empat.sebelas


Aksi Bela Quran 411 kemarin telah berakhir. Gue pribadi nggak ikut turun ke jalan. Silahkan bilang gue cupu, cemen, munafik, atau sejenisnya tapi lewat tulisan ini, gue yakin Allah tahu di pihak mana gue berada.

Setidaknya ada beberapa hal yg membuat gue terharu dengan aksi bela Quran kemarin.

Pertama, gue takjub karena mesjid ramai saat solat subuh! Istiqlal full sampai kehabisan air! Rasanya terakhir lihat mesjid benar-benar penuh oleh mereka yang salat subuh berjamaah itu cuma saat Ramadan.

Setelahnya, tiap subuh mesjid hanya terisi dua hingga tiga baris saf, itupun diisi oleh muka-muka orang pensiunan –pengalaman di mesjid dekat rumah. 

Gue berharap ke depannya ada atau nggak ada aksi, mesjid di seluruh Indonesia penuh oleh mereka yang salat berjamaah lima waktu.

Kedua, sebagian besar perusahaan atau organisasi tahu betul betapa sulitnya mengatur dan menggerakkan karyawan meski jobdesk-nya jelas. Bahkan hingga detik ini mayoritas perusahaan atau organisasi masih mengembangkan cara agar SDM bisa bergerak secara efektif dan efisien.

Namun disadari atau tidak, berkali-kali Allah menunjukkan bahwa Dia Maha Kuasa.


Cukup dengan satu Allahuakbar, mereka dari berbagai suku, ras, dan tanpa memandang kelas ekonomi tertib memulai solat. Dimulai takbiratul ihram dan diakhiri dengan dua salam.

Cukup dengan satu Allahuakbar, kemarin ratusan ribu orang bergerak dgn niat yg sama, membela Allah dan Quran.

Bukan, bukan karena Allah lemah tapi kami ingin menunjukkan pada-Nya di pihak mana kami berada.

Ini sekaligus jawaban bagi mereka yg mendewakan uang dan kekuasaan hingga berani mengecilkan Allah.

Adakah yg bisa menandingi kalimat Allah? 

Adakah sebuah kalimat yang karenanya bisa menggerakkan ribuan atau bahkan milyaran orang di dunia ini, serentak?

Adakah sebuah kalimat yang karenanya ribuan anak kecil di Palestina sana berani ngotot melawan tentara Israel bersenjata lengkap dan meninggal dalam keadaan tersenyum?

Jelas bahwa apapun di muka bumi ini tak akan pernah bisa menandingi atau melawan kekuasaan-Nya.

Ketiga, dahulu gue cukup sering me-like atau mem-posting sesuatu yang berhubungan dengan Gubernur Jakarta, Ahok. Namun itu bukan karena gue akan memilihnya di kemudian hari namun lebih pada karena gue harus berlaku adil padanya. Buat gue, adalah tidak fair hanya karena seseorang berbeda keyakinan dengan mayoritas lalu orang lain bisa dengan seenaknya menyebarkan fitnah untuk membunuh karakter orang tersebut. Tidak, gue harus adil.

Jujur, gue angkat topi dengan apa yang sudah dilakukan Ahok. Ketika Bandung yang di dataran tinggi bisa kebanjiran dan sekarang Jakarta yang sebagian wilayahnya lebih rendah dibanding permukaan air laut justru mulai berkurang daerah banjirnya. Ketika dulu, orang-orang yang seenaknya menduduki tanah negara digusur karena memang selayaknya mereka digusur tapi di masa pemerintahan Ahok, mereka mendapat fasilitas relokasi, berupa rumah susun dengan sewa yang jauh lebih murah dibanding biaya kost gue saat awal masuk Universitas Indonesia, dua belas tahun yang lalu.

Kalau kita mau melihat dengan kepala dingin, ada banyak ruang terbuka hijau yang dibangun, kali/sungai yang rutin dikeruk, fasilitas umum yang mulai dibenahi dan dijaga kebersihannya, PNS pemda DKI dan pasukan orange-biru yang kini lebih sejahtera, serta profesionalitas dalam birokrasi yang diperbaiki.

Gue paham bahwa banyak pihak yang tidak menyukai Ahok karena dengan kepemimpinannya, ada banyak oknum yang terganggu pemasukan kotornya, ada banyak mafia anggaran yang gigit jari olehnya. Oleh karena itu, beberapa berita yang memang bertolak belakang atau bahkan cenderung sebagai berita bohong beberapa waktu lalu, gue lawan balik dengan memberikan berita yang sebenarnya.

Keempat, apakah gue menyukai gaya kepemimpinan Ahok? Ya. Apakah gue menyukai program Ahok? Sejauh ini hanya dia yang paling jelas programnya. Apakah gue akan memilih dia? Jawaban gue TIDAK. Bukan, bukan karena gue membenci dia. Bukan juga karena beda suku dan ras. Tapi karena Tuhan gue, Allah memang tegas dan jelas melarang untuk memilih dia.

Bukankah dia baik? Ya. Bukankah dia ikut membangun mesjid? Ya. Namun, satu-satunya alasan gue tidak memilih dia karena gue patuh dengan Allah. Sulit untuk dijelaskan dengan akal sehat namun mudah bila dipahami dengan iman, karena justru disitulah ujiannya.

Bagi gue mempertanyakan kenapa Allah melarang memilih pemimpin non muslim itu sama seperti seorang muslim bertanya kenapa harus salat lima waktu? Kenapa Ashar nggak digabung dengan Zuhur padahal waktunya berdekatan? Atau pertanyaan seperti, kenapa muslim wajib berpuasa di bulan Ramadan? Jawaban mudahnya adalah ya karena Allah maunya begitu. Kadang dia memberikan ujian dan kemustahilan untuk memperlihatkan bahwa kuasa-Nya di atas segalanya. Seakan Allah ingin berkata, apakah kamu men-Tuhankan otakmu atau memilih patuh padaKu? Apakah kamu ingin menggantungkan hidupmu pada pemimpin non-muslim atau hanya pada Allah?

Kelima, ketahuilah bahwa siapapun kepala daerah yang nantinya terpilih maka perlu disadari bahwa dia memang sudah dipilih oleh Allah. Allah yang mengangkat dan nanti Allah pula yang akan menurunkannya.

Sekian,

…Semoga keselamatan dan rahmat Allah, serta keberkahan-Nya terlimpah kepada kita semua…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s