0

Pindah ke desa? Mengapa tidak?

 

Mereka yang terlahir, menetap, dan menghabiskan hampir seluruh hidupnya di kota biasanya  telah merasakan kemewahan dan kenyamanan ala kota. Bagaimana tidak, mau makan apa aja ada. Mau hiburan apapun tersedia. Mau pulang jam berapa tak perlu cemas transportasi.

Banyak juga yang ‘menomorsatukan’ kota sebagai tempat hidup terbaik, apalagi kalau dibanding desa sehingga tak sedikit yang mencibir kehidupan ala desa dengan sebutan ‘ndeso’ yang konotasinya kurang menyenangkan. Ribet, apa-apa terbatas, apa-apa sulit, tertinggal, sulit dijangkau. Tetapi apa iya? Apa iya keunggulan mutlak ada di kota?

Guys, pernah kah kalian –terutama kalian yang katanya kids jaman now-, berpikir untuk pindah ke desa? Yup, pindah ke desa!

Mengapa harus ke desa?

Tinggal di kota bukanlah hal mutlak bahwa semua-semuanya menang telak. Ya memang fasilitas di kota pasti lebih wah. Ibarat wanita, kota layaknya wanita cantik yang kemana-mana menenteng Hermes dengan alas kaki Christian Louboutin. Wanita yang selama ini sering kamu lihat di iklan SK-II.

Tapi coba dipikir sejenak, apa iya wanita itu yang nantinya jadi istri kita? Bukankah pada akhirnya pilihan akan mengerucut pada wanita ayu nan sederhana yang kelak menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita. And yes, itulah desa!

Bila dianalogikan sebagai wanita, desa adalah titisan wanita ayu, sederhana, nan keibuan. Jujur, apa adanya, taat ibadah, juga taat pada suaminya. Kamu yakin nggak mau pendamping hidup seperti itu?

Lalu, apa aja keunggulan desa?

Baiklah akan saya rangkum nilai plus desa, sesederhana senyum ramah kembang desa dari pelosok nusantara.

  1. Jujur apa adanya.

Mayoritas masyarakat desa jujur apa adanya. Bandingkan dengan orang kota yang baru baik atau menyapa kalau ada maunya aja. Begitu banyak manusia bermuka dua di kota sampai kita bingung mau menampar muka yang mana.

Di desa? Semuanya begitu jujur. Kalau kamu kesulitan, mereka sigap membantu. Bahkan mereka merasa malu kalau kamu kesulitan dan mereka tak membantu. Yup, budaya gotong royong mereka terjaga, tanpa sikap SARA tingkat dewa ala masyarakat kota. Intinya mayoritas masyarakat desa masih berpegang teguh : Kalau kamu sedih, aku juga sedih. Kalau kamu senang, kami turut riang. Bagaimana dengan kota, ya nggak semua sih tapi tak sedikit yang berprinsip : kalau kamu senang aku juga senang tapi kalau kamu susah aku lebih senang. Miris ya?

 

  1. Keramahan nan erat.

Pernahkah kamu bertanya alamat seseorang dan tak ada yang tahu bahkan ketika tanpa kamu sadari, orang yang sedang kamu tanya adalah tetangga dari orang yang kamu cari? Yup, itulah kota. Gaya hidup individualis dan lupa tetangga sudah melekat di sana. Plus, mayoritas orang kota selalu memiliki alasan untuk berkata ‘tidak’ pada hal yang dianggap tak menguntungkan. Ada uang, ada barang, kalau kamu tak menguntungkan ya kita tak berhubungan. Inikah kehidupan kota yang kamu agungkan?

Hal itu tak akan kamu jumpai di desa. Di desa, semua seakan berasal dari rahim yang sama! Saya pernah bertanya alamat kerabat yang bahkan berbeda dusun dan mereka ternyata mengenalinya. Mereka bahkan mengantar dan memastikan saya sampai ditujuan. Saat mengantarpun mereka menceritakan hal baik tentang kerabat saya.

 

  1. Sumber daya alam melimpah

Pernah lihat hamparan sawah di kota? Atau, gunung yang menjulang dikelilingi awan? How about suara debur ombak yang membuat jantungmu seakan berhenti berdetak? Atau, pernah merasakan nyamannya udara dan cuaca siang hari yang bebas polusi? Tetot! Hal tersebut tak akan kamu temukan di kota.

Orang kota adalah robot berjalan yang dilengkapi kendaraan. Sehabis subuh mereka sudah tumpah ruah di jalan. Bunyi klakson dan raungan suara mesin terdengar bersahutan. Panas mesin membaur bersama teriknya matahari di siang hari. Mereka baru kembali setelah adzan magrib berkumandang. Tak jarang yang pulang ke rumahnya di awal sepertiga malam. Yup, kemacetan luar biasa yang membuat jarak sekian kilometer harus ditempuh dengan ribuan makian.

Desa? Cobalah untuk bangun pagi. Bukalah jendela lebar-lebar dan biarkan udara penuh cinta membelai raga. Rasakan keramahan mereka yang masih sempat bersenda gurau dengan tetangganya dalam perjalanan pulang setelah solat subuh.

Di desa mungkin tak ada mall, tak ada bioskop, dan tak ada tempat gym. Namun, semua terbayar ketika kamu bisa lari ke hutan atau belok ke pantai. Rasakan betapa ketenangan  begitu mahal harganya. Jauh lebih berharga dibanding deretan barang dalam gerai Sogo. Selami sejuknya aliran air di sungai atau pantai yang jauh lebih sejuk dari pendingin di Senayan City. Lalu, datang dan nikmati segarnya udara tanpa polusi. Manjakan mata dengan pemandangan hijau alam pegunungan yang benar-benar alami, bukan dedaunan plastik buatan di gerai-gerai ternama yang tampak asri namun penuh kepalsuan.

 

  1. Biaya hidup lebih murah.

Kamu yang di kota pasti sering melihat demo buruh saat Mayday. Mereka tiap tahun meminta kenaikan upah karena uang tiga juta sekian standar Jakarta bahkan tak cukup untuk sekedar makan dan membayar beragam cicilan.

Bayangkan, seporsi pecel ayam di Sudirman, Jakarta minimal dua puluh ribu rupiah, belum termasuk teh atau kopi. Itupun di kaki lima. Bagaimana bila kita harus bertemu klien di gerai kopi berinisial S berwarna hijau? Tentu harga segelas kopi lebih mahal dari dua atau tiga porsi pecel ayam.

Di desa, hangatnya secangkir kopi cukup dinikmati dengan tenang di pinggir sawah. Diseruput sedikit demi sedikit sambil dihirup aromanya. Aroma secangkir kopi hitam seharga beberapa lembar uang seribuan.

Di sana, dengan upah minimum regional yang jauh lebih rendah, masyarakatnya malah mampu bahu membahu menyumbang ke acara tetangganya, masih bisa membangun masjid dan  jembatan. Masih bisa menyekolahkan anaknya hingga sarjana. Kenapa? Karena nilai yang dimiliki orang desa tak menganggap bahwa uang adalah segalanya. Plus, gaya hidup mereka sederhana. Tak perlu merk. Tak butuh gengsi setinggi langit. Mereka pakai apa yang nyaman bagi mereka.

Bila di kota, uang sepuluh ribu adalah kiamat, di desa, uang segitu sudah bisa mengisi perut dengan dua buah porsi pecel yang terasa nikmat. Pecel yang diracik dari sayuran segar bebas pestisida dan bumbu kacang yang menggoyang lidah.

Ketika di kota yang dilihat adalah merk dan apa yang kamu pakai, maka di desa yang penting susah senang dijalani bersama. Orang desa paham bahwa bukan seberapa banyak gajimu tapi seberapa besar syukurmu. Dan itu yang selama ini jarang dipelajari oleh orang kota.

See, dari beberapa hal kecil saja, desa tak kalah lho bila dibandingkan kota. Kalau kamu masih ngotot bahwa kota adalah segalanya, berarti artikel ini berhenti di sini. Namun kalau kamu mulai berpikir untuk melirik desa sebagai tempat untuk menenangkan jiwa dan mencoba istirahat sejenak tanpa perlu dikejar deadline setiap harinya, silahkan lanjut membaca. Atau, kamu bahkan mau mulai untuk tinggal di desa dan memberdayakannya? Bisa!

Bagaimana caranya?

Mudah, cukup rencanakan perjalanan, ambil cuti, dan segera pergi ke desa. Menginaplah secara sederhana di rumah-rumah penduduk. Kamu bisa belajar tentang kearifan lokal sekaligus  menyegarkan hati, jiwa, dan pikiranmu di sana. Syukur-syukur kalau hatimu tertaut pada kembang desa.

Oiya, dikutip dari Good News Indonesia, beberapa desa bahkan dinobatkan sebagai desa wisata terbaik di Indonesia. Desa wisata itu terpilih atas beberapa kriteria, antara lain :

  1. Desa Perkembangan Tercepat: Desa Sungai Nyalo, Painan, Sumatera Barat.
  2. Desa Adat Terbaik: Desa Madobak, Mentawai, Sumatera Barat.
  3. Desa Jejaring Bisnis: Desa Taman Sari, Banyuwangi, Jawa Timur.
  4. Desa Agro: Desa Pujon Kidul, Malang, Jawa Timur.
  5. Desa IPTEK: Desa Seigentung, Gunungkidul, Yogyakarta.
  6. Desa Budaya: Desa Ubud, Gianyar, Bali.
  7. Desa Alam: Desa Waturaka, Ende, Nusa Tenggara Timur.
  8. Desa Pemberdayaan Masyarakat: Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah.
  9. Desa Kreatif: Desa Teluk Meranti, Pelalawan, Riau.
  10. Desa Maritim: Desa Bontagula, Bontang, Kalimantan Timur.

 

Hanya liburan?

Awalnya dimulai dari liburan. Namun bila sudah tertarik dengan kehidupn desa nan sederhana, kamu yang punya modal dan ide wirausaha bahkan bisa mulai untuk memberdayakan penduduk desa agar meningkat perekonomiannya sembari mempersiapkan usaha yang bisa kamu kelola bersama penduduk desa.

Apa bisa?

Pastinya, masyarakat desa tidak semuanya serba tertutup kok. Banyak juga yang open minded, tergantung bagaimana kita bersikap dan memberi pengarahan.

Banyak cerita sukses mereka yang pulang dan berhasil membangun desanya. Bahkan, salah satu teman saya sukses memberdayakan sebuah desa Cijapun di Sukabumi, Jawa Barat lewat merknya AGNI. Mau tau lebih tentang AGNI, kamu bisa search tulisan saya di blog ini.

So, kalau mereka bisa, kitapun bisa!

 

Advertisements
0

Hola 2019!

Udah lama gak dimari dan akhirnya kembali menulis lagi itu rasanya lucu. Rasanya seperti ada letupan-letupan kecil yang terasa asing sekaligus tenang. Seperti bertemu kembali dengan rumah. Rumah yang nyaman dan menenangkan walaupun sekian lama tak pernah gue singgahi. Sebuah tempat dimana pada tahun 2018, menjadi begitu sepi, lembap, dan kaku. Ditinggal oleh pemiliknya, gue.

Tahun 2018 adalah tahun kemarau blog ini. Bagaimana tidak? Selama setahun itu gue cuma posting 3 tulisan. Jauh berbeda dibanding 2017, dimana tiap bulan ada beberapa tulisan yang gue post. Kalo diibaratkan rumah, maka pada tahun 2018, pintunya hanya terbuka 3 kali. Jangan tanya rasanya karena gue sendiri merasa hampa.

Padahal menulis adalah kebiasaan. Kalo tidak dibiasakan, kemampuan menulisnya tidak akan naik kelas bahkan cenderung menurun, menurun, lalu hilang.

Entahlah, rasanya kayak ada aja halangan tiap mau menulis lagi. Writers block? No! Ada banyak banget ide buat tulisan yang akhirnya hanya menguap begitu saja. Cuma ya itu, kalah dengan kegiatan lain atau yang paling menyedihkan adalah gue kalah oleh rasa malas.

Sampai akhirnya, disebuah pagi diawal Februari, gue iseng membuka statistik blog selama 2018 kemarin. Dan ternyata, blog gue masih hidup! Bahkan bisa dibilang masih cukup ramai! Keramaian lalu lintas pengunjungnya hanya sedikit turun dibanding tahun 2017.

Jadi, terima kasih buat kamu dan 24 ribu orang lainnya yang telah menjadi tamu di blog gue. Terima kasih sudah lebih dari 35 ribu kali mengunjungi dan membaca tulisan gue. Hadirnya kalian adalah nyawa dari blog ini.

Jujur, waktu gue lihat statistik itu, rasanya terharu. Rasanya jadi punya semangat lagi buat menulis. Semoga kedepannya, gue bisa setor tulisan lagi.

Oiya, tahun ini gue juga akan menelurkan buku baru, sebuah proyek antologi. Semoga semua lancar, aamiin!

#asahpena #pasangiketkepala #menulislagi

0

Belajar Menulis Lagi Yuk!

Jujur, gue dapat banyak banget informasi dari tulisan teman-teman di media sosial. Sering juga terkagum dengan tulisan teman-teman yang cetar membahana.

Tapi, tak jarang gue mendadak katarak membaca tulisan panjang berantakan ala cacing pita. Entah berantakan secara substansi atau secara teknik penulisan.

Penderitaan bertambah ketika ada singkatan-singkatan aneh seperti : gue -> w, atau misalnya -> misalx

Padahal dijaman serba terbuka ini, tak sulit lho untuk belajar menulis yang rapi dan sistematis. Dari yang biayanya jutaan sampai yang kitanya hadir aja pengajarnya udah kegirangan.

Apa sih gunanya? Banyak!

Pertama, tulisan yang rapi dan sistematis akan membuat kita lebih mudah menyampaikan pesan. Tahu dong, kalo pesan yang baik namun disampaikan dengan cara yang salah, hasilnya apa? Bahkan beda cara baca atau beda memenggal kalimat pun hasilnya fatal.

Contoh sederhana :

Kucing makan tikus mati.

Kucing | makan tikus mati

Kucing makan | tikus mati

Kucing makan tikus | mati

Kedua, kemampuan menulis juga bisa digunakan untuk berbisnis. Yup, bukan jamannya lagi menjabarkan sesuatu tapi kaku kayak kanebo kering.

Tulisan yang rapi dan sistematis memiliki probabilitas lebih besar untuk dibaca. Apalagi jika ditambah skill copy writing, teknik penulisan yang tak hanya memberi informasi tapi juga mengandung unsur jualan tanpa terlihat sedang jualan.

Ketiga, tulisan yang rapi pun secara tak langsung bisa menunjukkan siapa penulisnya dan seberapa cerdas dirinya. Bayangkan bila teknik menulis diterapkan dalam CV teman-teman. Selain enak dibaca juga bisa meyakinkan pihak yang berkepentingan bahwa mereka tak salah orang.

Keempat, narasi yang dipenuhi deskripsi juga bisa membuat pembaca hanyut tenggelam merasakan emosi penulisnya. Tak jarang’kan kita terharu atau menangis karena membaca tulisan seseorang. Hasilnya? Wah itu bisa dibuat novel dan jadi best seller lho!

Apalagi kalo ada produser film tertarik mengangkat karya kita. Betapa kerennya kalo pengalaman patah hati berbuah jadi royalti?

Contoh di atas hanyalah sedikit gambaran betapa pentingnya kemampuan menulis yang rapi dan sistematis.

Tulisan gue pribadi masih jauh dari sempurna, masih harus banyak belajar untuk menulis dengan lebih baik lagi. Jadi, yuk kita sama-sama perbaiki cara menulis. Biar semua ide yang mau kita sampaikan gak bikin orang gagal paham. Yah, minimal standar kaidah penulisan deh.

Coba deh pelajari lagi makhluk bernama EYD. Coba buka-buka lagi KBBI-nya. Pelajari juga tanda baca dan cara penggunaannya. Ikut komunitas penulis biar makin terasah ilmunya.

Setelahnya, kembalilah dan getarkan dunia dengan tulisan yang bernyawa. Tulisan yang tak hanya memberi informasi tapi juga bisa jalan-jalan di benak para pembacanya.

0

I love you, IOS 12

Bagi pengguna iphone, update sistem bukanlah hal aneh. Update sistem, dimana sesuatu hal yang baru menunggu sementara ketidakpastian juga menghalau. Yup, sudah rahasia umum bila tiap update sistem iOS tidak selalu berakhir dengan hal yang memuaskan.

Even, di seri yang sama, dengan update yang sama, hasilnya bisa berbeda. Dulu banget, waktu masih pake 5s PA/A (resmi Indonesia) gue dan kakak gue sama-sama melakukan update sistem. Hasilnya? Beda. Jauh.

Punya gue irit lancar jaya, sementara punya kakak, boros lemot gila! Yes, kondisi ini sangat umum. Makanya ketika telah nyaman dengan iOS tertentu, gue rada malas untuk update sistem terbaru. Bukan apa-apa, takut bila sudah memakan ruang hard disk untuk sistem baru tapi hasilnya tak sebaik yang terdahulu, or even getting worst.

Kini, 5s tinggal kenangan. Mau tak mau, device itu harus diganti karena kemampuannya untuk beradaptasi dengan aplikasi dan sistem terbaru kian menurun. Gue pun menikmati lancarnya iOS10.3.3 pada device yang lebih baik.

Tapi, beberapa waktu lalu, mau tak mau gue harus naik ke iOS11. Melepaskan kenyamanan berbulan-bulan menggunakan iOS 10.3.3. Asli, 10.3.3 saat itu adalah sistem ternyaman dari Apple bagi gue.

Namun, semua berubah ketika GPS di waze maupun di maps tak beres. Share location dimana, hasilnya malah dimana. Gue pakai buat menunjukkan jalan, suara notifikasi untuk belok kanan atau kiri tak kunjung berbunyi. Lebih menyebalkan lagi ketika, titik dimana gue berada melenceng jauh dari jalanan.

Gue sempat berpikir bahwa aplikasinya minta diupdate alias tak lagi bisa berjalan sempurna dengan sistem lama dan permasalahan bisa selesai dengan meng-update aplikasi dan sistemnya. Dengan harap-harap cemas, iphone gue update naik ke iOS 11.

Gue sempat tersenyum melihat tampilannya yang lebih eye catching namun semua berubah ketika menggunakan aplikasi. Lemot parah. Saking lamanya, maybe gue masih bisa umrah untuk menunggu aplikasi terbuka.

What else? Sudah lemot kini ditambah ‘fitur tambahan’ borosnya baterai. Dua puluh persen baterai habis hanya dalam waktu kurang dari setengah jam! Itupun dalam kondisi tanpa memutar lagu atau menonton film. Gile lo, Ndrooo!

Ibarat sudah GPS rusak tertimpa device lemot pula. Berhubung, masa garansi tinggal hitungan hari dan gue malas antri, iphone pun gue bawa ke ITC Kuningan.

Tanya sana sini, masalah rempongnya GPS ternyata ada di antena sinyal wifi yang melemah.

Serius deh, kalau GPS kalian ngaco, jangan buru-buru untuk mengganti modul IC GPS, why? Pertama, belum tentu itu masalahnya. Kedua, mahal. Harga IC GPS kisaran 500 ribu sampai 1 jutaan rupiah. Bandingkan dengan mengganti antena wifi yang hanya berkisar 150 ribu sampai 300 ribu rupiah (Sudah termasuk biaya pasang, tergantung tempat dan pintar-pintar menawar).

Setelah antena wifi diganti, masalah GPS-pun beres namun berhubung gue sudah naik ke versi iOS 11, urusan lemot dan boros tak kunjung reda.

Gue sempat bersyukur ketika timbul notifikasi untuk update sistem ke iOS 11.4.1. Tanpa ragu, gue ambil langkah itu. Ya mau apa lagi? Toh yang sekarang juga sudah parah lemotnya. Gue pun naik ke IOS 11.4.1. Hasilnya? Sedikit membaik. Masih lemot tapi tak separah dulu. Masih boros walau tak sebocor dulu. But overall, tak jauh berubah. Iphone gue masih seperti hp android yang kebanyakan buka aplikasi, lupa clear memory, dan kurang RAM.

Sabar dan hanya bisa bersabar. Gue pun memutuskan untuk mengganti device yang lebih baru. Android? No, gue terlanjur nyaman dengan produk apple ini. Gue berencana untuk mengambil iphone 8 atau X sekalian. Alasannya sederhana, biar bisa dipakai hingga 3 tahun ke depan dan tak perlu ganti device lagi.

Namun, ternyata Allah baik sama gue. Pas lagi cari tahu spesifikasi iphone terbaru, gue dapat kabar kalau iOS 12 akan segera meluncur bulan September 2018. Gue pun kembali sabar menunggu.

Hari saat notifikasi iOS 12 masuk ke dalam iphone, adalah hari dimana saat itu jugalah gue langsung unduh dan install.

Hasilnya?

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan disertai keinginan luhur, maka gue menyatakan bahwa iOS12 adalah IOS terbaik yang pernah gue pakai.

Buka apa aja lancar. Jauh lebih lancar dibanding ketika masih pakai 10.3.3. Semuanya terasa begitu smooth. Menulis pun bisa lebih cepat. FYI, artikel ini ditulis lewat iphone butut gue.

How about the batere?

Irit! 33 menit baru turun 1%, dari 100% ke 99%. Sekitar 11 jam lebih dan baterai masih tersisa 5%. Sangat irit untuk iphone yang kapasitas baterainya jauh lebih kecil dibanding merk sebelah. Saat dicharge pun, serasa pakai fast charging. Kurang dari semenit, baterai sudah naik 8%.

What else?

Gue belum terlalu mengeksplorasi fitur di iOS 12 ini sih. Ada fitur untuk mengukur dimensi objek, pengaturan notifikasi, dan tambahan wallpaper. Juga, fitur baru di messaging, dan masih banyak lainnya. Tapi buat gue yang terpenting adalah irit baterai dan gak lemot. Rasanya seperti kembali memiliki iphone seutuhnya.

Overall, untuk beberapa hari penggunaan iOS12, gue sangat puas dengan kinerjanya. Ich liebe dich, IOS12.

0

IAM 2018 #Antologi

Pernah putus asa? Sama.

Pernah kecewa? Sama.

Pernah diminta secara khusus untuk berbagi kisah guna memotivasi mereka yang patah hati lewat buku true story? Dan menyadarkan mereka bahwa hidup tidak berhenti sampai di sini? Well, I did, beberapa tahun lalu lewat buku “Pacaran Mulu Kapan Putusnya” terbitan mizan, saya berbagi cerita. Dan itulah yang akan kembali saya lakukan dalam proyek IAM 2018 bersama kalian.

Saya berniat untuk membuat buku antologi short story tentang move on, termasuk tentang tips praktis untuk segera bangkit kembali.

Yup, move on, sesuatu yang kelihatannya sederhana tapi bikin jumpalitan saat dicoba. Mudah dikatakan tapi kalau hati baperan hasilnya pengen bikin terjun ke jurang. Makan tak enak, tidur pun tak nyenyak.

Kira-kira buku ini nantinya akan seperti chicken soup tapi isinya tentang move on. Termasuk tips bagaimana kita belajar ikhlas merelakan dan kembali berjalan.

Oiya, move on tak melulu tentang cinta. Bisa juga kalo kalian mau berbagi cerita tentang harapan yang tak kunjung tiba yang sempat membuat kalian nyaris putus asa dan harus rela belajar menerima.

Teknisnya?

Narasi maksimal 1.000 kata, tanpa singkatan, dan kalau bisa sesuai standar penulisan EYD. Tiap orang boleh mengirimkan artikel lebih dari satu.

Isinya? Ya cerita tentang apa yang membuat kalian kecewa dan bagaimana cara kalian merelakannya. Atau, kalian bisa cek tentang bagaimana cara penulisan lewat buku-buku/novel yang telah terbit di toko buku.

Jangan lupa kirim file terpisah tentang biodata dan foto penulis -hitam putih, maksimal 300 kata.

20 artikel terbaik akan dibukukan dan kalo semua lancar -semua artikel terkumpul tepat pada waktunya- ini bisa jadi hadiah di awal tahun mendatang untuk kalian yang artikelnya dimuat dibuku saya.

Buat kalian yang bingung bagaimana konsep penulisannya, bisa googling tulisan saya : Move On Andrea Juliand. Nanti kalian akan menemui beberapa tulisan saya tentang move on.

Bagi kalian yang ingin merintis jalan menjadi penulis, mungkin ini bisa jadi ruang buat mengekspresikan kegelisahan sekaligus menelurkan karya.

What else? Buku ini memungkinkan kalian untuk ‘terbang bersama’, bila kalian sukses mempromosikan buku ini. Simplenya, satu tulisan terangkat, maka semuanya berangkat.

How about money? Buku ini tidak akan diedarkan melalui toko buku. Para penulisnyalah yang akan bekerja sama mempromosikan buku ini.

Penulis yang memiliki massa banyak bisa mencetak ulang buku tersebut cukup dengan biaya produksi dan menjual kembali dengan harga jual. Ada selisih keuntungan yang jauh lebih besar dibanding hanya berharap pada royalti (FYI, royalti maksimal hanya 10% dari harga jual bila beredar lewat toko buku).

Hasil penjualan pun tak perlu menunggu akhir bulan sudah menyelinap masuk ke dalam dompet.

How?

Saya tunggu artikelnya paling lambat jam 23:59 – 3 September 2018. Artikel bisa kalian kirim ke andrea. juliand@yahoo.com (subjek IAM 2018)

Terima kasih. Hatur nuhun. Danke schön!

Indonesia, Ayo Move on!

1

Jogja, Lewat Aplikasi Di Ibu Jari

Jaman berubah. Teknologi makin maju dan kebutuhan manusia kian beragam. Kini, segalanya dituntut harus serba cepat, mudah diakses, namun dengan harga paling kompetitif. Itu berlaku hampir untuk segala hal, termasuk liburan.

Maka, ketika gue memutuskan untuk liburan ke Jogja bulan lalu, gue tidak ingin melakukannya dengan cara layaknya manusia purba. Cara tradisional seperti harus datang ke stasiun kereta untuk memesan tiket sudah bukan jamannya. Harus telepon hotel untuk pesan kamar juga adalah sesuatu yang basi. Maka, liburan kali ini, gue menginginkan semuanya memanfaatkan teknologi, semudah menggerakkan ibu jari. Teknologi berwujud aplikasi.

Awalnya memang timbul keraguan. Ada banyak kemudahan ditawarkan namun gue bimbang apakah semua akan berjalan? Takutnya, kalau tak beli tiket langsung ke stasiun, gue dapet tiket ‘zonk’. Takutnya kalau booking kamar tak langsung by phone, sampai sana gue bakal ‘tidur di hotel berbintang beratapkan langit’. Ketakutan manusiawi yang dihadapi oleh orang yang baru menggunakan teknologi jaman now, seperti gue.

Apalagi banyak keluhan yang gue dengar dari kerabat tentang ‘keajaiban’ saat menggunakan aplikasi pemesanan tiket atau kamar hotel. Mulai dari kamar yang tak sesuai, biaya lebih mahal, hingga masalah ‘pritilan’ namun menyebalkan seperti hilangnya fasilitas sarapan pagi. Namun, apapun harus dihadapi. Harus selalu ada langkah awal untuk memulai. Apapun resikonya, mau tak mau, gue harus beralih pada teknologi.

Pertanyaan awal adalah how? Naik apa ya ke sana? Bukan apa-apa, gue cukup sering berpindah tempat menggunakan kendaraan pribadi namun liburan kali ini gue pengin santai. Cukup duduk manis, tidur cantik, dan terbangun nyaman ketika sampai di tujuan. Maka, pilihan gue jatuh pada kereta api. Alasannya sederhana, sudah cukup lama nggak naik kereta dan gue ingin kembali merasakan sensasi naik kereta api.

Gue pun bertanya pada kerabat tentang cara pemesanan tiket kereta. Guys, memesan tiket kereta jaman sekarang sangat berbeda dibanding ketika beberapa tahun terakhir gue naik Bima. Dulu, tiket ya hanya tiket. Ketika tiket di tangan, beres sudah. Kini, semua berubah menjadi makhluk bernama boarding pass yang harus di scan saat ingin menuju ruang tunggu.

Walhasil, otak dengan intelegensia setingkat amuba ini cukup dibuat berkerut untuk belajar tentang cara pesan tiket dan cetak tiket mandiri. Gue pelajari hal itu lewat youtube. Setelahnya, gue pun memutuskan untuk membeli tiket lewat mini market tak jauh dari kompleks rumah. Pilihan gue jatuh pada Argo Lawu, ya mau gimana lagi secara tiket Taksaka Priority bisa bikin gue pulang ke Jakarta jalan kaki.

Gue pilih tempat duduk di samping jendela. Oiya, buat lo yang mau duduk persis di samping jendela maka pilihlah kursi A atau D.

Pilihan gerbong dan kursi beres, gue pun lalu membayar tiket untuk sebuah perjalanan pulang pergi. Cukup kaget ketika mendapat struk kecil berisi nomor kode booking tiket. Pelayannya dengan baik hati menjelaskan bahwa nanti nomor tiketnya cukup diketik pada alat cetak mandiri atau bisa di scan. Gue hanya manggut-manggut mendengarkan layaknya manusia purba yang baru pertama kali akan naik kereta.

Urusan tiket selesai, kini beralih ke urusan hotel dan gue paham pesan kamar tak bisa lewat mini market. Ada banyak aplikasi pemesanan kamar hotel dan pilihan gue mantap jatuh pada Traveloka. I don’t know why tapi pertama kali lihat, gue langsung yakin. Rasanya mirip kayak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Traveloka pun gue unduh dan taraaaa, gue baru tau kalau aplikasi ini sangat lengkap. Selain kamar hotel, ternyata bisa beli pulsa dan paket internet, termasuk pesan tiket kereta dan pesawat juga! Duh, tau gitu kan nggak perlu jalan kaki ke mini market.

Lanjut,

Untuk hotel, traveloka membagi dalam beragam kategori yakni : hotel mewah, budget hotel, dan hotel pemenang penghargaan. Ada pula pilihan untuk vila, apartemen, best picks, dan pilihan bayar langsung di hotel.

Setelah cek sana sini, pilihan hotel jatuh pada D’Salvatore Art and Boutique Hotel, sebuah hotel berbintang tigadi Depok, Yogyakarta. Sebuah superior double room gue pesan. Alasannya sederhana, kamarnya luas, harga pas, fasilitas komplit, dan pagi hari gue nggak perlu pusing cari makanan buat perut alias include breakfast.

Alasan terakhir, letaknya cukup dekat dengan rumah sepupu gue. Jadi, kalau pemesanan hotelnya bermasalah, gue bisa jalan kaki sambil nangis garuk-garuk aspal ke rumah sepupu.

Hari yang dinanti pun tiba. Setelah solat magrib, pada Jumat 6 Oktober 2017, gue melangkah pasti menuju stasiun. Gambir dikala weekend itu layaknya pasar Tanah Abang menjelang lebaran, ramai kuadrat. Gue sempat celingak celinguk saat turun dari taksi mencari makhluk bernama anjungan cetak tiket mandiri. Saat bertemu makhluk ajaib itu rasanya berbinar. Layaknya bertemu mantan yang dulu telah hilang, namun gue sadar semuanya telah berbeda. Mantan gue sekarang berubah jadi mesin cetak mandiri yang siap bikin mumet pada beberapa menit berikutnya.

Gue keluarkan struk pembelian minimarket. Kode pemesanan tiket pun, gue tulis dengan hati-hati sembari memanjatkan doa. Bukan apa-apa, kalau tiketnya ngaco, gue ruginya dua. Pertama, karena tiket kereta dan hotel yang sudah gue bayar bakal hangus sia-sia. Kedua, jadwal liburan yang sudah disusun praktis jadi kacau.

Sepuluh detik telah berlalu dan itu sepuluh detik terlama dalam hidup gue. Rasanya jauh lebih lama dibanding menunggu jawaban pacar saat dulu gue tanya, kamu mau nggak jadi pacar aku? Namun, menunggu anggukkan pacar tampaknya lebih cepat dibanding menunggu cetakan tiket keluar. Gue diam mematung. Bulir-bulir keringat panik mulai muncul apalagi antrian di belakang makin panjang. Tapi, Allah baik sama makhluk purba gagap teknologi ini. Sebuah tangan kekar dari seorang petugas keamanan menyentuh panel touch screen, membantu menyelesaikan semuanya. Rupanya, gue lupa tekan kata ‘cetak’ ketika selesai menulis kode pemesanan tiket! Damn you, Andre! Kalau gaptek mbok ya jangan begini amat!

Urusan tiket selesai, gue pun naik ke lantai dua, menuaikan sholat Isya sejenak lalu bergegas ke lantai tiga. Jujur, Gambir yang sekarang jauh lebih ramah. Ada banyak kursi di sana, live music yang senantiasa menghibur, toilet dan mushola yang bersih, petugas yang tanggap memberi informasi, dan beragam tenant untuk berbelanja. Peraturan yang membatasi bahwa hanya calon penumpang yang boleh masuk ke ruang tunggu juga berdampak pada makin tertibnya suasana.

Gue pun bisa duduk manis menikmati pemandangan kota Jakarta dari lantai tiga. Menatap monas yang berdiri begitu anggun dimalam hari, sembari menunggu Argo Lawu yang tak lama datang menghampiri. Keretanya datang dan berangkat tepat waktu. Tak ada pemeriksaan tiket lagi di dalam kereta dan tak perlu bingung sudah sampai di stasiun mana. Even, sekarang tiap akan masuk stasiun pemberhentian, sudah ada pemberitahuan lewat pengeras suara di kereta. Gue pun bisa nyaman tertidur hingga keesokannya.

Subuh keesokannya, gue sudah sampai di stasiun Tugu, Yogyakarta. Sepupu sudah menyambut di pintu keluar. Yup, gue harus ‘menginap sementara’ di rumah sepupu karena check in hotel baru bisa dilakukan pada pukul dua siang.

So, dari pagi menuju siang, gue menikmati jalan-jalan di kota Jogja yang ternyata saat itu sedang merayakan hari jadinya.

Beberapa jalanan ditutup untuk acara kirab dan panggung musik.

Gue menyempatkan diri sarapan di Nasi Uduk Palagan. Suasananya nyaman dengan harga yang bikin tenang. Makanannya? Wah, sudah pasti bikin lidah bergoyang ketagihan.

Lama tak ke Jogja membuat gue terpana. Tak ada macet yang bikin ‘tua sebelum waktunya’. Tak ada angkot reseh yang berhenti seenak udelnya. Dan, tak ada klakson bertubi-tubi ketika lampu pengatur lalu lintas baru akan beranjak dari kuning ke hijau.

Tampak pejalan kaki yang berjalan dengan muka penuh damai. Motor dan mobil yang tenang tak saling serobot jalan. Dan, harga makanan yang bikin kenyang tanpa bikin krisis keuangan. Gue juga menyempatkan diri main ke Hartono Mall dengan menggunakan taksi online. Dua kali memakai angkutan online dan dua kali pula gue mendapatkan supir yang seperti tour guide pribadi, begitu komunikatif dan informatif. Sungguh, keramahan khas kota Jogja meski sejenak cukup bikin gue lupa bagaimana rasanya dikejar anjing gila ala Jakarta.

Siang pun tiba. Gue diantar ke hotel oleh sepupu. Dua pintu besar di muka hotel perlahan gue buka. Berjalan tenang menuju lobi hotel untuk menemui petugas customer service. Hanya dengan menunjukkan bukti SMS dari Traveloka dan semuanya beres!

Kamar D’Salvatore Art & Boutique Hotel sesuai dengan yang ada di foto Traveloka. Cukup besar sehingga bisa dipakai untuk solat dengan nyaman.

Tempat tidur, kamar mandi, televisi, pendingin udara, termos listrik, kulkas, brankas, hingga hair dryer di kamar mandi dan perlengkapan lain dalam keadaan bersih dan siap pakai.

Sarapan pun tersedia keesokannya sesuai yang tertera pada Traveloka. Berbagai makanan dan minuman siap untuk memenuhi perut.

Gue juga iseng untuk melihat kolam renangnya yang saat itu ramai digunakan oleh pengunjung. Overall, pelayanannya begitu prima dan ramah. Sangat sesuai dengan apa yang tertulis pada review di aplikasi. Sungguh melegakan karena semuanya berjalan lancar.

Minggu pagi, 8 Oktober 2017, dengan kereta yang sama. Gue sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Duduk manis menikmati pemandangan luar biasa yang tersaji dibalik jendela kereta.

Terima kasih untuk Traveloka, Aplikasi lewat ujung jari yang kemarin memberi gue sebuah pengalaman baru. Tanpa pusing, tanpa ribet, semuanya semudah menggerakkan ibu jari.

Next time, gue akan menggunakan kembali secara full aplikasi nomor satu ini untuk jalan-jalan seru lagi. Mulai dari pesan tiket kereta atau pesawat, booking kamar hotel, hingga isi pulsa.

Gue pun berencana akan menggunakan berbagai layanan promo dan harga paket spesial yang senantiasa selalu ada dari Traveloka.

So, buat kamu yang masih bingung pilih aplikasi buat liburan, jangan ragu untuk pilih Traveloka. Aplikasi canggih dimana manusia purba yang gagap teknologi macam gue bisa tersenyum karena pelayanan dan kemudahan yang menakjubkan!

#Jogja

#Hotel

#JadibisadenganTraveloka

0

Review Mikayla #writingcontest


Harusnya dari tadi mengumumkan pemenang review Mikayla cuma berhubung reviewnya banyak yg keren, gue jadi galau buat memilih.

Dan, akhirnya memutuskan untuk mengucapkan selamat pada pemilik akun instagram : @cinantyapawitri , @yunan_1st dan @physiklehrerinnen

Hadiahnya sebuah buku antologi cerpen fiksi berjudul “Jodoh Untuk Langit”, akan segera dikirim ke alamat masing-masing minggu ini.

Oiya, dua voucher senilai total 800 ribu rupiah yg bisa digunakan untuk ikut kelas menulis telah menunggu untuk digunakan!

**ps : karena banyak review yg super duper ultra mega keren, tampaknya gue akan menambah jumlah pemenang, menjadi total 5 pemenang. Just wait! 😋

#mikayla #andreajuliand #novel #review #writingcontest