Sebelas bait untuknya

Sebelas bait untuknya

Kisah tentang fajar diawal bulan tiga
   Tentang mentari yang memantulkan senyum.
   Tentang sosok wanita dua puluh tiga, duduk bersiap masuk dunia baca.
   Jiwa yang tenang dibalut awan.
   Begitu halus sekaligus rapuh.
   Begitu tegar namun hanya di luar

Ada apa dengannya?
   Pertama kali kulihat senyum ramah khas jannah, namun datar entah kenapa.
   Seakan hidup keras menampar muka.
   Seakan pahit membekas menahan jiwa.
   Jiwa yang bebas, yang damai, kini teronggok dalam kotak baja.

Riak wajah diam tertahan, senyumnya lembut namun tersimpul.
   Berusaha ceria walau menutup luka.
   Berusaha semangat dalam pekat.
   Begitu lemah, pasrah, namun tabah.

Indahmu adalah pesona
   Tentang imaji yang polos namun dalam menghujam.
   Inikah nonfiksi yang difiksikan, Tuhan?
   Yang tertuang dalam ceritamu tentang Jogja.
   Tentang darah Belanda bercampur Melayu.
   Tentang sketsa, kertas, dan pena.

Nenek sihir sekaligus ibu peri.
  Raja tega yang harus sesuai norma.
  Namun juga pelindung yang peduli.
  Ambil batu, lalu hempaskan.

Dia yang tertutup atau aku yang beranalisa?
   Tentang perempuan pecinta seni dari trisakti.
   Sosok venus Agustus penikmat visualisasi.
   Ksatria berasi Leo dengan dunianya sendiri.

Ada dua fajar kami lewati, melalui analisa sederhana ala pembaca jiwa.
   Sesuatu yang sederhana namun menancap di hati.
   Ada idealisme berkawan ego di sana.
   Pertarungan antara harga diri bercampur marah walau peduli.

Mada, membuka hati tidak sama dengan menyerahkan.
   Satu maaf tidak akan membuatmu jatuh.
   Pengalaman tidak untuk buat kita sungkan.

Ada saatnya kamu harus menerima.
   Ada saatnya kamu harus memaafkan.
   Bukan untuknya, tapi untukmu.
   Untuk bebaskan jiwa dan hati.
   Lepaskan tawamu. Tawa yang tertahan lebih dari satu hujan dan satu kemarau.

Damailah Mada, damai dengan diri.
   Terima bahwa semua ada jalannya.
   Jalan dari Sang Maha Pembolak-balik Hati

Ada satu harap agar nanti kamu kembali.
   Ada satu doa yang sederhana
   Sesederhana melihatmu bahagia
   Tentang kamu dengan senyum sehalus sutra
   Tentang malam yang bercerita jenaka
   Tentang sepeda beroda semangka.

Leo

**Postscript : Untukmu yang beberapa hari ini menemaniku menarikan jemari hingga pukul empat pagi.

terima kasih karena sudah memberi argumentasi

terima kasih untuk setiap pilihan diksi

dan, terima kasih telah membuka diri

Advertisements

2 thoughts on “Sebelas bait untuknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s