0

Cara Mudah Bikin Bukumu Masuk Toko Buku


Jujur, ada banyak tulisan bermutu yg bisa didapat dari media sosial. Mulai dari pengalaman spiritual (agama), sosial budaya, ekonomi bisnis, hingga berbagi pengalaman menggunakan produk/jasa tertentu, termasuk beragam tips dan triknya.

Satu hal yg gue pikirkan hingga saat ini adalah sayang banget ya kalo tulisan kalian yg oke punya itu hanya bertahan dalam waktu hitungan jam atau hari, mengingat salah satu sifat media sosial adalah memberikan informasi yang selintas. Artinya, tulisan yg sudah muncul akan tergeser dan terus tergeser oleh tulisan lain yg lebih baru.

Sayang’kan kalo info penting tentang parenting misalnya harus tergeser oleh status galau teman yg teringat mantan ketika hujan?

Gue juga melihat banyak potensi menulis (even beberapa adalah tulisan yg sudah berstandar nasional) namun dibiarkan begitu saja. Padahal mungkin sebenarnya potensi menulis itu adalah berlian yg terpendam. Tinggal sedikit diasah, diberi panggung, lalu kilaunya menakjubkan dunia.

Lalu, otak gue pun berpikir, kenapa nggak dibukukan ya potensi dan tulisan kalian yang keren banget itu?

Mungkin lewat ilmu yg kalian bukukan akan sangat bermanfaat bagi banyak orang dan kelak jadi timbangan pemberat di akhirat.

Bisa berbagi ilmu yg tak lekang oleh jaman. Dan tentu, sebagai penghargaan dan pembuktian pada diri sendiri bahwa kita punya pemikiran yang layak dibagi.

Namun berbagi ilmu, pemikiran dan pengalaman memang harus kita yg memperjuangkan.

Faktanya, menulis skripsi/tesis jauh berbeda dibanding menulis novel fiksi sekalipun. Nilai yang ingin dibagi lebih luas konteksnya karena tak hanya dibaca pihak akademisi/almamater sendiri tapi skala nasional.

Mungkin kalian akan berpikir untuk mencoba mengirim naskah ke major publisher. Tentu itu adalah cara yang umum dan sangat baik. Masalahnya, tak semua major publisher mau menerbitkan buku kita. Ada kriteria tertentu dan perhitungan bisnisnya.

Tak sedikit penulis yg mengirimkan email ke pihak publisher tahun ini, baru dapat balasan email tahun depan. Itupun jawabannya tak jelas apakah naskah diterbitkan atau tidak.

Mostly, jawabannya adalah ‘naskah anda sudah kami terima dan sedang kami pelajari, silahkan tunggu email balasan.’

Mengapa proses di major publisher bisa begitu lama layaknya  menunggu jodoh yg tak kunjung tiba? 

Karena tiap bulan ada ratusan naskah baru yg masuk ke sana. Naskah itu harus dibaca satu demi satu oleh tim editor yg jumlahnya tentu tak sebanding dengan jumlah naskah yg masuk.

Ilustrasinya, bulan Januari naskah masuk 300, editornya tiga orang. Naskah yg bisa diseleksi 100, sisa naskah belum terbaca 200. Bulan Februari naskah masuk lagi 300, editornya tetap tiga orang. Total naskah bulan lalu dan bulan Februari 500 naskah. Dan, semuanya berulang dan kian bertambah tiap bulan. Kebayang gak antriannya kayak apa?

Maka menunggu jawaban dari major publisher itu mirip kayak temen lo yg bilang ‘gue otw yaaah’ padahal dia baru bangun.

Yup, bukan cuma jemuran aja yg bisa digantung. Naskah kalian juga bisa. **curhat.

Major publisher biasanya juga punya kriteria tertentu tulisan apa yang akan mereka terbitkan. Mereka juga melihat latar belakang siapa penulisnya, apakah kalian tergabung komunitas yg bisa mengenjot promosi dan penjualan bukunya. Intinya, hukum pasar dan perhitungan bisnis adalah hal utama.

Lalu, apa solusi termudah dan tercepat?

Mulai April 2017, gue bekerja sama dengan pihak publisher dan pihak lain terkait dunia kepenulisan agar teman-teman bisa menerbitkan buku dan masuk toko buku apapun genre-nya (fiksi atau non fiksi) selama tak menyinggung SARA.

Kami berusaha memformulasikan impian kalian dengan efektif dan efisien.

Kalian akan punya buku sendiri yg ber-ISBN, dipajang di toko buku, terdaftar resmi di perpustakaan nasional, nama kalian terkenal dan harum mewangi hingga pelosok negeri.

Dengan buku maka nilai, pemikiran, dan pengalaman kalian akan jadi inspirasi bagi banyak orang dan pahala mengalir dunia akhirat. Keren’kan?

Maka, kami menawarkan konsep self publishing-terintegrasi. Siapapun bisa jadi penulis, menerbitkan buku, dan bukunya dijamin masuk toko buku dengan biaya seefisien mungkin.

Bedanya dengan pihak self publishing lain adalah buku kalian pasti terbit, masuk toko buku, dan tanpa perlu mencetak buku dalam jumlah banyak.

Sekedar informasi, standar cetak nasional itu 3.000 hingga 5.000 eksemplar. Dengan kami, kalian cukup cetak antara 200 hingga 1.000 eksemplar saja. Resikopun lebih kecil karena biaya cetak yg lebih sedikit.

Selama proses pracetak hingga buku ter-display, kalian juga bisa ikut serta mulai mempromosikan karya kalian.

Bagaimana dengan hasil penjualan? 

Hasil penjualan 100% jadi milik kalian. Tentu setelah dikurangi pajak dan perhitungan lain yg berhubungan dengan pihak toko buku. Kami tak ambil sepeserpun.

Kalian hanya perlu membayar biaya cetak saja. Yup, bayar biaya cetak saja, bukan harga jual.

Tambahan biaya hanya dikenakan bila terkait dengan layanan teknis tambahan saja, itupun bila kalian mengambil layanan tambahan, seperti editing, proof read, layouting, cover, dan ISBN.

Bagaimana dengan harga jual? 

Lagi-lagi kami memberi kebebasan bagi kalian untuk menentukan harga jual buku sendiri.

Misal : biaya cetak 15 ribu rupiah maka adalah hak kalian untuk menjual dengan harga 50 ribu, 60 ribu atau bahkan 70 ribu rupiah.

Paling, kami hanya memberi saran dan masukan tapi keputusan menentukan harga tetap pada kalian.

Dan, yang menyenangkan lagi bila kalian tak mau ribet dengan semua proses pracetak seperti editing, proof read, layouting, cover, dan pengurusan ISBN, kalian bisa menyerahkan pada kami dengan biaya terbaik.

Bagaimana dengan biaya distribusi buku ke toko buku?

Biaya distribusi buku kalian ke seluruh toko buku di Indonesia pun menjadi tanggungan kami.

Jadi, siapapun kamu yg ingin berbagi ilmu dan memiliki naskah, apapun naskahnya, entah fiksi atau nonfiksi, dan ingin dibukukan, diterbitkan, dan didisplay di toko buku sekelas Gramedia, Karisma, atau Toga Mas sepulau Jawa, Bali atau bahkan seluruh Indonesia, jangan sungkan untuk hubungi.

Just feel free to contact us

Widy – 085713888005

Andrea – 08567812386

0

Tentang move on (lagi)


Guten tag, alle!

Wie gehts?

Gilaaaaaak!!! 

Bulan ini blog kosong melompong gegara gue sibuk mengurus revisi novel.

So, langsung aja deh gue mau share tulisan tentang move on (again) 😋

Awal Maret 2017. Rest Area Km 10 Tol Jagorawi.

Disebuah kedai kopi yang biasanya selalu salah tulis nama pembeli, gue bertemu temen gue, cewek, namanya M. Nama lengkapnya, May Peace Be Upon You. *Plak!*

M ini baru beberapa waktu putus dari cowoknya. Diputusin setelah terlebih dahulu diselingkuhi tepatnya. 

Gue juga heran kenapa tau-tau dia ngajak ketemuan dan akhirnya numpahin uneg-unegnya tepat saat langit Jakarta diguyur hujan yg tak kunjung reda.

Namun, layaknya seseorang yg masih bingung antara harus tetap sayang atau harus melepaskan, dia pun bimbang. Rasa rindu memang tak bisa berdusta dan hujan selalu menimbulkan kenangan. Banyak dan sulit dilupakan.

So, this was our last conversation…

M : Ndre, gue kangen dia deh. Pengen balikan sama mantan. Kemarin dia tiba-tiba chat, tanya kabar dan gue baru tau kalo dia sekarang juga single lho…

Gue : Lah, lo bukannya kemarin diputusin terus besoknya dia udah jadian sama orang lain? Lo keledai apa kedelai?

M : Ya iya sih tapi jujur hati gue masih sayang… 

Gue : Hati memang penting buat merasakan tapi bikin keputusan tetap harus pakai pikiran.

M : Ah, yaudah sih… Eh, lo bisa bikinin gue tulisan atau puisi yg romantis gak tentang dia? Gue bayar sejuta kalo gue bisa balikan.

Gue : Gak usah, gratis aja. Lo ada kertas sama pulpen gak?

M : Bentar, ada, nih pulpennya.

Gue : (mulai nulis)
Untukmu Yang Namanya Terlukis Dikala Hujan. 

Hujan ini mengingatkanku padamu. Tentang kita yg berjalan bersama. Menikmati riak gerimis yg romantis. Lewat sejuk yang perlahan masuk menyelusup. 

Ingatkah kau?

Saat hujan turun perlahan, kita bergandengan tangan. Saling berbagi perasaan lalu tiba-tiba kejatuhan patung pancoran. Kamu tewas mengenaskan dan akupun melanjutkan hidup dengan selingkuhan. Kamu berakhir di kuburan, aku tetap senang bermesraan.

-end-

M : Tempe bacem! Puisi apaan tuh?

Gue : Bahahaha…

M : Ah, elu mah ngehe kuadrat, senang kalo liat gue sedih…

Gue : Yakin? Yg senang liat lo sedih itu gue atau diri lo sendiri? 

M : (terdiam, mukanya menunduk)

Gue : M, beberapa kenangan itu memang hanya untuk dikenang, bukan diulang. Lo tau kenapa Tuhan menciptakan dua mata di depan? 

M : Kenapa?

Gue : Karena Tuhan ingin apapun yg terjadi, kita tetap melanjutkan hidup. Bukan malah menye-menye garuk-garuk aspal. Move on. Masih banyak hal-hal menyenangkan yg bisa dilakukan ketimbang duduk-bego-bengong mikirin orang yg nusuk lo dari belakang. 

M : (kembali terdiam)

Gue : Dia udah nggak sayang sama lo. Dia nanya kabar lalalala itu bullshit aja, biar kelihatan dikira care, atau alasan jaga tali silahturahim. Basi alasan begitu…

M : Lo tau dari mana dia udah nggak sayang?

Gue : Ya kalo dia selingkuh, tandanya hatinya bukan buat lo lagi. Orang yg sayang dengan lo akan memperlakukan lo dengan segenap perasaan, bukan malah mengkhianati dari belakang. Dia nggak bisa jaga komitmen, apa kabar kalo lo nanti nikah sama dia? Lo bersyukur tau aslinya pas pacaran. Bayangin kalo udah nikah apalagi punya anak? As simple as that.

Setelah gue bilang begitu, M terdiam cukup lama. Pandangannya menerawang dan perlahan air matanya keluar. 

Namun tak lama, M memeluk gue dan membisikkan ucapan terima kasih. Air matanya masih membanjiri kedua kelopak matanya namun kini dia tersenyum lega. Sebuah senyum ramah khas janah yang belakangan hilang direnggut seorang bajingan, kini bersemi kembali.

Gue senang akhirnya dia sadar tapi bukan itu yang bikin gue happy. Beberapa minggu setelahnya, dia menelepon dan mengabarkan bahwa dia akan segera menikah setelah lebaran. Dengan lelaki yang jauh lebih baik, yg memang pantas untuknya. 

So, buat lo yg masih susah move on padahal telah disakiti atau bahkan diselingkuhi, mau tunggu apa lagi?

…Hanya karena lo merindukannya bukan berarti lo membutuhkannya. Karena merindukan adalah tahap awal untuk melepaskan dan mulai melangkah ke depan…

Inget deh, sebelum bertemu si kecoak itu lo bisa hidup. Nah, sekarang pun tanpanya, lo juga bisa. Pasti bisa! Lagian siapa juga yang butuh kecoak?

Jumlah manusia di muka bumi milyaran. Selalu ada banyak kemungkinan untuk bahagia di masa depan. Tinggalkan mantan dan mulailah melangkah ke depan.

Indonesia, ayo move on!

3

Abigail (5) – A goodbye!


Goodbye, Abigail!

Terima kasih buat semua teman-teman, kerabat, komunitas penulis, dan pihak lain yg sangat mengapresiasi terbitnya novel perdana saya, Abigail.

Sungguh terharu melihat karya perdana saya diikutsertakan dan bersanding dengan karya lain yg juga luar biasa dalam Festival Musik dan Literasi-Mocosik di Yogyakarta kemarin. Bisa bertengger dalam stand W.S Rendra adalah sebuah kehormatan besar bagi penulis pemula seperti saya.

Terlebih dari pihak Gramedia pun memberikan respon yg sangat positif dengan meminta pre order hingga 2.000 eksemplar. Itu belum dihitung dari pre order toko buku lain seperti Toga Mas dan Karisma.

Namun, dengan menyesal saya harus memberitahukan bahwa terhitung mulai besok (17/2) Abigail akan ditarik serentak dari lebih 100 toko buku se-Indonesia karena terdapat kesalahan cetak. Ada satu bab yg hilang di dalamnya pada saat proses layout dan pihak publisher sudah mengakui kesalahannya dan bertanggung jawab untuk menarik, merevisi, dan mencetak ulang.

Abigail akan dicetak ulang dengan cover, ISBN, dan judul yg baru dan isi yg sudah direvisi namun tak akan merubah makna cerita secara keseluruhan, mengikuti syarat dari pihak toko buku bahwa setiap buku yg baru terbit namun memiliki kesalahan cetak, harus direvisi dengan judul dan cover baru, untuk kemudian di display kembali di toko buku.

Buat teman-teman yg sudah membeli buku tersebut, harap disimpan baik-baik karena nanti bisa dijadikan bukti untuk komplain dan ditukar dengan cetakan terbaru di waktu yg akan datang.

Sekali lagi, mewakili pihak publisher, dengan segenap hati, saya mengucapkan terima kasih dan mohon maaf untuk ketidaknyamanannya.
Hormat saya

Andrea Juliand

0

My cat vs me (2)


Bagi beberapa orang, Senin di pagi hari adalah saat yg tepat memulai hari. Bertemu klien dengan semangat sambil mengatur strategi. Sebuah strategi rutin namun pasti yg membuat mereka bersemangat untuk mengejar posisi tertinggi. See you on top, begitu tipikal orang seperti ini terbiasa mengakhiri kalimat.

Walau beberapa orang lain seakan terpaksa untuk memulai hari, memulai aktivitas layaknya robot yg mengulang ritual tiap tujuh hari sekali. Memulai dengan malas dan merutuki ritual di Senin pagi. 

Namun itu di sana. Di sini tampak sesosok buntelan kentut berkaki empat nampak terlelap di sudut kamar. Mendengkur pulas dalam belaian mimpi.

Tak lama, kedua kelopak mata kecilnya membuka perlahan. Kepalanya sedikit terangkat. Celingak celinguk memperhatikan keadaan. 

Segera setelah ia sadar, muka polosnya perlahan berubah menjadi panik. Panik bercampur bego. As usual…

Kucing : Ya ampun, ini udah Senin ya?

Gue : Ho’oh…

Kucing : Kalo ditanggalan manusia abis Senin itu Sabtu, terus Minggu’kan? Berarti besok libur lagi’kan? Ya’kan? 

Gue : Suka-suka lo deh… 🙈

Buntelan kentut itu hanya melongo. Tak tahu apakah ia paham atau tidak. Namun tak lama ia kembali terpekur. Mendengkur seperti biasa, menunggu hari berganti yg ia pikir adalah akhir minggu.

*edisi translate bahasa kucing -> bahasa orang.

0

Abigail (4) – Mocosik Jogja 2017



Membacalah maka kau akan mengenal dunia. Menulislah maka kaulah inspirasi dunia.

Setelah menjadi tempat perdana  Abigail terbit, Yogyakarta kembali mengabarkan hal baik.

Maka dengan segenap jiwa,  ijinkan saya berkata…

Terima kasih Yogyakarta telah menghadirkan karya perdana saya berdampingan dengan karya-karya lain yg luar biasa!

Festival Musik dan Literasi

Mocosik Jogja 

12 – 14 Februari 2017

Membaca musik, menyanyikan buku.


Terima kasih. Danke schön. Haturnuhun Yogyakarta.

@andreajuliand

0

My cat vs me


Hari ini minggu pagi. Hujan mengguyur Jakarta sedari dini hari  hingga saat ini. 

Seharusnya, ini adalah minggu yg penuh damai hingga semua rusak ketika sebuah pesan dari ibu menyelinap masuk dengan perintah khusus : mandiin adikmu!
Yup, adik gue ya siapa lagi kalo bukan kucing gue. Seekor kucing jantan yg lebih disayang ibu dibanding gue. 

Dan layaknya seorang prajurit terhadap perintah atasan, gue pun harus meninggalkan rayuan kasur empuk dan hangatnya selimut. Hanya untuk memandikannya. Si buntelan kentut yg hobinya berlarian kemana-mana. Seperti gasing yg terus berdesing. Seperti batu baterai yg tak pernah kehabisan energi.

Seperti biasa, si kucing selalu mengeluh tiap dimandikan. Mukanya merengut dengan tatapan kebencian. Pada siapa? Ya tentu saja gue.

Ini adalah pembicaraan kami ketika sedang di kamar mandi. Tenang, bahasanya sudah di-translate agar kalian paham.

Here goes,

Kucing : Udah tau hujan seharian, malah mandiin gue! Kan dingin tau! Lo nggak pernah ngerasain jadi kucing sih!

Gue : Udah tau hujan malah main ke jalan! Kalo lo kotor kan gue mulu yg disuruh emak mandiin elu! Lo nggak pernah ngerasain melihara kucing sih!

Kucing : Ah, susah emang ngomong ama manusia, maunya menang sendiri!

Gue : Lah lebih susah gue ngertiin  lo, selalu ngeyel sendiri!
#edisi.gagal.empati

0

Tutupi aibmu dan saudaramu

Rasanya, 

ingin sekali menulis tentang politik. Telah kubaca dengan seksama, tentang  tindak tanduk mereka, yg mendelik namun tertutup jubah dan senyum baik.

Setan membisikkan,

Untuk sekali-kali buat tulisan yg menjatuhkan pasangan nomor sekian. Untuk bikin sentilan, buka aib si anu dan si itu, yg terlihat mesra bergandengan padahal yakinku mereka induk kejahatan.

Namun, hati kecil selalu bilang,

Bagaimana bila posisinya dibalik? Bagaimana bila sangkaan ini ternyata tak beralasan? 

Bagaimana bila berita yg ku baca tak sesuai aslinya?

Dan, bagaimana bila kemudian giliran aibku yg dibuka, diumbar, dan dicaci? 

Layaknya bangkai siap saji yg dihidangkan setiap hari? Diinjak, diludahi, tak terperi.

Dibumbui segala penyedap entah hoaks atau asli.

Gencarnya media membuat semuanya seakan tahu segalanya. Masifnya media bikin mereka disana lebih tau kita dibanding kita.

Namun satu yg jelas, siapapun dia, tak ingin diinjak kehormatannya. Siapapun kita, aku, atau kamu tak ingin menelan malu. Pilu rasanya dicap ‘cupu’ atau benalu

Duhai, jiwa yg penuh cinta.

Semua itu ada hisabnya. Apa yg kau tanam, itu yg kau tuai. Kebencian yg kau pupuk, maka kesedihan tumbuh menumpuk.

Karena cepat atau lambat, hidup atau mati, apa yg kau lakukan akan kembali pada diri sendiri…
@andreajuliand