0

I love you, IOS 12

Buat para pengguna iphone, update sistem bukanlah hal aneh. Update sistem, dimana sesuatu hal yang baru menunggu sementara ketidakpastian juga menghalau. Yup, adalah rahasia umum bila tiap update sistem IOS tidak selalu berakhir dengan hal yang memuaskan.

Even, di seri yang sama, dengan update yang sama, hasilnya bisa berbeda. Dulu banget, gue dan kakak gue sama-sama melakukan update sistem pada iphone 5s PAA (resmi Indonesia), hasilnya? Beda. Jauh.

Punya gue irit lancar jaya, sementara punya kakak, boros lemot gila! Yes, kondisi ini sangat umum. Makanya ketika telah nyaman dengan IOS tertentu, gue rada malas untuk update sistem terbaru. Bukan apa-apa, takut bila sudah membuang ruang hard disk untuk sistem baru tapi hasilnya tak sebaik yang terdahulu, or even getting worst.

Tapi beberapa waktu lalu, mau tak mau gue harus naik ke IOS11. Melepaskan kenyamanan berbulan-bulan menggunakan IOS 10.3.3. Asli, 10.3.3 saat itu adalah sistem ternyaman dari Apple bagi gue.

Namun, semua berubah ketika GPS di waze maupun di maps tak beres. Share location dimana, hasilnya malah dimana. Gue pakai buat menunjukkan jalan, suara notifikasi untuk belok kanan atau kiri tak kunjung berbunyi. Lebih menyebalkan lagi ketika, titik dimana gue berada melenceng jauh dari jalanan.

Gue pikir permasalahan bisa selesai dengan meng-update sistemnya. Dengan harap-harap cemas, iphone gue update naik ke IOS 11.

Gue sempat tersenyum melihat tampilannya yang lebih eye catching namun semua berubah ketika menggunakan aplikasi. Lemot parah. Saking lamanya, maybe gue masih bisa umrah untuk menunggu aplikasi terbuka.

What else? Sudah lemot kini ditambah fitur borosnya batere hp. Dua puluh persen baterai habis hanya dalam waktu kurang dari setengah jam! Itupun dalam kondisi tanpa memutar lagu atau menonton movie. Gile lo, Ndrooo!

Ibarat sudah GPS rusak tertimpa hp lemot pula. Berhubung, masa garansi tinggal hitungan hari dan gue malas antri, iphone gue bawa ke ITC Kuningan.

Tanya sana sini, masalah rempongnya GPS ternyata ada di antena sinyal wifi yang melemah. Serius deh, kalau GPS kalian ngaco, jangan buru-buru untuk mengganti modul IC GPS, why? Pertama, belum tentu itu masalahnya. Kedua, mahal. Harga IC GPS kisaran 500 ribu sampai 1 jutaan rupiah. Bandingkan dengan mengganti antena wifi yang hanya berkisar 150 ribu sampai 300 ribu rupiah (Sudah termasuk biaya pasang, tergantung tempat dan pintar-pintar menawar).

Setelah antena wifi diganti, masalah GPS-pun beres namun berhubung gue sudah naik ke versi IOS 11, urusan lemot dan boros tak kunjung reda.

Gue sempat bersyukur ketika timbul notifikasi untuk update sistem ke IOS 11.4.1. Tanpa ragu, gue ambil langkah itu. Ya mau apa lagi? Toh yang sekarang juga sudah parah lemotnya. Gue pun naik ke IOS 11.4.1. Hasilnya? Sedikit membaik. Masih lemot tapi tak separah dulu. Masih boros walau tak sebocor dulu. But overall, tak jauh berubah. Iphone gue masih seperti hp android yang kebanyakan buka aplikasi, lupa clear memory, dan kurang RAM.

Sabar dan hanya bisa bersabar. Gue pun memutuskan untuk mengganti device yang lebih baru. Android? No, gue terlanjur nyaman dengan produk apple ini. Gue berencana untuk mengambil iphone 8 atau X sekalian. Alasannya, biar bisa dipakai hingga 3 tahun ke depan dan tak perlu ganti device lagi.

Namun, ternyata Allah baik sama gue. Pas lagi cari tahu spesifikasi iphone terbaru, gue dapat kabar kalau IOS 12 akan segera meluncur bulan September 2018. Gue pun kembali sabar menunggu.

Hari saat notifikasi IOS 12 masuk ke dalam iphone, adalah hari dimana saat itu jugalah gue langsung unduh dan install.

Hasilnya? Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan disertai keinginan luhur, maka gue menyatakan bahwa IOS12 adalah IOS terbaik yang pernah gue pakai.

Buka apa aja lancar. Jauh lebih lancar dibanding ketika masih pakai 10.3.3. Semuanya terasa begitu smooth. Menulis pun bisa lebih cepat. FYI, artikel ini ditulis lewat iphone.

How about the batere? Irit! 33 menit baru turun 1%, dari 100% ke 99%. Sekitar 11 jam lebih dan baterai masih tersisa 5%. Sangat irit untuk iphone yang kapasitas baterainya jauh lebih kecil dibanding merk sebelah. Saat dicharge pun, serasa pakai fast charging. Kurang dari semenit, baterai sudah naik 8%.

What else? Gue belum terlalu mengeksplorasi fitur di IOS 12 ini sih. Ada fitur untuk mengukur objek, pengaturan notifikasi, dan tambahan wallpaper. Juga, fitur baru di messaging, dan masih banyak lainnya. Tapi buat gue yang terpenting adalah irit baterai dan gak lemot. Rasanya seperti kembali memiliki iphone seutuhnya.

Overall, untuk beberapa hari penggunaan IOS12, gue sangat puas dengan kinerjanya. Ich liebe dich, IOS12.

Advertisements
0

IAM 2018 #Antologi

Pernah putus asa? Sama.

Pernah kecewa? Sama.

Pernah diminta secara khusus untuk berbagi kisah guna memotivasi mereka yang patah hati lewat buku true story? Dan menyadarkan mereka bahwa hidup tidak berhenti sampai di sini? Well, I did, beberapa tahun lalu lewat buku “Pacaran Mulu Kapan Putusnya” terbitan mizan, saya berbagi cerita. Dan itulah yang akan kembali saya lakukan dalam proyek IAM 2018 bersama kalian.

Saya berniat untuk membuat buku antologi short story tentang move on, termasuk tentang tips praktis untuk segera bangkit kembali.

Yup, move on, sesuatu yang kelihatannya sederhana tapi bikin jumpalitan saat dicoba. Mudah dikatakan tapi kalau hati baperan hasilnya pengen bikin terjun ke jurang. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.

Kira-kira buku ini nantinya akan seperti chicken soup tapi isinya tentang move on. Termasuk tips bagaimana kita belajar ikhlas merelakan dan kembali berjalan.

Oiya, move on tak melulu tentang cinta. Bisa juga kalo kalian mau berbagi cerita tentang harapan yang tak kunjung tiba yang sempat membuat kalian nyaris putus asa dan harus rela belajar menerima.

Teknisnya?

Narasi maksimal 1.000 kata, tanpa singkatan, dan kalau bisa sesuai standar penulisan EYD. Tiap orang boleh mengirimkan artikel lebih dari satu.

Isinya? Ya cerita tentang apa yang membuat kalian kecewa dan bagaimana cara kalian merelakannya. Atau, kalian bisa cek tentang bagaimana cara penulisan lewat buku-buku/novel yang telah terbit di toko buku.

Jangan lupa kirim file terpisah tentang biodata dan foto penulis -hitam putih, maksimal 300 kata.

20 artikel terbaik akan dibukukan dan kalo semua lancar -semua artikel terkumpul tepat pada waktunya- ini bisa jadi hadiah di awal tahun mendatang untuk kalian yang artikelnya dimuat dibuku saya.

Buat kalian yang bingung bagaimana konsep penulisannya, bisa googling tulisan saya : Move On Andrea Juliand. Nanti kalian akan menemui beberapa tulisan saya tentang move on.

Bagi kalian yang ingin merintis jalan menjadi penulis, mungkin ini bisa jadi ruang buat mengekspresikan kegelisahan sekaligus menelurkan karya.

What else? Buku ini memungkinkan kalian untuk ‘terbang bersama’, bila kalian sukses mempromosikan buku ini. Simplenya, satu tulisan terangkat, maka semuanya berangkat.

How about money? Buku ini tidak akan diedarkan melalui toko buku. Para penulisnyalah yang akan bekerja sama mempromosikan buku ini.

Penulis yang memiliki massa banyak bisa mencetak ulang buku tersebut cukup dengan biaya produksi dan menjual kembali dengan harga jual. Ada selisih keuntungan yang jauh lebih besar dibanding hanya berharap pada royalti (FYI, royalti maksimal hanya 10% dari harga jual bila beredar lewat toko buku).

Hasil penjualan pun tak perlu menunggu akhir bulan sudah menyelinap masuk ke dalam dompet.

How?

Saya tunggu artikelnya paling lambat jam 23:59 – 3 September 2018. Artikel bisa kalian kirim ke andrea. juliand@yahoo.com (subjek IAM 2018)

Terima kasih. Hatur nuhun. Danke schön!

Indonesia, Ayo Move on!

1

Jogja, Lewat Aplikasi Di Ibu Jari

Jaman berubah. Teknologi makin maju dan kebutuhan manusia kian beragam. Kini, segalanya dituntut harus serba cepat, mudah diakses, namun dengan harga paling kompetitif. Itu berlaku hampir untuk segala hal, termasuk liburan.

Maka, ketika gue memutuskan untuk liburan ke Jogja bulan lalu, gue tidak ingin melakukannya dengan cara layaknya manusia purba. Cara tradisional seperti harus datang ke stasiun kereta untuk memesan tiket sudah bukan jamannya. Harus telepon hotel untuk pesan kamar juga adalah sesuatu yang basi. Maka, liburan kali ini, gue menginginkan semuanya memanfaatkan teknologi, semudah menggerakkan ibu jari. Teknologi berwujud aplikasi.

Awalnya memang timbul keraguan. Ada banyak kemudahan ditawarkan namun gue bimbang apakah semua akan berjalan? Takutnya, kalau tak beli tiket langsung ke stasiun, gue dapet tiket ‘zonk’. Takutnya kalau booking kamar tak langsung by phone, sampai sana gue bakal ‘tidur di hotel berbintang beratapkan langit’. Ketakutan manusiawi yang dihadapi oleh orang yang baru menggunakan teknologi jaman now, seperti gue.

Apalagi banyak keluhan yang gue dengar dari kerabat tentang ‘keajaiban’ saat menggunakan aplikasi pemesanan tiket atau kamar hotel. Mulai dari kamar yang tak sesuai, biaya lebih mahal, hingga masalah ‘pritilan’ namun menyebalkan seperti hilangnya fasilitas sarapan pagi. Namun, apapun harus dihadapi. Harus selalu ada langkah awal untuk memulai. Apapun resikonya, mau tak mau, gue harus beralih pada teknologi.

Pertanyaan awal adalah how? Naik apa ya ke sana? Bukan apa-apa, gue cukup sering berpindah tempat menggunakan kendaraan pribadi namun liburan kali ini gue pengin santai. Cukup duduk manis, tidur cantik, dan terbangun nyaman ketika sampai di tujuan. Maka, pilihan gue jatuh pada kereta api. Alasannya sederhana, sudah cukup lama nggak naik kereta dan gue ingin kembali merasakan sensasi naik kereta api.

Gue pun bertanya pada kerabat tentang cara pemesanan tiket kereta. Guys, memesan tiket kereta jaman sekarang sangat berbeda dibanding ketika beberapa tahun terakhir gue naik Bima. Dulu, tiket ya hanya tiket. Ketika tiket di tangan, beres sudah. Kini, semua berubah menjadi makhluk bernama boarding pass yang harus di scan saat ingin menuju ruang tunggu.

Walhasil, otak dengan intelegensia setingkat amuba ini cukup dibuat berkerut untuk belajar tentang cara pesan tiket dan cetak tiket mandiri. Gue pelajari hal itu lewat youtube. Setelahnya, gue pun memutuskan untuk membeli tiket lewat mini market tak jauh dari kompleks rumah. Pilihan gue jatuh pada Argo Lawu, ya mau gimana lagi secara tiket Taksaka Priority bisa bikin gue pulang ke Jakarta jalan kaki.

Gue pilih tempat duduk di samping jendela. Oiya, buat lo yang mau duduk persis di samping jendela maka pilihlah kursi A atau D.

Pilihan gerbong dan kursi beres, gue pun lalu membayar tiket untuk sebuah perjalanan pulang pergi. Cukup kaget ketika mendapat struk kecil berisi nomor kode booking tiket. Pelayannya dengan baik hati menjelaskan bahwa nanti nomor tiketnya cukup diketik pada alat cetak mandiri atau bisa di scan. Gue hanya manggut-manggut mendengarkan layaknya manusia purba yang baru pertama kali akan naik kereta.

Urusan tiket selesai, kini beralih ke urusan hotel dan gue paham pesan kamar tak bisa lewat mini market. Ada banyak aplikasi pemesanan kamar hotel dan pilihan gue mantap jatuh pada Traveloka. I don’t know why tapi pertama kali lihat, gue langsung yakin. Rasanya mirip kayak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Traveloka pun gue unduh dan taraaaa, gue baru tau kalau aplikasi ini sangat lengkap. Selain kamar hotel, ternyata bisa beli pulsa dan paket internet, termasuk pesan tiket kereta dan pesawat juga! Duh, tau gitu kan nggak perlu jalan kaki ke mini market.

Lanjut,

Untuk hotel, traveloka membagi dalam beragam kategori yakni : hotel mewah, budget hotel, dan hotel pemenang penghargaan. Ada pula pilihan untuk vila, apartemen, best picks, dan pilihan bayar langsung di hotel.

Setelah cek sana sini, pilihan hotel jatuh pada D’Salvatore Art and Boutique Hotel, sebuah hotel berbintang tigadi Depok, Yogyakarta. Sebuah superior double room gue pesan. Alasannya sederhana, kamarnya luas, harga pas, fasilitas komplit, dan pagi hari gue nggak perlu pusing cari makanan buat perut alias include breakfast.

Alasan terakhir, letaknya cukup dekat dengan rumah sepupu gue. Jadi, kalau pemesanan hotelnya bermasalah, gue bisa jalan kaki sambil nangis garuk-garuk aspal ke rumah sepupu.

Hari yang dinanti pun tiba. Setelah solat magrib, pada Jumat 6 Oktober 2017, gue melangkah pasti menuju stasiun. Gambir dikala weekend itu layaknya pasar Tanah Abang menjelang lebaran, ramai kuadrat. Gue sempat celingak celinguk saat turun dari taksi mencari makhluk bernama anjungan cetak tiket mandiri. Saat bertemu makhluk ajaib itu rasanya berbinar. Layaknya bertemu mantan yang dulu telah hilang, namun gue sadar semuanya telah berbeda. Mantan gue sekarang berubah jadi mesin cetak mandiri yang siap bikin mumet pada beberapa menit berikutnya.

Gue keluarkan struk pembelian minimarket. Kode pemesanan tiket pun, gue tulis dengan hati-hati sembari memanjatkan doa. Bukan apa-apa, kalau tiketnya ngaco, gue ruginya dua. Pertama, karena tiket kereta dan hotel yang sudah gue bayar bakal hangus sia-sia. Kedua, jadwal liburan yang sudah disusun praktis jadi kacau.

Sepuluh detik telah berlalu dan itu sepuluh detik terlama dalam hidup gue. Rasanya jauh lebih lama dibanding menunggu jawaban pacar saat dulu gue tanya, kamu mau nggak jadi pacar aku? Namun, menunggu anggukkan pacar tampaknya lebih cepat dibanding menunggu cetakan tiket keluar. Gue diam mematung. Bulir-bulir keringat panik mulai muncul apalagi antrian di belakang makin panjang. Tapi, Allah baik sama makhluk purba gagap teknologi ini. Sebuah tangan kekar dari seorang petugas keamanan menyentuh panel touch screen, membantu menyelesaikan semuanya. Rupanya, gue lupa tekan kata ‘cetak’ ketika selesai menulis kode pemesanan tiket! Damn you, Andre! Kalau gaptek mbok ya jangan begini amat!

Urusan tiket selesai, gue pun naik ke lantai dua, menuaikan sholat Isya sejenak lalu bergegas ke lantai tiga. Jujur, Gambir yang sekarang jauh lebih ramah. Ada banyak kursi di sana, live music yang senantiasa menghibur, toilet dan mushola yang bersih, petugas yang tanggap memberi informasi, dan beragam tenant untuk berbelanja. Peraturan yang membatasi bahwa hanya calon penumpang yang boleh masuk ke ruang tunggu juga berdampak pada makin tertibnya suasana.

Gue pun bisa duduk manis menikmati pemandangan kota Jakarta dari lantai tiga. Menatap monas yang berdiri begitu anggun dimalam hari, sembari menunggu Argo Lawu yang tak lama datang menghampiri. Keretanya datang dan berangkat tepat waktu. Tak ada pemeriksaan tiket lagi di dalam kereta dan tak perlu bingung sudah sampai di stasiun mana. Even, sekarang tiap akan masuk stasiun pemberhentian, sudah ada pemberitahuan lewat pengeras suara di kereta. Gue pun bisa nyaman tertidur hingga keesokannya.

Subuh keesokannya, gue sudah sampai di stasiun Tugu, Yogyakarta. Sepupu sudah menyambut di pintu keluar. Yup, gue harus ‘menginap sementara’ di rumah sepupu karena check in hotel baru bisa dilakukan pada pukul dua siang.

So, dari pagi menuju siang, gue menikmati jalan-jalan di kota Jogja yang ternyata saat itu sedang merayakan hari jadinya.

Beberapa jalanan ditutup untuk acara kirab dan panggung musik.

Gue menyempatkan diri sarapan di Nasi Uduk Palagan. Suasananya nyaman dengan harga yang bikin tenang. Makanannya? Wah, sudah pasti bikin lidah bergoyang ketagihan.

Lama tak ke Jogja membuat gue terpana. Tak ada macet yang bikin ‘tua sebelum waktunya’. Tak ada angkot reseh yang berhenti seenak udelnya. Dan, tak ada klakson bertubi-tubi ketika lampu pengatur lalu lintas baru akan beranjak dari kuning ke hijau.

Tampak pejalan kaki yang berjalan dengan muka penuh damai. Motor dan mobil yang tenang tak saling serobot jalan. Dan, harga makanan yang bikin kenyang tanpa bikin krisis keuangan. Gue juga menyempatkan diri main ke Hartono Mall dengan menggunakan taksi online. Dua kali memakai angkutan online dan dua kali pula gue mendapatkan supir yang seperti tour guide pribadi, begitu komunikatif dan informatif. Sungguh, keramahan khas kota Jogja meski sejenak cukup bikin gue lupa bagaimana rasanya dikejar anjing gila ala Jakarta.

Siang pun tiba. Gue diantar ke hotel oleh sepupu. Dua pintu besar di muka hotel perlahan gue buka. Berjalan tenang menuju lobi hotel untuk menemui petugas customer service. Hanya dengan menunjukkan bukti SMS dari Traveloka dan semuanya beres!

Kamar D’Salvatore Art & Boutique Hotel sesuai dengan yang ada di foto Traveloka. Cukup besar sehingga bisa dipakai untuk solat dengan nyaman.

Tempat tidur, kamar mandi, televisi, pendingin udara, termos listrik, kulkas, brankas, hingga hair dryer di kamar mandi dan perlengkapan lain dalam keadaan bersih dan siap pakai.

Sarapan pun tersedia keesokannya sesuai yang tertera pada Traveloka. Berbagai makanan dan minuman siap untuk memenuhi perut.

Gue juga iseng untuk melihat kolam renangnya yang saat itu ramai digunakan oleh pengunjung. Overall, pelayanannya begitu prima dan ramah. Sangat sesuai dengan apa yang tertulis pada review di aplikasi. Sungguh melegakan karena semuanya berjalan lancar.

Minggu pagi, 8 Oktober 2017, dengan kereta yang sama. Gue sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Duduk manis menikmati pemandangan luar biasa yang tersaji dibalik jendela kereta.

Terima kasih untuk Traveloka, Aplikasi lewat ujung jari yang kemarin memberi gue sebuah pengalaman baru. Tanpa pusing, tanpa ribet, semuanya semudah menggerakkan ibu jari.

Next time, gue akan menggunakan kembali secara full aplikasi nomor satu ini untuk jalan-jalan seru lagi. Mulai dari pesan tiket kereta atau pesawat, booking kamar hotel, hingga isi pulsa.

Gue pun berencana akan menggunakan berbagai layanan promo dan harga paket spesial yang senantiasa selalu ada dari Traveloka.

So, buat kamu yang masih bingung pilih aplikasi buat liburan, jangan ragu untuk pilih Traveloka. Aplikasi canggih dimana manusia purba yang gagap teknologi macam gue bisa tersenyum karena pelayanan dan kemudahan yang menakjubkan!

#Jogja

#Hotel

#JadibisadenganTraveloka

0

Review Mikayla #writingcontest


Harusnya dari tadi mengumumkan pemenang review Mikayla cuma berhubung reviewnya banyak yg keren, gue jadi galau buat memilih.

Dan, akhirnya memutuskan untuk mengucapkan selamat pada pemilik akun instagram : @cinantyapawitri , @yunan_1st dan @physiklehrerinnen

Hadiahnya sebuah buku antologi cerpen fiksi berjudul “Jodoh Untuk Langit”, akan segera dikirim ke alamat masing-masing minggu ini.

Oiya, dua voucher senilai total 800 ribu rupiah yg bisa digunakan untuk ikut kelas menulis telah menunggu untuk digunakan!

**ps : karena banyak review yg super duper ultra mega keren, tampaknya gue akan menambah jumlah pemenang, menjadi total 5 pemenang. Just wait! 😋

#mikayla #andreajuliand #novel #review #writingcontest

0

Sunroof lebih penting dari ABS?

Siang-siang kok sebel ya baca alasan pabrikan korea yg satu ini. 

Sunroof lebih penting dari ABS? Miapa? Micin?

Sumpah gue geregetan sama pernyataan GM merk sebel-ah. Pak, ABS itu fitur safety, sunroof fitur kenyamanan. Ya utamain safety dululah! Nggak bakal bisa bergaya kalo keburu mati.

ABS perlu biar rem tak langsung mengunci. ABS perlu untuk kondisi panic break jadi mobil tetap bisa dikendalikan saat direm mendadak. Dan, ABS perlu biar jarak pengereman lebih efektif.

Kalo situ pake alasan ‘kan tabrakannya belum tentu’, oh oke, kalo gitu airbag gak usah, kan belum tentu tabrakan. Alarm+kunci+asuransi nggak usah, kan belum tentu kecelakaan atau dicolong maling. Terus, pake mesin bajaj aja kan belum tentu dibawa ngebut. Kalo perlu, situ gak usah kerja, kan belum tentu besok masih hidup. 🙈

Pak, konsumen itu nggak bego, atau ya paling nggak kita gak punya logika seaneh bapak. Kita paham kok pabrikan maunya untung sebesar-besarnya makanya safety kita dikorbankan.

Saran saya, mending pindah ke Pluto aja Pak, di sana bebas tabrakan. Sesial-sialnya paling disundul meteor. Oiya, meteornya nggak pake ABS. 😂

Sunroof lebih penting dari ABS? Situ sehat?

**ABS : Antilock Braking System

 #abs #brakes #logika #amanberkendara

0

Review Mikayla #writingcontest


Hola!

Buat kamu yg sudah membaca dan membuat review tentang Mikayla entah di Facebook, Instagram, atau media sosial lain, harap siap-siap ya! 

Tiga orang yg beruntung akan mendapat buku antologi cerpen berjudul : Jodoh Untuk Langit. Berisi tentang 25 cerita untuk Hujan, Mantan, dan Masa Depan.

Sebuah buku kumpulan karya dari para penulis muda bertalenta yg tentunya sudah diseleksi oleh tim editor terbaik dari Elex Media, Bentang Pustaka, dan Inspirator Academy.

Jodoh Untuk Langit merupakan kumpulan karya yg mampu membuatmu menangis, tertawa, dan haru biru dalam satu waktu. Kumpulan cerita yg begitu bernyawa, sehingga cerita didalamnya mampu bernapas, berbicara, dan jalan-jalan di benak pembaca.

Oiya, Jodoh Untuk Langit ini tak akan kalian dapatkan di toko buku manapun alias hanya dijual secara ekslusif bagi komunitas penulis dan telah mencetak penjualan 1.000 eksemplar dalam waktu 4 jam saja!

Itu saja? 

Tentu tidak! Tiga orang reviewer yg beruntung juga akan mendapatkan masing-masing total voucher senilai 800 ribu rupiah, yg bisa kamu gunakan untuk mengasah kemampuan menulismu lewat kelas menulis online ataupun tatap muka, seperti yg saya lakukan dulu. 

Kelas menulis itu yg nantinya akan membuka cakrawala tentang dunia kepenulisan, termasuk bertemu dengan penulis-penulis hebat. 

Lewat kelas tatap muka, saya pun sudah merasakan pengalaman belajar langsung dari Adhitya Mulya, penulis best seller novel Jomblo dan Sabtu Bersama Bapak yg karyanya telah masuk layar lebar.  

Nantinya juga akan ada sesi sharing dengan editor dan kunjungan ke salah satu major publisher terbesar di Indonesia. 

Nah, buat kamu yg belum review, buruan ikutan! Segera ke Gramedia dan Toga Mas terdekat, buat foto dan review terbaik tentang Mikayla, taruh di sosmed lalu mention saya.

Saya tunggu hingga 7 Oktober dan pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 9 Oktober 2017.

Waktu terus berjalan, kamu pasti tau apa yg harus dilakukan bukan?

0

La Tahzan


“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya”.HR. Muslim no. 2572.

“Makanya bila ditimpa cobaan/musibah, jangan lupa bilang Alhamdulillah” Ustad Hanan Attaki.

Ada beberapa alasan untuk tersenyum ditengah cobaan yg datang menerjang.

Pertama, karena melalui ujian/cobaan itu akan membersihkan dosa kita.

Kedua, karena cobaan membuat kita naik derajatnya.

Ketiga, Allah telah berjanji bahwa sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. (94 : 5-6). Allah bahkan mengatakan dua kali berturut-turut, yg berarti tiap satu kesulitan akan menghadirkan dua kemudahan.

Keempat, semua hamba Allah pasti diuji. Maka bersyukurlah bila kita masih diuji, itu tandanya kita masih dianggap hambaNya.

Alhamdulillah, sesungguhnya janji Allah pasti benar. Kitanya saja yg harus bersabar. Karena tak ada badai yg abadi, ia akan segera berganti menjadi pelangi di esok hari.

La tahzan, jangan bersedih.