0

Rindu itu … 

Rindu,

Rindu itu semu, bila kamu rindu dia yang tak pernah merindumu. Satu purnama dirimu menahan rindu namun tak semalampun rindu hadir pada dirinya.

Rindu itu melelahkan, bila karenanya kamu melayang ke awan namun dia hanya menatap tak acuh dari daratan.

Rindu itu labirin. Seakan tenggelam dan hilang. Mencari-cari jalan keluar yang pintunya hanya ada ketika dia ada.

Rindu itu ledakan. Begitu dahsyat hingga mendorongmu melakukan apapun namun apapun yang kamu lakukan tak juga menghilangkan rindumu padanya.

Rindu itu lucu. Entah mengapa setiap momen yang ada, tanpa perlu usaha, namun selalu menarikmu kembali mengingat dia yang nun jauh di sana.

Rindu itu pertanyaan. Dan, pertanyaannya tak pernah jauh dari : bagaimana mungkin hatimu tak merindukannya?

Rindu itu kamu. Kamu yang berharap agar dia berlabuh dihatimu, tanpa syarat. Lalu, hati kalian berlayar mengarungi ganasnya lautan.

Rindu itu dia. Dia yang bermetamorfosa menjadi udara dan kamu tak bisa hidup tanpanya.

Rindu itu kalian. Hanya bisa  menatap dan masing-masing mencari jejak. Lewat akun-akun sosial media, dering gawai di tepi meja, dan doa-doa pada Sang Pencipta, hanya untuk berharap seandainya dapat berjumpa. 

Rindu itu masa lalu. Masa yang segera sirna oleh sepasang langkah yang kian mendekat, tatapan nyaman, dan peluk hangat sambil berbisik, hey, aku rindu tau… kamu apa kabar, sayang? 

Lalu, rindu itu kekal. Ketika kamu berjabat tangan dengan walinya, memindahkan baktinya untukmu, dan menjadikannya bagian hidupmu. Seutuhnya. Selamanya.
#sajakrindu

Oleh : @andreajuliand

0

Abigail (4) – Mocosik Jogja 2017



Membacalah maka kau akan mengenal dunia. Menulislah maka kaulah inspirasi dunia.

Setelah menjadi tempat perdana  Abigail terbit, Yogyakarta kembali mengabarkan hal baik.

Maka dengan segenap jiwa,  ijinkan saya berkata…

Terima kasih Yogyakarta telah menghadirkan karya perdana saya berdampingan dengan karya-karya lain yg luar biasa!

Festival Musik dan Literasi

Mocosik Jogja 

12 – 14 Februari 2017

Membaca musik, menyanyikan buku.


Terima kasih. Danke schön. Haturnuhun Yogyakarta.

@andreajuliand

0

Tutupi aibmu dan saudaramu

Rasanya, 

ingin sekali menulis tentang politik. Telah kubaca dengan seksama, tentang  tindak tanduk mereka, yg mendelik namun tertutup jubah dan senyum baik.

Setan membisikkan,

Untuk sekali-kali buat tulisan yg menjatuhkan pasangan nomor sekian. Untuk bikin sentilan, buka aib si anu dan si itu, yg terlihat mesra bergandengan padahal yakinku mereka induk kejahatan.

Namun, hati kecil selalu bilang,

Bagaimana bila posisinya dibalik? Bagaimana bila sangkaan ini ternyata tak beralasan? 

Bagaimana bila berita yg ku baca tak sesuai aslinya?

Dan, bagaimana bila kemudian giliran aibku yg dibuka, diumbar, dan dicaci? 

Layaknya bangkai siap saji yg dihidangkan setiap hari? Diinjak, diludahi, tak terperi.

Dibumbui segala penyedap entah hoaks atau asli.

Gencarnya media membuat semuanya seakan tahu segalanya. Masifnya media bikin mereka disana lebih tau kita dibanding kita.

Namun satu yg jelas, siapapun dia, tak ingin diinjak kehormatannya. Siapapun kita, aku, atau kamu tak ingin menelan malu. Pilu rasanya dicap ‘cupu’ atau benalu

Duhai, jiwa yg penuh cinta.

Semua itu ada hisabnya. Apa yg kau tanam, itu yg kau tuai. Kebencian yg kau pupuk, maka kesedihan tumbuh menumpuk.

Karena cepat atau lambat, hidup atau mati, apa yg kau lakukan akan kembali pada diri sendiri…
@andreajuliand

0

Selangkah lagi


Bersyukurlah bila kau diberi cobaan. Bisa jadi dosamu sedang dibersihkan. Bisa juga tanda dari-Nya bahwa derajatmu akan ditinggikan. 

Karena pertempuran terhebat justru diberikan bagi orang-orang terkuat. Mereka yang yakin dalam niat dan tetap semangat meski perjalanan kian pekat.

Jangan pernah menyerah, kawan. Karena mungkin perjalanan ini tinggal selangkah lagi.

Berikan terbaik yg bisa kau lakukan dan sisanya biarkan tangan Tuhan yg menyempurnakan…


@andreajuliand

0

Ngopi yuk…


“Ndre, ngopi yuuk…”

Dan yg diajakpun menarik napas. Hanya membalas dengan senyum simpul. Menolak dengan halus. Entahlah, kayaknya hari ini sudah belasan kali dapet ajakan untuk ngopi. 

Nggak ada yg salah juga dengan ngopi. Weekend, adem, dan secangkir kopi tampaknya cocok untuk menikmati gerimis yg kian romantis.

Ngopi? Pengen sih… 

Namun sedari pagi, hari ini sudah terlalu pahit untuk ditutup dengan secangkir kopi.

@andreajuliand