Menulis fiksi itu (2)

Menulis adalah sebuah pekerjaaan, dan layaknya pekerjaan maka menulis harus dilakukan dgn profesional. Jangan bergantung mood buat nulis. Jangan sedih dulu baru nulis menye-menye karena nggak tiap hari ada orang yg bikin lo patah hati. Dan, jangan matahin hati orang lain dulu trus baru nyoba nulis komedi… #ehinikenapaguecurcol?

Lanjut, 

Walaupun keliatannya mudah, menulis itu harus dibiasakan, tak peduli semenye-menye apapun dirilo, kebiasaan ini harus terus berjalan. 

Sebuah rutinitas, selain mengasah kemampuan menulis, juga melatih untuk profesional. Tetap bekerja apapun cuacanya. Tetap menulis apapun moodnya.

Masalahnya, kasus seperti ini kadang kurang cocok ketika menulis fiksi. Karena untuk menulis fiksi dibutuhkan ‘peran hati’ yg lebih. 

Untuk fiksi, in my humble opinion tulisan akan lebih oke dan lebih berasa feelnya kalo itu berasal dari kegelisahan hati penulis. 

You know, sekelas Glenn Fredly aja, lagu tentang patah hatinya baru keren pas dia beneran patah hati. Dan ketika gue maksa nulis menye-menye atau nulis hal yg romantis pas hati adem ayem kayak sayur bayem ya bleber hasilnya..

Namun, seperti yg gue tulis di atas kegelisahan itu pun nggak harus ribet. Bisa aja berasal dari pengalaman kecil kayak pas antri ATM di belakang seorang ibu yg narik duit dan ibu itu malah nanya ke lo, “Kok duit ibu berkurang ya? Kamu apain tabungan ibu? Ngaku!

Apapun kegelisahan/pengalaman yg lo alami, semua bisa jadi bahan tulisan. Tentu tetap dengan rumus premis dan mindmapping

Singkatnya, premis adalah konflik utama atau kegelisahan lo. Setelah dapet ide utama maka lanjutkan dgn mindmapping, bikin turunan masalahnya dan bikin bumbu-bumbu penyedap narasinya. 

Tujuannya satu, agar pembaca bisa menangkap maksud yg ingin lo sampaikan atau at least, they can feel what you feel, lewat deskripsi tulisan lo.

Contoh :

Premis : 

Gagal beli sate ayam

Mindmapping : 

Inget pidato Obama ttng sate-> udah enam tahun ngidam sate-> bela-belain keluarin mobil -> menuju TKP -> abang-abangnya udah ganti jualan somay -> gagal beli sate ayam-> isi perut dgn nasi goreng.

Tentunya mindmapping tadi harus diberi bumbu-bumbu penyedap narasi. 

Berikut ini adalah contoh bagaimana mengembangkan premis-mindmapping menjadi sebuah cerita pendek, lengkap dengan deskripsi dan narasi dengan pov orang pertama.
Narasi : 

Jakarta, 6 Februari 2016.

Pagi ini aku terbangun dengan penuh senyum, menyadari bahwa mentari begitu semangat menyinari bumi pertiwi. Cahaya tropisnya yg ramah masuk lewat jendela lantai dua dan lembut membelai wajah. 

Aku beranjak menuju balkon kamar. Dari kejauhan tampak terlihat hiruk pikuk orang-orang yg sudah memulai aktivitas. Ada seorang ibu yg tergesa berjalan sambil menjinjing tasnya, ada sekumpulan anak TK yg bersenda gurau menuju sekolahnya yg terletak tak jauh dari sudut komplek perumahan. Akupun tersenyum saat ada di antara tetanggaku yg masih duduk manis menikmati teh hangat sembari membaca koran pagi di teras depan rumah sambil melambaikan tangan ke arahku.

Pemandangan ini adalah pemandangan yg sudah lama tak kulihat. Sudah enam tahun lebih sejak aku meninggalkan negeri demi menuntut ilmu di salah satu kota di benua Eropa. Ayah bilang ini semua untuk masa depan yg lebih baik.

Dan pagi ini entah mengapa tiba-tiba ku teringat akan pidato presiden Obama di Balairung, Universitas Indonesia, enam tahun yg lalu, yg kulihat melalui streaming internet. 

Dalam pidato di awal November 2010, Obama memgingat tentang beberapa hal saat tinggal di Indonesia, waktu kecil dulu.

Yes, ingatan tentang sate dan bakso Obama sukses membuatku begitu menginginkan sate ayam tapi sepagi ini siapa yg berjualan? Akupun pasrah menunggu waktu. Menunggu hingga mentari bertukar tempat dengan sang dewi malam. 

Waktupun berjalan. Aha, ini saatnya! 

Malam ini aku memutuskan hunting sate ayam ke tempat langgananku dulu. Cuaca lembab yg diselimuti gerimis tidak menyurutkan langkahku. Garasi kubuka dan sebuah sedan eropa dua pintu berwarna putih meluncur keluar rumah. 

Sempat tertawa rasanya ketika tau pengorbananku hanya untuk menikmati sepiring sate ayam.

Setengah jam berlalu. Aku memarkirkan mobil di tempat di mana aku biasa membeli sate ayam kesukaanku, enam tahun yg lalu. Namun apa daya, ternyata kios itu sudah berubah. Kini hanya tertulis siomay dan batagor khas Bandung di menunya. Pedagangnya pun tak lagi seperti yg kukenal. Semua berubah.

Aku tak putus asa. Aku mencoba mencari kesana kemari namun sepanjang jalan hanya penjual nasi goreng yg banyak kujumpai. Entah kenapa tak satupun tukang sate ketemui. 

Pukul sembilan malam, aku menyerah dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Hari ini keinginanku untuk menikmati sate ayam harus kukubur dalam-dalam. 

Namun, bukan aku bila harus pulang dengan tangan hampa. Saat pulang tadi, aku menyempatkan diri untuk membeli sepiring nasi goreng. 

Memang sepiring nasi goreng bukanlah seporsi sate ayam yang kuidam-idamkan tapi itulah hidup, kadang kita tidak mendapat apa yang kita inginkan namun sepiring nasi goreng bukanlah hal yang  buruk. Begitulah caraku menutup hari akan kerinduan kuliner khas ala Indonesia.

See? 

Dengan mindmapping maka premis jadi lebih fokus untuk dikembangkan dan dibuat ending.

…And yes, menulis fiksi itu tampaknya sederhana namun tak sesederhana tampaknya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s