawan.

 Sewa Kendaraan.

Hal wajib yang dilakukan orang ketika lebaran adalah silahturahim, dan silahturahim ke selain tetangga, tentu butuh kendaraan. Nah, lo bisa sewain mobil atau motor lo bagi kerabat yang membutuhkan.

Biaya sewa kendaraan pun juga lumayan karena hampir semua pihak rental menaikkan biaya sewa hingga dua kali lipat atau bahkan lebih. 

Saran gue sih, nggak usah naik dua kali lipat, cukup 50% di atas biaya normal juga udah lumayan kok. Atau, kalau  pemasukan mau lebih oke, lo bisa jadi supirnya, karena biaya sewa kendaraan dan supir itu terpisah. Tapiiii, lo juga kudu harus hati-hati memastikan pihak yang menyewa kendaraan lo adalah pihak yang terpercaya. Ya, nggak lucu aja kalau lagi nyetir terus ditodong dan diturunin di tengah jalan hehehe

 Pulsa Elektrik

Bayangin jutaan orang libur serentak dan liburnya lamaaaa! Termasuk mereka yang biasanya jualan pulsa. Kebayangkan target pasar lo bakal lumayan karena pengguna provider jaringan telekomunikasi prabayar jumlahnya masih lebih besar ketimbang pascabayar.

Lo mungkin bertanya “tapi’kan kalau mau jualan pulsa itu ribet karena mesti daftar ke distributor pulsa macam M-Kios dan kawan-kawan?” No! Gue nggak nyuruh lo ribet. Cukup modal M-Banking, lo bisa mulai jualan pulsa. Lewat M-Banking lo bisa transfer isi pulsa ke orang banyak. Pembeli offline bisa langsung bayar cash dan pembeli jarak jauh bisa bayar via transfer ATM.

Mungkin lo bakal bertanya lagi, “tapi kan pembeli online bisa beli sendiri via M-Banking?” Bener banget, tapi pemilik rekening bank yang sudah mengaktifkan M-Bankingnya belum banyak. Pembeli yang punya ATM/ M-Banking dan nggak tau cara beli pulsa via ATM/ M-Banking juga banyak. Di sinilah pasar lo.

 Pacar sewaan.

Jangan kotor dulu pikirannya, ini bukan tentang jasa prostitusi. Bahkan, sebenarnya jasa ini sudah cukup lama ada. Jasa ini cocok buat mereka yang tiap lebaran pusing ditanya ‘kamu kapan nikah?’ dan nggak punya cukup nyali buat balik bertanya ‘kamu kapan mati?’ pada kerabat yang sengaja banget minta dibacain surat yasin.

Hanya yang perlu digaris bawahi jasa ini akan lebih cocok buat lo yang punya penampilan oke, perilaku matang, dan pola pikir yang luas. Why? Biar saat diajak ngomong sama keluarga klien, lo tetap bisa nyambung. Ya, kali aja tahun ini jadi pacar sewaan, akhir tahun udah duduk di pelaminan?

Yup, sekian beberapa ide dari gue. Semoga lebaran nanti bukan cuma badan yang jadi lebar-an karena makanan, tapi dompet pun bisa ikut melebar.

Kalau ada yang mau share silahkan. Buat yang masih ragu-ragu silahkan dipikir ulang, karena ide ini muncul murni dalam perjalanan pulang dari kedai kopi. 

Gue cuma sekadar berbagi ide, kalau kalian bisa melakukan konsep ATM – Amati, Tiru, dan Modifikasi sehingga bisa melahirkan ide lain, itu malah bagus. Tandanya ada jiwa wirausaha dalam diri kalian.

Namun, buat kalian yang butuh tambahan uang tapi masih gengsi-gengsian, nih gue bilangin : Gengsi nggak bisa dipakai buat bayar tagihan makan di Table8, Mulia, Senayan atau sekedar buat nyoba pengalaman omakase di Sushi Ichi, The Pullman, Jakarta bareng pasangan. Gengsi juga nggak bisa dipakai buat beli mobil biar anak istri lo nggak kehujanan di jalan.

Terima kasih. Danke Schon. Hatur nuhun.

Advertisements
0

Menuju 1%

Secara global, hanya 11% penduduk dunia, campuran antara orang kaya, super kaya, dan ultra kaya,yg menguasai 89% kekayaan global.

Adapun jumlah orang ultra kaya di dunia hanya sekitar 141.000 orang dan setengahnya berdomisili di benua Amerika.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ternyata 1% penduduk yg menguasai hampir setengah kekayaan di Indonesia. Hal itu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketimpangan ekonomi ke 5 di dunia.

Itu sih fakta yg beberapa hari lalu gue lihat sekilas di televisi.

Apakah itu adil?

Hhmmm…gue nggak akan membahas apakah itu adil atau nggak, tapi gue harus memastikan cepat atau lambat nama gue akan ada dalam daftar orang-orang yg 1% tersebut.

Gue paham bahwa diantara mereka memang ada yg terlahir kaya. Namun, tak sedikit yg berjuang dari bawah dan mereka bisa!

Prinsip gue, kalo orang lain bisa, kenapa gue nggak? Kalo orang lain mampu dan gue nggak, tentu masalah ada dalam diri gue. Bukankah mereka sama-sama makan nasi? Bukankah mereka sama-sama lahir dari bayi? Bukankah mereka diberi waktu yg sama?

Satu hal yg jelas, mereka yg sukses adalah mereka yg kreatif, tak gampang menyerah, dan selalu bergerak maju. Mereka tak menyalahkan keadaan tapi mempelajari keadaan. Mereka jarang mengeluh apalagi menghujat orang lain atau pemerintah, mereka selalu beradaptasi dan memperbaiki diri.

So, do something and stop complaining! 

“…Karena mengeluh dan menyalahkan orang tak akan menghasilkan apa-apa. Benahi diri dan bersiaplah untuk melesat lebih cepat lagi!” -@andreajuliand

0

Mau banyak, banyak mau


Actually, ini hanya bentuk ketidakjelasan gue yg lagi punya banyak mau.

Mau lanjut sekolah bisnis. Mau belajar piano. Mau les bahasa jerman. Mau latihan biliar lagi. Mau ajak temen-temen bikin shelter masing-masing di rumahnya buat kucing/anjing yg homeless.

Tapiiii, ya gituuu, semua baru sekedar mau hehehe

A couple days ago, gue menyempatkan main ke 7languages. Tanya-tanya ttng les bahasa Jerman dan mau ambil kelas foundation alias kelas paling basic karena bahasa Jerman gue ya gitu deh… Tapi ternyata, waktunya nggak ada  yg pas sama jadwal gue.

Gue juga lagi menimbang-nimbang lanjut sekolah lagi dan pengin ambil bisnis entah di Sekolah Bisnis Manajemen ITB atau Fakultas Ekonomi Bisnis UI. Dan sekarang? Juga masih tahap pikir-pikir hehehe.  Jangan sampai gelar bertambah tapi manfaat buat diri sendiri dan orang lain nggak nambah. Buat apa kalo cuma sekedar gengsi karena gue nggak butuh gengsi.

Terus, gue juga lagi kepikiran buat les piano atau saksofon. Kenapa? Karena musik bisa menyeimbangkan otak gue yg memang kiri banget.

Tes psikologi metode stifin, gue adalah tipikal kepribadian thinking. Alias manusia yg logis, konkrit, dan dominan penggunaan otak kirinya. Some people says otak gue dua. Satu di kepala, satu lagi di  hati. Hati gue? Lagi cuti sambil makan gaji buta.

Tes MBTI? Hasilnya juga nggak berubah. Gue tipikal ESTJ, yg lagi-lagi ada huruf T dan J. Alias tipikal thinking dan judging.

Itulah kenapa gue butuh some arts buat menyeimbangkan otak. Itu juga alasan kenapa gue menulis novel. Biar otak kanan nggak kebanyakan bengong.

Gue juga pengin latihan biliar lagi, karena salah satu hobi gue jaman masih kuliah itu kalo nggak ngebut ya biliar. Keduanya saling mendukung. Ngebut membuat gue harus memutuskan segala sesuatu dengan cepat dan biliar melatih  untuk berpikir tiga langkah ke depan dgn lebih cermat dan hati-hati.

Shelter? Nah kalo yg ini udah jalan. Kucing gue cuma seekor tapi tiap malam minimal ada empat ekor kucing yg setia menunggu gue pulang ke rumah buat meminta jatah makan malam.

Selain empat ekor tadi, gue juga punya empat ekor kucing tambahan yg biasanya nemenin ketika lagi jalan ke warteg terdekat buat beli ikan cue/kembung/tuna/tongkol buat makanan mereka. Rasanya seru aja, jalan kaki malem-malem dan ditemenin sama beberapa kucing sekaligus. You must try hehehe.


Biasanya gue beli dua ekor ikan siap saji kemudian  dipotong jadi beberapa bagian sambil gue bersihkan sebagian durinya. Jadi pas dikasih ke kucing, durinya sudah tak terlalu menggangu.

Ide tentang shelter ini sebenarnya bukan ide baru karena beberapa kali pernah gue share dan seorang perempuan baik hati yg tinggal di Uranus sana, sudah menyediakan rumahnya sebagai shelter buat kucing-kucing homeless. Jangan bayangin kucing jalanan yg dia adopt itu jelek lho karena kucing jalanan piaraannya sekarang nggak kalah sama kucing ras. Beberapa kucingnya itu bahkan divaksin!

Harapan gue semoga makin banyak orang-orang baik hati di luar sana yg menyisihkan sebagian rejeki pada hewan-hewan malang tersebut.

Buat kalian yg baca tulisan ini, sesekali coba deh sisihkan potongan kepala ikan/ayam buat kucing/anjing yg kalian temui.

Gue tau bahwa nggak semua orang adalah pencinta hewan tapi imagine kalo langkah kecil inilah yg akan menjadi jalan mulus kalian menuju surga nanti.

Kucing/anjing yg kelaparan mungkin nggak akan bisa membalas kebaikan kalian secara langsung tapi mungkin mereka akan mendoakan kalian siang dan malam, melebihi siapapun.

Itu aja sih…

0

Bikin buku yuk!

Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Lalu, apa yang nanti akan kita tinggalkan? Apakah hanya tinggal tulang belulang lalu hilang? Apakah hanya meninggalkan kenangan yang kita pun tak tau sampai kapan kita dikenang?

Manusia dikenal bukan karena hartanya tapi karena ilmu dan karyanya. Apa karyamu? Sudah berdampakkah kebaikanmu bagi banyak orang? Dan, salah satu cara berkarya sekaligus berbagi ilmu adalah lewat buku.

So, what are you waiting for? Yuk, bikin buku dan bukukan hasil karyamu agar berdampak bagi kebaikan banyak orang.

Buku?

Buku? Mungkin itu yang ada di pikiranmu pertama kali mendengar ajakan berkarya lewat buku. Namun, pernahkah kamu berpikir, apa jadinya dunia tanpa buku?

Tariklah garis ke belakang. Tanpa buku, akankah kau mengenal Tuhanmu, karena semua hal tentang-Nya tertulis dalam buku bernama kitab suci? Tanpa buku, bagaimana para penemu dulu menyimpan segala informasi tentang penemuannya yang menguncang semesta dan akhirnya bisa turun-temurun hingga dirimu bisa mengetahui dan menikmati? Tanpa buku, akankah kau mengenal sejarah, budaya, bangsa dan negara tempatmu kini berpijak?

Kenapa harus menulis buku?

Adakah yang masih tahu atau ingat siapakah nama buyutnya kakekmu? Adakah yang tahu bagaimana silsilah nenek moyangmu hingga sampai ke dirimu? Dan yang terpenting, apakah kamu tahu apa saja hal terperinci dan hasil karya nenek moyangmu yang membuatmu bangga?

Coba bayangkan pertanyaan di atas nanti kau berikan pada cucu atau cicitmu kelak. Tanpa buku, mungkinkah ia mengingatmu? Tanpa buku, mungkinkah ia tau tentang asal usul silsilah keluarganya?

Mungkin kamu berpikir, lalu apa untungnya buku untuk masa kini?

Baiklah, mari kita beranjak sejenak lebih jauh…

Pernahkah kamu mendengar ungkapan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama?

Apakah kamu ingin ilmu dan pemikiranmu dibaca, diketahui, dan diaplikasi oleh banyak orang?

Apakah kamu ingin kesuksesan bisnismu dicontoh banyak orang sehingga memberi dampak positif bagi kemajuan bangsa?

Apakah kamu ingin berbagi tips agar karier berkembang pesat?

Dan, apakah kamu ingin personal branding-mu meningkat pesat?

Apapun profesimu, entah sebagai pengusaha, artis, politisi, karyawan, trainer, motivator, peneliti, guru, dosen, ataupun ustad, kamu bisa berbagi sekaligus berinvestasi jangka panjang lewat buku. Perkuat personal branding dan bargain position diri melalui buku  yang berguna untuk lompatan karir, bisnis, hingga masuk ke ranah politik. Ingat, semua ilmu dan informasi yang kamu tulis lewat buku, tak hanya berguna bagi dirimu tapi juga berdampak positif bagi orang lain.

Lihatlah bagaimana seorang motivator seperti Tung Desem Waringin sukses memotivasi jutaan orang lewat bukunya yang berjudul Financial Revolution?

Lihatlah bagaimana Merry Riana membakar semangat berbagi tentang pengalaman masa mudanya melalui buku Mimpi Sejuta Dolar?

Atau, lihatlah bagaimana Chairul Tanjung, si anak singkong, bercerita tentang pengalaman hidupnya from zero to hero lewat buku yang berjudul Si Anak Singkong?

Dan, lihatlah ketika sebuah buku karya Andrea Hirata sukses memajukan wisata dan ekonomi Bangka Belitung, lewat karyanya yang fenomenal, novel Laskar Pelangi?

Mengapa harus dalam bentuk ‘Buku’?

Sebagai cara untuk meningkatkan personal branding sekaligus berkarya dan berbagi ilmu, buku merupakan media yang efektif dengan biaya yang jauh lebih efisien. Bandingkan bila kamu beriklan satu halaman di koran nasional yang menghabiskan dana ratusan juta hingga milyaran rupiah namun hanya memiliki nilai efektifitas selama satu hari.

Buku? Pernahkah kamu melihat tanggal kadaluarsa dalam sebuah buku?

Secara fisik, buku juga lebih nyaman dipegang dibanding koran ditambah fakta bahwa  isi sebuah buku jauh lebih dalam dan terperinci karena tak dibatasi halaman. Kamu bisa menuliskan apapun di dalamnya, entah itu tentang diri, ilmu, atau bisnis atau perusahaanmu.

Selain itu, ketika sedang mengadakan acara-acara tertentu, seperti talk show, buku bisa dijadikan souvenir atau barang pemberian yang prestisius untuk kerabatmu.

Sekarang, apakah kamu tertarik untuk membuat buku namun ada pertanyaan yang mengganjal pikiran?

“Ingin buat buku tapi tak punya waktu?”

“Ingin berbagi ilmu dan pengalaman tapi bingung cara menuangkan ke dalam bentuk tulisan?”

“Ingin menulis buku tapi tak tahu tata cara menulis sesuai kaidah standar penulisan?”

“Punya segudang pengalaman dan motivasi tapi tak memahami bagaimana cara menerbitkan buku secara nasional?”

Tenang, karena di sini saya tak hanya menularkan semangat untuk berbagi namun juga memberi solusi.

Cukup hubungi saya dan tim kami, Inspirator Academy, maka kami akan mengerjakan semuanya hingga tuntas. From nothing to something.

Apa yang harus kamu lakukan dan berapa lama proses membuat buku?

Yang harus kamu lakukan hanyalah duduk manis, melakukan proses interview dengan kami dan dalam waktu kurang lebih 30 hari kerja, voila, naskahmu sudah jadi!

Tinggal terserah bila kamu ingin bukumu masuk dan tersebar di toko buku seperti Gramedia, Karisma, Toga Mas, dan toko buku lain di seluruh Indonesia.

…membacalah maka kau akan mengenal dunia,

menulislah maka kaulah inspirasi  dunia…

 

Pada akhirnya, saya selalu percaya bahwa tidak ada yang namanya kebetulan. Adalah kehendak Tuhan, anda bisa hadir dan membaca tulisan ini. Di sini, saya hanya bisa menjelaskan dan keputusan tetap pada diri anda. Namun, saya yakin anda pasti tahu apa yang harus segera anda lakukan.

Hubungi saya :

Andrea Juliand / Project Advisor-Inspirator Academy

08567812386

andrea.juliand@yahoo.com

Salam on fire!

 

 

0

Baru kepengen bisnis…

Berapa hari ini agak kepikiran, kok kayak ada yg berasa kurang dan  baru sadar kalo di bulan ini gue jarang menulis di blog.

Jujur, beberapa waktu ini gue lagi rada ribet. Semua dimulai ketika menghadiri acara reuni bareng teman SMP. Teman-teman gue yg dulu lucu-lucu dan cupu-cupu kini telah berubah menjadi dua kelompok, yaitu mereka yg memegang jabatan oke di perusahaan besar dan mereka yg kelihatannya santai hahahihi tapi bisnisnya menggurita.

Ketika mereka yg menggurita bisnisnya ngobrol bareng dan kita memutuskan untuk membuat start up bisnis bareng, maka hal itu tidaklah gue sia-siakan. Kapan lagi?

Ngomong-ngomong tentang bisnis, apalagi untuk urusan start up, ada banyak orang selain teman SMP yg juga mengajak gue untuk berbisnis. Di sinilah otak gue harus pintar ‘menyaring’ mana orang yg hanya iseng kepengen bisnis, ingin sekedar berbisnis, dan yg beneran butuh untuk berbisnis.

Simplenya, mereka yg baru ‘kepengen bisnis’ atau sekedar berbisnis, bisa terlihat dalam percakapan ketika mereka menghubungi gue.

Contoh 1

x : Ndree, gue kepengen bisnis deh, enaknya bisnis apa ya?

Enaknya mah pecel ayam pake nasi uduk trus minumnya es teh manis… 

Lah terus gue mau jawab apa dong? Kalo lo aja nggak tau mau bisnis apa apalagi gue? 

Tapi ya nggak apa-apa, just ask yourself lo expert (ahli) di bidang apa dan passion lo dimana. Expert dan passion bisa saja dua hal yg berbeda. Misal, mungkin karena dulunya lo kerja cukup lama di bidang marketing, kemungkinan lo punya skill marketing tapi bukan berarti passion lo di situ, bukan berarti hati lo enjoy di situ. Pasion lo bisa aja di bidang lain yg ngga ada hubungannya dengan keahlian lo. Banyak kok, yg ahli dibidang science tapi passionnya ternyata memasak, no problemo..

Contoh 2

x : Kita bisnis yuk ndree, kecil-kecilan..kan lumayan buat income sampingan

Nah ini nih yg salah, Niat awal. Kekuatan bisnis lo berasal dari niat lo. Kalo niat lo kecil-kecilan, ya hasilnya juga kecil-kecilan. Kalo niatlo cuma buat sampingan, maka hasilnya ya hanya untuk sampingan, mungkin kadang besar, kadang kecil tapi karena niat lo hanya sampingan, lo nggak akan fokus untuk menjadikan bisnis lo as main source income. Coba liat mana ada perusahaan besar yang memiliki visi : untuk sekedar ikut-ikutan? Nggak ada! Indofood tidak sekedar iseng atau ikut-ikutan sebagai tim hore ketika mereka berbisnis mie instan. Pasti mereka ingin menguasai pasar. Be a number one and they did, how? Pertama, ubah niat dan pola pikir lo.

Contoh 3.

x : Ndre, kita bisnis yuk..nanti gue nanem modal di elu dan elu yg muterin..

Nah ini juga nih… Bedain antara lo ngajak orang berbisnis dengan lo yg hanya sebagai investor pasif. Keduanya sama-sama ngajak bisnis sih tapi investor pasif cenderung untuk hanya menanam modal tanpa perlu ribet mikirin segala sesuatu tau-tau mereka dapet untung. Kalo gue? Jujur males. Gue butuh investor yg nggak hanya punya duit tapi juga memahami seluk-beluk bisnis. Buat apa? Biar gue dan dia bisa jadi team work yg hebat. Kalo cuma mau nanem duit udah gitu duitnya nggak gede? Yaelah, minjem di bank juga bisa..

Contoh 4

x : Ndre, kita bisnis yuk..gue punya konsep oke buat kuliner

A : boleh, lo lagi ngapain? ketemuan yuk?

x : aduh jangan sekarang, gue lagi baca kompas sabtu, banyak lowongan soalnya

Yaelah nyet! Lo mau bisnis apa nyari kerja sih? Gini ya, bisnis dan kerja ibarat sebuah persimpangan. Ada dua jalan, lets say, bisnis ke kanan dan kerja ke kiri, and you have to choose. Lo ga bisa ada di persimpangan. Lo juga nggak bisa udah milih belok kanan dan kemudian puter arah lagi menuju ke belokan ke kiri. Ya memang bisa aja sebenarnya tapi it wasting time! Ask your self, lo itu sebenarnya mau bisnis apa mau kerja? Pastiin ini dulu, karena merintis bisnis itu ibarat lo punya bayi, kalo lo ngurusnya ngasal dan nggak fokus, ya mati bisnis lo.

Contoh 5.

x : Ndre, bisnis apa ya yg selalu untung, laba gede, cepet balik modal, dan resikonya sedikit?

Hahaha gue ngakak kalo dapet pertanyaan kyk gini. Selalu untung, laba gede, cepet balik modal dan resiko sedikit? Hey come on, bisnis itu hanya buat mereka yang berani, berani keluar dari zona nyaman dan berani menghadapi konsekuensi.

High risk, high income, penghasilan yg besar akan selalu didampingi oleh resiko yg besar. Kalo pola pikir lo masih serba instan dan serba aman, mending saran gue lo balik jadi karyawan aja, nggak usah bisnis. Bukannya gue songong but please be mature guys, yg namanya hidup itu serba sepasang, ada siang ada malam, ada untung ada rugi, jadi nggak ada yang namanya selalu untung.

Contoh 6

x : Ndre, gue pengen bisnis, tapi gue takut. Pertama, takut rugi. Kedua takut hasil awalnya mungkin ada tapi nggak segede gaji gue saat ini. Ketiga, gue liat, bisnis itu nggak pasti ya..kalo gue gajian kan pasti tuh jelas yg gue terima berapa dan bisa gue save sekian

Ya gampang, lo jangan bisnis. Gimana mau bisnis kalo belum mulai aja udah takut? Gimana mau dapet hasil positive kalo belum mulai aja udah negative thinking. Dari mind set lo udah keliatan kalo lo nyari yg pasti dan yg pasti itu nggak ada dalam kamus bisnis. Lo juga nggak fair, lo bandingin bisnis yang baru akan jalan dengan lo yg udah lama kerja, ya hasilnya beda.

Tanya pebisnis manapun, adakah yg incomenya bisa sama tiap bulannya? Apakah angka penjualan mobil Toyota sama persis tiap bulan? Apakah penjualan iPhone stagnan atau naik turun? Ini dunia bisnis, bukan dunia karyawan yg semuanya serba pasti. Di bisnis lo harus usahain maksimal biar di akhir tahun lo bisa hura-hura, atau lo males-malesan dan akhirnya lo gulung tikar. Atau bisa aja, lo udah maksimal tapi hasilnya belum sesuai yg lo inginkan.

But let me tell you something, sesuatu yg pasti itu sudah pasti terukur, kenaikannya juga terukur. Bisnis? Bisa aja hari ini lo mesti ekstra ngirit untuk ini itu, rutin makan mie instan, nggak bisa ikutan acara seneng-seneng bareng temen lo yg lain, dan mungkin ngerasain patah hati di tolak ama gebetan lo karena saat ini lo bukan sapa-sapa tapi lima tahun ke depan, lo bakal ketawa nginget ini semua sambil duduk manis dalam senyapnya kabin Maybach.

Contoh 7

x : Gue mau bisnis apapun itu, asal pasti untung, modal kecil, nggak pake ribet dan terpenting gue akan mengusahakan apapun biar dalam waktu singkat harus gue bisa kaya!

Widiiiihhh lo ambisius banget, bro! Begini, dalam bisnis ambisius nggak salah, bagus banget malah, tapi inget ada yg namanya proses. Untuk sampai ke tangga tingkat sepuluh lo harus menyusuri anak tangga satu hingga sembilan, and I told you, itu pun belum tentu kesuksesan lo nanti ada di anak tangga ke sepuluh, gimana kalo ternyata sukses baru ada di anak tangga ke seratus, apakah lo akan tetap berjuang?

Contoh 8

x : Ndree, gue mau bisnis tapi gue nggak punya modal, dalam hal ini ya uang..

Gini ya, modal itu nggak harus duit kok. Modal itu bisa berupa niatlo, kerja keras lo, dan isi kepala lo. Sudah banyak cerita mereka yg hanya punya uang -kalo uang lo sebut sebagai satu-satunya modal- dan akhirnya harus gigit jari gulung tikar. Modal uang penting tapi bukan yg terpenting. Simple, lo punya uang tapi lo nggak punya otak ya siap-siap aja kena tipu. Kalo lo emang bertekad mau merintis bisnis ada banyak jalan. Lo bisa mulai dengan menjadi broker, mulai dengan menjual produk orang lain. Selisih keuntungannya lo tabung buat jadi modal. Mungkin ini akan lama, tapi seiring proses lo juga bisa sekalian belajar seluk beluk bisnis yg akan lo mulai. Lagian besar kecilnya modal uang itu kembali ke orangnya. Mungkin buat lo angka satu milyar besar tapi buat anak presiden dengan angka segitu dia bakal bilang kalo dia ngga punya modal (uang).

Gue pribadi, lima tahun lalu memulai merintis bisnis mainan dengan modal tidak lebih dari tiga ratus ribu rupiah dan dalam waktu kurang dari satu tahun gue memiliki laba bersih hingga satu juta rupiah per hari yg membuat gue hingga detik ini tidak tertarik untuk melamar kerja. 

Keluarga gue? Kami merintis bisnis dengan modal kurang dari satu juta rupiah dan sekarang bisnis keluarga gue masuk dalam kelompok UKM, bukan usaha kecil menengah tapi usaha kecil milyaran.

Contoh lain? Rumah Makan Sederhana memulai dari nol, mulai dari emperan, digusur sana sini oleh petugas keamanan dan lihat saat ini mereka sebesar apa? Apple dimulai dari garasi sempit dan sekarang mereka baru saja mengumumkan laba bersih per tahun 2015 tercatat di angka 151 trilyun dan menjadikan mereka sebagai salah satu perusahaan termahal di dunia. 

See? Bisnis itu bukan hanya sekedar modal uang. Lagian, bayi yg baru lahir mana ada yang langsung berlari. Gunakan otak dan hati, nikmati prosesnya, konsisten dan fokuslah di sana.

So, masih mau bisnis? benerin mindset lo, and lets talk about business

See you on top!  😀

0

Bukan hanya tentang harga apalagi jadi phobia.. #upgrade.you

Jujur, nggak tahu mau menulis apa, saya hanya membiasakan agar kebiasaan menulis tidak hilang. Jujur, antara judul dan isinya mungkin juga nggak nyambung, bahkan hancur berantakan karena saya juga tidak menggunakan kaidah atau dasar-dasar kepenulisan. Jadi, ya anggep aja saya lagi sok tau, sok iye, dan sok bener untuk menulis tentang dunia bisnis.

Lanjut,

Saya percaya bahwa dalam bisnis ada empat komponen penting yaitu : produk, harga, pelayanan, dan pemasaran. Masing-masing komponen memiliki karakter tersendiri namun semuanya saling melengkapi.

Apa yang mau kamu jual bila tidak ada produknya, entah berupa barang/jasa?

Bagaimana dapat berbisnis bila tidak mau melayani konsumen, baik langsung maupun tidak langsung?

Bagaimana menentukan konsumen bila tidak jelas harganya?

Bagaimana bisa menjual bila tidak melakukan pemasaran?

Se-fleksibel apapun, sebuah barang/jasa akan tetap memiliki harga, bila harganya “tidak ada atau tidak ternilai” maka sudah pasti itu bukan ‘barang dagangan’, mungkin namanya pemberian. Kalaupun dalam barang tersebut ada tagline tidak ternilai namun ada harganya, itu hanya gimmick belaka.

Secanggih apapun ilmu marketing yg kamu miliki, tidak akan bisa menghasilkan uang kalau kamu tidak punya produk yg akan dijual apalagi juga tidak mau turun tangan melayani. Dan bagaimana bisa fokus menentukan strategi pemasaran kalau konsumen yg ingin dituju tidak jelas karena harganya juga tidak jelas?

Lanjut,

Pertama, Produk. Apa yg ingin kamu buat dan jual? Apakah produk yang tergolong pioneer di mana tidak ada pesaingnya atau sebuah produk hasil mengamati, meniru dan memodifikasi dari produk yang sudah ada sebelumnya? Apapun produk kamu buatlah produk itu sekreatif mungkin, kegunaan yang paling bermanfaat, dan cara pakai sesederhana mungkin lalu fokuslah di sana.

Pelajari keinginan konsumen, bisa dengan membuat penelitian kecil (sebar quesioner) untuk mendapat informasi tentang kelompok sasaran yg dituju. Buat produk yang unik, usefull, sekaligus rumit pembuatannya agar tak mudah dicontek orang, namun begitu mudah digunakan konsumen. Kalaupun kamu tidak bisa membuat produk yang rumit, maka buatlah keunikan dalam produkmu.

Maicih hanyalah sebuah keripik pedas tapi keripik pedas yg memiliki tingkat kepedasan? Konsumen akan langsung mengingat Maicih. Mungkin juga kalian masih ingat ketika lebih dari satu dekade lalu, Nokia begitu merajai pasar. Mengapa? Karena Nokia fokus dan bisa menciptakan produk yang mudah dimengerti dan digunakan.

Bahkan tanpa membaca manual book-nya pun, hampir semua orang bisa menggunakan Nokia. Silahkan bandingkan betapa mudah dan simple-nya menu yang ada dalam hp Nokia dibanding produk lain. Ditambah, cover yg bisa diganti sesuai keinginan hati mendapat respon positif dari konsumen, pada saat itu. Nokia sukses membaca dan mengerti pasar. Sebuah produk yg unik, berguna sekaligus user friendly-lah yang dicari pasar.

Kedua, Pelayanan. Tentu yang dimaksud di sini bukan hanya tentang bagaimana penjual melayani konsumennya di awal membeli produk namun pelayanan yg tetap diberikan setelah konsumen membeli dan menggunakan produknya (after sales). Senyum ramah khas penjual ala koko dan cici Glodok memang terlihat lebih ramah dan sabar melayani pembeli, dan di sini saya melihat hal itu sebagai satu keunggulan khas ala kaum Tionghoa sebagai kaum yang hebat dalam berdagang.

Namun, kembali pada pelayanan untuk kepuasan konsumen, rasanya percuma bila hanya ramah di awal namun sangat sulit ketika konsumen minta klaim pertanggungjawaban (garansi). Percuma bila hanya menjual produk murah namun tidak jelas service center dan ketersediaan part pendukungnya.

Sebuah pabrikan hp asal Jepang kini mati kutu menghadapi negative campaign karena pelayanan aftersales-nya buruk, oh, maksud saya, amat sangat buruk. Pabrikan hp asal Jepang itu bahkan tak berdaya melawan kehebatan pelayanan aftersales duo produk Korea, Samsung dan LG.

Anda pernah ke service center Samsung atau LG? Pengalaman saya, ketika datang, ambil antrian, dan sampai di meja Customer Service, produk anda langsung didiagnosa dan dibongkar di depan mata. Apabila beres, maka hari itu juga bisa langsung anda bawa pulang. Kalaupun saat itu hp anda harus menginap, paling tidak anda sudah mengetahui bahwa produk anda on progress pengerjaannya dan jelas kapan selesainya.

Bagaimana dengan pabrikan Jepang yang kini perlahan mati kutu? Lupakan saja..Kalau anda mau sedikit kepo, silahkan baca keluhan konsumen yg hpnya harus menginap berminggu-minggu hingga bulanan tanpa adanya kejelasan. Banyak kok kisah duka mereka kalau mau searching di Google 😀

Contoh lain,

Mengapa Toyota sukses merajai pasar di Indonesia? Selain produknya cukup berkualitas, pelayanan mereka di awal dan sesudahnya baik. Pelayanan mereka memiliki standar yang seragam melalui jaringan sales and services ala Auto2000, bengkel resmi mereka mudah ditemui, dan ketersediaan spare part tidak akan membuat konsumen lumutan menunggu berbulan-bulan hanya untuk sebuah kaca spion.

Toyota sukses membuat produk yang berkualitas, simple, dengan pelayanan yang memuaskan. Ini membuat harga jual kembali produknya cenderung lebih stabil dibanding kompetitor sehingga apabila konsumen memiliki pertanyaan : Produk (mobil) apa yang berkualitas, spare part-nya mudah, bengkelnya banyak, dan harga jual kembalinya tidak terlalu jatuh? Maka hampir semua orang akan sepakat menjawab produk Toyota.

Toyota sadar bahwa dengan produk dan pelayanan yang berkualitas, maka akan meningkatkan angka penjualan dan dengan angka penjualan yang baik, akan mudah bagi perusahaan untuk menggelontorkan uang -untuk recall, misalnya- guna memberikan dan memastikan konsumen mendapat pelayanan kelas satu. Yup, penjualan dan pelayanan, keduanya saling mendukung.

Ketiga, Harga. Harga memang penting tapi bukan yang terpenting. Harga layaknya modal yang memang dibutuhkan untuk memulai berbisnis. Modal memang penting tapi tanpa modal anda tetap bisa menjadi broker, bukan?

Kembali ke harga, It depends on your target market. Kelompok sasaran mana yang anda tuju? Persaingan dengan HANYA mengutamakan komponen harga akan membuat anda masuk dalam ‘bisnis berdarah’. Saya sebut bisnis berdarah karena bila anda hanya mengutamakan komponen harga, bersiaplah untuk berdarah-darah. Siapa yang bersedia memangkas laba, dia yang menang. Misal : Si A menurunkan laba 30%, anda menurunkan laba 50%. Si B memotong laba 70%, anda potong laba hingga 90%, terus dan terus begitu, dan sang pemenang adalah yang paling berdarah mengorbankan labanya.

Untuk jangka pendek, memang bagus untuk mengambil perhatian konsumen, biasanya dikenal dengan nama promo, namun untuk jangka panjang jelas akan mengancam kesehatan keuangan bisnis anda.

Sepuluh tahun yang lalu, harga hp Samsung mungkin 30% atau bahkan setengah dari harga produk Nokia. Namun, kini harga produk dengan sistem operasi Android, maka Samsunglah yang bisa dikatakan termahal.

Begitu pula dengan pabrikan Cina, Lenovo. Beberapa tahun yang lalu, Lenovo begitu jor-joran mengeluarkan banyak produk dengan harga murah, bahkan harganya bisa bersaing dengan produk rakitan lokal. Kini, perlahan Lenovo mulai ‘menaikkan harga dirinya’. Jelas, bahwa harga bukan satu-satunya komponen yang akan ‘digunakan dan diutamakan’ secara terus menerus dalam persaingan.

Apple melalui produk iPhone adalah contoh sukses bahwa harga bukanlah segalanya. Lihatlah statistik penjualan produk iPhone. Hanya mengandalkan penjualan tidak lebih dari dua jenis hp per tahun (dulu 6 dan 6+, kini 6S dan 6S+), mereka berhasil menjadi salah satu perusahaan termahal dan terbesar di dunia. Harganya? Silahkan cek sendiri betapa harga sebuah hp bisa setara dengan sebuah motor. Bila anda tanyakan ke orang, satu kata yang cukup sering muncul ketika ditanyakan tentang iPhone (produk resmi) adalah mahal. Tapi kok laku?

iPhone mirip dengan Nokia, bedanya ia memiliki strategi marketing dan branding yang jauh lebih hebat dan matang. Mereka fokus menetapkan kelompok sasarannya dan berhasil mem-branding produknya untuk kelas menengah atas yang loyal, namun di sisi lain juga sukses membuat produknya menjadi sangat diinginkan oleh hampir semua orang. Sudah begitu banyak berita di luar sana bahwa ada orang yang rela melakukan apapun termasuk menjual ginjal hanya untuk sebuah iPhone.

Apple sukses membuat hp yang nyaman, berkualitas, dengan pelayanan after sales (garansi resmi) yang baik. Bila anda berada di Singapura -negara yang ditunjuk Apple sebagai salah satu negara resmi penjual produk iPhone- lalu membeli produk iPhone, dan kemudian rusak (cacat hardware), tidak perlu khawatir, karena ketika dibawa ke service centernya, maka iPhone anda akan diganti baru saat itu juga. Harganya memang mahal namun after salesnya (di luar negeri) memuaskan.

Keempat, Pemasaran. Secanggih apapun produkmu, semurah apapun harganya dan sebaik apapun pelayanan yg kamu berikan, it means nothing kalau tidak ada orang yg mengenal dan membeli produkmu. Hari ini, dengan bantuan teknologi, pasar bisa diciptakan tanpa harus saling tatap muka.

Beberapa bulan yg lalu, saya mengikuti kelas menulis dan jujur, saya mengacungi jempol untuk sistem pemasarannya yg seperti tidak mengenal lelah, bahkan setelah kelas menulisnya telah selesai. Pagi, siang, sore dan malam, hp saya penuh oleh iklan hingga akhirnya mereka saya mute😀

Tapi sesama wirausaha, sayapun bisa memahami mereka karena bagi kami tanpa jualan, tanpa pemasaran, berarti kami ‘tidak gajian’ dan tanpa gajian berarti kami harus puasa sebulan. Kalaupun saya di posisi mereka, tentu saya akan melakukan hal yg serupa walau mungkin ya nggak segila mereka. But yes, itulah marketing! Produk, harga, dan pelayanan ala surga tak akan berarti bila tak ada yg beli.

Kembali ke topik awal, yang ingin saya tekankan, harga bukanlah satu-satunya hal yg akan membuat konsumen membeli produk anda. Mungkin dengan harga murah, produk anda akan laris manis di awal penjualan namun tanpa kualitas dan pelayanan yang baik, produk dan bisnis anda akan tinggal kenangan.

Perlu juga diingat, TANPA kualitas produk dan pelayanan yang baik, maka akan sulit untuk menciptakan loyalitas pelanggan, karena orang yang memiliki loyalitas biasanya sudah tidak terlalu terpengaruh dengan harga, mereka butuh produk yg baik dan atau pelayanan yg hebat. Ingatlah, bahwa orang akan selalu teringat Aqua untuk air minum, Sanyo untuk pompa air, Samsung untuk produk android, Pepsodent untuk pasta gigi, dan Teh Botol untuk teh dalam kemasan. Inilah yang dinamakan kekuatan branding dan loyalitas pelanggan. Apakah harga produk di atas lebih murah bila dibanding produk sejenis? Untuk spek atau ukuran yg sama, saya yakin tidak.

Next,

Bila sudah memadukan empat hal tersebut, jangan berbesar hati bila bisnis anda sudah mulai beranjak. Ingat, di atas langit masih ada langit, dan di atas langit paling ataspun, masih ada Tuhan di sana. Jadikan konsumenmu sebagai mitra sekaligus teman dan sahabat, bukan sekedar sapi perah alias objek bisnis belaka yg kamu tinggalkan ketika ikatan bisnismu telah usai.

Ingat, sepuluh pemasaran yg kamu lakukan mungkin hanya akan menghasilkan satu konsumen baru, tetapi satu kekecewaan konsumen berarti kamu telah kehilangan sepuluh calon konsumen potensial.

Tetap dengarkan konsumen sebagai bentuk pelayanan dan kepedulian, karena Nokia sudah merasakan pahitnya. Ketika mereka sudah menjadi besar dan nomor satu, harga produk Nokia makin tidak bersahabat, padahal konsumen semakin cerdas dan kompetitor semakin banyak.

Pahitnya lagi, mereka tidak membuka diri terhadap masukan konsumen. Ketika Android ditemukan dan penggunaannya jauh lebih canggih sekaligus lebih mudah, mereka tetap ngotot dengan Symbian kebanggaannya. Hasilnya? Mereka berubah. Ya, berubah dari something menjadi nothing alias tinggal kenangan.

Contoh lain? Masih ingat dengan pabrikan mobil dan motor Cina yang dulu ramai masuk ke Indonesia? Harganya memang murah sayang kualitasnya tak jelas dan ketersediaan partsnya tidak terjamin. Atau, masih ingatkah ketika kasus bus TransJakarta karatan buatan Cina yang kini menyeret sejumlah pejabat? Ini tentu akan membuat konsumen berpikir ulang untuk membeli mobil/motor buatan Cina.

Namun, ada pepatah yang mengatakanbelajarlah hingga ke negeri Cina”. Cina belajar dari kesalahan dan kini bangkit menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Hampir semua produk bertuliskan made in China. Cina hari ini telah  bermetamorfosa dari “negara yang membuat produk murah” menjadi “produk berkualitas dengan harga kompetitif”.

Cina berhasil membuat produk yang menggabungkan empat hal di atas, produk yang (mulai) berkualitas, harga yang lebih murah, pelayanan ramah ala negeri tirai bambu, dan pemasaran yg masif.

Lalu, kalau Cina bisa berubah, mengapa kita tidak? Mengapa kita harus takut atau phobia terhadap Cina? Bukankah seharusnya kita belajar dari mereka?

Lihatlah bagaimana mereka melakukan proses ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi, dan kini hampir semua produk berteknologi bisa mereka buat. Lihatlah bagaimana mereka mengambil pelajaran ketika senyum ramah dan produk murah saja tidak akan menjamin kesuksesan dalam berbisnis, maka mereka berevolusi membuat produk yang berkualitas, tetap murah, dengan pelayanan yang lebih baik. Pemasarannya? Lihatlah ketika Xiaomi dan Lenovo sukses menjual ribuan produk hanya dalam hitungan menit ala flash sale.

Mungkin beberapa tahun ke depan, India, sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi terbesar di dunia akan menyusul kesuksesan Cina. Lalu, apakah kita juga harus takut/phobia terhadap India? Masih ingat rasanya ketika dulu kita phobia terhadap Amerika. Gaung untuk memboikot produknya gencar dimana-mana seakan kita lupa bahwa makanan dan susu bayipun kita bergantung pada mereka dan sekutunya. Seharusnya kalau ingin menunjukkan harga diri, kita konsekuen. Ketika, kita menyatakan  kebencian sekaligus phobia terhadap Amerika dan Cina, maka kita konsekuensi dengan tidak menggunakan produk mereka satupun. Pertanyaannya, mampukah kita?

Sekarang kita phobia Cina, mungkin nanti kita akan phobia terhadap India, dan bila tak berbenah mungkin nanti terhadap semua negara kita akan menjadi phobia. Lalu, bagaimana bisa menjadi Macan Asia? Hey, Macan Asia itu tagline yg tidak main-main lho, it means kemampuan dan kekuatan kita bila sudah menyandang predikat itu ada di atas Jepang, Cina, dan India, dan jauh di atas Malaysia dan Singapura.

Apakah bisa? BISA!

Bukan sikap pesimis, takut, lalu menutup diri yang harus di lakukan tapi upgrade diri, produk, cara berbisnis dan wawasanmu agar bisa bersaing.

Selamat datang di era globalisasi, sebuah era keterbukaan di mana penjual ayam goreng di Malaysia akan bisa dengan mudahnya menjajakan barangnya bersaing dengan ayam goreng Sabana ala Indonesia, baik suka atau tidak suka.

Jangan lemah dan cengeng, mereka yang tidak siap dan takut bersaing itu seharusnya sering main ke pasar, mall atau pusat perdagangan. Lihatlah betapa rejeki itu selalu ada untuk mereka yang optimis dan selalu berusaha. Lihatlah dalam satu gedung di ITC, ada ratusan bahkan ribuan pedagang dan terang-terangan saling bersaing namun tetap rukun bersama, karena mereka percaya sepanjang mereka berusaha, Tuhan akan memberikan rejeki-Nya.

Oh, satu lagi,

Belakangan ini ramai di media sosial yang memberitakan ‘sengitnya persaingan’ antara tukang ojek pangkalan (tradisional) dengan ojek online. Kubaca singkat komentar mereka di media sosial. Banyak diantara kita yang menyayangkan terjadinya perilaku baku hantam dan pelarangan sepihak dari ojek pangkalan terhadap ojek online.

Ada yg melihat secara global lalu berkata : Ini era modern, yg berkualitas dan bisa memberi pelayanan yg lebih baik-lah yg akan dipilih.. Ada juga yg melihat dari sisi kepraktisan dan pelayanan : Ojek pangkalan ribet karena mesti menghampiri ke pangkalannya, ojek online tinggal pencet hp, tak lama nongol di depan pintu… Ojek pangkalan nggak ramah dan suka seenaknya kasih tarif, ojek online ada standarisasi sikap dan harga…

Tidak sedikit yang mencaci tukang ojek pangkalan dengan kalimat : bukankah rejeki itu Tuhan yg mengatur? atau pernyataan sindiran dengan kalimat : takut amat rejekinya diambil, binatang aja dijamin kok rejekinya oleh Tuhan, masa manusia yg berakal kalah ama binatang? Makanya service-nya dibagusin dong..

Kalau boleh aku analogikan, bukankah itu mirip dengan kondisi kita yang phobia terhadap Cina? Mungkin saja tukang ojek pangkalan itu adalah kita (si tradisional yg kalah modal juga kalah mental, takut terhadap perubahan, namun tidak pernah mau belajar) dan ojek online itu adalah negeri Cina atau negara lain yg kuat secara modal, mau belajar, dan cerdas memanfaatkan peluang, dan dunia internasional sebagai pihak yang menjudge, menyayangkan sikap kita yg serba phobia.

Mungkin kelihatannya tidak adil tapi inilah hidup..

Bukan yg terkuat yg bertahan, bukan juga yg terpintar, tapi mereka yg bisa menyesuaikan keadaan dan melihat peluang. 

Upgrade you, upgrade Indonesia

Indonesia, BISA!