Big heart! 


Melihat Indonesia adalah melihat banyak hal yg berbeda. Kadang bahkan benar-benar berbeda. Terlalu banyak masalah sepele yg diperbesar sementara banyak masalah besar yg dihilangkan. Belum lagi isu-isu SARA yg entah mengapa hingga saat ini tak kunjung sampai pada tahap dewasa. Dewasa dalam arti bagaimana memahami dan menyikapinya. Dewasa seutuhnya bukan hanya simbol belaka.

Menghabiskan sembilan semester di FISIP UI membuat gue menyadari bahwa ada banyak cara untuk melihat. Ada banyak sudut pandang dan menjadi mainstream belum tentu benar.

Kalau kamu ingin dihormati belajarlah menghormati. Kalau kamu ingin dipahami, belajarlah untuk memahami. Karena bukan dunia ini yg sempit tapi sudut pandangmu yg membatasi.

Kenapa gue menulis ini? Karena jauh di lubuk hati gue mulai bertanya-tanya.

Nun jauh di sana, ada seorang bapak yg punya segalanya. Otak cerdas, hidup enak, paten banyak, dan diperhitungkan di Amerika tapi mau meninggalkan itu semua hanya untuk kembali ke Indonesia. Dan kini, menyebabkan kewarganegaraannya hilang. WNA bukan, WNI juga tidak. Bapak Arcandra Tahar.

Di luar sana, ada wanita yg berpengaruh ke 23 versi majalah Forbes (2008), berjasa bagi Indonesia namun malah dibuang ke luar negeri karena skandal sebuah bank yg disusun sedemikian rupa agar otak pelaku yg merupakan petinggi negara tak terkena dampaknya. Namun, saat ini masih mau dipanggil kembali untuk menata perekonomian Indonesia. Tak ada dendam. Tak ada sakit hati, yg ada hanya sebuah keyakinan bahwa ia ingin berbuat banyak untuk membangun Indonesia. Ibu Sri Mulyani.

Beberapa hari ini, ramai pemberitaan tentang Gloria Natapraja Hamel. Seorang gadis manis berusia 16 tahun yg bertekad untuk mengibarkan Sang Saka Merah Putih di Istana Negara tapi tersandung kasus kewarganegaraan.

Undang-undang memang mengharuskan tim paskibraka adalah WNI sedangkan Gloria memiliki paspor Perancis.

Terlepas dari itu semua, gue salut apalagi setelah membaca surat pernyataan bahwa Gloria memilih Indonesia sebagai kewarganegaraannya. To be honest, dia berhasil membuat gue memberikan penghargaan pada dirinya.

Masalah yg dialami Gloria mungkin buat beberapa orang terlihat sepele.

Apa sih untungnya jadi paskibraka? 

Apa sih untungnya membela mati-matian dan memilih Indonesia?

But for me, ini lebih dari sekedar pilihan. Inilah kedewasaan dan kesetiaan.

Bayangkan, ketika banyak orang-orang di luar sana yg mungkin hari ini (16/8) belum memasang bendera. Bayangkan ketika di luar sana, banyak anak seumurannya yg malas tiap kali upacara bendera, tak hafal pancasila atau tak lengkap atribut upacaranya dan seorang Gloria berjuang mengerahkan segala daya upaya demi Sang Saka Merah Putih.

Kadang gue suka berpikir, mungkin jiwa nasionalisme Arcandra Tahar, Sri Mulyani, dan Gloria pada Indonesia jauh lebih besar daripada mereka yg mengaku WNI tapi saat upacara masih ketawa ketiwi, masih korupsi dan tipu sana-sini.

Mungkin sebenarnya yg perlu dipertanyakan tentang nasionalisme bukan mereka tapi bangsa ini sendiri.

Ayo merdeka seutuhnya! Bukan hanya simbol belaka.

#RI71

 

ps : Big heart untuk Arcandra dan Gloria.

Tuhan pasti punya rencana yg lebih baik untuk kalian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s