0

Mana Yang Kau Pilih?


Mereka bilang, cinta itu milik siapa saja. Siapa saja yang mau membuka diri agar cinta dapat memasukinya. Bahkan, kucingpun bisa jatuh cinta.

Mereka bilang, cinta itu hanya untuk yang berani. Berani membiarkan hati jatuh dalam dekapan nyamannya kasih sayang. Namun, harus siap saat harus merelakan. Tetap kuat saat merasa patah hati paling patah. Tetap tegar mencicipi sakit hati paling sakit. 

Mereka bilang, cinta itu memilih. Memberi ruang demokratis bagi hati untuk mencari tempat relung-relung dingin nan kosong di dalam sana. Tempat dimana dia akhirnya berteduh dan berlabuh. Tempat di mana sang hati akhirnya berubah, dari ‘sendiri’ menjadi ‘telah dimiliki’.

Mereka bilang, cinta itu berjuang. Berjuang untuknya yang tanpa alasan apapun kau mau untuk berjuang. Berjuang untuknya yang entah kenapa kau bisa begitu sayang. Tak peduli apapun resikonya. Tak peduli apapun akhirnya.

Maka,

Mana yang kau pilih, mencintai atau dicintai?

Mana yang kau pilih, mencintai orang yang tak mencintaimu atau dicintai oleh orang yang tak kau cintai?

Mana yang kau pilih, berjuang untuk orang yang kau sayang? Atau, mulai membiasakan diri dengan orang yang muncul dihadapan?

Mana yang kau pilih, berani mengungkapkan atau menunggu hingga dirinya paham?

Dan, mana yang lebih kau utamakan. Bahagianya atau bahagiamu?

Lalu, 

sudahkah kau memilih?

Karena cinta bukan hanya sekedar lima huruf yang dibaca bersama. Tapi tentang aku, kamu, dan kita. Hari ini, esok hari, hingga tua nanti.

0

Pelajaran bernama patah hati

Hey, kamu…

Aku tahu, patah hati itu melelahkan. Pun juga aku tahu, patah hati tak diinginkan. Namun, aku yakin bahwa mereka yg patah hati tak hanya ingin diam lalu mati. 

Mereka selalu mencoba dan mencoba, untuk sembuh dan kembali bahagia. Beberapa berhasil sembuh. Bangkit tertatih-tatih dengan sisa-sisa lukanya. Beberapa butuh waktu lebih lama untuk mengobatinya. Sayangnya, tak sedikit juga yg menyerah. Tenggelam dalam rasa sakit yg kian lama kian menjepit.

Namun, tahukah kau? 

Patah hati itu seperti kanker. Kamu tak cukup hanya mengobatinya, namun harus dioperasi lalu diangkat kankernya. 

Mungkin setelahnya kamu akan merasa sakit dan tak nyaman dalam proses penyembuhan. Namun itu lebih baik daripada mendiamkan, membuatnya menyebar ke seluruh badan lalu mati perlahan-lahan.

Mungkin dalam hatimu, kamu akan berkata : kalau cuma ngomong semua orang juga bisa!

Benar, kamu nggak salah. Akupun pernah patah hati. Berkali-kali. Bahkan dulu aku beranggapan patah hati adalah cobaan atau bahkan siksaan terbesar dalam hidup.

Namun, akhirnya aku sadar, kalau kita tak merasakan patah hati mungkin kita tak akan pernah belajar. 

Belajar buat kuat, bahwa patah hati hanyalah satu dari sekian cobaan  dalam hidupmu. Dan yg harus diselesaikan itu masalahnya, bukan hidup kita. Jangan sampai karena patah hati lalu berpikir untuk mengakhiri hidup. Bukankah kerasnya tempaan yg membuat berlian indah dan mahal?

Belajar untuk sabar. Patah hati itu mirip seperti panas dalam yg datang bersama sariawan dan radang tenggorokan. Ketika dia datang memang menyebalkan tapi ingatlah bahwa itu tak selamanya. 

Patah hati juga mirip badai di malam hari, maka sabarlah untuk menanti damainya pagi. Karena bila kesulitan adalah hujan dan badai serta  kemudahan adalah matahari, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Belajar buat bersyukur. Kita tak akan paham nikmatnya sehat bila tak merasa sakit. Kita tak tahu indahnya bahagia bila tak mengerti apa itu kecewa. Dan, kita tak akan menyadari keberadaan Tuhan bila tak diberi cobaan.

Belajar buat ikhlas. Mungkin kita  berpikir bahwa dialah yg terbaik buat kita. Padahal yg kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan. 

Tak ada yg menyuruhmu untuk buru-buru karena semua butuh waktu. 

Kembali bergerak memang tak mudah. Bahkan ketika kamu sadar untuk segera beranjak membenahi hati yg luluh lantak. 

Awalnya mungkin kamu akan takut. Takut tak bisa melanjutkan hidup tanpanya, takut bila dia menganggapmu tak lagi ada, takut akan kenyataan bahwa sekarang kamu bukan siapa-siapanya, takut lukamu tak kunjung sembuh tanpanya, takut tak bisa menemukan pengganti yg kamu bisa nyaman seperti ketika bersamanya, dan sejuta ketakutan lainnya. 

Tapi percayalah, bahwa apa yg terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Bila kamu sudah bisa ikhlas melepas dan berdamai dengan diri, maka suatu hari kamu akan cerita tentang lukamu saat ini, tentang kisah dibelakangnya, dengan biasa saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Seperti kamu terbiasa menghirup udara. 

Lalu,

kamu akan tersenyum bahagia karena saat itu mungkin kamu telah menemukan penggantinya.

…ingatlah Tuhan disaat lapang, maka Dia senantiasa hadir saat kamu butuh pertolongan…


Postscript :

Apakah kamu merindukannya, dia yg baru saja hilang dari hidupmu? Lalu bagaimana dengan Tuhan, yg bertahun-tahun dilupakan dan baru kembali ketika kamu butuh bantuan? Kabar baiknya adalah kamu tetap bisa kembalilah pada-Nya, karena Tuhan selalu ada bahkan disaat semua orang menghilang.

0

Move on, its about mindset.

“Gimana ya, Ndre cara buat melupakan mantan? Gue tau gue harus move on tapi ntahlah, coba kasih gue satu alasan kenapa gue harus melepasnya…”

Tinggal beberapa hari lagi akan memasuki 2017 dan kata-kata itu meluncur lemah dari mulut seorang teman, ketika terakhir kali kami bertemu dibilangan  Tebet, Jakarta beberapa waktu lalu.

Dia bukanlah teman dekat namun karena dia pernah membaca tulisan yg gue share di buku karya sahabat gue dengan nama pena profesor cinta yg berjudul ‘Pacaran Mulu, Kapan Putusnya’, maka seketika itulah dia menghubungi untuk bertanya, bagaimana cara efektif untuk move on. Selanjutnya, sudah bisa ditebak. Pagi, siang, dan malam, dia sering menghubungi untuk mencurahkan betapa hancurnya perasaannya saat itu.

Guepun hanya duduk manis dan sabar mendengarkan. Why? Karena gue pernah ada di posisinya. Actually, hampir semua orang tau apa yg seharusnya dilakukan setelah patah hati, yakni benahi hati dan pikiran lalu segera move on.

Namun, move on adalah sebuah kata yg mudah dilakukan bila otak dan hati sedang benar.

“…Kita putus ya… ”

Pertama kali mantan gue bilang ‘kita putus’ itu rasanya kayak lagi dibius lokal. Gue paham maksudnya tapi hati ini bingung memahaminya.

Hingga keesokan paginya gue bangun dan baru sadar bahwa dia bukan milik gue lagi. Nggak ada lagi telepon, mention, atau chat yg biasanya menyapa di pagi hari.

Nggak ada lagi perhatian berupa pertanyaan : kamu sudah makan? Atau kalimat-kalimat singkat sarat makna kayak : hati-hati di jalan, ya sayang. 

Dan malamnya, tak ada lagi obrolan ringan, ucapan sayang atau rindu, walau saat itu rindu adalah satu-satunya hal yg membuat gue diam membatu.

Putus cinta membuat dunia seakan hening. Tampak ramai di luar sana tapi begitu sepi di hati.

Beberapa hari setelah putus, rasanya semua serba membingungkan. Mau bilang rindu tapi dia sudah hilang, tapi kalo nggak bilang, pikiran gue melayang-layang.

Hati berkata, ambil hplo dan bilang bahwa lo butuh dia. Namun, otak mencegah dengan kalimat : Nyet, lo itu bukan siapa-siapanya lagi! Dan hp-pun kembali teronggok di sudut meja.

Putus juga membuat badan terasa asing. Fisiknya sehat tapi jiwanya lunglai. Semua syaraf seakan gagal bekerja.

Malas makan karena sama sekali tak terasa lapar. Malas bergerak karena memang seakan dunia begitu lambat bergerak.

Parahnya, responpun ikut melambat. Butuh beberapa waktu hanya untuk menjawab pertanyaan, Ndre, are you okay?

Yes, perasaan nelangsa gitu pernah gue alami. Tapi gue di sini bukan untuk menambah menye-menye atau bikin kalian yg baru putus jadi tambah menderita. Gue akan coba share, langkah awal apa untuk move on dan alasan kenapa lo harus move on.

Mungkin sebagian akan setuju dengan pemikiran gue, sebagian akan menolak, dan sebagian akan berpikir ulang. Its fine, karena semua orang punya pengalaman dan solusi yg berbeda.

Oke, here goes…

Move on harus diawali dengan  membenahi pikiran karena salah satu hal yg bikin semua jadi ribet disebabkan oleh mindset/pola pikir yg salah.

Pola pikir lo selalu berkata bahwa lo cinta, rindu, dan inginkan dia karena cuma dia yg selalu ada. Lo akan mati tanpanya. Jadinya? Ya, mati beneran!

Gue paham memang sulit ‘melupakan’ orang yg kita sayang. Tapi pahami bahwa itu menjadi sulit karena kita selalu mengenang kebiasaan.

Kita terbiasa dengan hadirnya,  suaranya, candanya, sikapnya atau hal-hal menyenangkan ketika kita sedang bersamanya, dan ketika dia hilang, seakan ada yg lenyap dari diri kita.

Trus gimana cara buat melupakan mantan?

Nah, ini dia kesalahannya. Gini, semua indera manusia itu didesain untuk merekam dan mengingat setiap moment dalam hidup.

Secara sistemik, hampir semua orang yg pernah masuk dan berinteraksi dalam hidup lo, akan lo ingat.

Contoh, mungkin lo udah bertahun-tahun lulus sekolah tapi ketika reuni mungkin lo akan kembali mengingat moment-moment ketika dulu bersama temen-temen lo. Ketika lo dimarahi guru, cabut kelas, atau nyontek bareng-bareng, semua tiba-tiba teringat kembali.

Jadi, belajar dari situ maka usaha lo untuk melupakan mantan adalah hal yg sia-sia. Kecuali lo tiba-tiba kejatuhan gapura selamat datang dan jadi lupa permanen ya itu lain lagi ceritanya.

Terus gimana dong? 

Kita memang nggak tau siapa jodoh kita ke depan tapi bila untuk balikan adalah hal yg mustahil maka tak perlu memaksa mengemis minta balikan.

Lo juga nggak perlu melupakannya kok, yg lo harus lakukan adalah menetralkan perasaan lo ke dia.

How? 

I told you, its all about mindset.

Pertama, positive thinking. Gue tau ini susah tapi cobalah untuk berpikir positif.

Datang dan perginya seseorang dalam hidup adalah hal yg normal. Kita pasti pernah berpisah atau kehilangan seseorang. Mungkin karena beda pilihan, beda sudut pandang,  atau karena maut memisahkan.

Sekarang coba ingat deh, sebelum dia masuk dalam hidup lo, dia bukan siapa-siapa. Sebelum kenal dia, lo bisa hidup tanpanya. Maka, yakini bahwa hari ini, tanpanya lo pasti bisa melanjutkan hidup. Pasti!

Kedua, definisikan kembali apa itu mantan dan kenangan. Beberapa waktu setelah putus, yg ada hanyalah kenangan, dan itu nggak salah. Sekali lagi itu normal. Lo akan sering mengingat bagaimana dia berkata, bertindak, dan membuat lo menjadi sangat nyaman bersamanya. But the question is, kalo sayang dan sudah nyaman, kenapa bisa jadi mantan?

Sadari bahwa semua terlihat manis karena yg lo ingat hanyalah kenangan yg manis. Memang dia pernah bikin nyaman namun pernah bikin nyaman bukan jadi alasan untuk balikan.

Coba ingat kembali every single moment yg membuat kalian akhirnya memutuskan untuk berpisah. Pertengkaran? Jarak? Ego? Beda agama? Pihak ketiga? Atau memang pada dasarnya salah satu pihak sudah kehilangan komitmen untuk bersama.

Ketiga, look around. Ada banyak yg single, baik, cakep, dan tentunya memiliki kemungkinan untuk membuat lo lebih nyaman di luar sana. So, kenapa harus membatasi pikiran bahwa hanya dia yg bisa bikin lo bahagia?

Ada milyaran manusia di muka bumi dan kita berhak untuk bahagia. Mungkin saat ini lo sedih kehilangannya, namun di masa depan mungkin lo akan bahagia karena berani melepaskan dan mendapat penggantinya, yg jauh lebih baik.

Keempat, kenangan tentang mantan mungkin akan memakan dan mengorbankan banyak hal. Sadar gak, efek buruk apa yg terjadi kalo lo kebanyakan inget mantan? Yup, hidup lo jadi berantakan.

Lo bakal sedih lagi. Lo bakal galau dan nangis dipojokan kamar mandi. Mata lo bakal sembab, jerawat betebaran, dan gangguan pencernaan karena telat makan. Jadinya apa? Lo bakal jadi jelek dan penyakitan! Sedangkan dia mungkin sedang hahahihi dengan gebetan barunya… *uups*

Belum lagi kerjaan jadi nggak beres, dan orang lain akan menilai lo sebagai pihak yg tidak profesional. Menyedihkan bukan? Sedih boleh tapi jangan kelamaan.

Dunia ini luas dan ada banyak hal menyenangkan menunggu di depan. Satu jam lo sedih means lo membuang 60 menit secara sia-sia. Artinya lo kehilangan 3.600 detik kemungkinan-kemungkinan lain untuk bahagia.

Kalo lo ngeyel dan bilang ah, sejam mah sebentar, hhmmm baiklah coba lo itung angka 1 sampai 3600, dijamin ‘bleber’ bibir lo hehehe.

Kelima, lo bukan satu-satunya. Sadari bahwa patah hati dialami oleh hampir tiap jiwa yg memiliki cinta. Bahkan kucing gue pernah patah hati!

Sadari bahwa putus adalah satu dari sekian banyak masalah yg ada dalam hidup. Dan sadari bahwa ada banyak masalah atau rintangan yg lebih pelik menghadang di depan. So, buat apa bikin semua tambah rumit?

Keenam, mata dan kaca. Tau nggak kenapa Tuhan meletakkan kedua mata di depan? Tau nggak kenapa kaca depan mobil selalu lebih besar daripada kaca spion? Agar kita lebih fokus ke depan dibanding melihat ke belakang!

Ketujuh, ikhlas. Semua yg terjadi itu sudah digariskan. Semua itu ada masa berlakunya. Kalo hubungan kalian berakhir ya berarti memang saat-saat kalian untuk bersama memang sudah habis.

Percaya deh, baik buruk yg Allah kasih ke kita pasti tetap yg terbaik, karena baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Suatu hari akan terjawab, kenapa kita lebih baik hidup tanpanya. Suatu hari akan terjawab siapa tulang rusuk kita sesungguhnya.

…Cinta tak hanya mengajarkan untuk berbagi bahagia tapi juga menguatkan kita meski dia tak lagi bersama. Karena hidup berarti melangkah ke depan, bukan stagnan meratapi yg telah hilang…


Benahi diri dan bersiaplah untuk jatuh cinta lagi.


Ps : Ada yg mau curhat atau nambahin tentang move on? Just feel free ya.

0

Who cares?

…Human : Oh God, why me? | God : Oh, why not?…

Sering banget pas lagi online, baru buka timeline dan harus membaca deretan keluhan di status/timeline orang-orang. Ada yang memang berat masalahnya tapi ngga jarang kebanyakan hanya drama. Dari patah hati hingga keluhan yang cuma : “Damn, pas ketemu dia, poni gue lagi berantakan pula!” atau “Duuhh, sepatu ama baju gue hari ini  ngga matching deh” kemudian langsung berasa bahwa dunia akan kiamat saat itu juga. Seakan-akan pergeseran poni membuat matahari bertukar posisi dengan bulan.

Belum lagi dengan maraknya akun palsu yang gemar menulis tentang isu SARA, menghembuskan kebencian, menghina pihak-pihak tertentu, dan membuat pernyataan seakan-akan sudah tidak ada harapan lagi di negeri ini. Sumpah menurutku, ini ngga penting banget!

Ketika membaca tulisan/keluhan mereka, terkadang aku suka bertanya dalam hati, itu maksudnya nulis kayak gitu apa ya? Beneran kesusahan atau sekedar ingin eksis dan dapet kalimat “ijin share ya bro“? Beneran lagi ribet atau ingin sekedar mendapat pujian dan like, retweet, atau repath dari orang-orang dengan tulisan “i feel you, cyyiiiinn“? To be honest, mereka yg suka menulis kalimat cacian dengan kata-kata kasar kebun binatang atau menghembuskan kebencian, bagiku mereka gagal bersikap karena tidak bisa menempatkan diri sebagai makhluk sosial di ruang sosial.

Aku lupa linknya tapi pernah baca kalo kalian mengeluh di social media, mostly orang-orang hanya akan membaca dan acuh, beberapa akan me-like/retweet/repath, dan beberapa yang kenal cukup dekat akan menulis dengan pertanyaan : ada apa bro/sist? In fact, mungkin malah ada yg senang tertawa dengan kemalangan yg lagi kalian alami lalu berlalu.

Yup, ujung-ujungnya mereka hanya berlalu, who cares with your drama?

Gue setuju bahwa mengeluh adalah hak masing-masing individu. Gue juga setuju manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berkeluh kesah tapiiiii..ngga tiap menit juga harus posting keluhan di socmed bukan? Ngga tiap saat harus nulis atau retweet kata-kata sedih, menye-menye pengen gantung diri di pohon toge bukan? Ngga harus nulis kalimat kebun binatang yg subjeknya mesti nyebut beberapa jenis hewan bukan?

Tau ngga sih, kalo apapun yang kalian tulis, itu akan berdampak bagi pembacanya, baik secara langsung maupun tidak. Hal positif yang menginspirasi/memotivasi akan memberikan energi positif bagi pembacanya. Sebaliknya, hal negatif yang kalian tulis akan berdampak negatif bagi pembacanya, dan pembaca itu bukan cuma keluarga, pasangan, atau gebetan yang lagi kepo ama akun kalian aja tapi juga mereka-yang-kebetulan-buka-timeline-di-hari-yang-cerah-ceria dan tanpa badai tanpa tsunami harus berubah moodnya karena membaca postingan kalian yang isinya yaa gitu deh.. 

Taukah kalian, bahwa mereka juga berada di posisi dilematis, dan berpikir : duuhh ini orang kok ya nulisnya galau mulu, seakan-akan cuma dia yang punya masalah? Mau di block, ngga enak karena mungkin kenal deket tapi kalo didiemin kok ya bikin rusak mood aja. Serba salah.

Kalo kalian pikir bahwa akun pribadi kalian adalah milik kalian sepenuhnya memang benar tapi harus diketahui bahwa akun kalian berada dalam wadah bernama social media. Ada ruang publik di situ, ada banyak orang yang punya hak dan kewajiban yang sama di sana. Mari bersama untuk saling menjaga dan menginspirasi. Sebarkan kebaikan, bukan cacian penuh kebencian.

Lagipula, sebelum kalian berkeluh kesah panjang lebar meratapi hidup, sebelum kalian menggunakan subjek hewan sebagai umpatan, sebelum kalian bertanya dengan lantang kepada Tuhan dengan kalimat : Oh God, why me? coba deh berpikir sejenak. Sadari bahwa di dunia ini ada milyaran orang. Yang lagi sakit, broken home, patah hati, kehilangan orang tersayang, target ga tercapai, skripsi terancam gagal, terancam di PHK dan kerjaan ga beres itu banyak, even banyaaaaaaakk bangeeeeeeett!

Intinya bukan cuma kalian doang kok yang sedih, bukan cuma kalian doang kok yang susah. Bukan cuma kalian doang kok yang patah hati, diputusin, diselingkuhin, atau kejatuhan tai burung pas lagi main golf ama gebetan.. #eh 

Ayolah kawan..

Di atas langit masih ada langit. Akan selalu ada yang lebih beruntung dari kalian namun tak sedikit yang hidupnya lebih sulit dari kalian. Kalo kalian pikir kenapa si A hidupnya enak-enak aja, kenapa si B hidupnya anteng-anteng aja atau kenapa si C hidupnya adem ayem kayak sayur bayem, dibanding hidup kalian yg kalian rasa isinya badai melulu, coba pikir deh bahwa yang kalian lihat itu’kan hanya luarnya aja. Kelihatan enak belum tentu ‘enak beneran‘ bukan?

Mereka pasti juga punya segudang masalah. Mereka pasti juga punya bekas luka yang menggores hati dan jiwa. Bedanya, mereka menyikapi dengan biasa aja, seakan tidak terjadi apa-apa. Bukan berarti mereka munafik tapi mereka mencoba untuk dewasa menghadapi hidup yang memang tidak mudah. Mereka tau bahwa keluhan dan caci maki tidak akan merubah apa-apa. Yang kalian lihat adalah kemampuan mereka untuk tetap menegakkan kepala melewati berbagai ujian hidup yang datang silih berganti.

Tidak ada yang tahu, kalo si A yang sering hahahihi itu sebenarnya menangis dalam tahajudnya, diam bersujud berdoa kepada Tuhan agar keluarganya yang broken home bisa utuh kembali.

Tidak ada yang tahu dibalik senyum si B yang ceria itu sebenarnya sedang gelisah karena bisnisnya terancam bangkrut sedangkan dia adalah tulang punggung keluarga dan ada banyak karyawan yg bergantung hidup pada usahanya.

Tidak ada yang tahu kalo si C yang sering tertawa dan bercanda itu sebenarnya harus memotong habis rambutnya setiap bulan akibat efek kemoterapi yang membuat rambutnya rontok, sebagai terapi kanker otak yang mengancam hidupnya setiap saat namun dia tetap tersenyum ramah ketika orang-orang mengatai kepalanya mirip batu akik, pentul korek api, atau disamakan dengan mic berjalan.

Dan, tidak ada yang tau, dibalik senyum optimisme si D mungkin dia sedang mengalami patah hati terhebat karena melihat dengan mata kepala sendiri tunangannya meninggal sehari setelah mereka bertukar cincin.

Tidak ada yang tau, kawan..

Karena yang kalian lihat adalah kedewasaan mereka untuk tetap melanjutkan hidup apapun resikonya, apapun hasil akhirnya. Mereka tetap berjuang dibanding hanya mengumbar cacian dan keluhan di media sosial.

Kawan,

Sadari bahwa hidup itu sesungguhnya adil karena Allah-lah Sang Maha Adil.

Ingatlah bahwa, untuk satu hal yang dikurangi akan ada hal lain yang dilebihkan. Masalahnya kita sering melihat dari sudut pandang kita, bukan sudut pandang Yang Maha Pencipta.

Kita hanya melihat bahwa ‘lebih’ itu hanya berupa materi, seakan kita lupa betapa berharga dan mahalnya kesehatan kita.

Kita hanya melihat bahagia itu bisa pergi jalan-jalan kesana kemari sehingga lupa meluangkan waktu bersama keluarga dan orang tua yang makin hari semakin terbatas umurnya. 

Kawan,

Kalo rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau itu mungkin karena kita lupa untuk merawat rumput kita sendiri.

Atau, mungkin bukan hidupmu yang kurang tapi rasa syukurmu yang mulai menghilang.

Mungkin bukan rejekimu yang sulit tapi pola pikirmu yang sempit.

7 Agustus 2015