My cat vs me


Hari ini minggu pagi. Hujan mengguyur Jakarta sedari dini hari  hingga saat ini. 

Seharusnya, ini adalah minggu yg penuh damai hingga semua rusak ketika sebuah pesan dari ibu menyelinap masuk dengan perintah khusus : mandiin adikmu!
Yup, adik gue ya siapa lagi kalo bukan kucing gue. Seekor kucing jantan yg lebih disayang ibu dibanding gue. 

Dan layaknya seorang prajurit terhadap perintah atasan, gue pun harus meninggalkan rayuan kasur empuk dan hangatnya selimut. Hanya untuk memandikannya. Si buntelan kentut yg hobinya berlarian kemana-mana. Seperti gasing yg terus berdesing. Seperti batu baterai yg tak pernah kehabisan energi.

Seperti biasa, si kucing selalu mengeluh tiap dimandikan. Mukanya merengut dengan tatapan kebencian. Pada siapa? Ya tentu saja gue.

Ini adalah pembicaraan kami ketika sedang di kamar mandi. Tenang, bahasanya sudah di-translate agar kalian paham.

Here goes,

Kucing : Udah tau hujan seharian, malah mandiin gue! Kan dingin tau! Lo nggak pernah ngerasain jadi kucing sih!

Gue : Udah tau hujan malah main ke jalan! Kalo lo kotor kan gue mulu yg disuruh emak mandiin elu! Lo nggak pernah ngerasain melihara kucing sih!

Kucing : Ah, susah emang ngomong ama manusia, maunya menang sendiri!

Gue : Lah lebih susah gue ngertiin  lo, selalu ngeyel sendiri!
#edisi.gagal.empati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s