0

Jogja, Lewat Aplikasi Di Ibu Jari

Jaman selalu berubah. Teknologi semakin maju dan kebutuhan manusia makin beragam. Kini, segalanya dituntut harus serba cepat, mudah diakses, namun dengan harga paling kompetitif. Itu berlaku hampir untuk segala hal, termasuk kebutuhan untuk liburan.

Maka, ketika gue memutuskan untuk jalan-jalan ke Jogja bulan lalu, gue tidak ingin melakukannya dengan cara layaknya manusia purba. Cara tradisional seperti harus datang ke stasiun kereta untuk memesan tiket sudah bukan jamannya. Harus telepon hotel untuk pesan sebuah kamar juga adalah sesuatu yang basi. Maka, liburan kali ini, gue menginginkan semuanya memanfaatkan teknologi, semudah menggerakkan ibu jari. Teknologi yang berwujud aplikasi.

Awalnya memang timbul keraguan. Ada banyak kemudahan ditawarkan namun gue bimbang apakah semua akan berjalan? Takutnya, kalau tak beli tiket langsung ke stasiun, gue dapet tiket ‘zonk’. Takutnya kalau booking kamar tak langsung by phone, sampai sana gue bakal ‘tidur di hotel berbintang beratapkan langit’. Ketakutan manusiawi yang dihadapi oleh orang yang baru menggunakan teknologi jaman now, seperti gue.

Apalagi banyak keluhan yang gue dengar dari kerabat tentang ‘keajaiban’ saat menggunakan aplikasi pemesanan tiket atau kamar hotel. Mulai dari kamar yang tak sesuai, biaya lebih mahal, hingga masalah ‘pritilan’ namun menyebalkan seperti hilangnya fasilitas sarapan pagi. Namun, apapun harus dihadapi. Harus selalu ada langkah awal untuk memulai. Apapun resikonya, mau tak mau, gue harus beralih pada teknologi.

Masalah awal adalah how? Naik apa ya ke sana? Bukan apa-apa, gue cukup sering berpindah tempat menggunakan kendaraan pribadi namun liburan kali ini gue pengin santai. Cukup duduk manis, tidur cantik, dan terbangun nyaman ketika sampai di tujuan. Maka, pilihan gue jatuh pada kereta api. Alasannya sederhana, sudah cukup lama nggak naik kereta dan gue ingin kembali merasakan sensasi naik kereta api.

Gue pun bertanya pada kerabat tentang cara pemesanan tiket kereta. Guys, memesan tiket kereta jaman sekarang sangat berbeda dibanding ketika beberapa tahun terakhir gue naik Bima. Dulu, tiket ya hanya tiket. Ketika tiket di tangan, beres sudah. Kini, semua berubah menjadi makhluk bernama boarding pass yang harus di scan saat ingin menuju ruang tunggu.

Walhasil, otak dengan intelegensia setingkat amuba ini cukup dibuat berkerut untuk belajar tentang cara pesan tiket dan cetak tiket mandiri. Gue pelajari hal itu lewat youtube. Setelahnya, gue pun memutuskan untuk membeli tiket lewat mini market tak jauh dari kompleks rumah. Pilihan kereta jatuh pada Argo Lawu, ya mau gimana lagi secara tiket Taksaka Premium bakal bikin gue pulang jalan kaki.

Gue pilih tempat duduk di samping jendela. Oiya, buat lo yang mau duduk persis di samping jendela maka pilihlah kursi A atau D.

Pilihan gerbong dan kursi beres, gue pun lalu membayar tiket untuk sebuah perjalanan pulang pergi. Cukup kaget ketika mendapat struk kecil berisi nomor kode booking tiket. Pelayannya dengan baik hati menjelaskan bahwa nanti nomor tiketnya cukup diketik pada alat cetak mandiri atau bisa di scan. Gue pun mendengarkan layaknya manusia purba yang baru pertama kali akan naik kereta.

Urusan tiket selesai, kini beralih ke urusan hotel dan gue paham pesan kamar tak bisa lewat mini market. Ada banyak aplikasi pemesanan kamar hotel dan pilihan gue mantap jatuh pada Traveloka. I don’t know why tapi pertama kali lihat, gue langsung yakin. Ya, miriplah kayak jatuh cinta pada pandangan pertama.

Traveloka pun gue unduh dan taraaaa, gue baru tau kalau aplikasi ini sangat lengkap. Selain kamar hotel, ternyata bisa beli pulsa dan paket internet, termasuk pesan tiket kereta dan pesawat juga! Duh, tau gitu kan nggak perlu jalan kaki ke mini market.

Lanjut,

Untuk hotel, traveloka membagi dalam beragam kategori yakni : hotel mewah, budget hotel, dan hotel pemenang penghargaan. Ada pula pilihan untuk vila, apartemen, best picks, dan pilihan bayar langsung di hotel.

Setelah cek sana sini, pilihan hotel jatuh pada D’Salvatore Art and Boutique Hotel, sebuah hotel berbintang tigadi Depok, Yogyakarta. Sebuah superior double room gue pesan. Alasannya sederhana, kamarnya luas, harga pas, fasilitas komplit, dan pagi hari gue nggak perlu pusing cari makanan buat perut alias include breakfast.

Alasan terakhir, letaknya cukup dekat dengan rumah sepupu gue. Jadi, kalau pemesanan hotelnya bermasalah, gue bisa jalan kaki sambil nangis garuk-garuk aspal ke rumah sepupu.

Hari yang dinanti pun tiba. Setelah solat magrib, pada Jumat 6 Oktober 2017, gue melangkah pasti menuju stasiun. Gambir dikala weekend itu seperti pasar Tanah Abang menjelang lebaran, sangat ramai. Gue sempat celingak celinguk saat turun dari taksi mencari makhluk bernama anjungan cetak tiket mandiri. Saat ketemu makhluk ajaib itu rasanya berbinar, layaknya bertemu mantan yang dulu telah hilang, namun gue sadar semuanya telah berbeda. Mantan gue sekarang berubah jadi mesin cetak mandiri yang siap bikin mumet pada beberapa menit berikutnya.

Gue keluarkan struk pembelian minimarket. Kode pemesanan tiket pun, gue tulis dengan hati-hati sembari memanjatkan doa. Bukan apa-apa, kalau tiketnya ngaco, gue ruginya dua. Pertama, karena tiket kereta dan hotel yang sudah gue bayar bakal hangus sia-sia. Kedua, jadwal liburan yang sudah disusun praktis jadi kacau.

Sepuluh detik telah berlalu dan itu sepuluh detik terlama dalam hidup gue. Rasanya jauh lebih lama dibanding menunggu jawaban pacar saat dulu gue tanya, kamu mau nggak jadi pacar aku? Namun, menunggu anggukkan pacar tampaknya lebih cepat dibanding menunggu cetakan tiket keluar. Gue diam mematung. Bulir-bulir keringat panik mulai muncul apalagi antrian di belakang makin panjang. Tapi, Allah baik sama makhluk purba gagap teknologi ini. Sebuah tangan kekar dari seorang petugas keamanan menyentuh panel touch screen, membantu menyelesaikan semuanya. Rupanya, gue lupa tekan kata ‘cetak’ ketika selesai menulis kode pemesanan tiket! Damn you, Andre! Kalau gaptek mbok ya jangan begini amat!

Urusan tiket selesai, gue pun naik ke lantai dua, menuaikan sholat Isya sejenak lalu bergegas ke lantai tiga. Jujur, Gambir yang sekarang jauh lebih ramah. Ada banyak kursi di sana, live music yang senantiasa menghibur, toilet dan mushola yang bersih, petugas yang tanggap memberi informasi, dan beragam tenant untuk berbelanja. Peraturan yang membatasi bahwa hanya calon penumpang yang boleh masuk ke ruang tunggu juga berdampak pada makin tertibnya suasana.

Gue pun bisa duduk manis menikmati pemandangan kota Jakarta dari lantai tiga. Menatap monas yang berdiri begitu anggun dimalam hari, sembari menunggu Argo Lawu yang tak lama datang menghampiri. Keretanya datang dan berangkat tepat waktu. Tak ada pemeriksaan tiket lagi di dalam kereta dan tak perlu bingung sudah sampai di stasiun mana. Even, sekarang tiap akan masuk stasiun pemberhentian, sudah ada pemberitahuan lewat pengeras suara di kereta. Gue pun bisa nyaman tertidur hingga keesokannya.

Subuh keesokannya, gue sudah sampai di stasiun Tugu, Yogyakarta. Sepupu sudah menyambut di pintu keluar. Yup, gue harus ‘menginap sementara’ di rumah sepupu karena check in hotel baru bisa dilakukan pada pukul dua siang.

So, dari pagi menuju siang, gue menikmati jalan-jalan di kota Jogja yang ternyata saat itu sedang merayakan hari jadinya.

Beberapa jalanan ditutup untuk acara kirab dan panggung musik.

Gue menyempatkan diri sarapan di Nasi Uduk Palagan. Suasananya nyaman dengan harga yang bikin tenang. Makanannya? Wah, sudah pasti bikin lidah bergoyang ketagihan.

Lama tak ke Jogja membuat gue terpana. Tak ada macet yang bikin ‘tua sebelum waktunya’. Tak ada angkot reseh yang berhenti seenak udelnya. Dan, tak ada klakson bertubi-tubi ketika lampu pengatur lalu lintas baru akan beranjak dari kuning ke hijau.

Tampak pejalan kaki yang berjalan dengan muka penuh damai. Motor dan mobil yang tenang tak saling serobot jalan. Dan, harga makanan yang bikin kenyang tanpa bikin krisis keuangan. Gue juga menyempatkan diri main ke Hartono Mall dengan menggunakan taksi online. Dua kali memakai angkutan online dan dua kali pula gue mendapatkan supir yang seperti tour guide pribadi, begitu komunikatif dan informatif. Sungguh, keramahan khas kota Jogja meski sejenak cukup bikin gue lupa bagaimana rasanya dikejar anjing gila ala Jakarta.

Siang pun tiba. Gue diantar ke hotel oleh sepupu. Dua pintu besar di muka hotel perlahan gue buka. Berjalan tenang menuju lobi hotel untuk menemui petugas customer service. Hanya dengan menunjukkan bukti SMS dari Traveloka dan semuanya beres!

Kamar D’Salvatore Art & Boutique Hotel sesuai dengan yang ada di foto Traveloka. Cukup besar sehingga bisa dipakai untuk solat dengan nyaman.

Tempat tidur, kamar mandi, televisi, pendingin udara, termos listrik, kulkas, brankas, hingga hair dryer di kamar mandi dan perlengkapan lain dalam keadaan bersih dan siap pakai.

Sarapan pun tersedia keesokannya sesuai yang tertera pada Traveloka. Berbagai makanan dan minuman siap untuk memenuhi perut.

Gue juga iseng untuk melihat kolam renangnya yang saat itu ramai digunakan oleh pengunjung. Overall, pelayanannya begitu prima dan ramah. Sangat sesuai dengan apa yang tertulis pada review di aplikasi. Sungguh melegakan karena semuanya berjalan lancar.

Minggu pagi, 8 Oktober 2017, dengan kereta yang sama. Gue sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Duduk manis menikmati pemandangan luar biasa yang tersaji dibalik jendela kereta.

Terima kasih untuk Traveloka, Aplikasi lewat ujung jari yang kemarin memberi gue sebuah pengalaman baru. Tanpa pusing, tanpa ribet, semuanya semudah menggerakkan ibu jari.

Next time, gue akan menggunakan kembali secara full aplikasi nomor satu ini untuk jalan-jalan seru lagi. Mulai dari pesan tiket kereta atau pesawat, booking kamar hotel, hingga isi pulsa.

Gue pun berencana akan menggunakan berbagai layanan promo dan harga paket spesial yang senantiasa selalu ada dari Traveloka.

So, buat kamu yang masih bingung pilih aplikasi buat liburan, jangan ragu untuk pilih Traveloka. Aplikasi canggih dimana manusia purba yang gagap teknologi macam gue bisa tersenyum karena pelayanan dan kemudahan yang menakjubkan!

#Jogja

#Hotel

#JadibisadenganTraveloka

Advertisements
0

Review Mikayla #writingcontest


Harusnya dari tadi mengumumkan pemenang review Mikayla cuma berhubung reviewnya banyak yg keren, gue jadi galau buat memilih.

Dan, akhirnya memutuskan untuk mengucapkan selamat pada pemilik akun instagram : @cinantyapawitri , @yunan_1st dan @physiklehrerinnen

Hadiahnya sebuah buku antologi cerpen fiksi berjudul “Jodoh Untuk Langit”, akan segera dikirim ke alamat masing-masing minggu ini.

Oiya, dua voucher senilai total 800 ribu rupiah yg bisa digunakan untuk ikut kelas menulis telah menunggu untuk digunakan!

**ps : karena banyak review yg super duper ultra mega keren, tampaknya gue akan menambah jumlah pemenang, menjadi total 5 pemenang. Just wait! 😋

#mikayla #andreajuliand #novel #review #writingcontest

0

Sunroof lebih penting dari ABS?

Siang-siang kok sebel ya baca alasan pabrikan korea yg satu ini. 

Sunroof lebih penting dari ABS? Miapa? Micin?

Sumpah gue geregetan sama pernyataan GM merk sebel-ah. Pak, ABS itu fitur safety, sunroof fitur kenyamanan. Ya utamain safety dululah! Nggak bakal bisa bergaya kalo keburu mati.

ABS perlu biar rem tak langsung mengunci. ABS perlu untuk kondisi panic break jadi mobil tetap bisa dikendalikan saat direm mendadak. Dan, ABS perlu biar jarak pengereman lebih efektif.

Kalo situ pake alasan ‘kan tabrakannya belum tentu’, oh oke, kalo gitu airbag gak usah, kan belum tentu tabrakan. Alarm+kunci+asuransi nggak usah, kan belum tentu kecelakaan atau dicolong maling. Terus, pake mesin bajaj aja kan belum tentu dibawa ngebut. Kalo perlu, situ gak usah kerja, kan belum tentu besok masih hidup. 🙈

Pak, konsumen itu nggak bego, atau ya paling nggak kita gak punya logika seaneh bapak. Kita paham kok pabrikan maunya untung sebesar-besarnya makanya safety kita dikorbankan.

Saran saya, mending pindah ke Pluto aja Pak, di sana bebas tabrakan. Sesial-sialnya paling disundul meteor. Oiya, meteornya nggak pake ABS. 😂

Sunroof lebih penting dari ABS? Situ sehat?

**ABS : Antilock Braking System

 #abs #brakes #logika #amanberkendara

0

Review Mikayla #writingcontest


Hola!

Buat kamu yg sudah membaca dan membuat review tentang Mikayla entah di Facebook, Instagram, atau media sosial lain, harap siap-siap ya! 

Tiga orang yg beruntung akan mendapat buku antologi cerpen berjudul : Jodoh Untuk Langit. Berisi tentang 25 cerita untuk Hujan, Mantan, dan Masa Depan.

Sebuah buku kumpulan karya dari para penulis muda bertalenta yg tentunya sudah diseleksi oleh tim editor terbaik dari Elex Media, Bentang Pustaka, dan Inspirator Academy.

Jodoh Untuk Langit merupakan kumpulan karya yg mampu membuatmu menangis, tertawa, dan haru biru dalam satu waktu. Kumpulan cerita yg begitu bernyawa, sehingga cerita didalamnya mampu bernapas, berbicara, dan jalan-jalan di benak pembaca.

Oiya, Jodoh Untuk Langit ini tak akan kalian dapatkan di toko buku manapun alias hanya dijual secara ekslusif bagi komunitas penulis dan telah mencetak penjualan 1.000 eksemplar dalam waktu 4 jam saja!

Itu saja? 

Tentu tidak! Tiga orang reviewer yg beruntung juga akan mendapatkan masing-masing total voucher senilai 800 ribu rupiah, yg bisa kamu gunakan untuk mengasah kemampuan menulismu lewat kelas menulis online ataupun tatap muka, seperti yg saya lakukan dulu. 

Kelas menulis itu yg nantinya akan membuka cakrawala tentang dunia kepenulisan, termasuk bertemu dengan penulis-penulis hebat. 

Lewat kelas tatap muka, saya pun sudah merasakan pengalaman belajar langsung dari Adhitya Mulya, penulis best seller novel Jomblo dan Sabtu Bersama Bapak yg karyanya telah masuk layar lebar.  

Nantinya juga akan ada sesi sharing dengan editor dan kunjungan ke salah satu major publisher terbesar di Indonesia. 

Nah, buat kamu yg belum review, buruan ikutan! Segera ke Gramedia dan Toga Mas terdekat, buat foto dan review terbaik tentang Mikayla, taruh di sosmed lalu mention saya.

Saya tunggu hingga 7 Oktober dan pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 9 Oktober 2017.

Waktu terus berjalan, kamu pasti tau apa yg harus dilakukan bukan?

0

La Tahzan


“Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya”.HR. Muslim no. 2572.

“Makanya bila ditimpa cobaan/musibah, jangan lupa bilang Alhamdulillah” Ustad Hanan Attaki.

Ada beberapa alasan untuk tersenyum ditengah cobaan yg datang menerjang.

Pertama, karena melalui ujian/cobaan itu akan membersihkan dosa kita.

Kedua, karena cobaan membuat kita naik derajatnya.

Ketiga, Allah telah berjanji bahwa sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan. (94 : 5-6). Allah bahkan mengatakan dua kali berturut-turut, yg berarti tiap satu kesulitan akan menghadirkan dua kemudahan.

Keempat, semua hamba Allah pasti diuji. Maka bersyukurlah bila kita masih diuji, itu tandanya kita masih dianggap hambaNya.

Alhamdulillah, sesungguhnya janji Allah pasti benar. Kitanya saja yg harus bersabar. Karena tak ada badai yg abadi, ia akan segera berganti menjadi pelangi di esok hari.

La tahzan, jangan bersedih.

0

Banyak Baca #reread


“…Bila menulis itu tentang menuang dan membaca adalah tentang mengisi, maka apa yg bisa kau tuang bila kau tak pernah mengisi…”

Penulis kelas nyamuk terbang kayak gue memang kudu banyak belajar. Banyak baca buku orang, pelajari satu per satu. Tentang bumbu konflik, twist, sampai gaya penulisan yg bikin nempel di benak pembaca.

Tapi nggak pernah bosan buat baca ulang buku ‘Sabtu Bersama Bapak’-nya Aditya Mulya.

 

0

Mikayla, sudut pandang.


Aku selalu percaya bahwa tiap orang itu unik. Mereka memiliki keyakinan, nilai, dan hal menarik untuk dibagi. Mereka memberi warna yg berbeda pada dunia. Duniamu, duniaku, dunia kita.

Maka, ketika mereka berkarya melalui sebuah buku, bukan tak mungkin kamu akan menemukan diri mereka yg baru, sebuah sudut pandang yg benar-benar berbeda. Sudut pandang yg tak pernah kamu sadari ada pada diri mereka.

Mungkin selama ini kamu menilai mereka lurus tapi ternyata mereka teguh melawan arus. Mereka tetap tenang meski ombak perubahan kian dahsyat menghadang.

Bukan, bukan karena tipikal konvensional. Mereka hanya tak ingin arus deras itu menjadikan mereka yg “bukan mereka”. Menolak sisi idealis terkikis habis oleh arus praktis pragmatis.

Mungkin di matamu mereka tampak menyebalkan tapi kini kau dapat melihat bahwa di dalamnya tersembunyi jiwa yg bersahabat. Tak berjarak. Tak bersekat. Apa adanya.

Mungkin kamu mengira telah mengenal mereka seutuhnya, padahal kamu tak tahu sedikitpun tentangnya. Bahwa, nun jauh dibalik wajah datar, bersemayam pemikiran yg menggelegar.

Begitulah mereka. Sosok biasa dengan potensi raksasa. Terlihat rata-rata namun saat tiba masanya, mereka mengaum getarkan dunia.

Ya, selalu ada sudut pandang baru dari seseorang yg menulis buku. Seseorang yg sedang bersenang-senang lewat tulisan…

Mikayla, sebuah novel karya @andreajuliand.

*hadir di toko buku di Pulau Jawa dan Bali