Abigail (3) – I call her, Mya


(8/12)

Hari ini sebenarnya menyebalkan. Paket kiriman sample buku nggak dateng-dateng, kaki luka kepentok tempat perkakas, dan beberapa hal lain yg bila diakumulasi menjadi ‘menyebalkan kuadrat’.

Kadang gue suka heran, kenapa hal yg menyebalkan itu sering terulang.

Actually, yg paling menyebalkan itu paket kiriman yg tak kunjung tiba. Paket berisi sample novel perdana gue berjudul Abigail yg sekarang entah ada di ujung dunia sebelah mana.

Namun, semua berubah setelah adzan isya berkumandang. Sebuah  pesan singkat menyelinap masuk ke dalam hp. Sebuah pesan dari perempuan baik hati nun jauh di sana. Perempuan ayu berdarah Jawa yg selama ini jadi tempat gue ‘menye-menye’ dan mau berbaik hati mendengarkan keluh kesah sumpah serapah gue, dulu.

Namun, karena kesibukannya sebagai dokter muda, belakangan ini dia menghilang. Lebih dari setahun kami kehilangan komunikasi. Dia sibuk mengurus pasien (dan cadavernya) dan gue sibuk mengurus beberapa kerjaan plus novel yg sedari 2015 kok ya nggak pernah beres.

I call her, Mya. Kalo gue jabarin tentang dia, mungkin akan membuat jari gue menua sebelum waktunya. 2017 ini tepat satu dekade kami saling mengenal.

Kenapa gue menulis tentangnya? Seberapa pentingkah dia dalam hidup gue? 

Bagi gue, keberadaannya seperti seorang ibu yg selalu siap memeluk anaknya ketika sang anak merasa lelah  menghadapi masalah. Layaknya seorang ibu yg menyambut seorang anak kecil dengan pelukan hangat dan kata-kata yg menentramkan jiwa. Dan anak kecilnya siapa lagi kalo bukan gue.

In fact, apa-apa yg gue alami, biasanya akan gue curahkan ke dia. Apapun.

Dari jaman susahnya praktikum, skripsi, termasuk ketika gue patah hati, diselingkuhi, atau bahkan ketika gue menghadapi masalah-masalah lain yg seperti tak ada ending-nya.

Even, kalopun gue lagi nggak jelas, biasanya gue akan menumpahkan ketidakjelasan gue padanya.

And you know what, dia seperti seorang ibu yg dengan sabar mendengarkan.

Sebegitu pentingnya hingga dia terpilih sebagai salah satu dari segelintir orang yg benar-benar gue masukan sebagai tokoh di dalam novel gue.

Abigail memang novel fiksi tapi ‘tak sepenuhnya fiksi’. Ada banyak bagian yg memang terjadi dan ditambah improvisasi sana sini.

Banyak potongan-potongan bagiannya yg merupakan kisah nyata. Banyak kata-kata di dalamnya yg pernah terucap, dan banyak tempat yg tertulis di dalamnya adalah sebuah kenangan yg pernah bernaung dalam pikiran.

Malam ini, lewat sebuah pesan akhirnya kami bisa kembali berkomunikasi. Dan kembali berkomunikasi dengannya itu rasanya seperti balon yg kelebihan angin. Ada banyak hal yg ingin dikatakan, ada banyak rasa yg ingin diungkapkan.

Setengah jam lebih kami berbicara dan setengah jam inilah yg ternyata sukses menghilangkan semua perasaan kesal dan capek gue hari ini.

Gue yg sebenarnya pengin tidur lebih cepat, ntah kenapa malah seperti baterai kelebihan energi. Ketak ketik sana sini menulis diary. Ngantuknya sirna berganti insomnia dan sekali lagi, gue nggak peduli. Bodo amat, yg penting bad moodnya lenyap!

So,

Buat seorang dokter muda yg lagi berada di Bandung sana, terima kasih telah menjadi mood booster malam ini.

Jangan raib lagi ya! 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s