Plong!

  
Buka laptop malem-malem lalu senyum-senyum dikulum pakai muka mesum, terlihat menjijikkan but yes its me! *evil grin*

Entah sudah berapa lama nggak menulis dimari, belakangan ini selain beberapa kegiatan yang menyita waktu, gue juga lagi ngebut naskah biar bisa segera dikirim ke major publisher.

And voila, a couple days ago, naskah itu selesai. Gue masih nggak percaya ketika bisa bilang I’m done, karena biasanya naskah itu gue tambahin ini dan kurangin itu yang bikin naskah itu nggak selesai-selesai. Edit ini edit itu, gitu terus sampai kiamat! Penyakit penulis pemula memang begitu. Kayaknya segala macem mau dimasukin, padahal bikin semacem aje otak udah berubah jadi tempe bacem.

Memenangi salah satu lomba tulis nasional yang digagas oleh ACT -Aksi Cepat Tanggap- menjadi trigger gue untuk serius menulis dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti sebuah kelas menulis bernama Kelab Penulis Muda-Inspirator Academy angkatan 5 Jakarta, 2015 lalu.

Semua teman-teman penulis, baik fiksi maupun nonfiksi di kelas, tau banget perjuangan gue menulis. Mulai dari kurang tidur karena hampir tiap hari chat dengan  sesama penulis hingga pukul tiga pagi hanya untuk bahas naskah, kurang piknik karena kelasnya tiap hari Minggu, dikejar deadline harus ngumpulin naskah layaknya maling ayam yang dikejar massa satu kecamatan, dan chat jam tiga pagi dengan pihak Rumah Sakit spesialis kanker buat cari data penunjang –fyi, salah satu yang gue bahas adalah ttng gejala dan metode  pengobatan kanker otak.

And finally, ketika naskah itu gue kirim ke salah satu major publisher terbesar di Indonesia, rasanya plong! Plong banget! Layaknya sejuta rasa yang membuncah di hati, akhirnya berani di utarakan pada orang yg disayang. Walaupun belum tentu di-IYA-kan tapi paling tidak dia sudah tahu sekarang. Walaupun gue belum tahu apakah naskah gue akan lolos diterbitkan tapi rasanya perjuangan selama ini terbayar!

Yup, paling nggak gue sudah bilang. Paling nggak gue udah dapet email pernyataan bahwa naskah sudah diterima dengan baik dan gue harus menunggu beberapa bulan lagi untuk evaluasi. Dan paling nggak kegelisahan gue selama ini, yg menghantui otak dan hati, kini telah selesai. Karena tak semua orang berani menyatakan isi hati. Beberapa hanya memberi tanda lugu layaknya putri malu. Dan sisanya hanya menumpuk rasa di hati, lalu basi, dan kemudian hilang dibawa mati. *edisi curhat colongan*

Tidak semua orang yang pandai berbicara adalah pendengar yang bersahaja. Tidak semua orang yang punya gagasan bisa mengemas dan berbagi dalam bentuk tulisan. Bahkan tidak semua orang, mau dan ikhlas untuk berbagi.

Let me tell you something, sejuta sayang tanpa dinyatakan akan hilang terbuang. Sejuta ide tanpa nyali, tak akan tereksekusi. Bukan matahari namanya kalau tidak terbit. Bukan tulisan kalau dia hanya di lisan.

Membacalah maka kau akan mengenal dunia, menulislah maka dunia akan mengenalmu.

 

 

…sembari menyeruput kopi

menghirup sepi langit Jakarta

pukul satu pagi…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s