Indonesia bukan tanah airku

01.56, Jakarta di pagi buta…

Jadi gini,

A couple days ago, gue habis beres-beres file dan menemukan banyak tulisan ajaib yang bahkan beberapa diantaranya gue nggak nyangka kalo pernah nulis beginian.

Dan tulisan kali ini adalah salah satu tulisan sisa lomba menulis. Berhubung lombanya sudah usai, maka gue memutuskan untuk memasukkan tulisan ini ke dalam blog.

Enjoy!

_______________________________________________________

Mungkin juri atau siapapun yang membaca akan menilai artikelku salah alamat. Entah ini artikel berkonsep curhatan atau sebuah curhatan berbentuk artikel, aku tak tahu. Aku hanya membaca selintas tentang lomba menulis yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia dari sebuah sosial media. Jujur, tadinya aku mau menulis tentang “Harapan terhadap Jokowi” namun setelah kupikir apa yang bisa diharapkan dari Jokowi seorang diri untuk membereskan segenap masalah bangsa ini yang puluhan tahun terkapar tak berdaya karena rusaknya mental dan masalah korupsi yang hampir ada di setiap lini kehidupan, ntah dari sekedar korupsi waktu hingga korupsi uang dan kekuasaan.

Tak ada yang meragukan bila seorang Jokowi memiliki kekuasaan secara legitimasi karena ia sudah sah ditetapkan sebagai kepala negara Republik Indonesia. Namun, sulit rasanya bila hanya berharap pada Jokowi seorang, terutama bila ratusan juta rakyat ini juga tak mau ikut bergerak. Jokowi memang memiliki kekuasaan penuh untuk mengatur ini itu tapi hanya berharap padanya dan jajaran kabinetnya itu tak mungkin kawan, meskipun baru beberapa waktu Jokowi bekerja dan sudah begitu banyak hal-hal yang tadinya mustahil dilakukan kini mulai berjalan. Berbagai program positif digulirkan, beragam keputusan berani diambil cepat, infrastruktur dibenahi, dan yang terpenting suri teladan diberikan oleh pemimpin nomor satu bangsa ini. Melalui Jokowi-lah, kita bisa bilang : siapapun kamu, tidak peduli apakah kamu hanyalah rakyat biasa, selama kamu punya niat baik untuk memajukan negeri dan mau bekerja keras, kamu bisa jadi presiden.   

Harapan pada seorang Jokowi? Tentu saya hanya berharap ia bersama orang-orang yang tepat lainnya selalu sehat, kuat, dan semangat dalam memimpin bangsa ini untuk waktu yang lebih lebih lama lagi. Bukan, saya bukanlah fans Jokowi yang fanatik. Sebagai salah satu warga yang termasuk kelas menengah dengan usaha yang masuk dalam ranah UKM, saya merasakan ‘penderitaan’ dari kebijakannya ketika ia menghapus subsidi BBM dan menaikkan pajak kendaraan bermotor. Namun walau saya tak menikmati programnya secara langsung, saya melihat gebrakan yang dia lakukan itu benar, paling tidak hingga saat ini masih dalam rel kemajuan.

Saya bisa tersenyum karena pajak yang saya bayar saat ini terlihat nyata hasilnya. Lewat portal berita online, saya membaca bahwa waduk-waduk mulai dibangun di berbagai daerah, pembangkit listrik dikebut, kapal-kapal untuk program tol laut sudah mulai beroperasi, sodetan kali ciliwung di Jakarta berjalan, jalan-jalan baik tol dan non-tol dibangun dan diperbaiki. Di bawah pemerintahannya yang baru berusia seumur jagung, pembangunan begitu pesat berkembang, tidak hanya di wilayah barat namun merata ke wilayah timur Indonesia, sesuatu yang agak mustahil di pemerintahan sebelumnya.

Kemajuan lain? Penggantian orang-orang yang tidak kompeten dan cenderung menghambat kemajuan dalam bidang birokrasi. Perang terhadap narkoba dengan memberi hukuman mati terhadap para pengedarnya juga merupakan contoh gebrakannya terkait revolusi mental, disamping memang ada banyak pihak lain yang terpaksa kehilangan sumber-sumber penghasilan kotornya. Begitu banyak oknum-oknum serakah yang terganggu dengan hadirnya Jokowi, dan tentunya mereka tidak akan tinggal diam untuk menggoyang stabilitas pemerintahan ini.

Kembali ke prolog yang berseberangan dengan sub-tema, kalau aku mengotot untuk tetap menulis harapan terhadap Jokowi maka artikel ini hanya berhenti sampai di sini, mengapa? Karena pemilihan tema “Harapan terhadap Jokowi” seakan-akan membuat kita hanya berpangku tangan tanpa berpikir realistis bahwa kemajuan bangsa ini tidak hanya berada di tangannya tapi juga menjadi tanggung jawab bersama.

Sangat sulit rasanya bila rakyat Indonesia tidak mau bersatu padu untuk bergerak maju. Sulit rasanya bila Jokowi dan jajarannya berusaha untuk mengentaskan kemiskinan tapi rakyatnya hanya berpangku tangan, sama seperti sulitnya menyelesaikan masalah banjir namun rakyatnya masih masa bodoh dengan buang sampah sembarangan dan membuat hunian di bantaran.

And you know? Artikel ini pada akhirnya memang sempat terhenti di sini. Diam tak bertambah satu karakterpun berhari-hari, hingga di sebuah pagi hari kemerdekaan negeri ini, sebuah whatsapp masuk ke dalam hpku, ternyata dari grup whatsapp. Kalimatnya singkat tapi membuat pikiranku berkecamuk di kepala, meronta-ronta untuk segera berpindah tema.

Kalimat itu sederhana, berbunyi : Indonesia bukan tanah airku. Karena tanah, aku masih ngontrak dan untuk air aku masih beli” – tulisan di sebuah gerobak tua. Pertama kali aku membacanya aku terdiam berusaha untuk mencerna, sebuah kalimat sederhana namun sarat makna.

Otak kiriku segera bekerja menganalisa. Memang benar, masih banyak orang-orang yang saat ini masih mengontrak karena belum mampu membeli tanah sendiri. Juga, memang benar bahwa masih banyak diantara kita baik di kota atau di pedalaman sana, untuk airpun masih beli. Namun, apakah wajar menulis kalimat seperti itu? Apakah pantas untuk bilang “Indonesia bukan tanah airku” dan seakan-akan menumpahkan kekesalan pada negeri ini, pada pemerintahan yang baru seumur jagung ini? Maka di titik inilah temaku berpindah dari “Harapan untuk Jokowi” menjadi “Menuju Masyarakat Sehat”.

Yup, menuju masyarakat sehat, sehat jiwanya, sehat raganya dan terutama sehat mental dan pikirannya. Di sinilah revolusi mental yang digembar-gemborkan oleh Jokowi sangat dibutuhkan.

Hey, coba bayangkan bila 70 tahun yang lalu, para pejuang yang mayoritas hidupnya jauh lebih sulit dari kondisi kita saat ini dan hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Bayangkan bila pejuang kita dulu itu tak mau bersatu padu melawan penjajah hanya karena ia tak punya tanah atau rumah. Tanpa kemerdekaan, bisakah saat ini kita tertawa bersama keluarga dalam keadaan yang damai? Bisakah kita menikmati kemajuan teknologi? Bisakah kita membeli tanah, rumah, dan mobil? Bisakah kita membangun pabrik, apartemen, sekolah dan beraktifitas dengan nyaman bila belum merdeka? Para pejuang itu yang mungkin hampir tiap hari dilanda kesulitan dan kelaparan namun tidak egois hanya memikirkan kondisinya. Mereka berbuat lebih jauh, berkomitmen jangka panjang, mengorbankan jiwa raganya untuk anak cucunya, untuk kita semua bahwa Indonesia adalah tanah air milik kita semua dan kita berhak merdeka!

Apa yang kamu tuai hari ini adalah konsekuensi logis dari apa yang kamu tanam di masa lalu. Jangan salahkan orang lain karena kelalaian yang kamu lakukan sendiri. Jangan jadikan ketidakmampuanmu menjadi penyebab kebencian buta pada negeri yang sama-sama menjadi tempat kita hidup selama ini.

Bukan hanya kamu kok yang masih mengontrak, bukan hanya kamu kok yang masih harus membeli air? Dan bukan hanya kamu yang merasa hidup ini sulit walau kita sudah 70 tahun merdeka, bahkan kondisi yang sama juga terjadi pada negara lain yang secara usia lebih tua dan lebih lama merdeka. Menjelek-jelek’kan negeri sendiri sementara kamu masih bergantung hidup di dalamnya itu sama seperti kamu meludahi sumber air dimana kamu masih minum darinya. Menjijikkan bukan?

Revolusi mentalmu, perbaiki pola pikirmu. Kalau orang lain dengan kondisi yang sama, dengan pemerintahan yang sama, dan sama-sama makan nasi bisa sukses, mengapa kita tidak bisa? Kalau orang lain yang namanya tercatat dalam buku-buku berisi kisah sukses heroik nan inspiratif, yang bermetamorfosa dari tidak punya apa-apa dan terlahir dari anak dalam keluarga yang bukan siapa-siapa lalu hari ini ‘bisa sejahtera dan menjadi siapa-siapa’, mengapa kita tidak bisa?

Kalau kamu merasa Indonesia kini terpuruk, ya mari kita sama-sama bahu membahu, karena kita sama-sama tahu bahwa negeri ini terlalu lama salah urus. Namun, kalau kamu skepstis, dan merasa seakan-akan Indonesia itu tanpa masa depan tidak perlulah untuk menghina dan menyebarkan kebencian.Bangsa ini membutuhkan mereka yang mau bergotong royong agar Indonesia kembali berdikari dan berjaya, bukan mereka yang hanya menusuk dari belakang dan menghambat kemajuan.

Kalau kita mau berpikir sejenak, maka sudah cukup banyaklah orang-orang hebat di masa sekarang ini, ntah dari pengusaha, pejabat, politikus, bahkan artis yang dulunya bukan siapa-siapa, kini bisa sukses dan membuka lapangan kerja, dalam sistem dan pemerintahan yang sama.

Bangkit dan berjuang kawan, bukan hanya mengeluh atau bahkan mencaci. Hidup memang tidak mudah dan akan lebih sulit bila pola pikir kita salah. Salah bila hanya berharap uluran tangan pemerintah tanpa mau berusaha dan meningkatkan potensi diri. Menyalahkan Indonesia tapi tidak melakukan apa-apa, membuatmu menjadi pecundang sesungguhnya. Hanya mereka yang mampu  beradaptasi, pintar membaca situasi, kreatif dan selalu produktiflah yang akan bertahan.

Upgrade dirimu, Upgrade Indonesia!

#RI70

 

**ps : Artikel ini telah lolos Seleksi Nasional I

lomba tulis “Writing Contest – Bisnis Indonesia”

2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s