Pelajaran bernama patah hati

Hey, kamu…

Aku tahu, patah hati itu melelahkan. Pun juga aku tahu, patah hati tak diinginkan. Namun, aku yakin bahwa mereka yg patah hati tak hanya ingin diam lalu mati. 

Mereka selalu mencoba dan mencoba, untuk sembuh dan kembali bahagia. Beberapa berhasil sembuh. Bangkit tertatih-tatih dengan sisa-sisa lukanya. Beberapa butuh waktu lebih lama untuk mengobatinya. Sayangnya, tak sedikit juga yg menyerah. Tenggelam dalam rasa sakit yg kian lama kian menjepit.

Namun, tahukah kau? 

Patah hati itu seperti kanker. Kamu tak cukup hanya mengobatinya, namun harus dioperasi lalu diangkat kankernya. 

Mungkin setelahnya kamu akan merasa sakit dan tak nyaman dalam proses penyembuhan. Namun itu lebih baik daripada mendiamkan, membuatnya menyebar ke seluruh badan lalu mati perlahan-lahan.

Mungkin dalam hatimu, kamu akan berkata : kalau cuma ngomong semua orang juga bisa!

Benar, kamu nggak salah. Akupun pernah patah hati. Berkali-kali. Bahkan dulu aku beranggapan patah hati adalah cobaan atau bahkan siksaan terbesar dalam hidup.

Namun, akhirnya aku sadar, kalau kita tak merasakan patah hati mungkin kita tak akan pernah belajar. 

Belajar buat kuat, bahwa patah hati hanyalah satu dari sekian cobaan  dalam hidupmu. Dan yg harus diselesaikan itu masalahnya, bukan hidup kita. Jangan sampai karena patah hati lalu berpikir untuk mengakhiri hidup. Bukankah kerasnya tempaan yg membuat berlian indah dan mahal?

Belajar untuk sabar. Patah hati itu mirip seperti panas dalam yg datang bersama sariawan dan radang tenggorokan. Ketika dia datang memang menyebalkan tapi ingatlah bahwa itu tak selamanya. 

Patah hati juga mirip badai di malam hari, maka sabarlah untuk menanti damainya pagi. Karena bila kesulitan adalah hujan dan badai serta  kemudahan adalah matahari, maka kita butuh keduanya untuk melihat pelangi.

Belajar buat bersyukur. Kita tak akan paham nikmatnya sehat bila tak merasa sakit. Kita tak tahu indahnya bahagia bila tak mengerti apa itu kecewa. Dan, kita tak akan menyadari keberadaan Tuhan bila tak diberi cobaan.

Belajar buat ikhlas. Mungkin kita  berpikir bahwa dialah yg terbaik buat kita. Padahal yg kita anggap baik belum tentu baik di mata Tuhan. 

Tak ada yg menyuruhmu untuk buru-buru karena semua butuh waktu. 

Kembali bergerak memang tak mudah. Bahkan ketika kamu sadar untuk segera beranjak membenahi hati yg luluh lantak. 

Awalnya mungkin kamu akan takut. Takut tak bisa melanjutkan hidup tanpanya, takut bila dia menganggapmu tak lagi ada, takut akan kenyataan bahwa sekarang kamu bukan siapa-siapanya, takut lukamu tak kunjung sembuh tanpanya, takut tak bisa menemukan pengganti yg kamu bisa nyaman seperti ketika bersamanya, dan sejuta ketakutan lainnya. 

Tapi percayalah, bahwa apa yg terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Bila kamu sudah bisa ikhlas melepas dan berdamai dengan diri, maka suatu hari kamu akan cerita tentang lukamu saat ini, tentang kisah dibelakangnya, dengan biasa saja. Seperti tak terjadi apa-apa. Seperti kamu terbiasa menghirup udara. 

Lalu,

kamu akan tersenyum bahagia karena saat itu mungkin kamu telah menemukan penggantinya.

…ingatlah Tuhan disaat lapang, maka Dia senantiasa hadir saat kamu butuh pertolongan…


Postscript :

Apakah kamu merindukannya, dia yg baru saja hilang dari hidupmu? Lalu bagaimana dengan Tuhan, yg bertahun-tahun dilupakan dan baru kembali ketika kamu butuh bantuan? Kabar baiknya adalah kamu tetap bisa kembalilah pada-Nya, karena Tuhan selalu ada bahkan disaat semua orang menghilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s