Sayangi mereka

  
Sudah hampir dua bulan lebih kucing-kucing itu tinggal di rumah gue. Nothing’s special sebenarnya, hanya seekor induk kucing kampung dengan empat ekor anak-anaknya yang berlarian kesana kemari layaknya gasing yang tak pernah kehabisan putaran. Tapi ada satu hal yang menarik dari sekumpulan makhluk berbulu tersebut, terutama dari induknya.

One day, gue pernah memberi sang induk sepotong ikan. But you know what? Setiap kali gue beri makan, sang induk akan membawa makanan itu untuk diberikan pada anak-anaknya terlebih dahulu. Setelah anak-anaknya kenyang atau tertidur, sang induk baru memakan sisa-sisa makanan tersebut. Gue pikir itu hanya sekali dua kali tapi dilakukan berulang-ulang dan hasilnya selalu sama.

Kemudian ingatan gue mundur beberapa tahun ke belakang, ke salah satu panti jompo di wilayah Jakarta Timur saat gue msh kuliah dulu. Melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana orang tua yang sudah lanjut usia tak berdaya namun dititipkan ke panti karena keluarganya tak ada yang mau mengurus.

Pertanyaan besar dari contoh di atas, dimana anak-anaknya? Dimana keluarganya? Sebegitu teganyakah anak-anaknya menitipkan orang tua mereka sendiri? Sebegitu sibuknya kah anak-anaknya sehingga orang tuanya, yang dulu bisa merawat anak-anaknya kini anaknya tak mau merawat orang tuanya? Berapa triliunkah penghasilan, aset, atau bisnis yang diurus sehingga tega mencampakkan orang tuanya?

Nggak punya waktu, sibuk ngurus kerjaan, sibuk ngurus anak istri, nggak nyambung di ajak ngobrol, bikin ribet kalo mau kemana-mana, susah ngurus makan, mandi dan pup-nya“, dan itulah jawaban yg dulu gue dapet dari pihak pengelola panti jompo kenapa keluarganya menitipkan para orang tua di panti jompo.

Dari kucing kampung dan realita di panti jompo gue belajar, bahwa seorang ayah dan ibu mampu menghidupi anak-anaknya tapi anak-anaknya belum tentu mampu dan mau merawat orang tuanya. Mampu dan mau adalah dua hal yang berbeda. Seperti yang orang bilang : selama ada kemauan pasti ada jalan, tapi bila tidak yang ada hanya alasan. Yup, alasan sibuk ini itulah yang akhirnya mungkin baru disesali ketika orang tua telah tiada.

Akan ada banyak penyesalan ketika orang yang benar-benar kita sayang kemudian menghilang. Ada banyak seandainya menghantui pikiran. Karena disadari atau tidak, satu hari yang terlewat adalah satu hari yang membuat saat-saat kebersamaan kita dengannya semakin berkurang.

Sayangi orang tua kita. Tak ada yang tahu kapan Tuhan memanggil ayah ibumu untuk berpulang, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s