Who cares?

…Human : Oh God, why me? | God : Oh, why not?…

Sering banget pas lagi online, baru buka timeline dan harus membaca deretan keluhan di status/timeline orang-orang. Ada yang memang berat masalahnya tapi ngga jarang kebanyakan hanya drama. Dari patah hati hingga keluhan yang cuma : “Damn, pas ketemu dia, poni gue lagi berantakan pula!” atau “Duuhh, sepatu ama baju gue hari ini  ngga matching deh” kemudian langsung berasa bahwa dunia akan kiamat saat itu juga. Seakan-akan pergeseran poni membuat matahari bertukar posisi dengan bulan.

Belum lagi dengan maraknya akun palsu yang gemar menulis tentang isu SARA, menghembuskan kebencian, menghina pihak-pihak tertentu, dan membuat pernyataan seakan-akan sudah tidak ada harapan lagi di negeri ini. Sumpah menurutku, ini ngga penting banget!

Ketika membaca tulisan/keluhan mereka, terkadang aku suka bertanya dalam hati, itu maksudnya nulis kayak gitu apa ya? Beneran kesusahan atau sekedar ingin eksis dan dapet kalimat “ijin share ya bro“? Beneran lagi ribet atau ingin sekedar mendapat pujian dan like, retweet, atau repath dari orang-orang dengan tulisan “i feel you, cyyiiiinn“? To be honest, mereka yg suka menulis kalimat cacian dengan kata-kata kasar kebun binatang atau menghembuskan kebencian, bagiku mereka gagal bersikap karena tidak bisa menempatkan diri sebagai makhluk sosial di ruang sosial.

Aku lupa linknya tapi pernah baca kalo kalian mengeluh di social media, mostly orang-orang hanya akan membaca dan acuh, beberapa akan me-like/retweet/repath, dan beberapa yang kenal cukup dekat akan menulis dengan pertanyaan : ada apa bro/sist? In fact, mungkin malah ada yg senang tertawa dengan kemalangan yg lagi kalian alami lalu berlalu.

Yup, ujung-ujungnya mereka hanya berlalu, who cares with your drama?

Gue setuju bahwa mengeluh adalah hak masing-masing individu. Gue juga setuju manusia adalah makhluk yang diciptakan untuk berkeluh kesah tapiiiii..ngga tiap menit juga harus posting keluhan di socmed bukan? Ngga tiap saat harus nulis atau retweet kata-kata sedih, menye-menye pengen gantung diri di pohon toge bukan? Ngga harus nulis kalimat kebun binatang yg subjeknya mesti nyebut beberapa jenis hewan bukan?

Tau ngga sih, kalo apapun yang kalian tulis, itu akan berdampak bagi pembacanya, baik secara langsung maupun tidak. Hal positif yang menginspirasi/memotivasi akan memberikan energi positif bagi pembacanya. Sebaliknya, hal negatif yang kalian tulis akan berdampak negatif bagi pembacanya, dan pembaca itu bukan cuma keluarga, pasangan, atau gebetan yang lagi kepo ama akun kalian aja tapi juga mereka-yang-kebetulan-buka-timeline-di-hari-yang-cerah-ceria dan tanpa badai tanpa tsunami harus berubah moodnya karena membaca postingan kalian yang isinya yaa gitu deh.. 

Taukah kalian, bahwa mereka juga berada di posisi dilematis, dan berpikir : duuhh ini orang kok ya nulisnya galau mulu, seakan-akan cuma dia yang punya masalah? Mau di block, ngga enak karena mungkin kenal deket tapi kalo didiemin kok ya bikin rusak mood aja. Serba salah.

Kalo kalian pikir bahwa akun pribadi kalian adalah milik kalian sepenuhnya memang benar tapi harus diketahui bahwa akun kalian berada dalam wadah bernama social media. Ada ruang publik di situ, ada banyak orang yang punya hak dan kewajiban yang sama di sana. Mari bersama untuk saling menjaga dan menginspirasi. Sebarkan kebaikan, bukan cacian penuh kebencian.

Lagipula, sebelum kalian berkeluh kesah panjang lebar meratapi hidup, sebelum kalian menggunakan subjek hewan sebagai umpatan, sebelum kalian bertanya dengan lantang kepada Tuhan dengan kalimat : Oh God, why me? coba deh berpikir sejenak. Sadari bahwa di dunia ini ada milyaran orang. Yang lagi sakit, broken home, patah hati, kehilangan orang tersayang, target ga tercapai, skripsi terancam gagal, terancam di PHK dan kerjaan ga beres itu banyak, even banyaaaaaaakk bangeeeeeeett!

Intinya bukan cuma kalian doang kok yang sedih, bukan cuma kalian doang kok yang susah. Bukan cuma kalian doang kok yang patah hati, diputusin, diselingkuhin, atau kejatuhan tai burung pas lagi main golf ama gebetan.. #eh 

Ayolah kawan..

Di atas langit masih ada langit. Akan selalu ada yang lebih beruntung dari kalian namun tak sedikit yang hidupnya lebih sulit dari kalian. Kalo kalian pikir kenapa si A hidupnya enak-enak aja, kenapa si B hidupnya anteng-anteng aja atau kenapa si C hidupnya adem ayem kayak sayur bayem, dibanding hidup kalian yg kalian rasa isinya badai melulu, coba pikir deh bahwa yang kalian lihat itu’kan hanya luarnya aja. Kelihatan enak belum tentu ‘enak beneran‘ bukan?

Mereka pasti juga punya segudang masalah. Mereka pasti juga punya bekas luka yang menggores hati dan jiwa. Bedanya, mereka menyikapi dengan biasa aja, seakan tidak terjadi apa-apa. Bukan berarti mereka munafik tapi mereka mencoba untuk dewasa menghadapi hidup yang memang tidak mudah. Mereka tau bahwa keluhan dan caci maki tidak akan merubah apa-apa. Yang kalian lihat adalah kemampuan mereka untuk tetap menegakkan kepala melewati berbagai ujian hidup yang datang silih berganti.

Tidak ada yang tahu, kalo si A yang sering hahahihi itu sebenarnya menangis dalam tahajudnya, diam bersujud berdoa kepada Tuhan agar keluarganya yang broken home bisa utuh kembali.

Tidak ada yang tahu dibalik senyum si B yang ceria itu sebenarnya sedang gelisah karena bisnisnya terancam bangkrut sedangkan dia adalah tulang punggung keluarga dan ada banyak karyawan yg bergantung hidup pada usahanya.

Tidak ada yang tahu kalo si C yang sering tertawa dan bercanda itu sebenarnya harus memotong habis rambutnya setiap bulan akibat efek kemoterapi yang membuat rambutnya rontok, sebagai terapi kanker otak yang mengancam hidupnya setiap saat namun dia tetap tersenyum ramah ketika orang-orang mengatai kepalanya mirip batu akik, pentul korek api, atau disamakan dengan mic berjalan.

Dan, tidak ada yang tau, dibalik senyum optimisme si D mungkin dia sedang mengalami patah hati terhebat karena melihat dengan mata kepala sendiri tunangannya meninggal sehari setelah mereka bertukar cincin.

Tidak ada yang tau, kawan..

Karena yang kalian lihat adalah kedewasaan mereka untuk tetap melanjutkan hidup apapun resikonya, apapun hasil akhirnya. Mereka tetap berjuang dibanding hanya mengumbar cacian dan keluhan di media sosial.

Kawan,

Sadari bahwa hidup itu sesungguhnya adil karena Allah-lah Sang Maha Adil.

Ingatlah bahwa, untuk satu hal yang dikurangi akan ada hal lain yang dilebihkan. Masalahnya kita sering melihat dari sudut pandang kita, bukan sudut pandang Yang Maha Pencipta.

Kita hanya melihat bahwa ‘lebih’ itu hanya berupa materi, seakan kita lupa betapa berharga dan mahalnya kesehatan kita.

Kita hanya melihat bahagia itu bisa pergi jalan-jalan kesana kemari sehingga lupa meluangkan waktu bersama keluarga dan orang tua yang makin hari semakin terbatas umurnya. 

Kawan,

Kalo rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau itu mungkin karena kita lupa untuk merawat rumput kita sendiri.

Atau, mungkin bukan hidupmu yang kurang tapi rasa syukurmu yang mulai menghilang.

Mungkin bukan rejekimu yang sulit tapi pola pikirmu yang sempit.

7 Agustus 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s