Menulis fiksi itu…

Dulu gue selalu berpikir kalo bikin buku fiksi itu gampang. Logikanya sih simple, kalo bikin karya ilmiah macem skripsi/tesis aja bisa, masa bikin novel nggak bisa? Ya, nggak salah sih kalo orang awam mikirnya gitu, guepun awalnya juga begitu.

Tapi setelah gue coba sendiri, OMG! Demi trapesium yg luas penampangnya adalah jumlah sisi sejajar dikali tinggi dibagi dua, nulis fiksi itu tai meeen!

Lo tau rasanya jatuh cinta? Perasaan di mana tai kucing aja bisa berasa kayak makan cokelat hadiah anniversary jadian empat bulan sebelas hari dua jam sepuluh menit dan tiga belas detik, nah rasanya bikin buku fiksi itu kayak gitu..Bedanya, tai kucingnya nggak berasa cokelat anniversary tapi beneran tai kucing.

And finally, setelah dari bulan Maret 2015 gue mati-matian ikutan kelas menulis, hari ini, gue melambaikan tangan ke kamera. Gue nyerah. 

Terserah kali ini sungguh aku tak’kan peduli. Ku tak sanggup lagi, jalani cinta denganmu… – Terserah by Glenn Fredly.

Why?

Kalo lo masih inget dgn makhluk bernama EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) nah disinilah hidup jadi terasa amat sangat sulit. Belum dengan makhluk lain bernama alur cerita, logika, outline, premis, kismis, dan buncis. Duh, kalo inget mereka rasanya sesak di celana.

Ditambah penderitaan anget-anget tai ayam karena harus self editing, baik substansi maupun mekanik.

In my humble opinion, secara umum ada beberapa hal yg harus lo pahami sebelum mencoba menulis fiksi.

Substansi,

Di mana lo harus memikirkan cerita secara keseluruhan. Apa premisnya? Bagaimana karakter tokoh utamanya? Nilai apa yg ingin disampaikan pada pembaca? Apa konfliknya? Apa genrenya? Siapa target pembacanya? 

Setelah ini semua jelas baru deh lo buat mind mapping-nya. Kenapa harus buat mind mapping? Percaya deh, nanti seiring dgn lancarnya tulisan lo akan menemukan sejuta ide dan bumbu-bumbu yg menarik untuk dieksplor. 

Bila ide liar itu lo ikuti terus menerus bukan tidak mungkin nantinya tulisan lo jd nggak fokus dan endingnya nggak jelas.

Lo juga harus memikirkan sisi logikanya. Kalo tokoh utamanya udah kelindes kereta tapi masih bisa goyang dumang, logis nggak ya? Kalo endingnya semua tokoh dibuat mati kejatuhan patung pancoran, gimana ya?

Simpelnya walaupun fiksi, tetep ada ‘hukum alam’ di sana, mati ya mati. Lo juga harus mikir secara logis urutan waktu. Contoh : lo nggak bisa nulis jam sembilan pagi tokoh utama ada di Jakarta dan jam sebelas siang dia potong rambut di Hamburg, Jerman lalu sorenya udah ngopi-ngopi di kaki Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah. Gimana caranya? Naik roket? Kecuali kalo tokoh utamanya sejenis dedemit, ya itu beda lagi..

Hal lain terkait substansi?

Value. Nilai apa yg ingin lo sampaikan ke pembaca? Kalo cerita lo cuma ttng dua orang, satu cowok satu cewek, nggak sengaja tabrakan di jalan kemudian endingnya menikah di hotel dengan konsep pesta kebun singkong, saran gue mending jangan. Kecuali lo tambahin bumbu unik di mana cowoknya nggak jadi menikah dgn kekasihnya tapi lebih memilih nikah dgn calon mertuanya. Nikah dgn ibu kandung kekasihnya? Bukan, dia milih bapaknya.

Konsistensi. Kalo di awal narasi pake aku-kamu ya jangan tiba-tiba pake ane-antum di bab lain. Kalo di awal dialog nyebut ibu pake bunda, jangan tiba-tiba di dialog lain manggil emak, kan malu ketahuan aslinya..

Target pembaca. Kalo tujuan awal lo bikin novel untuk remaja berusia 13-18 tahun dgn genre romance  ya jangan penuhi dialog dan narasi dgn membahas dasar-dasar fisika kuantum. 

Misal: Sayang, kamu tau nggak? Rasa sayang aku ke kamu itu  sama seperti kuantitas energi radiasi, yg merupakan hasil dari konstanta Planck (6,63 x 10-34 Js)  dikali frekuensi radiasi (Hertz).

Gue nggak tau sih kalo gombalan anak fisika kyk gini apa nggak, tapi sumpah nggak ada romantis-romantisnya apalagi kalo lo pake gombalan begini ke gebetan lo yg anak sastra jawa. Jawa kuno. Kuno banget.

Lanjut, 

Mekanik..

Jujur ini yg paling bikin pendarahan mata. Lo mesti baca dan perhatiin kata demi kata dalam naskah, satu per satu. Kalo satu lembar A4 ada 500-800 kata dan satu naskah antara 100-200 lembar maka…kelar udah hidup lo. Ya nggak sih, paling katarak sementara aja mata lo.

Seberapa ribet? Mari kita lihat sedikit contoh kecil kesalahan yg sering terjadi dalam penulisan.

Menurut lo, mana yg sesuai EYD :

merubah, mengubah, atau berubah? airmata atau air mata? kemana atau ke mana? di sana atau disana? sistem atau sistim? akta atau akte? antri atau antre? kuatir atau khawatir? mangkuk atau mangkok? masjid atau mesjid? miliar atau milliar? terlanjur atau telanjur? supir atau sopir? indra atau indera? peduli atau perduli? beasiswa atau bea siswa? segi tiga atau segitiga? sediakala atau sedia kala? bus atau bis? napas atau nafas? hirarki atau hierarki? karir atau karier? resiko atau risiko? rejeki atau rezeki? paham atau faham? zaman atau jaman? walikota atau wali kota? Ridwan Kamil atau Ahok? #eh..

Kalo kesalahan EYD aja harus diminimalisir, maka jangan pernah sekali-kali nulis novel dgn bahasa alay. Jangan pernah pakai campuran huruf kecil, huruf besar, dan angka. 

Kesalahan typo juga mesti dikurangi. Niat hati mau nulis ‘kepala’ tapi yg ketulis ‘kelapa’ kan jd gagal paham yg baca.

Contoh : …Lelaki itu tersenyum kemudian mengusap kelapa kekasihnya…  MAKSUD LO?

Intinya sih cek ulang, kata demi kata. Kalo lo males dan bodo amat dgn urusan mekanik, gue bisa memastikan bukan cuma editor lo aja yg mendadak katarak tapi pembaca buku lo juga bakal kram otak.

Oh iya,

Jangan gunakan singkatan. Tulis ‘yang’, jangan tulis ‘yg’ aja. Tulis ‘gue’, jangan tulis ‘gw’ atau ‘w’ aja. Dan tulis ‘sepertinya’, jangan tulis ‘sepertix’. 

Inget, ini novel bukan kayak lagi nulis di blog atau bales whatsapp temen. Ada standarisasi penulisan karena novel lo bakal dibaca banyak orang. Kalo keliatan bahasanya alay, yg malu dan dibully se-Indonesia ya sapa lagi kalo bukan penulisnya.

And you know what, setelah mata juling edit sana-sini lalu datanglah yg ditunggu-tunggu. Sebuah email revisi. Email yg waktu kedatangannya sama kyk nunggu angkot jurusan Ciroyom-Cicaheum jam dua pagi di Bandung itu memiliki dua makna, pertama, gembira karena berarti naskah sudah dibaca editor dan kedua, perasaan harap-harap cemas bagian mana yg harus diperbaiki, ditambah ini itu, atau semuanya dibuang aja dan bikin baru dari nol lagi?

Ketika editor memberi revisi dan lo akan melihat naskah lo dicorat-coret kayak anak alay abis pengumuman kelulusan ujian nasional. Rasanya itu kayak ditusuk pake bambu runcing terus disiram pake alkohol lalu diiris tipis-tipis dan direndam air garam. Dan pola penyiksaan lahir batin itu juga selalu berulang.

(edit naskah) – (kirim ke mentor/editor) -(nunggu sampe planet Uranus berevolusi) – (email balasan datang) – (buka email sambil harap-harap cemas) – (lihat banyak yg harus direvisi) – (pingsan di depan laptop) – (siuman, minum kopi, trus edit naskah lagi). Gitu terus sampe kiamat. 

Bunuh aku, mas editor…bunuuuh.. – Ganteng-Ganteng Sering Galau, episode 2.378

Kalo Chitato punya slogan bahwa hidup itu nggak datar maka kumpulan makhluk tadi sukses bikin lo berharap agar hidup lo datar aja. Udah deh nggak usah macem-macem, semacem aja ngerjainnya udah bikin nangis darah.

Satu kata, bikin novel itu PEDIH, Jenderal. Pedih tapi sekaligus nagih, nah bingung’kan lo?

Ibaratnya kayak lo sering bertengkar dgn pasangan tapi ketika kalian memutuskan break, maka keesokannya kalian akan merindukan masa-masa di mana kalian berdua sering beradu argumen walau dalam hati saling menyadari bahwa masalah yg diperdebatkan bukanlah sesuatu yg besar dan semuanya diselesaikan dgn saling berpelukan sambil mengucapkan kalimat: maafin aku ya, sayang..  APA? MAAF? HAHA YOU WISH!

Yup, nulis itu nagih, beneran sumpah nggak bo’ong kalo Raisa itu cantik.

Ketika apa yg ditulis berasal dari hati dan lo akan menikmati saat-saat tenggelam dalam sepi walau sekeliling begitu ramai.

Tergagap karena seketika ada jutaan ide mendesak minta dituangkan.

Terperangah ketika menyadari setengah jiwa dgn imajinasi liar seperti halilintar.

Rindu saat di mana lo menyalakan laptop pukul dua pagi. Hening, tenang, dan damai.

Duduk termenung menghirup segarnya udara pagi sambil tersenyum membayangkan kisah yg seakan benar-benar lo hadapi.

Dan ketika tulisan lo selesai akan ada masa di mana lo mengendapkan semuanya kemudian membaca ulang sambil tertawa, menangis, bahagia, dan haru menjadi satu. 

Lalu, mulai menyadari bahwa : kayaknya udah dari jaman monas masih kecil dan sampai sekarang kok naskah gue belum kelar-kelar, yee?

Yup, itulah fiksi, tampaknya sederhana namun tidak sesederhana tampaknya…

  

ps : buat yg nanya kapan buku gue terbit itu sama aja kyk lo nanya hal gaib.

Kenapa? karena jodoh, mati, dan buku terbit itu hanya Tuhan yg tau..

Advertisements

2 thoughts on “Menulis fiksi itu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s